Barangkali, setiap hubungan punya suara yang paling sering diulang. Ada yang dipenuhi tawa, ada yang dipenuhi doa, dan ada pula yang, tanpa disadari, perlahan hanya mengenal satu kalimat.
"Maaf."
Aku mengenal kata itu lebih akrab daripada namaku sendiri. Kata yang hadir di setiap akhir pertengkaran, di setiap air mata yang jatuh terlalu larut, dan di setiap pelukan yang semakin lama semakin kehilangan hangat.
Pada mulanya, kata itu terasa seperti hujan yang menyejukkan. Menghapus debu yang menempel setelah badai. Namun semakin waktu berjalan, aku menyadari bahwa hujan yang turun tanpa henti tidak lagi menyuburkan tanah. Namun justru menggerus akar hingga pohon-pohon tumbang perlahan. Begitulah maaf yang hanya indah jika tidak dipaksa menghidupi kesalahan yang sama.
Aku mengenalnya lima tahun lalu. Di sebuah toko buku kecil yang selalu dipenuhi aroma kertas baru dan kopi yang baru digiling. Ia sedang berdiri di rak sastra, memegang sebuah novel yang kebetulan juga ingin kubeli. Kami sama-sama mengulurkan tangan, lalu sama-sama tertawa. Sesederhana itu. Barangkali memang tidak ada pertemuan besar yang benar-benar dimulai dengan ledakan besar. Sebagian hanya diawali oleh dua orang asing yang kebetulan menginginkan buku yang sama.
Sejak hari itu, kami mulai mengenal satu sama lain. Ia menyukai hujan, aku lebih menyukai langit setelah hujan reda. Ia impulsif, aku terlalu banyak berpikir. Ia percaya bahwa manusia harus mengikuti kata hati, aku percaya bahwa hati juga perlu diajari arah. Perbedaan-perbedaan itu dulu terasa sangat indah. Seperti dua warna yang saling melengkapi lukisan. Aku tidak pernah menyangka bahwa suatu hari nanti, warna-warna yang sama justru menjadi alasan mengapa lukisan itu perlahan kehilangan bentuk dan keindahannya.
Pertengkaran pertama kami berlangsung sangat singkat. Ia lupa menghadiri janji makan malam yang telah kami rencanakan seminggu sebelumnya. Ketika akhirnya datang hampir dua jam terlambat, wajahnya dipenuhi rasa bersalah.
"Aku benar-benar lupa."
Aku hanya tersenyum, lalu menjawab, "Tidak apa-apa."
Ia menggenggam tanganku. "Aku janji, tidak akan mengulanginya."
Aku percaya. Bukankah setiap hubungan memang dibangun di atas kepercayaan?
Beberapa bulan kemudian, ia kembali lupa, lalu lupa lagi, lalu menghilang tanpa kabar ketika sedang marah. Lalu kembali membawa air mata dan permintaan maaf yang terdengar begitu tulus hingga sulit untuk tidak dimaafkan.
Aku selalu mengatakan kalimat yang sama.
"Tidak apa-apa."
Padahal jauh di dalam diriku, ada sesuatu yang mulai retak sedikit demi sedikit. Aku pun sadar, aku hanya belum cukup jujur untuk mengakuinya.
Orang-orang sering mengira hubungan hancur karena satu kesalahan besar. Padahal kenyataannya tidak selalu demikian. Sebagian hubungan mati karena ribuan luka kecil yang dianggap terlalu sepele untuk dibicarakan. Satu pesan yang tidak dibalas, satu janji yang dilupakan, satu kebohongan kecil yang dikatakan demi kebaikan, satu permintaan maaf yang terlalu mudah diucapkan, lalu semuanya menumpuk. Hari demi hari. Bulan demi bulan. Hingga akhirnya hati tidak lagi runtuh karena satu batu besar. Ia justru runtuh karena terlalu lama menahan butiran pasir.
Sejak itu, aku mulai terbiasa menunggu balasan pesan, menunggu kabar, dan menunggu perubahan.
Aneh.
Semakin lama aku mencintainya, semakin banyak waktuku yang habis untuk menunggu sesuatu yang tak pernah benar-benar datang.
Suatu malam, hujan turun sangat lebat. Aku berdiri di bawah atap sebuah kafe tempat kami biasa bertemu. Jam di ponselku menunjukkan pukul sembilan, lalu sepuluh, kemudian sebelas. Kursi di depanku tetap kosong, dan kopi yang kupesan telah kehilangan uapnya.
Pelayan datang menghampiri. Ia bertanya, "Mas, mau pesan lagi?"
Aku menggeleng pelan, menjawab, "Tunggu sebentar."
Padahal aku tahu bahwa yang sebenarnya kutunggu bukan kopi baru, tapi keyakinan bahwa aku masih penting baginya.
Teleponku akhirnya bergetar, tanda sebuah pesan masuk.
"Maaf. Aku ketiduran."
Hanya itu. Tidak ada penjelasan, tidak ada usaha untuk datang, tidak ada pertanyaan apakah aku masih menunggu atau tidak. Lalu aku membaca pesan itu berkali-kali dan anehnya, kalimat sesingkat itu mampu membuat dadaku terasa begitu penuh oleh sesuatu yang lebih sunyi.
Kecewa.
Aku pulang di tengah hujan. Sepanjang perjalanan, aku mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa semua orang bisa melakukan kesalahan. Bahwa hubungan memang membutuhkan pengertian. Bahwa cinta selalu meminta kesabaran. Namun malam itu, untuk pertama kalinya, muncul pertanyaan yang sebelumnya tidak pernah berani kutanyakan.
Sampai kapan semua ini akan terus berlangsung?
Beberapa hari kemudian, ia datang ke apartemenku dengan mata yang sembap. Tangannya tampak menggenggam sekotak kue favoritku.
"Aku minta maaf."
Aku mempersilakannya masuk, sementara ia terus berbicara tentang kesibukan, tentang kelelahan, tentang pikirannya yang sedang kacau, tentang betapa ia tidak pernah berniat menyakitiku.
Aku mendengarkan semuanya, lalu ketika ia selesai, aku hanya bertanya pelan, "Kalau semua ini terjadi lagi... apa yang akan berubah?"
Ia terdiam, dan ruangan mendadak sunyi. Pertanyaan itu tidak dijawab dengan janji. Ia hanya menundukkan kepala. Dan diamnya terasa jauh lebih menakutkan daripada seluruh pertengkaran yang pernah kami alami. Sebab di dalam diam itu, aku mulai melihat sesuatu yang selama ini berusaha kusembunyikan dari diriku sendiri. Barangkali, aku tidak sedang menunggu perubahan. Aku hanya sedang menunda kenyataan bahwa seseorang bisa sangat mencintaimu, tapi tetap berulang kali melukaimu. Dan cinta, betapa pun besarnya, tidak selalu mampu mengubah kebiasaan yang tidak pernah benar-benar ingin diubah.
Malam mulai turun. Di balik jendela apartemen, langit perlahan berubah jingga, lalu merah, kemudian gelap. Aku memandang senja yang menghilang di balik gedung-gedung kota. Tiba-tiba aku sadar mengapa manusia menyebutnya senjakala. Karena tidak semua yang indah berakhir dengan cahaya. Sebagian harus perlahan tenggelam agar malam punya alasan untuk datang. Dan entah mengapa, aku merasa hubungan kami sedang memasuki senjanya sendiri.
Malam-malam setelah itu terasa lebih panjang daripada biasanya. Bukan karena jam bergerak lebih lambat. Namun karena pikiranku mulai dipenuhi percakapan-percakapan yang tak pernah benar-benar selesai.
Aku masih menemuinya, masih mengantarnya pulang, masih tertawa ketika ia melontarkan lelucon-lelucon kecil yang selalu berhasil membuat dunia tampak lebih ringan. Di hadapan orang lain, kami tetap terlihat seperti pasangan yang baik-baik saja. Barangkali memang begitulah proses terjadinya banyak hubungan perlahan runtuh. Bukan dengan suara yang keras, tapi dengan kepura-puraan yang semakin lama semakin sempurna.
Orang-orang hanya melihat foto yang kami unggah. Mereka tidak pernah melihat jeda panjang setelah kamera berhenti merekam. Mereka hanya mendengar tawa. Tidak pernah mendengar bagaimana kami saling diam sepanjang perjalanan pulang.
Aku mulai memahami bahwa kebahagiaan yang dipertontonkan sering kali hanyalah tirai yang dipasang di depan rumah yang atapnya telah lama bocor.
Ada satu kebiasaan yang diam-diam mulai kulakukan. Setiap kali ia meminta maaf, aku mencatat tanggalnya karena hanya ingin membuktikan kepada diriku sendiri bahwa semuanya akan berhenti suatu hari nanti. Catatan itu mula-mula hanya berisi satu halaman, lalu dua, kemudian lima. Hingga akhirnya memenuhi hampir seluruh buku kecil yang selalu kubawa di dalam tas.
Di halaman pertama tertulis sederhana.
"Aku lupa."
Halaman berikutnya.
"Aku tidak sengaja."
Lalu berikutnya.
"Aku sedang banyak pikiran."
"Aku akan berubah."
"Percayalah, ini yang terakhir."
Kalimat-kalimat itu berbeda. Namun maknanya selalu sama. Dan setiap kali kubaca kembali, aku merasa seperti sedang membaca bab yang sama dengan judul yang terus diganti.
Suatu malam, tanpa sengaja buku kecil itu terjatuh ketika kami sedang makan malam. Ia mengambilnya lebih dulu. Belum sempat aku mencegah, ia telah membuka beberapa halaman. Matanya bergerak cepat. Wajahnya perlahan berubah pucat.
"Kamu... mencatat semua ini?"
Aku mengangguk pelan.
"Buat apa?"
Aku terdiam cukup lama, kemudian menjawab, "Aku takut lupa."
"Lupa apa?"
"Lupa bahwa aku juga pernah terluka."
Ia menutup buku itu perlahan, dan jatuhlah air matanya.
"Aku seburuk itu?"
Aku menggeleng. "Tidak."
"Lalu?"
"Aku hanya terlalu sering memaafkan."
Kalimat itu menggantung di antara kami. Kini, aku melihat kesedihan di matanya yang tidak lahir karena rasa bersalah. Namun justru karena ia mulai menyadari bahwa setiap permintaan maaf yang diucapkannya ternyata tidak pernah benar-benar menghapus luka, tetapi hanya menambah lapisan baru di atas luka yang lama.
Hari-hari berikutnya berubah menjadi lebih sulit dijelaskan. Kami tidak lebih sering bertengkar. Justru sebaliknya, kami lebih banyak diam. Dan diam, aku belajar, kadang lebih mengerikan daripada kemarahan. Marah masih memiliki harapan untuk didengar. Diam sering kali lahir setelah harapan itu habis.
Suatu sore kami duduk di taman kota. Anak-anak berlarian mengejar layang-layang. Sepasang lansia berjalan bergandengan tangan. Penjual balon tersenyum kepada setiap anak yang lewat. Dunia tampak begitu damai. Namun di antara kami, ada perang yang tidak bisa disaksikan siapa pun.
"Apa kamu masih bahagia?" tanyanya pelan.
Aku menatap langit yang mulai memerah. Pertanyaan itu terdengar sederhana. Namun jawabannya terasa begitu berat. Aku ingin berkata iya karena aku masih mencintainya. Aku ingin berkata tidak karena aku mulai kehilangan diriku sendiri. Pada akhirnya, aku hanya menjawab dengan sebuah pertanyaan.
"Kalau seseorang terus terluka di tempat yang sama, apa dia masih bisa menyebut tempat itu rumah?"
Ia tidak menjawab. Tangannya yang sedari tadi menggenggam jemariku perlahan mengendur. Aku tahu ia memahami maksudku. Dan justru itulah yang paling menyakitkan.
Beberapa minggu kemudian, aku menemukan diriku berdiri di depan cermin lebih lama dari biasanya. Wajah yang kulihat terasa asing. Lingkar hitam di bawah mata semakin jelas. Senyumku tampak dipaksakan. Aku mencoba mengingat kapan terakhir kali aku benar-benar merasa tenang. Yang muncul justru ingatan tentang berbagai pertengkaran. Tentang pesan-pesan yang tak kunjung dibalas. Tentang malam-malam ketika aku menunggu teleponnya hingga tertidur di sofa. Tentang diriku yang selalu lebih sibuk memahami alasannya daripada mendengarkan luka sendiri.
Aku memandang lelaki di dalam cermin.
"Lalu, kapan kamu akan meminta maaf kepada dirimu sendiri?"
Pertanyaan itu keluar begitu saja dan membuat dadaku mendadak sesak. Selama ini aku selalu menuntutnya berubah. Namun tidak pernah bertanya mengapa aku terus bertahan di tempat yang sama. Barangkali bukan hanya ia yang mengulang kesalahan. Aku pun melakukan hal serupa. Aku terus mengorbankan diriku sendiri dengan keyakinan bahwa pengorbanan yang cukup besar suatu hari akan dibalas oleh perubahan berarti. Padahal cinta bukan transaksi. Luka yang terus dibiarkan tidak otomatis berubah menjadi kebahagiaan hanya karena telah berlangsung lama.
Malam itu hujan turun lagi.
Rasanya hujan selalu datang pada saat-saat yang aneh. Seolah langit mengetahui kapan hati manusia mulai kewalahan menampung air matanya sendiri.
Ia datang ke apartemen tanpa memberi kabar. Matanya sembap, lagi. Rambutnya basah, sepertinya karena hujan.
"Aku takut kehilanganmu."
Aku memandangnya lama.
Dulu, kalimat itu selalu cukup untuk membuatku memeluknya. Kini, entah mengapa, aku justru ingin bertanya sesuatu.
"Kamu takut kehilanganku, atau takut kehilangan seseorang yang selalu memaafkanmu?"
Ia membeku dengan bibir bergetar.
Aku tahu pertanyaan itu kejam. Namun selama bertahun-tahun, aku telah bersikap terlalu lembut kepada luka yang terus tumbuh. Mungkin sudah waktunya seseorang mengatakan kebenaran, meski menyakitkan.
"Aku benar-benar sayang sama kamu."
"Aku tahu itu."
"Aku tidak pernah ingin menyakitimu."
"Aku juga tahu itu."
"Lalu kenapa semuanya jadi seperti ini?"
Aku menghela napas panjang, karena aku akhirnya menemukan jawaban yang selama ini kucari.
"Bukan karena kamu tidak mencintaiku."
"Lalu?"
"Karena cintamu tidak pernah belajar bertanggung jawab."
Air matanya mengalir semakin deras. Sedangkan aku... tidak lagi menangis. Dan justru itu yang membuatku takut. Sebab aku mulai memahami bahwa ada tahap dalam kesedihan ketika seseorang tidak lagi sanggup mengeluarkan air mata karena seluruh kesedihan telah berubah menjadi rasa lelah yang memuncak.
Setelah ia pulang, aku duduk sendirian di ruang tamu. Jam menunjukkan pukul dua dini hari. Hujan telah berhenti. Yang tersisa hanya aroma tanah basah dan suara tetesan air dari atap. Aku membuka kembali buku kecil yang berisi tanggal-tanggal permintaan maaf itu. Kali ini aku tidak menambahkan halaman baru. Aku justru menulis satu kalimat di halaman terakhir.
"Hari ini aku sadar, yang paling sering kulupakan bukan kesalahanmu, tapi diriku sendiri."
Aku menutup buku itu perlahan. Aku tidak lagi bertanya apakah ia akan berubah. Aku justru bertanya apakah masih ada bagian dari diriku yang bisa diselamatkan.
Di luar jendela, malam terasa begitu sunyi. Dan di dalam kesunyian itu, aku akhirnya memahami satu hal yang selama ini terus kutolak.
Ada hubungan yang tidak berakhir karena hilangnya cinta, tapi justru ketika salah satu terus menjadi tempat pulang, sementara yang lain perlahan kehilangan rumah di dalam dirinya sendiri.
Pagi itu datang dengan langit yang terlalu cerah. Aku selalu merasa aneh setiap kali matahari bersinar setelah semalaman turun hujan. Seolah alam sengaja menunjukkan bahwa terang tidak selalu lahir karena tidak pernah ada badai. Aku duduk di balkon apartemen dengan secangkir kopi yang telah dingin. Di hadapanku, kota mulai bergerak. Orang-orang berangkat bekerja. Anak-anak berangkat sekolah. Kendaraan saling mendahului. Dunia tidak pernah berhenti hanya karena satu hati sedang kelelahan. Barangkali memang begitulah hidup, tidak pernah menunggu siapa pun selesai berduka.
Ponselku bergetar. Namanya muncul di layar. Aku memandangnya cukup lama sebelum akhirnya menjawab.
"Aku di bawah."
Aku menghela napas panjang, lalu turun menghampirinya.
Ia berdiri di samping mobilnya. Matanya sembap lagi, dan lagi. Mungkin semalaman ia juga tidak tidur. Untuk beberapa saat kami hanya saling memandang.
Dua orang yang telah saling mengenal bertahun-tahun, justru sering kali kehabisan kata pada saat-saat yang paling penting.
"Aku sudah banyak berpikir," katanya pelan.
"Aku juga."
"Aku bisa berubah."
Kalimat itu kembali datang. Kalimat yang dahulu selalu mampu mematahkan seluruh pertahananku. Namun pagi itu, aku tidak lagi mendengarnya sebagai harapan. Aku mendengarnya sebagai gema dari janji yang terlalu sering diulang hingga kehilangan bobotnya.
"Aku percaya kamu bisa berubah."
Wajahnya sedikit berbinar.
"Tapi …," aku menatap matanya, "aku tidak tahu apakah aku masih sanggup menunggu perubahan itu."
Air matanya jatuh.
"Aku minta satu kesempatan lagi."
Aku tersenyum kecil, merasa bahwa aku adalah seseorang yang baru menyadari bahwa keputusan paling benar sering kali juga menjadi keputusan paling menyakitkan.
"Kamu tahu yang paling membuatku lelah bukan kesalahanmu."
"Lalu apa?"
"Harapan."
Ia terdiam.
"Aku terus hidup dari harapan bahwa besok akan berbeda. Besoknya lagi. Besoknya lagi. Sampai akhirnya aku lupa bagaimana rasanya hidup tanpa menunggu."
Kami berjalan perlahan menuju taman kecil di depan apartemen. Bangku kayu yang biasanya dipenuhi anak-anak masih kosong. Embun belum sepenuhnya hilang dari rumput.
"Apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi?" tanyanya.
Aku memejamkan mata beberapa detik. Seandainya lebih mudah berhenti mencintai, mungkin dunia tidak akan dipenuhi begitu banyak kisah tentang perpisahan.
Aku menggeleng. "Itulah masalahnya."
Ia memandangku bingung. "Aku masih mencintaimu, tapi kenapa—"
"Karena cinta ternyata tidak selalu cukup."
Kalimat itu terasa berat keluar dari mulutku. Selama bertahun-tahun aku menolak mempercayainya, aku selalu berpikir bahwa selama dua orang saling mencintai, segala sesuatu bisa diperbaiki. Kini aku tahu, cinta memang mampu memperbaiki banyak hal. Tetapi ia tidak bisa menggantikan kesadaran. Tidak bisa menggantikan tanggung jawab. Dan tidak bisa terus-menerus menjadi alasan untuk memaafkan luka yang sama.
"Aku tidak ingin mengingatmu sebagai seseorang yang menghancurkanku."
"Lalu?"
"Aku ingin mengingatmu sebagai seseorang yang pernah sangat kucintai."
Angin pagi berembus pelan, membawa daun-daun kering melintas di antara kami. Aku tiba-tiba teringat pada pohon tua di halaman rumah masa kecilku. Ayah pernah berkata bahwa ranting yang terus dipaksa menahan beban akhirnya tidak patah karena badai, tapi justru patah karena terlalu lama bertahan. Barangkali manusia juga begitu.
Terdengar isak tangisnya. Tangis yang selama ini selalu membuatku luluh. Refleks aku mengangkat tangan, berniat menghapus air matanya. Namun jemariku berhenti di udara karena aku sadar bahwa tidak semua luka bisa kusembuhkan. Ada air mata yang harus menjadi guru bagi pemiliknya. Sama seperti ada kepergian yang harus menjadi pelajaran bagi seseorang yang terlalu lama menganggap maaf akan selalu tersedia.
"Aku benar-benar minta maaf."
Aku mengangguk.
"Apakah maafku sudah tidak berarti lagi?"
Aku menarik napas panjang. "Bukan."
"Lalu?"
"Maafmu tetap berarti. Tetapi maaf tidak selalu mengembalikan perasaan yang sudah lelah."
Ia menundukkan kepala. Dan aku tahu bahwa hari itu kami sama-sama kehilangan sesuatu. Ia kehilangan seseorang yang selalu memberinya kesempatan. Sedangkan aku kehilangan seseorang yang selama ini selalu ingin kulindungi.
Kami berpelukan untuk terakhir kalinya. Tidak ada kemarahan. Tidak ada saling menyalahkan. Sebab kami hanya dua manusia yang akhirnya menerima bahwa cinta telah membawa kami sejauh yang mampu kami tempuh.
Sebelum melepaskan pelukan itu, aku berbisik pelan, "Terima kasih."
Ia menangis semakin keras. "Buat apa?"
"Karena pernah menjadi rumah."
"Lalu kenapa kamu pergi?"
Aku menatap langit. "Karena rumah juga bisa runtuh. Dan orang yang tinggal di dalamnya harus tetap hidup."
Hari-hari setelah perpisahan itu terasa begitu sunyi. Aku beberapa kali tanpa sadar ingin menghubunginya. Ingin mengirimkan foto langit senja seperti yang biasa kulakukan. Ingin bercerita tentang buku baru yang kubaca. Ingin bertanya apakah ia sudah makan. Namun setiap kali jemariku berhenti di atas layar ponsel, aku mengingat satu hal, bahwa merindukan seseorang tidak selalu berarti kita harus kembali kepadanya. Ada rindu yang tugasnya hanya mengingatkan bahwa kita pernah mencintai dengan sungguh-sungguh, bukan mengajak kita mengulang luka yang sama.
Aku mulai melakukan hal-hal yang lama kutinggalkan. Menulis. Berlari di pagi hari. Mengunjungi toko buku sendirian. Menonton hujan tanpa menunggu pesan darinya. Perlahan, aku mulai mengenali diriku lagi. Ternyata lelaki yang selama ini kukira telah hilang tidak benar-benar mati. Ia hanya terlalu lama terkubur di bawah tumpukan kompromi yang terus kupaksakan.
Beberapa bulan kemudian, tanpa sengaja aku melihatnya dari kejauhan sedang berjalan bersama beberapa temannya. Wajahnya tampak lebih tenang. Dan itu membuatku ikut tersenyum.
Aku tidak menghampirinya. Ia juga bahkan tidak melihatku. Dan mungkin memang lebih baik begitu.
Bagiku, tidak semua pertemuan setelah perpisahan membutuhkan percakapan. Kadang, saling mengetahui bahwa masing-masing telah baik-baik saja sudah menjadi bentuk damai yang paling indah.
Aku melanjutkan langkah di sela senja yang kembali turun di ufuk barat. Warnanya sama seperti sore ketika aku mulai menyadari hubungan kami sedang memasuki akhir. Namun kali ini, aku memandang senja dengan cara yang berbeda. Dulu aku menganggap senja itu lambang berakhirnya cahaya. Kini aku mengerti, bahwa senja bukanlah kematian siang, tapi cara alam mempersiapkan dunia menyambut pagi berikutnya.
Mungkin begitulah perpisahan, bukan hukuman bagi cinta, tapi ruang yang diberikan kehidupan agar dua manusia berhenti saling melukai, lalu belajar mencintai dengan cara yang lebih dewasa, meski tidak lagi bersama.
Aku menarik napas panjang. Ada sesak yang belum sepenuhnya hilang. Mungkin memang tidak akan pernah hilang. Namun untuk pertama kalinya, sesak itu tidak lagi memintaku kembali, dan hanya mengingatkanku bahwa aku pernah mencintai seseorang sedalam itu. Itu sudah cukup.
Aku tersenyum kepada langit yang perlahan berubah tembaga, lalu melangkah. Sebab akhirnya aku memahami mengapa kisah kami harus berakhir pada senjakala. Aku belajar bahwa tidak semua janji diciptakan untuk ditepati sampai akhir. Sebagian hadir agar mengajarkan bahwa cinta tidak diukur dari seberapa lama seseorang bertahan. Namun dari keberanian untuk melepaskan ketika bertahan hanya akan mengubah kasih menjadi luka, dan kesetiaan menjadi cara paling sunyi untuk menghancurkan diri sendiri.
Di penghujung hari itu, aku tidak merasa telah kehilangan cinta. Aku hanya sedang mengantarnya pulang ke tempat yang sudah tidak lagi mampu kami sebut sebagai "kita". Dan barangkali, itulah janji terakhir yang benar-benar berhasil kami tepati.
-II-