Disukai
0
Dilihat
68
Resonansi: Segelas Kopi dan Gerimis yang Tumpah
Romantis
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Kenangan tidak pernah meminta izin untuk datang lalu pulang

ia bisa muncul kapan dan di mana saja,

di lagu yang tak sengaja didengar,

di simpang jalan yang pernah kita lewati,

atau di semburat senja yang terlalu identik dengan petang bertahun-tahun lalu

...

Sore ini, hujan turun tipis-tipis di luar kaca jendela Kafe Resonansi, menggoreskan garis-garis air yang perlahan meluncur turun seperti air mata yang enggan diusap.

Di sudut ruangan yang remang ini, bau sangrai biji kopi bercampur dengan aroma kertas tua dan kelembapan kayu.

Kafe ini masih sama persis seperti lima tahun lalu—sunyi, berjarak dari bising lalu lintas kota, dan menyimpan gema langkah-langkah kaki yang tak lagi kembali.

Aku memesan cangkir kedua. Kopi hitam tanpa gula.

Pahit yang merayap di lidahku adalah satu-satunya hal yang menegaskan bahwa aku masih berpijak pada masa kini, bukan tenggelam dalam pusaran ingatan tentangmu, Genta.

Di meja kayu bernomor empat inilah, waktu pertama kali mempertemukan kita.

Waktu itu, hujan lebat mengguyur semesta dengan embusan angin yang membekukan jemari.

Aku masuk dengan mantel basah kuyup, membawa ketakutan dan luka yang tak sempat kubagi pada siapa pun.

Kamu sedang duduk di sana, memangku sebuah buku bercover lusuh dengan cangkir cokelat panas yang asapnya membubung tipis.

Ketika pandangan kita berbenturan, tidak ada kembang api atau desir dramatis seperti dalam novel-novel picisan.

Yang ada hanyalah keheningan yang mendadak terasa aman.

Kamu menggeser sedikit cangkirmu, memberikan ruang kosong di meja yang sempit itu, dan tersenyum tipis.

"Denting," kataku saat itu, menyebutkan namaku dengan suara yang hampir tenggelam oleh gemuruh petir di luar.

"Genta," jawabmu singkat, mengangguk pelan.

Hanya itu. Sebuah awal yang begitu sederhana, namun di balik kesederhanaan itu, ada sesuatu yang bergeser dalam dadaku.

Aneh. Aku tidak pernah ingat semua percakapan lalu kita.

Aku lupa topik apa saja yang kita perdebatkan hingga melupakan larut malam, atau buku apa yang pertama kali kamu rekomendasikan padaku.

Detail-detail kalimat yang kita ucapkan telah menguap bersama ribuan hari yang berlalu.

Tetapi, aku masih ingat rasanya. Aku masih ingat merasa pulang ketika bersamamu.

Bersamamu, riuh di dalam kepalaku mendadak surut.

Kamu adalah jeda di antara bait-bait hidupku yang terlalu sibuk dan melelahkan.

Di dekatmu, aku tidak perlu berpura-pura menjadi siapapun. Cukup menjadi Denting—suara kecil yang akhirnya menemukan ruang untuk bergema tanpa takut dihakimi.

Bulan-bulan berikutnya, Kafe Resonansi menjadi suaka milik kita berdua.

Kita menyaksikan musim berganti dari balik jendela yang sama.

Kita belajar mengenali sudut mata satu sama lain saat lelah, cara jemarimu mengetuk meja ketika ragu, atau bagaimana napasku menahan haru tiap kali kamu menatapku terlalu lama.

Namun, sebagaimana sore yang selalu menyerah pada malam, kehadiran juga selalu menyembunyikan potensi kepedihan bernama perpisahan.

Aku tidak pernah benar-benar paham kapan retakan itu mulai muncul.

Apakah di sore saat kamu lebih banyak menatap keluar jendela daripada menatap mataku?

Atau di malam ketika senyummu terasa seperti perisai untuk menyembunyikan sesuatu yang rapuh?

Kehilangan tidak selalu datang dalam bentuk ledakan besar atau pertengkaran yang memecah kesunyian.

Kadang, ia datang seperti embun pagi yang perlahan mengikis ketajaman karang—diam-diam, tipis, namun pasti.

Hingga akhirnya, sore memilukan itu tiba. Di meja yang sama.

Lagu bernada minor berputar pelan dari gramofon tua di sudut kafe.

Angin membawa bau tanah basah. Kamu duduk di hadapanku dengan cangkir kopi yang sudah dingin, tak tersentuh.

Ada jarak yang tak kasat mata namun melintang sangat jauh di antara kita—sebuah samudera hening yang tak sanggup kubelah lagi dengan kata-kata.

"Ada perjalanan yang harus kutempuh sendirian, Denting," ucapmu sore itu.

Suaramu begitu pelan, bagai helai daun kering yang gugur menghantam tanah.

Aku tidak menangis. Aku tidak menahannya. Sebab aku tahu, beberapa orang hadir dalam hidup kita bukan untuk menetap, melainkan untuk mengajari kita cara merelakan.

Kamu meletakkan cangkirmu, memandangku untuk terakhir kalinya—sebuah tatapan yang menyimpan seluruh perpisahan yang tak sanggup diuraikan oleh bahasa manusia—lalu berdiri dan berjalan keluar.

Pintu kafe berdenting pelan saat kamu melewatinya.

Denting bel yang ironisnya menyuarakan namaku, melepas kepergianmu menuju hujan yang tak kunjung usai.

Hari ini, lima tahun sejak perpisahan itu, aku kembali duduk di meja nomor empat.

Dunia di luar sana terus berputar. Orang-orang datang dan pergi, membawa cerita mereka sendiri-sendiri ke dalam kafe sunyi ini.

Beberapa berbisik mesra, beberapa sibuk dengan layar gawai mereka, tak menyadari bahwa di sudut meja ini, pernah ada dua jiwa yang saling menyembuhkan lalu saling melepaskan.

Aku meraba permukaan meja kayu yang kasar. Di sinilah bayang-bayangmu masih tertinggal.

Aku mencoba mengingat kembali nada suaramu saat menyebut namaku, atau warna persis dari jaket yang sering kamu kenakan.

Namun segalanya kabur, samar seperti tulisan di kertas yang terkena tumpahan air.

Barangkali ingatan memang tidak menyimpan semuanya. Ia tidak mencatat tanggal, jam, atau kalimat-kalimat manis yang pernah diucapkan.

Ia hanya menyimpan bagian yang tidak ingin dilepaskan.

Ia menyimpan rasa hangat di jemariku saat kamu menggenggamnya, rasa tenang di dadaku saat napas kita beradu, dan kepedihan manis saat menyadari bahwa kita pernah saling mencintai dengan begitu utuh.

Lagu dari gramofon tua mendadak berhenti, berganti dengan trek baru yang entah mengapa memiliki melodi yang sama dengan sore ketika kamu pergi.

Aku tersenyum tipis pada cangkir kopiku yang kini melayang emisi uapnya yang terakhir.

Kamu mungkin telah menjadi asing di kota yang lain, Genta. Nama kita mungkin tak lagi disebut dalam doa-doa malam yang sama.

Namun di sini, di kafe sunyi ini, di dalam ruang tak teraba di dadaku, kamu akan selalu menjadi rumah tempat aku pernah pulang.

Hujan di luar mulai mereda, menyisakan tetesan air yang menggantung di dedaunan.

Aku berdiri, merapikan mantelku, dan meletakkan beberapa lembar uang di atas meja.

Sebelum melangkah keluar, aku menoleh sekali lagi ke arah meja nomor empat. Mencoba mengingat kembali hal apa saja yang membuat kita berdua tersenyum, tertawa, atau sekadar menangis bahagia.

Meski semuanya terasa telah berlalu milyaran menit di waktu yang telah lewat, aku masih merasa saat ini, hari ini, serta detik dan menit ini.

Kehilangan telah selesai menagih lukanya. Yang tersisa kini hanyalah sebuah kenangan yang indah—bukan karena ia bertahan selamanya, melainkan karena ia pernah ada dan mengubahku menjadi manusia yang lebih utuh.

Pintu kafe berdenting pelan saat aku melangkah keluar. Menyongsong udara dingin, membawa serta ingatan yang tak pernah mau kulepaskan.***

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Rekomendasi