Disukai
0
Dilihat
4
Mekar di Antara Titik dan Koma
Self Improvement
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Apa yang kamu harapkan saat usiamu menginjak 25? Kestabilan finansial? Berada di puncak kesuksesan? Atau malah sudah memiliki keluarga kecil sendiri? Semua yang sudah kusebutkan sebelumnya mungkin mudah digapai bagi sebagian orang, namun tidak bagiku. Ah, coba aku buat daftar apa saja yang telah aku capai semasa hidupku ini, ya. Sebentar. Oh iya, tidak ada. Ya. Aku tidak punya pekerjaan tetap. Aku tidak punya tabungan karena uangku hanya cukup untuk kehidupan sehari-hari. Aku pun belum memiliki keluarga sendiri. Jangankan untuk berkeluarga, menikah saja belum.

Lucu rasanya jika sewaktu kecil kita selalu berandai-andai tentang kehidupan orang dewasa. Akibat rasa penasaran yang berlebihan, kita mulai mengikuti bagaimana cara mereka berpakaian dan berbicara dengan bekal yang kita dapatkan dari melihat orang-orang dewasa di sekitar kita. Saat itu, kita tidak sabar untuk menjadi dewasa. Setiap malam, sebelum kita tidur dan terlelap dalam fantasi sementara bernama mimpi, kita berharap untuk segera menjadi dewasa.

Tahun demi tahun berlalu, kita senantiasa melewatinya dengan meniup lilin di atas kue ulang tahun. Seiring bertambahnya tahun, lilin di atas kue tersebut pun ikut bertambah. Sebelum meniup lilin, kita bertepuk tangan dengan gembira sambil memejamkan mata dan mengucapkan harapan kita. Apakah semua harapan yang kau ucapkan pada hari itu terkabul? Aku bahkan tidak ingat apa yang aku harapkan; yang aku ingat pasti adalah aku ingin segera menjadi orang dewasa. Waktu berlalu dengan cepat tanpa kita sadari, dan saat aku membuka mata setelah mengucapkan harapanku, aku sudah berumur 25 tahun.

Saat kamu berusia 25 tahun, orang-orang menaruh banyak ekspektasi padamu. Kamu dituntut untuk mencari tahu segala sesuatunya sendiri dan meraih banyak hal. Seolah-olah hidupmu ke depannya ditentukan saat kamu berusia 25 tahun. Jika kamu sudah berusia 25 tahun namun kamu belum menikah, belum dikaruniai seorang anak, belum memiliki pekerjaan dan pemasukan yang stabil, maka bisa dipastikan bahwa hidupmu ke depannya akan suram. Begitulah kata mereka. Aku sendiri tidak percaya bahwa hidup ditentukan oleh angka konyol yang tidak berarti apa-apa.

Coba bayangkan, sedari kita kecil, kita diajarkan bahwa angka satu itu baik. Kita disuruh untuk mengejar angka satu, dalam arti lain, kita disuruh untuk menjadi peringkat satu. Sekarang saat kita tumbuh dewasa, angka 25 menjadi penentu kesuksesan kita. Oh, aku sangat benci angka tersebut. Menyebutnya dengan lantang saja aku tak sudi.

“Antrean nomor 25.” Ucapku dengan lantang setelah melihat nomor orderan yang tertera di cup tersebut.

Oh, yang benar saja. Angka tersebut merupakan angka pertama yang kuucapkan saat memulai shift-ku. Seperti sengaja membuatku kesal, pemilik minuman ini tak kunjung datang sehingga aku terpaksa mengucapkannya sekali lagi, kali ini lebih lantang.

“Antrean nomor 25!”

Seorang wanita menghampiri counter, “Oh iya, itu punya saya. Maaf ya, Mba.”

Tanpa berbasa-basi, aku mengatakan tidak apa-apa, lalu menyerahkan minumannya sambil tersenyum. Wanita tersebut hanya diam memandangiku sebelum ia melepas kacamata hitamnya dan berteriak histeris, “Linda, ya? Ini beneran Linda, ya? Iya, kan? Kamu Linda, kan? Linda Prameswari? Ini aku, Amel.”

Amel. Amel. Biar kuingat terlebih dahulu. Ah iya, Amel. Teman satu kelasku saat aku SMA dulu yang gemar menggangguku.

“Oh iya, aku ingat kamu, Amel.” Jawabku mengiyakannya dan berharap ia segera pergi karena masih banyak pelanggan yang harus dilayani.

“Nggak nyangka, ya? Udah berapa tahun kita terakhir ketemu, ya? 10 tahun ada mungkin? Sekarang kamu kerja di sini?” Amel menatapku lekat-lekat dari ujung rambut ke seragam yang kupakai, sebelum mengalihkan arah pandangnya ke ujung rambutku lagi. Dalam sekejap, aku paham jenis pandangan tersebut. Itulah yang kusebut dengan pandangan iba.

“Iya. Kamu sekarang di mana?”

“Oh, aku sekarang jadi sekretaris. Nggak menarik sih, tapi yang penting cukup buat jajan. Kayak sekarang ini. Btw, aku kira kamu sekarang udah di luar negeri, kerja di kedutaan atau apa, karena kamu kan dulu pinter banget. Makanya aku nggak nyangka malah ketemu kamu di sini.”

“Aku ju—”

Belum sempat aku membalas ucapannya, Amel sudah memotong duluan.

“Eh, aku harus pergi. Duh, udah dicari sama bosku, nih. Kapan-kapan kita ngobrol lagi, ya.”

Amel dari dulu memang orangnya suka bicara dengan terus terang. Dia akan mengatakan segala sesuatu yang ada di pikirannya tanpa difilter terlebih dahulu. Jika aku punya keberanian dan tanpa harus repot-repot memikirkan perasaan orang lain, mungkin aku juga bisa bicara secara gamblang. Seperti saat ini, ingin rasanya aku bilang di depan Amel untuk memikirkan urusannya sendiri saja. Siapa juga yang mau tiap hari bekerja seperti ini di balik counter melayani pelanggan yang kadang-kadang tidak bisa ditebak suasana hatinya?

Bukan ini yang aku mau, namun aku harus bersyukur masih bisa diberi kesempatan untuk mencari uang demi memenuhi kebutuhan hidupku. Jika waktu bisa diulang, aku ingin kembali ke masa sebelum semuanya mengarah ke jalan yang salah. Masa-masa di mana aku masih berani bermimpi setinggi mungkin, berani menyuarakan pendapatku tanpa rasa takut, dan berani bertindak tanpa perlu tahu konsekuensi apa yang akan aku hadapi.  Mau berharap seperti apa pun, semuanya sudah terjadi.

Malamnya, kata-kata Amel terus terngiang di kepalaku hingga aku mengulangnya berkali-kali seperti kaset yang pitanya rusak, “Aku kira kamu kerja di luar negeri…Makanya aku nggak nyangka ketemu kamu di sini.” Jangankan Amel, aku pun tidak menyangka aku akan berakhir seperti ini. Berangkat dari siswa gemilang yang selalu menempati peringkat terbaik, menjadi seseorang yang bahkan keberadaannya pun tidak dianggap penting.

Seperti biasa, aku akan susah tidur jika terlalu banyak pikiran. Sering kali aku menangis dan mengadukan nasibku kepada Tuhan. Tak jarang aku menanyakan kepada Tuhan apakah hidupku ini termasuk ujian? Namun, malam ini berbeda dengan sebelumnya. Aku tidak menangis, melainkan menulis sesuatu di sebuah forum. Forum tersebut bersifat anonim dan setiap pengguna bebas untuk menulis apa saja. Mulai dari tutorial, cerita singkat, diari, bahkan artikel yang sudah setara dengan jurnal.

Aku menuliskan kisah hidupku yang jauh dari kata menarik. Sebenarnya aku ragu apakah tulisanku ini layak untuk dibaca atau tidak, tapi aku tidak bisa berhenti menulis. Kata-kata seperti mengalir dengan bebas sebelum jari-jariku sempat mengetiknya. Perkara ada yang membaca atau tidak bukanlah urusanku, karena itu bukan tujuanku menulis. Aku hanya ingin meluapkan apa yang selama ini aku rasakan ke dalam tulisan.

Esoknya, sesuatu yang tidak terduga terjadi. Ponselku tidak hentinya berdering, bukan karena notifikasi pinjaman online atau tagihan, melainkan karena notifikasi yang lain. Aku mendapat pemberitahuan bahwa tulisanku di forum mendapat perhatian banyak orang. Ternyata tidak sedikit yang merasa terhubung dengan kisahku. Aku membaca komentar dari mereka satu per satu.

“Ternyata aku nggak sendirian ya.”

“Ada masa dimana disemangatin orang lain, malah bikin kita jadi down. Kalian gitu juga nggak?”

“Siapa pun di balik tulisan ini, jangan pernah menyerah walaupun hidup kadang melelahkan, ya.”

Senyumku merekah saat membaca pesan-pesan yang ditinggalkan oleh sekumpulan orang asing ini. Memang terlihat sepele, namun hal ini yang mendorongku untuk menulis kembali. Tidak hanya kisah pilu yang aku rasakan, aku juga menulis tentang kisah-kisah jenaka yang pernah aku alami.

Tiada malam yang aku lewatkan tanpa menulis di forum tersebut. Jumlah pembaca pun semakin bertambah dan kolom komentar tidak pernah sepi. Aku selalu berusaha untuk membalasnya dan meyakinkan mereka bahwa semuanya akan baik-baik saja. Mereka pun mengatakan yang sama. Ketahuilah bahwa itu adalah kata-kata yang ingin aku dengar dari orang lain, bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa sendirian. Untuk pertama kalinya, aku merasa benar-benar didengar. Untuk pertama kalinya, aku mendapatkan makna hidup yang baru.

Sambil memejamkan mata, aku memikirkan apa yang hendak kutulis kali ini. Aku melihat kilas balik kehidupanku dalam potongan-potongan kecil dan saat aku membuka mata, jam dinding di kamarku menunjukkan pukul 9.25. Ah, aku tahu betul apa yang akan kutulis nanti.

Jemariku mulai bergerak, melayangkan kata-kata yang nantinya menyusun kalimat.

Di saat kamu berumur 25, mungkin kamu tidak selalu mendapatkan apa yang kamu inginkan. Mungkin kamu merasa gagal. Mungkin kamu merasa hilang arah. Dan semua yang kamu rasakan adalah hal yang wajar. Ini adalah kehidupan pertama kita, dan pada dasarnya, kita tidak mungkin bisa memahami segalanya sendiri sejak awal. Kita belajar dari kegagalan. Kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Justru dari kegagalan tersebutlah yang membuat kita menjadi lebih dewasa. Jika kita tidak pernah merasakan kegagalan, maka kita tidak akan pernah belajar dan mencoba hal yang baru.

Anggap dirimu sebagai bunga. Bunga ada berbagai macam jenisnya dan mereka bisa tumbuh di tempat yang tidak pernah kamu duga sebelumnya. Akan tetapi, untuk bisa tumbuh, bunga memerlukan perawatan yang baik. Kita pun juga tidak jauh berbeda. Berhentilah bersikap kasar pada diri sendiri dan mulailah memanjakan diri dengan kata-kata positif karena di dalam kata-kata tersebut terselipkan sebuah doa yang kau panjatkan untuk dirimu sendiri.

Walaupun kita hanya bisa bertemu di balik layar, aku harap kalian semua tahu bahwa kehadiran kalian sangat berarti bagiku. Aku masih bekerja sebagai server di sebuah kedai teh. Aku juga tidak dihujani uang secara tiba-tiba. Hidupku masih sama seperti sebelumnya, namun ada perubahan kecil yang terjadi. Jika dulu aku menganggap 25 adalah sebuah patokan untuk sukses, kali ini aku menganggap usia 25 sebagai awal mula untuk menjadi sukses. Seperti aku yang baru mulai menggeluti dunia penulisan ini.

Menjadi manusia biasa-biasa saja saat kamu berusia 25 tahun bukanlah hal yang menyedihkan, namun jika kamu merasa duniamu seolah berhenti saat kamu berusia 25 tahun, itulah yang namanya menyedihkan. Dunia akan terus berjalan bahkan jika kamu belum memiliki segalanya. Maka dari itu, teruslah mengejar mimpimu karena sesungguhnya tidak ada yang namanya terlambat.

Ada perasaan lega yang timbul setelah aku menulis. Aku seperti terlahir kembali di usia yang pernah membuatku resah. Sepertinya, aku pun juga merupakan setangkai bunga yang mekar di antara titik dan koma.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)