Di kota tempat aku dilahirkan, matahari tidak pernah benar-benar tenggelam, hanya diredupkan. Setiap petang, tepat ketika langit mulai berubah warna dan burung-burung kembali ke sarang, sebuah lonceng raksasa akan berbunyi dari pusat kota. Dentangnya menjalar dari gedung-gedung pemerintahan, menembus jendela-jendela apartemen, merayap di sela-sela gang sempit, lalu berakhir di telinga seluruh penduduk seperti perintah yang tidak boleh dibantah.
Saat itulah para petugas negara mulai bekerja. Mereka menyebutnya Panen Cahaya. Suatu tradisi yang konon sudah berlangsung sejak puluhan tahun lalu. Sebuah kebijakan yang, menurut buku-buku pelajaran resmi, diperlukan demi menjaga kemakmuran bangsa. Sebuah kebohongan yang begitu tua hingga sebagian besar orang berhenti mempertanyakannya.
Setiap malam, petugas akan mendatangi rumah-rumah warga dan mengambil sebagian cahaya yang tersisa di dalam lampu mereka. Tidak banyak. Hanya sedikit. Namun dilakukan terus-menerus. Tahun demi tahun. Generasi demi generasi. Sampai orang-orang lupa seperti apa rasanya hidup dalam terang yang utuh.
Aku tumbuh di lingkungan yang nyaris selalu remang. Ayahku seorang guru. Ibuku menjahit pakaian tetangga untuk menambah penghasilan. Kami tidak pernah benar-benar miskin. Tetapi kami juga tidak pernah cukup sejahtera untuk berhenti menghitung harga beras sebelum pergi ke pasar.
Di rumah kami ada satu lampu tua yang menggantung di ruang tengah. Cahayanya kekuningan. Lelah, seperti sedang bekerja lembur setiap malam. Ketika kecil, aku sering bertanya mengapa lampu kami tidak seterang lampu-lampu di pusat kota. Ayah hanya tersenyum, lalu menyuruhku menyelesaikan pekerjaan rumah. Aku baru memahami jawabannya bertahun-tahun kemudian. Sebab sebagian cahaya dari rumah kami telah lama tinggal di tempat lain.
Pusat kota adalah dunia yang berbeda. Di sana berdiri Gedung Kementerian Penerangan Nasional. Bangunan setinggi langit yang seluruh dindingnya terbuat dari kaca berlapis emas. Setiap malam, gedung itu bercahaya seperti matahari kedua. Begitu terang hingga orang-orang harus menyipitkan mata ketika melintas di depannya. Para pejabat selalu mengatakan bahwa cahaya itu adalah simbol kemajuan. Lambang kejayaan negara. Bukti keberhasilan pembangunan. Namun setiap kali melihatnya, aku justru teringat pada lampu di rumah kami yang semakin redup dari tahun ke tahun.
Aku mulai curiga bahwa kemajuan punya kebiasaan aneh yang selalu tumbuh di satu tempat sambil menghilang dari tempat lain.
Ketika berusia dua puluh tiga tahun, aku diterima bekerja sebagai arsiparis di kementerian itu. Ayahku bangga. Tetangga-tetangga datang mengucapkan selamat. Ibuku memasak lebih banyak daripada biasanya. Semua orang menganggapku beruntung. Dan memang demikian.
Setidaknya hanya di awal.
Sebab tidak banyak anak kampung yang bisa masuk ke jantung kekuasaan. Aku sendiri datang dengan harapan sederhana. Aku ingin melihat bagaimana negeri ini bekerja dari dalam. Aku ingin memahami mengapa begitu banyak janji terdengar indah saat kampanye, tapi berubah jadi angka-angka dingin setelah pemilu selesai.
Aku ingin menemukan alasan mengapa orang-orang yang dulu datang ke pasar mencium tangan rakyat, beberapa bulan kemudian mulai berbicara dari balik pagar besi dan pengawalan berlapis. Aku ingin memahami. Sayangnya, pemahaman sering kali jadi pintu masuk menuju kekecewaan.
Pada minggu ketiga bekerja, aku menemukan ruangan yang tidak tercantum dalam peta gedung. Letaknya di lantai bawah tanah. Tersembunyi di balik lorong sempit yang bahkan jarang dilewati petugas kebersihan. Pintu besinya sangat besar. Di atasnya terpasang tulisan sederhana.
Departemen Penyimpanan Cahaya Nasional
Aku tertawa ketika pertama kali membacanya. Kupikir itu semacam proyek seni atau museum sejarah. Namun rasa ingin tahu adalah penyakit yang sulit disembuhkan. Terutama bagiku yang sejak kecil dibesarkan oleh pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah memperoleh jawaban.
Maka, malam itu, setelah sebagian besar pegawai pulang, aku kembali ke sana. Lorong bawah tanah terasa dingin. Sunyi. Hanya suara dengung mesin yang terdengar dari kejauhan. Aku menemukan pintu itu tidak terkunci. Dan ketika membukanya, seluruh hidupku berubah.
Ruangan itu sangat besar. Lebih besar daripada lapangan sepak bola. Lebih besar daripada apa pun yang pernah kubayangkan. Di dalamnya berdiri ribuan tabung kaca raksasa. Masing-masing berisi cahaya yang bergerak seperti makhluk hidup.
Berkedip. Berdenyut. Bernapas. Seakan jutaan kunang-kunang dikurung dalam penjara transparan.
Aku terpaku. Di bagian bawah setiap tabung terdapat label. Alamat, nama wilayah, nomor distrik, nomor rumah.
Aku berjalan mendekat, lalu membaca salah satu label.
Distrik Selatan. Blok 7. Rumah 13.
Ya, alamat rumahku.
Dadaku seketika terasa kosong. Cahaya dari rumah kami ada di sana. Tersimpan rapi. Dikatalogkan. Dikelola seperti aset negara. Saat itulah aku memahami makna sebenarnya dari Panen Cahaya.
Negara tidak pernah mengambil sedikit, tapi demikian hanya membuat rakyat percaya bahwa yang diambil sedikit. Padahal selama puluhan tahun, mereka mengumpulkannya hingga jadi gunung terang yang cukup menerangi seluruh istana.
Di sudut ruangan, sebuah layar raksasa menampilkan statistik nasional. Angka-angka terus bergerak. Jumlah cahaya yang dipanen hari ini. Jumlah cahaya yang berhasil diekstraksi. Jumlah cahaya yang digunakan untuk fasilitas pemerintahan. Jumlah cahaya yang dialokasikan bagi para pejabat tinggi. Dan satu angka yang membuatku hampir tertawa karena terlalu absurd.
Cadangan Cahaya Dinasti Nasional.
Dinasti. Ya, bukan rakyat. Bukan pula negara. Ya, dinasti.
Aku menatap kata itu lama sekali. Lalu untuk pertama kalinya dalam hidupku memahami sesuatu yang selama ini hanya terasa sebagai firasat. Negeri ini tidak sedang dipimpin, tapi justru sedang diwariskan. Dan rakyat hanyalah tambang yang terus digali agar mesin pewarisan itu tetap hidup.
Di balik jendela bawah tanah, cahaya-cahaya yang dicuri terus berkilauan seperti lautan emas. Sangat indah sampai-sampai aku menyadari bahwa seluruh keindahan itu dibangun dari kegelapan yang ditinggalkan di rumah-rumah kami. Dan pada malam itulah aku melihat wajah asli negeri yang selama ini kucintai.
Kali ini, bukan sebagai tanah air. Namun sebagai panggung besar tempat para badut bersetelan jas memainkan pertunjukan paling mahal dalam sejarah: membuat rakyat percaya bahwa kehilangan adalah bentuk lain dari kemakmuran.
Malam itu aku tidak langsung pulang. Aku berdiri lama sekali di antara ribuan tabung kaca yang berisi cahaya-cahaya curian itu, sampai akhirnya aku lupa bahwa jam kerja sudah lama usai dan dunia di atas sana masih bergerak seperti biasa.
Di dalam ruang bawah tanah itu tidak ada jendela. Tidak ada matahari. Tidak ada langit. Namun anehnya, justru di tempat tanpa langit itulah aku melihat negeri ini dengan paling jelas.
Selama bertahun-tahun kami diajarkan bahwa negara adalah rumah besar yang dibangun bersama. Bahwa setiap pengorbanan akan kembali dalam bentuk kesejahteraan. Bahwa setiap tetes keringat rakyat adalah batu bata yang menyusun masa depan bersama. Ternyata rumah itu memang dibangun. Hanya saja bukan untuk kami. Kami hanyalah tukang yang tidak pernah menerima kunci.
Aku mulai datang ke ruang bawah tanah itu setiap malam. Tentunya secara diam-diam. Seperti pencuri yang sedang menyelidiki hasil curiannya sendiri. Semakin lama aku berada di sana, semakin banyak hal yang kutemukan. Ada arsip. Ada laporan. Ada dokumen yang tidak pernah muncul di media. Ada statistik yang tidak pernah dibacakan dalam pidato kenegaraan. Dan yang paling mengerikan, semuanya ditulis dengan bahasa yang sangat sopan.
Begitulah kekuasaan bekerja. Kejahatan terbesar jarang ditulis dengan kata-kata kasar, justru disamarkan dengan istilah teknokratis yang terdengar cerdas. Pencurian disebut optimalisasi. Pemerasan disebut kontribusi nasional. Pembungkaman disebut stabilitas. Dan kebohongan disebut narasi pembangunan.
Aku membaca satu dokumen hingga larut malam. Judulnya: Strategi Peningkatan Panen Cahaya Nasional Tahun Ke-81.
Bahasanya rapi. Akademis. Profesional. Namun setiap kalimat terasa seperti belati.
"Masyarakat berpenghasilan rendah memiliki tingkat resistensi rendah terhadap pengurangan cahaya."
"Wilayah miskin dapat menjadi sumber daya cahaya jangka panjang."
"Kebutuhan penerangan elite pemerintahan harus diprioritaskan demi keberlanjutan stabilitas nasional."
Aku menutup berkas itu perlahan dengan tangan gemetar. Sebab tiba-tiba aku sadar bahwa di mata mereka, rakyat bahkan tidak lagi dianggap manusia. Kami hanya angka. Grafik. Sumber daya. Objek penelitian. Bahan bakar bagi mesin kekuasaan.
Seminggu kemudian, kementerian mengadakan perayaan besar, yaitu Hari Kemajuan Nasional. Salah satu hari favorit para pejabat. Hari ketika mereka bisa berdiri di panggung, mengenakan jas paling mahal, lalu berpidato tentang keberhasilan yang dibayar oleh orang-orang yang bahkan tidak mampu membeli makan malam.
Seluruh pegawai diwajibkan hadir, termasuk aku. Lapangan pusat kota dipenuhi layar raksasa. Bendera berkibar. Musik orkestra diputar begitu keras hingga hampir menenggelamkan suara manusia. Di atas panggung berdiri Presiden Agung Pranoto VIII.
Ya, VIII. Angka Romawi yang selama ini tidak pernah membuatku berpikir. Sampai malam itu aku melihatnya berdampingan dengan kata "presiden". Bukankah presiden seharusnya dipilih? Mengapa terdengar seperti gelar warisan?
Presiden tersenyum. Rakyat bertepuk tangan. Kamera menyorot wajah-wajah yang tampak bahagia, lalu pidato dimulai.
"Saudara-saudaraku sebangsa …."
Aku hampir tertawa. Setiap kali seorang penguasa memanggil rakyat sebagai saudara, biasanya ia sedang bersiap meminta sesuatu.
"Negeri kita sedang memasuki masa keemasan."
Tepuk tangan.
"Pertumbuhan cahaya nasional meningkat dua belas persen."
Tepuk tangan.
"Kesejahteraan rakyat terus membaik."
Tepuk tangan.
Aku menoleh ke arah kerumunan. Di barisan belakang berdiri seorang ibu penjual gorengan yang sering kulihat di dekat terminal. Wajahnya letih. Matanya cekung. Anaknya tidur di gendongan. Ia ikut bertepuk tangan. Mungkin karena semua orang bertepuk tangan. Mungkin karena kamera sedang menyorot. Atau mungkin karena terlalu lama hidup dalam sistem yang membuat seseorang lupa kapan harus marah.
Malam itu aku pulang melewati kawasan pinggiran kota. Lampu-lampu jalan semakin redup. Sebagian bahkan mati total. Rumah-rumah tampak seperti bayangan. Di salah satu gang kecil, aku melihat seorang anak laki-laki sedang belajar di bawah cahaya lilin. Buku sekolahnya lusuh. Pensilnya pendek. Namun ia tetap membaca dengan serius.
Aku berhenti. Mengamatinya dari jauh, lalu tiba-tiba teringat pada ruang bawah tanah kementerian. Mungkin sebagian cahaya yang seharusnya menerangi halaman buku anak itu sedang tersimpan di dalam tabung kaca yang digunakan untuk menerangi ruang rapat pejabat. Mungkin sebagian harapannya sedang dipakai mempercantik pidato seseorang. Mungkin sebagian masa depannya sedang dibakar demi menjaga kilau kekuasaan. Dan entah mengapa, pikiran itu membuat dadaku terasa lebih sesak daripada sebelumnya.
Hari-hari berikutnya, sesuatu mulai berubah di dalam diriku. Aku tidak lagi bisa mendengar pidato tanpa menemukan kebohongan. Tidak lagi bisa membaca berita tanpa mencari siapa yang sedang disembunyikan. Tidak lagi bisa melihat gedung kementerian tanpa membayangkan ribuan tabung cahaya di bawahnya.
Kebenaran ternyata memiliki efek samping. Kebenaran membuat dunia yang dulu tampak sederhana jadi terlalu jelas. Dan kejelasan sering kali lebih menyakitkan daripada kebodohan. Sebab orang yang tidak tahu masih bisa berharap. Sedangkan orang yang tahu harus memutuskan apakah ia akan diam atau melawan.
Maka, suatu malam, ketika sedang memeriksa arsip lama, aku menemukan sesuatu yang jauh lebih mengejutkan daripada seluruh dokumen sebelumnya. Sebuah berkas tua yang menguning dimakan waktu. Tanggalnya hampir delapan puluh tahun lalu. Tahun pertama Panen Cahaya diberlakukan.
Aku membuka halaman demi halaman. Dan di sana, untuk pertama kalinya, aku menemukan nama pencetus program itu. Bukan ekonom. Bukan ilmuwan. Bukan pula negarawan. Namun keluarga yang sama yang telah memimpin negeri ini selama puluhan tahun.
Generasi demi generasi. Nama mereka muncul berulang kali seperti akar pohon yang menjalar ke seluruh tanah.
Presiden pertama. Menteri pertama. Direktur pertama. Ketua dewan pertama. Semuanya berasal dari satu garis keturunan.
Aku terus membaca, lalu menemukan kalimat yang membuat darahku terasa dingin.
"Panen Cahaya diperlukan untuk memastikan keberlangsungan garis penerus negara."
Bukan keberlangsungan negara, bukan pula kesejahteraan rakyat, apalagi masa depan bangsa, bukan dan sama sekali bukan. Melainkan keberlangsungan garis penerus. Dinasti. Lagi. Selalu dinasti.
Ternyata selama ini kami tidak hidup di dalam republik. Kami hanya diajari menyebutnya demikian.
Aku menutup berkas itu. Di luar gedung, malam sedang menyelimuti perlahan. Lampu-lampu kementerian menyala begitu terang hingga nyaris terlihat seperti siang. Aku berdiri di depan jendela lantai dua puluh. Memandang kota yang membentang di bawah sana. Dari ketinggian ini, rumah-rumah rakyat tampak seperti titik-titik kecil yang nyaris tidak terlihat.
Mungkin itulah masalahnya. Ketika seseorang terlalu lama berada di puncak kekuasaan, rakyat berubah menjadi titik. Dan titik sangat mudah diabaikan. Namun untuk pertama kalinya sejak bekerja di kementerian itu, aku menyadari sesuatu. Yang paling menakutkan bukanlah kenyataan bahwa mereka mencuri cahaya kami. Akan tetapi, kenyataan bahwa seluruh negeri telah terbiasa hidup dalam gelap.
Terlalu terbiasa. Sampai banyak orang tidak lagi sadar bahwa sesuatu sedang dicuri dari mereka setiap hari. Dan ketika suatu bangsa berhenti menyadari kehilangan, saat itulah para pencuri bisa hidup paling tenang.
Aku memandang pantulan wajahku di kaca. Untuk sesaat, aku melihat diriku yang dulu. Pemuda yang masuk ke gedung ini dengan keyakinan bahwa sistem mungkin masih bisa diperbaiki dari dalam. Kini keyakinan itu mulai retak. Sebab semakin dalam aku menggali, semakin jelas terlihat bahwa masalahnya bukan pada beberapa orang yang korup.
Masalahnya adalah seluruh bangunan ini memang dirancang menghisap cahaya. Dan aku mulai curiga bahwa cepat atau lambat, seseorang akan menyadari kalau aku sudah melihat terlalu banyak.
Pada minggu-minggu berikutnya, aku mulai hidup seperti orang yang membawa bahan peledak di dalam saku. Dari luar, tidak ada yang berubah. Aku tetap datang ke kantor tepat waktu. Tetap menyusun arsip. Tetap menghadiri rapat. Bahkan tetap mengangguk ketika para pejabat berbicara tentang kemajuan nasional dengan wajah yang begitu serius seolah sedang membahas nasib umat manusia, bukan sekadar mencari cara baru untuk memperpanjang usia kekuasaan mereka.
Namun di dalam kepalaku, sesuatu telah bergeser. Aku tidak lagi melihat manusia. Aku melihat peran. Aku melihat topeng. Aku melihat orang-orang yang sudah begitu lama hidup di bawah cahaya curian hingga percaya bahwa terang itu memang hak mereka.
Dan semakin lama aku berada di sana, semakin aku memahami satu hal yang tidak pernah diajarkan di sekolah: Kekuasaan tidak selalu bertahan karena rakyat takut. Kadang justru bertahan karena rakyat lelah. Terlalu lelah untuk marah. Terlalu sibuk bertahan hidup untuk sempat bertanya mengapa hidup terasa semakin berat. Terlalu putus asa untuk percaya bahwa sesuatu masih bisa berubah.
Suatu malam, ketika sedang menyalin beberapa dokumen rahasia ke perangkat penyimpanan kecil yang kusembunyikan di balik lapisan sepatu, suara seseorang terdengar dari belakangku.
"Kau tidak terlihat seperti pegawai yang sedang lembur."
Aku menoleh cepat. Seorang perempuan berdiri di ujung lorong arsip. Usianya mungkin tidak jauh dariku. Matanya tajam. Terlalu tajam untuk seorang pegawai administrasi.
Aku langsung mengenalinya. Namanya Sava, seorang analis data. Salah satu orang paling pendiam di kementerian.
Aku tidak menjawab, tetapi ia tersenyum tipis.
"Tenang."
"Aku tidak tenang. Itu justru alasan kenapa aku tahu kau menemukan sesuatu."
Jantungku berdetak lebih cepat. Perempuan itu mendekat, lalu mengeluarkan kartu identitas tua dari sakunya. Di atas kartu itu terdapat simbol yang belum pernah kulihat sebelumnya. Seekor burung dengan matahari di paruhnya.
"Apa itu?"
Sava memandangku beberapa saat.
"Lima belas tahun lalu, masih ada orang-orang yang mencoba menghentikan Panen Cahaya."
Aku terdiam.
"Mereka gagal."
"Tertangkap?"
"Sebagian."
"Yang lain?"
Ia tersenyum pahit.
"Belajar bahwa kebenaran tidak selalu kalah. Kadang hanya menunggu waktu yang tepat."
Maka, aku mengetahui bahwa aku tidak sendirian. Ada banyak orang lain. Guru, jurnalis, dokter, mantan hakim, buruh, mahasiswa. Mereka tersebar di berbagai kota. Tidak bersenjata, pun tidak punya tentara. Uang pun tak punya. Mereka hanya memiliki sesuatu yang jauh lebih berbahaya bagi kekuasaan, yaitu ingatan.
Karena setiap rezim yang dibangun di atas kebohongan selalu takut pada orang-orang yang masih mampu mengingat.
Aku bertemu mereka di gudang tua di pinggir kota. Tidak ada bendera. Tidak ada slogan revolusioner. Tidak ada pidato yang berapi-api. Hanya wajah-wajah lelah yang masih menyimpan keyakinan bahwa negeri ini pantas memperoleh sesuatu yang lebih baik daripada sekadar dinasti yang terus berganti nama. Di sana aku mendengar cerita-cerita yang membuat dokumen kementerian terasa jauh lebih mengerikan.
Tentang sekolah-sekolah yang kekurangan listrik karena kuota cahaya dialihkan ke kompleks elite. Tentang rumah sakit yang beroperasi setengah gelap demi memenuhi target distribusi nasional. Tentang daerah-daerah yang sengaja dibiarkan redup agar masyarakatnya lebih mudah dikendalikan. Semua itu nyata. Dan selama ini disembunyikan di balik statistik yang terlihat indah di layar televisi.
"Kalau rakyat tahu, apa yang akan terjadi?" tanyaku suatu malam.
Seorang lelaki tua yang pernah menjadi dosen sejarah tersenyum.
"Mereka akan marah."
"Lalu?"
"Mungkin tidak terjadi apa-apa."
Aku mengernyit.
"Kenapa?"
"Karena kemarahan tidak selalu cukup."
Ia menatapku. "Kau tahu apa yang paling ditakuti penguasa?"
"Perlawanan?"
"Bukan."
"Lalu?"
"Kesadaran."
Aku terdiam.
"Perlawanan bisa dihancurkan. Demonstrasi bisa dibubarkan. Pemimpin bisa dipenjara." Ia menunjuk kepalanya sendiri. "Tapi ketika kesadaran menyebar dari satu pikiran ke pikiran lain, tidak ada penjara yang cukup besar untuk menampungnya."
Rencana kami sederhana. Bahkan terlalu sederhana untuk sesuatu yang berisiko menghancurkan hidup banyak orang. Kami tidak akan menyerang kementerian. Tidak akan merebut gedung. Apalagi menggulingkan siapa pun. Kami hanya akan menunjukkan kebenaran. Seluruh arsip Panen Cahaya, statistik rahasia, dokumen tentang dinasti, seluruh catatan yang selama ini dikubur jauh di bawah tanah.
Biarkan rakyat melihat. Biarkan mereka memutuskan sendiri. Karena kebebasan selalu dimulai dari kemampuan untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Hari itu tiba lebih cepat daripada yang kuduga. Pada malam perayaan ulang tahun negara yang kedelapan puluh satu. Malam ketika seluruh perhatian rakyat tertuju pada pidato Presiden Agung Pranoto IX.
Ya, IX.
Karena bahkan sebelum rakyat sempat bertanya mengapa VIII digantikan, penerus berikutnya telah siap mengambil kursi yang sama. Seolah negara ini memang tidak pernah mengenal masa depan selain garis keturunan.
Panggung raksasa didirikan. Kembang api disiapkan. Jutaan orang menonton dari layar-layar publik. Presiden berdiri di tengah sorotan cahaya. Tersenyum. Mengangkat tangan. Bersiap menyampaikan pidato. Dan tepat saat itulah, seluruh layar di negeri ini berubah.
Wajah presiden menghilang digantikan dokumen, angka, data, video, rekaman, dan arsip.
Tabung-tabung cahaya yang tersembunyi di bawah kementerian. Daftar distribusi untuk keluarga elite. Peta wilayah yang sengaja diredupkan. Seluruh rahasia yang selama puluhan tahun dikunci rapat akhirnya mengalir keluar seperti bendungan yang jebol.
Beberapa detik pertama, orang-orang mengira itu gangguan siaran, lalu mereka mulai membaca, dan terus membaca, dan terus membaca.
Aku menyaksikannya dari atap gedung tua bersama Sava. Kota terasa aneh. Sunyi. Tidak ada teriakan. Tidak ada kerusuhan. Tidak ada ledakan. Hanya keheningan panjang ketika jutaan orang menyadari bahwa selama ini mereka hidup dalam kebohongan yang sama.
Apa yang terjadi setelah itu?
Tidak ada revolusi dalam semalam. Tidak ada istana yang runtuh keesokan paginya. Tidak ada akhir yang bersih seperti dalam dongeng. Karena dunia nyata tidak bekerja seperti itu. Namun sesuatu yang jauh lebih penting mulai terjadi, bahwa orang-orang mulai bertanya. Dan pertanyaan adalah retakan pertama pada setiap tembok kekuasaan.
Mereka bertanya ke mana cahaya mereka pergi. Mereka bertanya mengapa keluarga yang sama terus berkuasa. Mereka bertanya mengapa pengorbanan selalu diminta dari rakyat yang sama. Mereka bertanya. Dan penguasa yang selama ini hidup nyaman di atas kepastian mendadak harus menghadapi sesuatu yang tidak bisa mereka kendalikan, yaitu keraguan.
Beberapa bulan kemudian, aku kembali berdiri di depan rumah masa kecilku. Lampu tua di ruang tengah masih ada. Namun cahayanya kini terasa berbeda. Atau mungkin aku yang berbeda.
Ayah duduk di kursi kayu kesayangannya seraya membaca koran. Ibuku menjahit seperti biasa. Dunia tampak sama. Namun untuk pertama kalinya dalam hidup, aku melihat harapan bekerja dalam bentuk yang paling sederhana, yaitu sebagai keberanian manusia untuk tidak lagi menerima kebohongan sebagai sesuatu yang wajar.
Malam itu aku berjalan keluar rumah. Langit terbentang luas di atas kepalaku. Kota tampak lebih terang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Bukan karena Panen Cahaya dihentikan. Belum. Bukan karena dinasti tumbang. Belum. Namun karena rakyat akhirnya mengetahui bahwa mereka sedang dirampok. Dan kesadaran, seperti cahaya, memiliki sifat yang sama. Sekali menyala, maka sulit dipadamkan.
Aku menatap bintang-bintang, lalu teringat sesuatu yang pernah dikatakan ayah ketika aku masih kecil.
"Langit itu milik semua orang."
Dulu aku mengira itu hanya nasihat biasa. Kini aku memahami maknanya. Cahaya seharusnya juga demikian. Negeri ini juga demikian, yang tidak pernah diciptakan untuk diwariskan seperti perkebunan keluarga. Yang tidak pernah dibangun agar segelintir orang hidup terang sementara jutaan lainnya belajar mencintai gelap.
Dan jika suatu hari sejarah akhirnya mencatat masa ini, aku berharap mereka di masa depan tidak mengingat kami sebagai pahlawan. Sebab kami bukan pahlawan. Kami hanyalah orang-orang biasa yang terlalu lelah hidup dalam gerhana yang sengaja diciptakan. Gerhana panjang yang selama puluhan tahun menutupi matahari rakyat. Gerhana yang mereka sebut pembangunan, stabilitas, atau bahkan kemajuan.
Padahal sesungguhnya hanyalah satu hal: Eklipsium Kuasa. Penyakit tua yang membuat segelintir manusia percaya bahwa cahaya negeri ini lahir untuk mereka miliki seorang diri. Dan seperti semua gerhana, pada akhirnya hanya bertahan sampai orang-orang berani menengadah dan melihat siapa yang sedang menutupi matahari.
-II-