Kemeja putih panjangku kehilangan garis setrikaannya. Layu dan lepek oleh peluh yang menyerap dari tengkuk hingga punggung setelah seharian berjibaku dengan tes SKD CPNS. Di lantai atas stasiun, aku duduk menghadap pintu minimarket dengan sebotol air mineral yang baru kubeli dan sepotong roti sisa tadi pagi yang kuambil dari ransel.
Aku menghela napas sesaat, mencoba mengeringkan sisa keringat. Di ujung kursi panjang yang sama, seorang perempuan sedang sibuk dengan rambutnya. Ia mengenakan seragam yang sama denganku, hitam putih. Atributnya pun sama, seutas pita hitam yang disisipkan dari kantong kemeja. Mungkin kami tadi berada dalam satu ruangan yang sama.
Ia lalu menarik sebuah ponsel batang dari tas kainnya. Terlihat tebal dan jadul. Aku tahu jenisnya. Layarnya masih monokrom dengan fitur purba, hanya bisa menelepon dan mengirim SMS. Kupikir ponsel tersebut sudah punah di pasaran atau tak ada lagi yang menggunakannya.
“Halo, Yah. Rindu udah di Stasiun Palmerah. Ini mau—”
Kalimatnya putus. Ia menatap layar ponselnya, memijat tombolnya berkali-kali, kemudian membuka penutup baterai di b...