Hologram

Hujan mengguyur jalanan ketika aku baru keluar dari sarang. Bulan ini adalah bulan di mana hujan banyak kerja lembur dan matahari terlalu banyak makan gaji buta. Aku terjang saja mereka yang menghalangi jalanku, menghalau harapanku. Enak saja. Tak ada yang boleh menghalangiku hari ini. Tidak ada.

***

Aku melihatnya. Ia yang kelak akan menjadi salah satu bagian masa depanku.Sudah hampir 6 bulan aku tak melihatnya. Kami berpisah jarak. Kesibukannya yang sangat luar biasa membuat kami terpaksa seperti ini. Aku memandangnya dari kejauhan dan tersenyum. Jika melihatnya tertawa saja sudah membuatku begini bahagia, lantas apalagi yang aku inginkan?

Dalam kurun waktu itu, banyak yang terlewat olehku. Bahkan ia mulai memelihara kumis dan jenggotnya pun aku tak tahu. Tapi itu tak masalah untukku. Ia terlihat jauh lebih menarik sekarang. Kulit putihnya dan wajahnya yang selalu terlihat muda nampak sangat serasi dengan kumis dan jenggot barunya itu. Bertambah satu hal lagi alasan untuk tetap menyayanginya dan bertahan di sampingnya.

“Metaaaaa... Kamu dateng juga?” ucapnya mengagetkanku.

Aku mengangguk. Mulutku rasanya terkunci oleh hati yang dag-dig-dug karena terlalu antusias bertemu dengannya.’Tentu saja datang. Mana mungkin tak ada waktu luang untuk menemuimu’.

“Ke sini sama siapa?” tanyanya lembut.

“Sendiri,” jawabku pelan.

Ia mengkhawatirkanku. Kepalan tanganku mengeras. Kupu-kupu kurang ajar yang memenuhi perutku tiba-tiba seluruhnya bergerak tanpa kuminta. Sepuluh menit yang lalu, aku melihatnya begitu bergairah dan enerjik di atas panggung, tetapi begitu turun, ia berubah menjadi lelaki yang hanya menunjukkan sisi manisnya kepadaku.

 “Ikut ke basecamp, kan? Nggak langsung pulang, kan?” tanyanya bertubi-tubi.

 Aku tak bisa menjawab apapun selain anggukan. Aku mengikutinya seperti anak bebek yang mengikuti jalan induknya. ‘Kemana pun ia mengajakku pergi, aku tak akan menolak,’ begitu janjiku dalam hati sebelum berangkat tadi. Persetan dengan omongan orang, yang terpenting adalah rasa rindu yang harus diobati ini.

 Kami tiba di penginapan dengan ditemani guyuran hujan yang lebih bersahabat dari sebelumnya. Ku telungkupkan topi jaket di kepalaku sambil berlari masuk. Hati-hati kemudian aku duduk di serambi. Aku tak melihatnya di manapun. Mungkin ia sudah masuk ke dalam kamarnya dan sedang istirahat.

 Tak berapa lama ia muncul dengan memakai sarung dan sandal mirip punyaku di bagasi tadi. Ia memegang handphone-nya sambil tersenyum ketika melihatku.

 “Makan dulu, yuk,” ajaknya.

 Ia membawaku ke belakang gerobak bakso yang bertengger di depan penginapan dengan sabarnya. Setelah mengambil beberapa isian, ia mempersilahkanku mengambil juga. Aku melihat mangkok itu kemudian tersenyum. Bahkan kesukaan kami pun sama. Bakso tanpa saos, sambal ataupun kecap. Bakso bayi kalau teman-temanku menyebutnya. Betapa sempurnanya bila kelak kita benar-benar bisa bersama.

Bunyi dering telepon terus menerus mengganggu ketika kami sedang makan.

 Handphone siapa sih itu? Bikin kesal aja,’ batinku kesal.

 "Halo, Sayang..." jawab sebuah suara di dekatku mengakhiri suara dering handphone. Aku tersenyum. Kecut. "Sudah saatnya aku kembali ke dunia nyata," batinku. Aku mengemasi barang-barangku kemudian pergi menantang hujan kembali untuk menuju ke dunia di mana aku berasal. Hujan yang terus membahasahiku membuatku untuk tetap tersadar dan terbangun dari mimpiku hari ini.

5 disukai 1K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction