Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
12
Setitik Noda di Pualam Putih
Drama
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Pukul tujuh malam.

Dapur ini tidak pernah benar-benar hangat. Lantai ubinnya sewarna semen mati, menyisipkan rasa dingin yang lekat dan menggigit kaki. Seolah ubin-ubin ini menolak belajar cara memeluk; mereka hanya tahu bagaimana menyedot sisa kehangatan dari telapak kaki saya yang pecah-pecah.

Di atas meja kayu yang ringkih, sebotol obat penenang dan segelas air putih berdebu berdiri bersisian. Mereka seperti sepasang sipir setia, menunggu Ibu datang menunaikan ritual kehancuran harian di rumah ini.

Ibu datang. Langkah kakinya begitu berat, seakan menyeret karung berisi seluruh dosa masa lalu yang tidak pernah usai. Lantai ubin ringkih itu seperti merintih setiap kali tumitnya menghentak. Ibu duduk. Matanya kosong, sumur air matanya telah lama mengering, hanya menyisakan lumpur hitam kepahitan di sudut kelopak.

Lalu, matanya menemukan saya.

"Berdiri di sana."

Suaranya tajam. Seperti bilah silet yang sengaja digoreskan ke kaca.

"Jangan bergerak sedikit pun."

Saya mematung. Lampu neon di langit-langit berkedip sekarat. Saya tidak tahu apakah tabung kaca itu sedang menjemput ajalnya sendiri, atau memberi kode agar saya lekas lari.

"Kamu tahu kenapa aku benci melihat wajahmu?" desisnya.

Ia tidak butuh jawaban.

"Setiap kali kamu bernapas, aku mendengar suara bapakmu. Setiap kali kamu berkedip, aku melihat cara pria itu membohongiku dulu."

Dada saya mendadak sesak. Oksigen di dapur ini seketika pekat oleh bau apek pakaian yang gagal kering, berbaur dengan aroma dendam yang basi.

Ibu bangkit, memangkas jarak. Tangannya yang sedingin es mencengkeram rahang saya, kencang sekali. Kuku-kukunya membenam, seolah ingin menggali kulit demi mencari sisa-sisa garis wajah Bapak di sana.

"Bapakmu dulu menjanjikan pagar. Menjanjikan rumah yang melindungiku," bisiknya tepat di depan wajah saya. "Tapi yang dia tinggalkan untukku hanya kamu. Setitik noda yang tidak akan pernah bisa dicuci sampai kapan pun."

Di sudut ruangan, jam dinding berdetak tanpa ampun.

Tik... tak...

Ia seperti sedang menghitung mundur warisan kegilaan yang sebentar lagi pindah ke kepala saya.

II

Sore ketujuh.

Detak jam yang sama membawa saya berdiri di depan sebuah rumah di pinggiran kota.

Rumah itu berdiri megah dengan cat putih yang terlalu suci untuk mengenal apa itu kesalahan. Pagar besinya menjulang tinggi, membusungkan dada, seolah tahu siapa yang pantas dijamu dan siapa yang hanya layak menjadi sampah trotoar.

Itu rumah Bapak.

Di halaman, sebuah ayunan bergerak riang. Seorang anak kecil—mungkin adik tiri saya—duduk di sana. Rambutnya menyebarkan wangi sampo mahal yang tercium hingga ke jalanan. Tak lama, Bapak keluar mengenakan kemeja rapi dengan senyum yang begitu lepas. Senyum yang tidak pernah saya lihat selama sepuluh tahun belakangan. Di sana, udara berbau roti panggang dan kebahagiaan yang baru saja dibeli tunai.

"Pak," panggil saya. Suara saya serak, nyaris tenggelam oleh deru gerbang besi yang bergeser.

Beliau menoleh. Senyumnya langsung membeku, mirip patung lilin yang telanjur cacat diterpa panas.

"Aris?"

Suaranya hambar. Seperti sedang menyebut nama barang rongsokan di dalam gudang tak terpakai.

"Aku butuh uang untuk buku, Pak. Dan... mau bicara soal tes masuk universitas."

Bapak tidak melangkah untuk membuka pagar. Tidak sama sekali. Beliau hanya merogoh dompet kulitnya yang tebal—kontras dengan kantong saya yang hanya berisi lipatan kertas catatan. Dua lembar uang merah diselipkan di antara celah pagar. Besi-besi itu seperti menjepit uang tersebut kuat-kuat, memastikan kulit bersih milik Bapak tidak perlu bersentuhan dengan tangan saya yang kotor.

"Pakai ini dulu. Dan jangan sering-sering ke sini, Ris. Istri Bapak sedang sensitif, dia tidak suka ada 'masa lalu' yang tiba-tiba muncul di depan rumah."

Masa lalu.

Rahang saya mengatup rapat menahan panas yang menjalar ke kepala. Jadi, seluruh keberadaan saya di dunia ini hanya dianggap seonggok masa lalu yang merusak pemandangan jalannya yang baru?

Dua lembar uang itu terlepas, jatuh ke aspal, sempat diterbangkan angin sore yang dingin. Saya membiarkannya sesaat. Membiarkannya terhina, sama seperti saya membiarkan diri saya sendiri yang tidak pernah diinginkan oleh siapa pun di dunia ini.

Di dalam bus perjalanan pulang, saya bisa merasakan berat dua lembar uang itu di saku yang bolong. Bau parfum mahal milik Bapak yang sempat menguar kini terasa seperti racun yang membuat paru-paru saya perih.

III

Setibanya di rumah, Ibu sudah menunggu di tengah ruang tamu. Foto pernikahan mereka yang mulai berjamur berada di dekapannya.

"Lihat ini!" teriaknya begitu melihat saya melangkah masuk.

Prak!

Bingkai kayu itu hancur berantakan di atas lantai. Kaca pelindungnya pecah berhamburan. Salah satu serpihan tajamnya melompat, menggores betis saya hingga darah segar merembes keluar. Perih, tetapi dada saya jauh lebih porak-poranda.

"Aku tidak butuh anak pintar, Aris! Aku tidak butuh gelar sarjanamu! Aku hanya ingin hidupku yang dulu kembali!"

Saya menatap kaki saya di atas lantai—terluka, berdarah, tetapi anehnya tetap menolak untuk ambruk.

Saya masuk ke kamar, menutup pintu kayu yang sudah keropos dimakan rayap. Di atas lantai yang lembap, saya duduk. Untuk pertama kalinya, saya berhenti menunggu bantuan. Saya berhenti berharap orang tua saya akan kembali menjadi "manusia".

Ibu telah lama tenggelam dan membusuk di dalam sumur masa lalunya sendiri. Bapak sudah asyik berpesta di atas geladak kapal yang lain. Tidak akan pernah ada tali penyelamat yang dilemparkan untuk saya.

Saya mengambil sebuah pulpen hitam. Di tembok kamar dengan cat yang mengelupas parah—saya menuliskan satu kalimat besar:

AKU BUKAN SEBUAH KESALAHAN. AKU ADALAH TUAN ATAS HARAPANKU SENDIRI.

Jika saya terus-terusan menunggu bimbingan dan belas kasihan mereka, saya hanya akan menjadi bangkai yang membusuk di sudut rumah ini.

Malam itu, hujan akhirnya reda. Sisa airnya masih menetes lambat dari talang seng yang bocor.

Tetes. Tetes. Tetes.

Kali ini, bunyinya tidak lagi terdengar seperti ejekan. Irama itu terdengar seperti detak jantung yang baru. Detak jantung saya sendiri.

Di depan cermin retak dekat meja, saya tidak lagi memicingkan mata untuk mencari-cari kemiripan wajah saya dengan Bapak. Saya melihat seorang laki-laki yang baru saja lahir dari reruntuhan. Wajah yang siap untuk bertarung dengan nasibnya sendiri.

Ibu masih menangis sesenggukan di ruang tengah. Bapak mungkin sedang membacakan dongeng pengantar tidur untuk anak "aslinya".

Dan saya? Saya mulai menarik ritsleting tas ransel saya. Bukan untuk mencari alamat mereka lagi. Melainkan untuk menuliskan alamat saya sendiri di atas peta dunia yang luas ini.

Satu napas. Satu langkah. Saya akan keluar dari pintu rumah ini, dan kali ini, saya tidak akan menoleh ke belakang lagi.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi