Pejalanan

Apa yang paling ku takuti di dunia ini, kehilangan. Aku dan kamu berubah menjadi kita. Dan yang paling ku takuti sekarang kita berubah menjadi aku dan kamu, kembali. Kehilangan kita adalah hal yang harus ku hindari, sedapat mungkin ku jaga erat. Namun bukan kah yang erat dipegang akan meledak selayaknya balon yang erat dipegang.

Kita berjalan bersama, ku pegang erat tangan mu. Ku jaga hati dan raga ini agar tidak pergi, bukan hanya pergi, tak ku biarkan walau hanya berpaling. Kita berjalan pada sebuah rel dan bergerak, namun seharusnya aku paham setiap rel tidak selalu bersama pada suatu sisi ia akan berpisah. Lalu apa yang dapat menjaga agar tetap menjadi kita?

Aku masih berpegang erat padamu, sesekali terjatuh aku tetap memegang bagian tubuh mu, apapun itu. Namun tidak dengan mu, kau hanya melihat ku terjatuh tanpa mau membantu ku untuk berdiri, lalu hanya tatap tanpa aku di dalamnya.

Saat kita harus berpisah, ya masih menjadi kita, bagaimana bisa menjagamu? Tidak ada. Kamu berkata saatnya berpisah, kita tak lagi sejalan, aku memilih jalan ku begitu ucap mu terakhir kali, lalu kau pergi pada rel mu. Aku masih di simpang perpisahan. Lalu jalan ku? Tak pernah kau pikirkan.

Aku hanya teman pejalanan yang dengan cepat kau tinggalkan. Kita hanya searah beberapa saat, tidak menetap. Ketakutan ku tak lagi menjadi takut, ia ku rangkum dalam sesuatu yang dinamakan, kisah.

7 disukai 3.3K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction