Tong Ngin Fan Ngin Jit Jong

Bangka, Mei 1998.

Di depan layar televisi yang menyala dan tengah mengabarkan berita kerusuhan di ibukota, Syahdan menggenggam erat tangan sahabatnya, Akew, yang sedang gemetar hebat.

“Tenang, Kew. Di sini kite semue bersaudare[1]. Ingat semboyan kite, masyarakat Bangka: tong ngin fan ngin jit jong[2],” ujar Syahdan dengan logat Melayu kental, diakhiri kalimat dalam bahasa Hakka—bahasa sehari-hari sang sahabat—yang juga begitu fasih. Sejak kecil, mereka memang telah terbiasa hidup dan berbaur di lingkungan yang multikultur.

Di belakang keduanya, orangtua Syahdan dan Akew pun saling percaya dan menguatkan satu sama lain.

“Musibah di seberang sane, tak ‘kan pernah merusak kerukunan kite semue di sini,” tutup ayah Syahdan. 

***

[1] Melayu: Kita semua bersaudara.

[2] Bahasa Hakka, semboyan masyarakat di Pulau Bangka yang artinya ‘orang Tionghoa dan Melayu itu sama atau setara’. Semboyan ini telah terjaga sejak puluhan tahun lalu serta menjadi bukti kerukunan antara masyarakat Melayu dan Tionghoa di Bangka, termasuk pada saat kerusuhan Mei 1998 di Jakarta dan juga di beberapa tempat lainnya. 

5 disukai 1K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction