Disukai
0
Dilihat
8
Ruang yang Tak Mendengar
Slice of Life
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Pagi itu, sebelum berangkat ke gedung parlemen, Harun menghitung uang yang tersisa di dompetnya sampai tiga kali karena ia sedang mencari keberanian untuk memutuskan apakah uang itu lebih baik digunakan membeli beras atau ongkos perjalanan menuju ibu kota kabupaten, tempat ia dijanjikan bertemu seseorang yang katanya bisa memperjuangkan nasib warga desanya. Uang itu hanya tiga puluh tujuh ribu rupiah. Di atas meja makan, istrinya sedang membagi nasi sisa semalam ke dalam dua piring kecil untuk kedua anak mereka, sementara dirinya sendiri memilih minum air putih agar tidak perlu menjawab pertanyaan yang sama seperti kemarin ketika anak bungsunya bertanya mengapa porsi nasi mereka semakin sedikit.

"Pak, nanti pulangnya bawa obat untuk Ibu, ya."

Suara istrinya membuat Harun mengangkat wajah.

Ia mengangguk. "Iya. Kalau uangnya cukup."

Kalimat itu tidak terdengar seperti pertanyaan. Sudah terlalu lama mereka hidup dengan kalimat-kalimat yang selalu bersyarat di belakangnya. Kalau uangnya cukup, mereka membeli obat. Kalau ada pekerjaan, mereka membayar cicilan. Kalau panen bagus, mereka memperbaiki atap. Kalau harga beras turun, mereka bisa makan sedikit lebih banyak. Dan kalau pemerintah benar-benar menepati janji, mungkin suatu hari mereka tidak perlu lagi hidup dengan begitu banyak kata kalau.

Harun memasukkan uang ke dompet, lalu mengambil map cokelat yang sudah disiapkannya sejak seminggu lalu. Di dalamnya terdapat fotokopi kartu keluarga, kartu tanda penduduk, surat keterangan dari kepala desa, beberapa lembar tanda tangan warga, foto jalan yang rusak, serta salinan resep obat milik ibunya yang sudah tiga kali ditebus dengan cara berutang di warung sebelah rumah. Semua itu mungkin tampak remeh bagi orang yang terbiasa membaca laporan pembangunan dalam bentuk angka. Namun bagi Harun, map itu berisi seluruh hidupnya selama dua tahun terakhir.

Perjalanan menuju kota memakan waktu hampir tiga jam. Bus yang ditumpanginya berhenti berkali-kali untuk menaikkan penumpang, melewati sawah yang menguning, pasar-pasar kecil, sekolah berdinding kusam, dan jalan desa yang sebagian besar masih berupa batu kerikil bercampur tanah.

Harun duduk di dekat jendela sambil memeluk mapnya. Di kursi sebelahnya, seorang mahasiswa sedang menonton debat politik melalui telepon genggam. Dua lelaki di layar sedang beradu argumen tentang anggaran negara. Salah satunya berbicara tentang pemerataan. Yang lain berbicara tentang reformasi. Mereka saling menyela dengan suara meninggi, sementara pembawa acara tersenyum seperti baru saja menemukan tontonan menarik.

Harun memperhatikan layar itu cukup lama. Ia tidak tahu siapa yang paling benar. Ia hanya tahu harga beras di desanya naik lagi minggu lalu. Ia tahu ibunya belum mendapatkan obat yang lengkap. Ia tahu jembatan menuju dusun sebelah hampir roboh. Dan ia tahu anak sulungnya mulai malu berangkat sekolah karena sepatu yang ia pakai sudah berlubang di bagian depan.

Di layar, kata kesejahteraan terdengar sangat megah. Di dalam hidup Harun, kata itu hanya berarti satu hal sederhana: malam ketika anak-anaknya bisa makan tanpa bertanya apakah besok masih ada nasi.

Gedung parlemen terlihat jauh lebih besar daripada yang dibayangkannya. Pilar-pilar tinggi berdiri seperti sesuatu yang sengaja dibuat untuk mengingatkan orang biasa bahwa mereka sedang memasuki tempat yang bukan miliknya. Harun turun dari kendaraan dengan map masih berada di dadanya. Di depan gedung, beberapa orang sedang membawa poster. Sebagian meneriakkan tuntutan. Sebagian lain duduk di trotoar. Ada wartawan, petugas keamanan, kamera yang sesekali mengarah ke kerumunan sebelum beralih lagi ke orang lain yang dianggap lebih penting.

Harun menghampiri petugas. "Saya mau menyerahkan laporan warga."

Petugas itu menunjuk meja pemeriksaan. "Ke bagian pengaduan."

Harun mengangguk. Di meja itu ia menyerahkan map. Seorang pegawai membukanya sekilas. "Ini tentang apa?"

"Jalan desa, jembatan, sama bantuan obat."

Pegawai itu membaca beberapa halaman. "Laporannya sudah pernah disampaikan ke pemerintah daerah?"

"Sudah."

"Sudah ada tindak lanjut?"

Harun tersenyum hambar. "Kalau ada, saya tidak perlu datang ke sini."

Pegawai itu terdiam sebentar, kemudian menutup map.

"Nanti kami teruskan."

"Nanti kapan?"

Pegawai itu mengangkat bahu. "Kurang tahu."

Harun mengambil kembali mapnya. "Saya ingin bertemu anggota dewan."

"Harus ada jadwal."

"Saya sudah datang jauh-jauh."

"Saya mengerti, Pak."

Harun menatap wajah pegawai itu. Tidak ada kebencian di sana. Hanya kelelahan. Dan tiba-tiba ia merasa bahwa mungkin orang di balik meja itu juga tidak jauh berbeda darinya; sama-sama bekerja di dalam sistem yang membuat seseorang harus mengucapkan kalimat saya mengerti berkali-kali tanpa pernah punya kewenangan untuk benar-benar mengubah keadaan.

"Kalau begitu, saya tunggu."

Ia membawa mapnya menuju ruang tunggu.

Beberapa jam berlalu, di layar televisi yang terpasang di sudut ruangan, sidang sedang berlangsung. Para anggota dewan berbicara tentang pembangunan nasional. Ada yang mengangkat tangan. Ada yang mengetuk meja. Pula ada yang tertawa. Lebih-lebih ada yang mengangguk dengan wajah serius.

Kamera sesekali menyorot mereka satu per satu. Harun duduk diam, memperhatikan layar itu sambil memikirkan ibunya yang pagi tadi masih batuk di kamar. Ia teringat anak bungsunya, terbayang wajah istrinya, lalu matanya jatuh pada map cokelat di pangkuannya. Di dalam map itu ada foto jalan berlumpur yang membuat ambulans tidak bisa mencapai dusun mereka ketika warga ada yang sakit keras bulan lalu.

Ada resep obat yang tidak bisa mereka tebus. Ada tanda tangan puluhan warga, bukti, angka, kebutuhan yang nyata. Namun di layar, semuanya tampak begitu jauh. Di sana orang-orang berbicara tentang jutaan. Di sini Harun hanya sedang memikirkan tiga puluh tujuh ribu rupiah yang tersisa di dompetnya. Dan ia pun mulai bertanya-tanya apakah mungkin suatu negara bisa terlalu sibuk membicarakan kesejahteraan sampai lupa seperti apa wajah orang yang sedang menunggu untuk disejahterakan.

Di ruang tunggu itu, waktu bergerak dengan cara yang aneh. Jam dinding tetap menunjukkan perpindahan menit, petugas masih mondar-mandir membawa berkas, pintu-pintu ruang sidang sesekali terbuka lalu tertutup kembali, tetapi bagi Harun semuanya terasa seperti satu antrean panjang yang tidak pernah benar-benar bergerak menuju tujuan.

Menjelang sore, seorang staf akhirnya menghampiri.

"Pak Harun?"

Harun segera berdiri. "Iya."

"Pak anggota dewan bisa menerima sebentar."

Kalimat itu cukup membuat punggungnya kembali tegak. Ia mengikuti staf tersebut melewati lorong panjang yang dindingnya dipenuhi foto-foto pejabat dari masa ke masa, lengkap dengan kutipan tentang pengabdian, pembangunan, persatuan, dan masa depan bangsa yang terdengar begitu indah hingga Harun sempat bertanya-tanya apakah orang-orang yang menulis kalimat-kalimat itu pernah hidup di kampung seperti tempat tinggalnya.

Di ujung lorong terdapat ruangan luas dengan sofa kulit dan meja kaca. Seorang lelaki berkemeja putih sedang duduk sambil memeriksa telepon. Usianya mungkin sekitar lima puluh tahun. Wajahnya familiar. Sebab Harun pernah melihatnya di baliho yang berdiri dekat pasar desanya beberapa bulan lalu, tersenyum dengan tangan terangkat, seolah sedang menyambut seluruh rakyat yang kebetulan lewat.

"Kemarilah, Pak."

Harun duduk.

"Jadi Bapak yang dari Desa Karang Jati?"

"Iya."

"Saya sudah baca laporannya."

Harun mengangguk.

"Bagaimana keadaan di sana?"

Pertanyaan itu membuat Harun sedikit terdiam. Ia tidak tahu apakah pertanyaan tersebut benar-benar membutuhkan jawaban.

"Masih sama, Pak."

"Jalannya?"

"Rusak."

"Jembatannya?"

"Hampir putus."

"Obat?"

"Masih sulit."

Anggota dewan itu mengangguk berkali-kali, terlihat prihatin, sangat prihatin. Bahkan terlalu prihatin untuk seseorang yang baru saja mengetahui semuanya dari sebuah map.

"Kami akan tindak lanjuti."

Harun menarik napas. "Pak, saya tidak datang untuk meminta janji."

Lelaki itu mengangkat wajah.

"Saya datang karena kami sudah terlalu sering mendengar janji."

Ruangan mendadak hening. Staf yang berdiri di dekat pintu menundukkan kepala. Anggota dewan itu menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Bapak harus memahami, pemerintah punya proses."

"Saya mengerti."

"Anggaran harus dibahas."

"Saya mengerti."

"Harus ada koordinasi dengan pemerintah daerah."

"Saya mengerti."

"Lalu ada mekanisme—"

"Saya mengerti, Pak."

Harun memotong dengan suara tetap rendah.

"Saya mengerti semuanya." Ia menatap lelaki itu. "Yang saya tidak mengerti adalah kenapa untuk membuat jalan yang dipakai anak-anak kami pergi sekolah harus menunggu begitu lama, sementara untuk membuat gedung baru atau memasang baliho Bapak prosesnya bisa begitu cepat."

Lelaki itu tidak segera menjawab. Harun sendiri terkejut mendengar kalimatnya. Ia tidak datang untuk marah. Ia bahkan sudah berjanji pada istrinya akan bicara baik-baik. Namun mungkin ada kalanya kesabaran yang terlalu lama dipelihara berubah jadi sesuatu yang lebih tajam daripada kemarahan.

"Saya tidak punya banyak uang, Pak." Tangannya menggenggam ujung map. "Saya tidak punya kenalan di pemerintahan. Saya tidak punya kemampuan untuk datang membawa rombongan atau menyewa pengeras suara. Saya cuma punya dokumen ini."

Ia mengangkat map cokelat itu. "Dan saya berharap Bapak masih punya alasan untuk membacanya."

Anggota dewan tersebut akhirnya mengambil map itu. Kali ini ia membukanya lebih lama, membaca, melihat foto jalan. Surat dari kepala desa. Daftar warga. Resep obat. Satu per satu. Ketika sampai pada foto jembatan, ekspresinya sedikit berubah.

"Ini sudah dilaporkan?"

"Sudah tiga kali."

"Ke dinas?"

"Sudah."

"Kenapa belum diperbaiki?"

Harun tersenyum kecil. "Itu yang ingin saya tanyakan kepada Bapak."

Lelaki itu terdiam. Untuk beberapa saat, tidak seorang pun berbicara. Kemudian ia menekan tombol pada telepon meja dan meminta stafnya membuat catatan.

Harun memperhatikan. Hari itu, sesuatu terlihat seperti pekerjaan sungguhan. Ia tidak tahu apakah akan menghasilkan apa-apa. Namun setidaknya laporan itu tidak lagi berada di pangkuannya.

Ketika keluar dari ruangan tersebut, matahari sudah hampir tenggelam. Harun berdiri di depan gedung beberapa saat. Udara sore terasa lebih dingin daripada ketika ia datang. Di halaman, beberapa orang masih menunggu. Seorang perempuan membawa berkas bantuan pendidikan. Seorang lelaki tua memegang map lusuh. Dua pemuda duduk di trotoar dengan poster yang sudah dilipat. Harun melihat mereka dan tiba-tiba merasa tidak sedang berdiri di gedung pemerintahan. Ia sedang berada di ruang tunggu yang jauh lebih besar. Ruang tunggu milik jutaan orang yang masing-masing membawa persoalan dari rumah, dari sawah, dari pasar, dari sekolah, dari rumah sakit, lalu datang membawa harapan kecil bahwa seseorang di balik pintu besar itu bersedia mendengarkan.

Ia berjalan menuju halte. Di perjalanan, telepon genggamnya bergetar. Pesan dari istrinya.

Ibu belum makan. Obatnya habis.

Harun berhenti di trotoar, lalu membuka dompet. Tiga puluh tujuh ribu rupiah tadi tinggal dua belas ribu setelah ongkos perjalanan dan makan sederhana. Ia menatap uang itu cukup lama, kemudian mengetik: Aku pulang malam ini.

Ia tidak menulis soal uang. Tidak menulis soal anggota dewan ataupun soal laporan. Ada beberapa hal yang lebih baik disampaikan secara langsung.

Bus malam membawanya kembali melewati jalan-jalan yang mulai gelap. Harun duduk di kursi paling belakang. Kepalanya bersandar pada kaca. Di layar telepon genggam seorang penumpang di depan, berita sidang parlemen kembali ditayangkan. Seorang pejabat sedang berbicara tentang keberhasilan pemerintah meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Harun memperhatikan layar itu sebentar.

Ia membuka pesan dari istrinya lagi. Membaca kalimat yang sama.

Ibu belum makan. Obatnya habis.

Tiba-tiba ia teringat wajah ibunya pagi tadi. Teringat tangan keriput yang masih berusaha membuatkannya kopi sebelum berangkat. Teringat anaknya yang bertanya apakah mereka sedang dihukum oleh hidup. Pertanyaan itu kembali datang dan kali ini terasa jauh lebih berat. Mungkin anak kecil itu tidak membutuhkan jawaban tentang ekonomi. Tidak membutuhkan teori tentang kebijakan publik. Tidak membutuhkan penjelasan mengenai defisit, anggaran, pertumbuhan, atau stabilitas. Ia hanya membutuhkan ayah yang bisa memastikan meja makan tidak kosong. Dan di situlah Harun mulai memahami sesuatu yang selama ini mungkin terlalu sering dilupakan oleh mereka yang duduk di ruang sidang: setiap angka dalam laporan pemerintah sesungguhnya punya bentuk, punya nama, punya rumah yang lampunya menyala seadanya, punya ibu yang menunggu obat, seorang anak yang menunggu makan malam, dan seseorang yang setiap hari bekerja sampai tubuhnya terasa asing bagi dirinya sendiri.

Beberapa lama kemudian, ia tiba di desa hampir tengah malam. Lampu rumahnya masih menyala. Istrinya tampak menunggu di teras. Harun turun dari kendaraan dan berjalan mendekat.

"Bagaimana?"

"Belum ada obat."

Harun mengangguk. "Besok kita cari."

Sulastri memandang wajah suaminya. "Ketemu anggota dewan?"

"Iya."

"Katanya bagaimana?"

Harun diam sebentar. "Katanya akan ditindaklanjuti."

Sulastri tidak tertawa. Tidak pula menunjukkan kekecewaan. Ia hanya mengangguk seperti sudah terlalu sering mendengar kalimat tersebut. Kemudian ia bertanya, "Jadi?"

Harun menatap rumahnya. Melihat sandal anak-anak berserakan di depan pintu. Melihat cahaya lampu yang redup. Mendengar suara ibunya batuk dari kamar.

Ia menarik napas panjang. "Besok aku tambal ban lagi."

Sulastri tersenyum kecil.

"Maksudmu?"

"Kalau jalan belum diperbaiki negara, setidaknya aku masih bisa memastikan orang-orang bisa pulang."

Mereka masuk ke rumah bersamaan. Di meja makan hanya ada nasi dingin yang tersisa sedikit. Harun duduk dan memandangnya lama. Dan malam itu, setelah semua orang tertidur, ia membuka kembali buku catatan kecil miliknya, lalu mulai menulis nama-nama orang yang ditemuinya di gedung parlemen.

Perempuan dengan berkas pendidikan. Lelaki tua yang menunggu bantuan. Dua pemuda yang membawa poster. Dirinya sendiri. Lalu di bawah semua nama itu, ia menulis satu kalimat panjang yang lahir bukan dari kemarahan, tetapi dari kesadaran bahwa mungkin selama ini rakyat terlalu sering datang sebagai pemohon, padahal mereka sesungguhnya datang sebagai pemilik negeri yang hanya sedang meminta orang-orang yang mereka pilih untuk mengingat siapa yang memberi mereka kursi.

Tangannya berhenti, lalu menutup buku. Di kamar sebelah, anaknya terbatuk kecil dalam tidur. Harun memandang pintu kamar itu, dan merasa bahwa perjuangan terbesar bukanlah membuat pejabat mengingat wajahnya. Perjuangan terbesar adalah memastikan anak-anaknya kelak tidak tumbuh dengan keyakinan bahwa hidup memang harus selalu menerima kekurangan sebagai takdir, sementara orang-orang yang diberi kuasa terus menganggap penderitaan rakyat sebagai angka yang bisa ditunda pembahasannya sampai rapat berikutnya. Dan entah mengapa, di antara lelah yang belum selesai dan harapan yang belum sepenuhnya mati, Harun mulai berpikir bahwa mungkin masih ada cara lain untuk membuat suara mereka sampai ke ruang sidang.

Pada minggu berikutnya, Harun kembali bekerja seperti biasa, tetapi ada sesuatu yang berubah dalam cara ia memandang kampungnya sendiri. Dulu ia melihat jalan berlubang sebagai jalan berlubang, jembatan yang miring sebagai jembatan yang harus dilewati dengan hati-hati, dan lampu yang padam sebagai bagian dari hidup yang sudah terlalu lama diterima tanpa banyak pertanyaan. Sekarang setiap kerusakan tampak seperti kalimat yang belum selesai ditulis, seolah-olah seluruh kampung sedang berbicara melalui retakan aspal, atap sekolah yang bocor, antrean panjang di puskesmas, dan wajah-wajah orang yang mulai terbiasa menunggu sesuatu yang tidak pernah benar-benar datang.

Ia mulai mengumpulkan cerita. Bukan laporan resmi. Bukan angka. Bukan pula surat dengan kop pemerintahan. Ia mendatangi rumah-rumah warga pada sore hari setelah bengkel tutup, membawa buku tulis yang sama dengan yang biasa digunakannya mencatat hutang pelanggan, lalu meminta mereka bercerita tentang apa yang mereka alami selama beberapa tahun terakhir.

Seorang petani bercerita tentang pupuk yang semakin mahal. Seorang ibu bercerita tentang anaknya yang berhenti sekolah karena biaya transportasi. Seorang lelaki tua menunjukkan foto jembatan yang pernah dijanjikan akan diperbaiki dua tahun lalu. Seorang perempuan muda memperlihatkan kuitansi pengobatan ibunya. Cerita-cerita itu sederhana, bahkan terlalu sederhana untuk masuk ke ruang sidang yang gemar membicarakan angka miliaran, tetapi ketika semuanya dikumpulkan, Harun melihat pola yang tidak mungkin lagi dianggap kebetulan: negeri ini tidak kekurangan orang yang punya masalah, negeri ini hanya terlalu banyak punya orang yang sudah terbiasa tidak didengar.

Setiap malam ia menulis. Sulastri sering menemukannya masih duduk di meja ketika rumah sudah sunyi, ditemani segelas kopi yang perlahan dingin dan lampu kecil yang cahayanya jatuh tepat di atas halaman.

"Kamu mau jadi wartawan?" tanya istrinya suatu malam.

Harun tersenyum. "Aku cuma takut kalau kita terus diam, nanti anak-anak mengira semua ini memang seharusnya begini."

Sulastri tidak menjawab, hanya meletakkan sepiring singkong rebus di samping suaminya, kemudian duduk sebentar sebelum kembali ke kamar. Barangkali ia memahami ada jenis kegelisahan yang tidak bisa disembuhkan dengan nasihat, karena ia tumbuh dari sesuatu yang jauh lebih dalam daripada persoalan pribadi.

Tiga bulan kemudian, Harun menerima telepon dari seseorang yang bekerja di kantor anggota dewan yang pernah ditemuinya.

"Pak Harun, bisa datang ke kota?"

"Untuk apa?"

"Pak dewan ingin bertemu."

Harun datang keesokan harinya ke ruangan yang masih sama seperti beberapa bulan sebelumnya. Sofa kulit. Meja kaca. Pendingin udara yang terlalu dingin. Di dinding masih tergantung foto-foto pembangunan. Namun kali ini lelaki yang duduk di hadapannya tidak langsung berbicara tentang prosedur. Ia justru meletakkan map di atas meja.

"Proposal perbaikan jembatan sudah disetujui."

Harun memandangnya. "Sudah?"

"Iya."

"Untuk jalan juga?"

"Masuk anggaran tahun depan."

Harun mengangguk. Ada rasa lega. Tetapi anehnya, tidak ada kebahagiaan yang meledak seperti yang pernah ia bayangkan. Mungkin karena selama berbulan-bulan ia sudah terlalu sering berharap, sehingga ketika sesuatu akhirnya bergerak, ia tidak lagi berani menyebutnya kemenangan.

"Terima kasih, Pak."

Anggota dewan itu tersenyum. "Kami memang mendengar aspirasi masyarakat."

Harun menatapnya. Kali ini ia tidak ingin sinis. Ia juga tidak ingin menghina. Ia hanya berkata pelan, "Kalau begitu, jangan berhenti mendengar setelah ini."

Lelaki itu terdiam saat Harun berdiri. Sebelum keluar, ia menambahkan, "Karena orang seperti saya mungkin akan terus datang selama negara belum benar-benar selesai dengan semua masalahnya."

Ia membuka pintu. "Dan saya harap suatu hari nanti, kami tidak perlu datang membawa map setebal ini hanya untuk meminta sesuatu yang seharusnya sudah menjadi hak."

Jembatan itu akhirnya diperbaiki enam bulan kemudian. Jalan menuju kampung mereka juga mulai dibenahi. Tidak seluruhnya. Masih ada bagian yang berlubang dan genangan yang muncul setiap hujan turun, tetapi kendaraan kini bisa melewatinya tanpa harus berhenti berkali-kali.

Puskesmas mendapatkan sebagian obat yang sebelumnya sering kosong. Sekolah memperoleh bantuan untuk memperbaiki atap. Tidak semua persoalan selesai. Namun untuk pertama kalinya, warga melihat sesuatu yang selama ini hanya mereka kenal sebagai janji.

Pada hari jembatan itu selesai, anak-anak sekolah berlarian melintasinya. Harun berdiri di tepi jalan bersama Sulastri. Ibunya tidak ikut karena tubuhnya sudah semakin lemah. Anak bungsunya menggenggam tangan sang ayah.

"Pak."

"Iya?"

"Ini yang kemarin Ayah perjuangkan?"

Harun memandang jembatan di depan mereka.

"Iya."

Anaknya tersenyum. "Berarti Ayah menang?"

Pertanyaan itu membuat Harun tertawa kecil, lalu berjongkok di depan anaknya.

"Belum."

"Kenapa?"

"Karena satu jembatan tidak membuat semua orang hidup mudah."

Anaknya berpikir sebentar. "Lalu Ayah harus apa?"

Harun memandang jalan panjang di depan mereka, kemudian melihat anaknya yang suatu hari akan menjadi bagian dari negeri ini, entah sebagai pekerja, guru, petani, dokter, atau mungkin seseorang yang duduk di ruang sidang dan punya kesempatan menentukan hidup banyak orang.

"Kalau nanti kamu punya kekuasaan," katanya pelan, "jangan sampai kamu lupa rasanya menunggu."

Anaknya mengangguk meskipun mungkin belum sepenuhnya mengerti. Namun Harun tahu, tidak semua nasihat harus dipahami hari ini untuk menemukan maknanya bertahun-tahun kemudian.

Beberapa tahun setelah itu, Harun masih menyimpan buku catatan lamanya. Halaman-halamannya sudah menguning. Sebagian tulisan mulai memudar. Di dalamnya terdapat nama-nama orang yang pernah ia temui, cerita-cerita yang pernah mereka titipkan, serta berbagai catatan kecil tentang kehidupan yang tidak pernah masuk ke laporan tahunan pemerintah. Pada halaman terakhir, ia menulis kalimat yang kemudian tidak pernah ia ubah lagi.

"Aku pernah datang ke ruang sidang membawa suara dari sebuah kampung yang hampir tidak dikenal siapa pun. Aku pulang tanpa kepastian, tetapi membawa kesadaran bahwa negara tidak pernah benar-benar jauh dari rakyat; manusialah yang sengaja membangun dinding di antara keduanya. Selama dinding itu masih ada, kami akan terus mengetuk, sebab diam hanya akan membuat mereka mengira bahwa di balik pintu sana tidak ada siapa-siapa."

Harun menutup buku itu. Di luar rumah, suara anak-anak terdengar dari jalan. Motor melintas di atas jembatan baru.

Istrinya sedang menjemur pakaian. Ibunya telah lama meninggal, tetapi obat yang dulu tidak sempat ia dapatkan kini tidak lagi jadi luka yang harus dibicarakan setiap malam. Negeri itu masih jauh dari sempurna. Harga-harga tetap naik. Politik tetap gaduh. Para pejabat tetap berpidato. Baliho-baliho baru terus bermunculan ketika musim pemilihan tiba, dengan wajah-wajah yang tersenyum dan kata-kata yang kembali terdengar seperti lagu lama yang digubah ulang dengan aransemen berbeda. Namun kali ini Harun tidak merasa sepenuhnya kalah. Sebab ia memahami bahwa suara rakyat mungkin memang sering tersesat di ruang sidang, tetapi selama masih ada orang yang bersedia membawanya kembali, suara itu tidak pernah benar-benar hilang, hanya menunggu seseorang cukup berani untuk mengucapkannya lagi.

Dan mungkin, pada akhirnya, itulah arti menjadi warga negara: bukan sekadar memilih lima tahun sekali, kemudian menyerahkan seluruh nasib kepada mereka yang duduk di kursi kekuasaan, tetapi terus mengingatkan bahwa kursi itu tidak pernah dibangun untuk membuat seseorang lebih tinggi daripada rakyat yang memilih mereka.

Harun berdiri di depan rumah menjelang malam. Langit perlahan berubah jingga. Anaknya sedang membaca buku di teras dengan sepatu baru yang dibelikan beberapa hari lalu. Ia tersenyum ketika melihat pemandangan itu, karena negara tiba-tiba menjadi tempat yang sempurna. Ia tersenyum karena untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa mungkin perjuangan tidak selalu harus menghasilkan kemenangan besar untuk dianggap berarti. Kadang-kadang cukup satu jembatan yang akhirnya berdiri. Satu obat yang tersedia ketika seseorang membutuhkannya. Satu anak yang bisa belajar tanpa malu melihat lubang di sepatunya. Dan satu suara kecil dari kampung yang akhirnya berhasil menembus dinding ruang sidang.

Harun lalu menatap langit yang semakin gelap, sementara dari kejauhan terdengar suara televisi dari rumah tetangga yang kembali menyiarkan debat para calon pemimpin. Mereka sedang berbicara tentang masa depan.

Harun tersenyum tipis. Kali ini ia tidak mematikan televisi, tapi justru mendengarkan. Sebab ia sudah belajar bahwa rakyat tidak boleh berhenti mendengar hanya karena terlalu sering dibohongi. Mereka harus mendengar, mengingat, mencatat, bertanya, dan ketika waktunya tiba, memilih dengan kesadaran bahwa setiap suara memiliki harga yang jauh lebih mahal daripada sekadar tinta di atas kertas.

Di meja makan, buku catatan tua itu masih terbuka. Di halaman terakhirnya, kalimat Harun tetap tinggal sebagai semacam epigraf bagi kehidupan yang telah ia jalani:

"Kami tidak meminta pemimpin yang tahu semua jawaban. Kami hanya ingin mereka cukup rendah hati untuk datang dan mendengar pertanyaan kami."

Dan malam pun datang, sementara suara orang-orang masih terdengar dari rumah ke rumah, kecil, sederhana, dan mungkin belum cukup kuat mengguncang gedung-gedung tinggi, tetapi setidaknya tidak lagi membiarkan kesunyian berbicara atas nama mereka.

-II-

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Rekomendasi