Aku selalu percaya bahwa setiap manusia lahir membawa sebuah pertanyaan yang diam-diam tumbuh bersamaan dengan usianya. Sebagian orang menghabiskan hidup untuk mencari kekayaan. Sebagian lain mengejar pengakuan, kekuasaan, atau ketenangan. Namun sejak kecil, aku justru sibuk mencari alasan mengapa manusia dipertemukan. Mengapa dari miliaran langkah yang memenuhi bumi, hanya beberapa yang akhirnya saling berpapasan. Mengapa ada wajah-wajah yang sekali lewat segera dilupakan, sementara ada seseorang yang bahkan sebelum mengenalnya, terasa seperti jawaban yang telah lama ditunggu.
Pertanyaan itu terus hidup di kepalaku selama bertahun-tahun. Aku membawanya ke ruang kuliah, ke perpustakaan, ke warung kopi, bahkan ke perjalanan-perjalanan yang tak pernah benar-benar punya tujuan selain memberi kesempatan kepada pikiranku untuk berkelana lebih jauh. Semakin banyak membaca buku, aku semakin menyadari bahwa pengetahuan hanya pandai menjelaskan bagaimana sesuatu bekerja. Namun tidak selalu mampu menjelaskan mengapa sesuatu harus terjadi.
Aku pernah membaca teori tentang probabilitas, tentang peluang, tentang bagaimana kehidupan hanyalah hasil dari jutaan kemungkinan yang saling bertabrakan. Tetapi entah mengapa, aku tidak pernah sepenuhnya percaya. Ada sesuatu yang terasa terlalu rapi untuk disebut kebetulan. Seperti matahari yang selalu tahu kapan harus tenggelam. Seperti hujan yang datang tepat ketika bumi mulai retak oleh kemarau. Atau seperti seseorang yang hadir tepat ketika kita mulai kehilangan keyakinan terhadap dunia.
Hari itu perpustakaan kota jauh lebih lengang dari biasanya. Hanya terdengar suara pendingin ruangan dan bunyi lembaran buku yang sesekali dibalik oleh pengunjung. Aku memilih duduk di dekat jendela. Di hadapanku terbuka sebuah buku filsafat yang telah kubaca berulang kali, tetapi tak pernah benar-benar selesai kupahami. Karena setiap kali selesai membaca satu halaman, pikiranku justru berjalan lebih jauh daripada isi buku itu sendiri.
"Apakah kursi ini kosong?"
Sebuah suara membuyarkan lamunanku, lalu aku mendongak. Seorang perempuan berdiri sambil membawa tiga buku yang tampak terlalu berat untuk kedua tangannya.
Aku mengangguk pelan seraya berkata, "Silakan."
Ia tersenyum. Senyum yang tampaknya lahir dari seseorang yang telah berdamai dengan dirinya sendiri. Dan itu membuatku langsung merasa tenang.
Bagiku, ada orang-orang yang membawa keramaian ke mana pun mereka pergi. Ada pula yang membawa ketenangan. Perempuan itu termasuk yang kedua.
Ia duduk tanpa banyak suara. Dan beberapa menit berlalu, kami sama-sama tenggelam dalam bacaan masing-masing. Namun sesekali aku menangkapnya mengangkat kepala, menatap langit di luar jendela, lalu kembali menulis sesuatu di buku catatannya.
Aku penasaran pada apa yang sedang dipikirkannya. Rasa penasaran itu akhirnya menemukan jalannya ketika sebuah buku yang ia letakkan di tepi meja terjatuh. Aku refleks mengambilnya. Judul buku itu membuatku tersenyum kecil.
Man's Search for Meaning.
"Aku juga suka buku itu," kataku sambil menyerahkannya.
Matanya berbinar. "Jarang ada yang bilang begitu."
"Kebanyakan orang menganggap buku itu terlalu berat."
Ia mengangguk pelan. "Mungkin bukan berat."
"Lalu?"
"Hanya saja, tidak semua orang sedang mencari makna."
Jawaban itu membuatku terdiam. Itu terasa seperti batu kecil yang dijatuhkan ke dalam danau pikiranku. Riaknya terus melebar.
Kami pun mulai berbincang. Tentang buku, perjalanan, tentang mengapa manusia sering kali sibuk mengejar keberhasilan, tetapi lupa bertanya untuk apa keberhasilan itu.
Aneh.
Percakapan kami mengalir tanpa jeda yang canggung. Seolah kami hanya sedang melanjutkan dialog yang pernah tertunda bertahun-tahun lalu.
Aku tidak merasa sedang mengenal orang baru. Aku justru merasa sedang menemukan kembali seseorang yang telah lama kukenal, tetapi lupa di mana pertama kali bertemu.
Hujan turun ketika perpustakaan akan tutup. Kami berdiri di teras depan. Orang-orang berlarian mencari kendaraan. Sebagian berteduh. Sebagian memilih menerobos hujan.
"Kamu percaya kebetulan?" tanyaku tiba-tiba.
Ia memandang rintik hujan yang memantulkan cahaya lampu jalan. "Lumayan sering."
"Kalau aku mulai meragukannya."
"Kenapa?"
Aku tersenyum tipis. "Karena rasanya ada pertemuan-pertemuan yang terlalu tepat untuk disebut kebetulan."
Ia tidak langsung menjawab. Tangannya menangkap beberapa tetes hujan yang jatuh dari atap. "Lihat hujan."
Aku mengikuti arah pandangnya.
"Setiap tetes turun sendiri-sendiri." Ia melanjutkan. "Tapi semuanya tetap menuju bumi yang sama."
Aku memandangnya.
"Mungkin manusia juga begitu."
"Maksudmu?" tanyaku.
"Kita boleh berasal dari langit yang berbeda. Dari keluarga yang berbeda. Dari pengalaman yang berbeda. Bahkan dari luka yang berbeda. Tetapi kalau makna hidup yang kita cari sama, cepat atau lambat kita akan bertemu."
Kalimat itu menggantung di antara suara hujan. Aku tidak tahu mengapa jantungku berdetak sedikit lebih cepat. Namun bagiku, perasaan itu terlalu dini untuk diberi nama. Yang kurasakan hanyalah sesuatu yang jauh lebih tenang. Seperti menemukan halaman buku yang selama ini hilang. Atau seperti menyadari bahwa selama bertahun-tahun ternyata aku tidak berjalan sendirian. Ada seseorang yang tanpa kusadari sedang menempuh jalan yang sama. Hanya saja kami memulainya dari arah yang berbeda.
Hujan mulai mereda. Kami berjalan berdampingan menyusuri trotoar yang masih basah. Tidak ada yang tergesa-gesa. Tidak ada yang merasa harus mengisi setiap jeda dengan kata-kata. Anehnya, diam di sampingnya tidak pernah terasa kosong. Justru di dalam keheningan itu, pikiranku menemukan satu kesimpulan yang selama bertahun-tahun gagal kutemukan di dalam buku-buku. Barangkali semesta memang tidak mempertemukan manusia untuk saling menyempurnakan. Sebab tak ada manusia yang lahir sebagai setengah jiwa. Semesta mempertemukan dua manusia agar keduanya menyadari bahwa arah yang mereka tempuh ternyata sama. Bahwa di dunia yang begitu luas, selalu ada seseorang yang melihat cakrawala dengan cara yang tidak jauh berbeda. Dan mungkin itulah definisi paling sederhana tentang takdir. Yaitu ketika dua cara memaknai hidup akhirnya saling menemukan.
Pagi-pagi berikutnya, dunia berjalan seperti biasa. Matahari tetap terbit dari arah yang sama. Orang-orang masih berdesakan mengejar kereta, memenuhi ruang-ruang kerja, dan menumpuk rencana-rencana baru di atas kalender yang semakin sesak. Tidak ada yang berubah bagi semesta. Namun ada sesuatu yang berubah di dalam diriku.
Sejak pertemuan sore itu, aku mulai menyadari bahwa pikiranku tidak lagi berjalan sendirian. Ada suara lain yang sesekali muncul di antara alur logikaku. Bukan suara yang mengganggu, tapi suara yang melengkapi ruang-ruang kosong yang selama ini tidak kusadari keberadaannya.
Aku masih mengunjungi perpustakaan pada jam yang sama. Entah karena ingin membaca, atau diam-diam berharap melihat perempuan itu kembali. Aku tidak pernah mengakuinya. Barangkali manusia memang pandai menyamarkan kerinduan dengan alasan-alasan yang terdengar masuk akal.
Dan benar saja. Pada minggu berikutnya, ia kembali duduk di meja dekat jendela. Seolah tempat itu telah diam-diam memilih kami sebagai dua tokoh yang harus melanjutkan cerita.
Ia mengangkat tangan ketika melihatku. "Aku kira kamu bosan membaca buku yang sama."
Aku tertawa. "Aku justru sedang membaca bagian yang berbeda."
Ia mengernyit. "Bukunya sama."
"Pembacanya yang berubah."
Ia tersenyum. "Kalau begitu, bukunya memang tidak pernah selesai."
Aku mengangguk.
Percakapan kami perlahan menjadi kebiasaan. Bukan percakapan tentang cuaca, pekerjaan, atau hal-hal yang lazim dijadikan pembuka oleh dua orang yang sedang saling mengenal. Kami justru menghabiskan berjam-jam memperdebatkan sesuatu yang bahkan tak memiliki jawaban tunggal. Mengapa manusia lebih mudah mengingat luka daripada kebahagiaan? Apakah mimpi benar-benar milik kita, atau hanya warisan dari harapan orang-orang sebelum kita? Mengapa sebagian orang baru mengenal dirinya sendiri setelah kehilangan sesuatu yang paling dicintainya?
Setiap pertanyaan melahirkan pertanyaan baru. Namun anehnya, kami tidak pernah merasa lelah. Diskusi itu tidak bertujuan memenangkan pendapat. Kami hanya sedang membantu satu sama lain melihat dunia dari jendela yang lebih luas.
Suatu sore, kami duduk di taman belakang perpustakaan. Angin menggerakkan daun-daun trembesi hingga bayangannya bergoyang di atas bangku kayu tempat kami berbincang.
"Aku punya teori," katanya sambil memandangi langit.
Aku menoleh. "Apa?"
"Setiap manusia hidup hanya dengan satu kata."
"Satu kata?"
Ia mengangguk. "Ada yang hidup untuk kebebasan. Ada yang hidup untuk kekuasaan. Ada yang hidup demi pengakuan. Ada pula yang mengejar ketenangan. Lalu menurutmu?"
Ia menatapku. "Kata apa yang sedang kamu cari?"
Pertanyaan itu terlalu sederhana untuk dijawab terburu-buru. Aku mengingat perjalanan hidupku. Semua buku yang kubaca. Semua kota yang pernah kukunjungi. Semua kegagalan yang diam-diam mengubahku jadi manusia hari ini.
"Makna," jawabku akhirnya.
Ia tersenyum pelan. "Aku juga."
Kami saling diam. Namun diam itu tidak lagi terasa sebagai jeda. Lebih menyerupai dua garis yang akhirnya bertemu di satu titik. Barangkali itulah pertama kalinya aku benar-benar percaya bahwa kesamaan bukanlah persoalan hobi, makanan favorit, atau lagu yang sama-sama disukai. Kesamaan sejati adalah ketika dua orang memiliki alasan serupa untuk bangun setiap pagi.
Hari-hari berikutnya, kami mulai berjalan lebih jauh. Bukan hanya menyusuri rak-rak perpustakaan, tetapi juga kota. Museum, galeri seni, diskusi publik, pameran fotografi. Kadang kami sengaja duduk di halte paling ujung hanya untuk mengamati manusia yang datang dan pergi. Ia sering membuat kesimpulan-kesimpulan kecil yang membuatku terdiam.
"Lihat anak kecil itu."
Aku mengikuti arah telunjuknya. Seorang bocah sedang tertawa sambil mengejar gelembung sabun yang ditiup ayahnya.
"Apa yang kamu lihat?"
"Tawa."
Ia menggeleng. "Aku melihat keberanian."
Aku mengernyit. "Keberanian?"
"Iya. Anak-anak berani mengejar sesuatu yang belum tentu bisa mereka genggam. Kita yang dewasa justru sering takut mengejar sesuatu hanya karena kemungkinan gagal."
Aku menatap bocah itu lebih lama. Benar. Ia berlari tanpa memikirkan apakah gelembung itu akan pecah. Ia hanya menikmati proses mengejarnya. Entah sejak kapan manusia tumbuh jadi makhluk yang lebih mencintai hasil daripada perjalanan.
Aku menoleh pada perempuan di sampingku.
"Kadang aku iri dengan caramu melihat dunia."
Ia tertawa kecil. "Jangan iri."
"Kenapa?"
"Karena aku juga iri pada caramu."
Aku terdiam. "Bedanya?"
"Kamu melihat dunia seperti seseorang yang ingin memahaminya. Aku melihat dunia seperti seseorang yang ingin memeluknya."
Sepanjang perjalanan pulang, aku terus memikirkan kata-katanya. Mungkin memang begitu adanya. Logika membuatku mencari alasan. Sedangkan empatinya membuatku menemukan manusia di balik setiap alasan. Dan keduanya tidak pernah saling bertabrakan. Justru saling melengkapi.
Semakin lama mengenalnya, semakin aku sadar bahwa kami tidak selalu sepakat. Ia menyukai keputusan yang lahir dari keberanian. Aku lebih sering mempertimbangkan segala kemungkinan sebelum melangkah. Ia percaya bahwa beberapa jawaban hanya bisa ditemukan di jalan. Aku percaya sebagian jawaban lahir dari perenungan. Namun setiap kali berbeda pendapat, tidak ada satu pun dari kami yang berusaha mengubah yang lain. Kami justru saling bertanya.
"Apa yang membuatmu berpikir begitu?"
Kalimat itu perlahan jadi fondasi hubungan kami. Bukan "kamu salah". Bukan "aku benar". Namun keinginan tulus untuk memahami cara berpikir satu sama lain. Aku mulai mengerti bahwa cinta yang dewasa bukanlah kesepakatan tanpa perbedaan. Namun ruang yang cukup luas bagi dua orang untuk tetap jadi dirinya sendiri.
Suatu malam kami mendaki bukit kecil di pinggir kota. Tidak ada tujuan khusus. Kami hanya ingin melihat bintang.
Angin berembus pelan membawa aroma rumput yang masih menyimpan embun. Lampu-lampu kota tampak kecil dari kejauhan. Seperti gugusan kunang-kunang yang lupa pulang.
"Apa cita-citamu?" tanyaku.
Ia tersenyum. "Aku tidak terlalu suka kata cita-cita."
"Lalu?"
"Aku lebih suka menyebutnya arah."
"Apa arahmu?"
Ia memandang langit. "Aku ingin hidup yang keberadaannya membuat orang lain lebih berani menjalani hidupnya."
Aku memandang wajahnya yang diterangi cahaya bulan.
"Aku ingin menulis."
Ia menoleh. "Buku?"
"Bukan hanya buku."
"Lalu?"
"Aku ingin menulis sesuatu yang membuat seseorang merasa tidak sendirian ketika membaca."
Ia tersenyum. "Berarti arah kita memang mirip."
Aku mengernyit. "Kenapa?"
"Karena kita sama-sama tidak ingin dikenang."
Aku tertawa. "Aneh. Bukankah semua orang ingin dikenang?"
Ia menggeleng pelan. "Aku hanya ingin keberadaanku jadi alasan seseorang percaya bahwa hidup masih layak diperjuangkan."
Aku menarik napas panjang. Malam terasa begitu tenang. Lalu tiba-tiba aku menyadari sesuatu. Selama ini aku selalu mengira cinta lahir dari rasa kagum. Ternyata tidak. Cinta mungkin lahir ketika kita menemukan seseorang yang membuat impian kita tidak lagi terdengar mustahil. Seseorang yang tidak mengubah tujuan hidupmu, tetapi berjalan di sampingmu menuju tujuan yang sama.
Aku memandang langit yang dipenuhi ribuan bintang. Jika semesta memang bekerja melalui hukum-hukum yang rumit, barangkali ada satu hukum yang tidak pernah ditulis ilmuwan mana pun. Bahwa pada suatu waktu yang tidak bisa dipercepat ataupun ditunda, dua manusia yang membawa makna hidup serupa akan dipertemukan agar keduanya saling mengingatkan ketika salah satu mulai kehilangan arah. Dan malam itu, di bawah langit yang terasa begitu luas, aku mulai percaya bahwa pertemuan kami bukanlah jawaban. Pertemuan kami justru awal dari sebuah perjalanan yang jauh lebih panjang daripada sekadar jatuh cinta.
Musim berganti tanpa meminta izin. Daun-daun yang dahulu hijau perlahan menguning, lalu gugur, kemudian tumbuh kembali seolah semesta sedang mengajarkan bahwa kehilangan selalu diikuti oleh kesempatan untuk memulai. Sementara itu, percakapan kami terus bertambah panjang, seperti sungai yang menemukan semakin banyak anak aliran sebelum akhirnya menuju laut.
Aku mulai terbiasa berjalan di sampingnya, karena justru di dekatnya, aku tetap merasa menjadi diriku sendiri. Barangkali itulah bentuk kedekatan yang paling dewasa. Bukan ketika dua manusia saling menghapus identitas, tapi ketika keduanya memberi ruang agar satu sama lain terus bertumbuh.
Suatu sore, kami kembali duduk di bangku taman yang sama. Namun kali ini, ia tampak lebih diam daripada biasanya. Tatapannya berulang kali jatuh pada sebuah amplop putih yang sedari tadi digenggamnya erat.
"Ada kabar baik?" tanyaku.
Ia mengangkat wajah, lalu tersenyum tipis. "Mungkin."
"Mungkin?"
"Aku mendapat kesempatan melanjutkan studi."
Aku ikut tersenyum. "Wah, hebat!"
"Di luar negeri."
Kalimat itu jatuh begitu pelan. Namun entah mengapa, dadaku menangkapnya seperti batu yang dilemparkan ke permukaan danau. Riaknya melebar. Bukan karena aku tidak bahagia. Aku justru bangga. Hanya saja, untuk pertama kalinya sejak kami bertemu, aku sadar bahwa arah yang sama belum tentu berarti jalan yang sama.
Kami sama-sama terdiam di tengah angin sore yang membawa daun-daun kering berputar di sekitar kaki kami.
Ia memecah keheningan. "Aku takut."
"Kenapa?"
"Takut kita mulai berjalan terlalu jauh."
Aku menggeleng pelan. "Jarak hanya mengubah koordinat."
"Kenapa demikian?"
"Bukan tujuan."
Ia memandangku lama. "Apa kamu benar-benar percaya itu?"
Aku menarik napas dalam. Sejujurnya, aku juga takut. Takut percakapan kami berubah jadi pesan-pesan singkat. Takut jeda waktu perlahan menggantikan kebiasaan saling bertukar pikiran. Takut dunia mempertemukan kami hanya untuk membuktikan bahwa tidak semua pertemuan ditakdirkan agar tetap bersama. Namun aku juga tahu bahwa jika aku benar-benar memahami makna pertemuan kami, seharusnya aku tidak menjadikannya penjara. Cinta yang meminta seseorang berhenti tumbuh demi tetap tinggal bukanlah cinta. Itu hanya ketakutan yang menyamar jadi kasih sayang.
"Aku percaya," jawabku akhirnya. "Bukan karena aku yakin semuanya akan mudah, tapi karena aku yakin tujuanmu terlalu berharga untuk kutahan."
Matanya mulai berkaca-kaca. "Aku tidak ingin kehilangan perjalanan ini."
Aku tersenyum. "Perjalanan kita tidak diukur oleh seberapa dekat langkah kita."
"Lalu?"
"Oleh seberapa lama kita tetap menuju arah yang sama."
Beberapa minggu kemudian, hari keberangkatannya pun tiba. Bandara dipenuhi orang-orang yang sedang memulai dan mengakhiri perjumpaan. Tangis, pelukan, janji, lambaian tangan. Semuanya bercampur jadi satu bahasa yang hanya dipahami oleh mereka yang pernah ditinggalkan atau meninggalkan.
Kami berdiri di depan pintu keberangkatan. Tidak banyak kata. Seperti biasa, keheningan lebih dulu memahami kami.
"Aku punya pertanyaan terakhir."
Aku mengangguk.
"Menurutmu... mengapa semesta mempertemukan kita?"
Aku tersenyum kecil. Dulu, aku mungkin akan menjawab karena cinta. Kini jawabanku berubah.
"Supaya kita tahu."
"Tahu, apa?"
"Bahwa kita tidak sendirian membawa cara memandang dunia."
Ia menatapku tanpa berkedip.
Aku melanjutkan, "Kita sering kali mengira pasangan hidup adalah seseorang yang melengkapi kekurangan kita. Padahal kadang ia hadir hanya untuk memastikan bahwa nilai-nilai yang kita perjuangkan tidak sedang kita perjuangkan sendirian."
Air mata perlahan mengalir di pipinya. Namun senyumnya tetap ada.
"Terima kasih."
"Buat apa?"
"Karena sudah membuatku yakin bahwa aku boleh bermimpi sejauh mungkin."
Aku menggeleng. "Bukan aku."
"Lalu, siapa?"
"Kita."
Setelah ia pergi, kota kembali menjalankan rutinitas. Aku pun demikian. Perpustakaan masih membuka pintunya setiap pagi. Bangku dekat jendela masih berada di tempat yang sama. Hanya kini, salah satu kursinya lebih sering kosong. Sesekali kami masih berbincang melalui panggilan video. Tentang buku-buku baru, tentang penelitian yang sedang ia kerjakan, tentang naskah-naskah yang sedang kutulis, atau tentang dunia yang ternyata jauh lebih luas daripada yang dahulu kami bayangkan.
Ada kalanya kami berbeda pendapat. Ada kalanya kesibukan membuat percakapan terhenti selama beberapa hari. Namun anehnya, tidak pernah ada rasa kehilangan. Karena kami tidak pernah menggantungkan hubungan ini pada intensitas. Kami menggantungkannya pada arah. Dan arah tidak berubah hanya karena jalan sedang berbelok.
Beberapa bulan kemudian, aku akhirnya menyelesaikan sebuah buku. Di halaman pertama, sebelum isi dimulai, kutulis sebuah kalimat sederhana.
"Untuk seseorang yang membuatku percaya bahwa kesamaan terbesar bukanlah mencintai hal yang sama, tapi memaknai hidup dengan cara yang sejalan."
Aku tidak mencantumkan namanya. Sebab ia tidak membutuhkannya. Ada orang-orang yang kehadirannya terlalu dalam untuk dijelaskan hanya dengan deretan huruf.
Suatu senja, aku kembali berdiri di depan jendela perpustakaan. Langit memantulkan warna jingga yang perlahan berubah. Pemandangan itu mengingatkanku pada sore ketika kami pertama kali bertemu. Aku tersenyum sendiri. Lalu tiba-tiba aku menyadari sesuatu yang selama ini luput kupahami. Selama bertahun-tahun aku mencari teori tentang pertemuan manusia. Aku membaca filsafat, psikologi, sosiologi, probabilitas, takdir. Namun tidak satu pun bisa memberiku jawaban yang benar-benar utuh.
Kini, setelah semua perjalanan itu, aku justru menemukan jawabannya di tempat yang paling sederhana. Pertemuan bukanlah hadiah. Ia juga bukan ujian. Pertemuan adalah kemungkinan bagi dua manusia untuk saling memperluas cakrawala berpikir. Kemungkinan untuk saling menguatkan ketika salah satu mulai meragukan dirinya. Kemungkinan untuk membuat dunia jadi sedikit lebih baik dibandingkan ketika mereka belum saling mengenal. Dan cinta, barangkali cinta hanyalah bahasa yang dipilih semesta agar dua manusia bersedia tinggal lebih lama dalam proses saling menumbuhkan.
Aku memandang bangku di seberang meja. Kosong. Namun tidak lagi terasa sepi. Karena aku tahu, jarak hanya memindahkan tubuh. Ia tidak pernah bisa memindahkan nilai yang telah tumbuh di dalam dua manusia.
Aku menutup buku yang sedari tadi kubaca. Di sampulnya tertulis sebuah kutipan yang membuatku kembali tersenyum.
"Makna terbesar hidup tidak ditemukan ketika kita berhasil mencapai tujuan, tapi ketika perjalanan menuju tujuan itu membuat kita jadi manusia yang lebih utuh."
Aku menatap langit untuk terakhir kalinya sebelum melangkah keluar.
Hari mulai gelap. Namun langkahku terasa jauh lebih terang daripada ketika cerita ini dimulai. Kini aku akhirnya memahami sesuatu bahwa semesta memang tidak mempertemukan semua orang untuk saling memiliki. Sebagian dipertemukan untuk saling menyembuhkan. Sebagian lagi untuk saling mengajarkan. Dan ada pertemuan-pertemuan yang lebih langka daripada keduanya. Pertemuan antara dua manusia yang sejak awal berjalan menuju horizon yang sama, hanya melalui jalan yang berbeda. Mereka tidak saling mengubah arah. Mereka hanya saling memastikan bahwa ketika dunia terasa terlalu luas dan terlalu sunyi, masih ada seseorang yang memandang langit yang sama dengan keyakinan yang sama.
Mungkin itulah teori yang selama ini kucari. Bahwa dua makna hidup tidak pernah benar-benar bertemu untuk berhenti di satu titik. Mereka bertemu agar mampu berjalan lebih jauh. Bersama, bila semesta mengizinkan. Dan bila tidak, mereka tetap akan menjadi alasan mengapa langkah masing-masing tidak pernah kehilangan tujuan.
-II-