Salju turun seperti bulu-bulu abu-abu yang kehilangan arah, berjatuhan di atas lengkungan besi dan kaca Stasiun Shibuya.
Di luar, Badai Salju Pasifik meraung perlahan, membungkus megapolitan Tokyo dalam kain kafan putih yang dingin dan pengap.
Namun di peron jalur Yamanote ini, waktu seolah membeku bersama embun napas yang mengepul samar dari bibir seorang gadis berusia enam belas tahun.
Yamaguchi menyandarkan punggungnya pada tiang beton bersuhu es.
Syal rajut berwarna biru tua—hadiah terakhir ibunya sebelum paru-parunya menyerah pada kelembapan musim dingin empat tahun lalu—terbelit erat di lehernya.
Tangannya yang terbungkus sarung tangan wol yang mulai menipis menggenggam selembar tiket per platform yang sudah lusuh.
Ia sedang menunggu. Sebuah kata sederhana yang telah menjelma menjadi kebiasaan, lalu menjadi ibadah, dan akhirnya menjadi siksaan yang perlahan memakan jiwanya.
Dua belas tahun. Dua belas musim dingin telah berlalu sejak sosok tinggi berparfum tembakau dan getah cemara itu memeluknya di peron yang sama.
Saat itu, Yamaguchi baru berusia empat tahun.
Ayahnya, seorang perwira logistik Angkatan Darat Jepang, diutus dalam misi penjaga perdamaian dan bantuan kemanusiaan jangka panjang di wilayah Karibia yang jauh,
sebuah lanskap asing dengan laut sebiru pirus dan udara panas yang tak pernah dibayangkan Yamaguchi kecil.
"Ikan terbang akan membawakan surat-suratku, Yamaguchi," bisik ayahnya malam itu, menyapukan jemarinya yang kasar ke pipi mungil sang putri.
"Dan ketika salju terkumpul paling tebal di Shibuya, ayah akan pulang."
Dulu, ada Ibu yang menggenggam jemari kirinya saat mereka menunggu di stasiun ini setiap akhir tahun.
Ibu yang selalu tersenyum penuh harap, memasakkan sup miso hangat yang menanti di rumah, dan berbisik bahwa Ayah hanya sedang tertahan badai tropis.
Namun, panggung kehidupan melucuti dekorasinya satu per satu.
Ibu pergi tanpa sempat melihat salju meleleh, meninggalkan Yamaguchi tumbuh sendirian di antara bayang-bayang kenangan dan derak roda kereta yang datang dan pergi.
Kini, Yamaguchi bukan lagi bocah yang meminta dibelikan permen manisan aprikot.
Ia telah tumbuh menjadi gadis remaja dengan mata setajam malam dan duka yang terpatri di sudut bibirnya.
Tubuhnya dibalut mantel seragam sekolah yang terlalu tipis untuk badai semalam ini.
Kereta pukul 21.15 tiba. Roda-roda besinya menjerit menggesek rel yang berembun es, menghasilkan suara dengkingan nyaring yang membelah kesunyian peron yang lengang.
Pintu-pintu otomatis terbuka, menghembuskan hawa hangat buatan yang bercampur dengan bau minyak pelumas dan pakaian basah para penumpang yang terburu-buru.
Beberapa orang turun dengan langkah tergesa, menundukkan kepala menghindari terpaan angin dingin.
Yamaguchi menajamkan pandangannya. Setiap kali pintu terbuka, dadanya bergetar oleh ritme harapan yang sama: sosok pria separuh baya dengan seragam militer,
atau setidaknya pria dengan garis wajah yang mirip dengan foto pudar di dalam liontin kalungnya.
Satu orang turun. Dua orang. Tiga orang. Lalu peron kembali sepi.
Pintu kereta menutup kembali dengan bunyi lonceng klise yang bergema dingin di langit-langit stasiun.
Kereta meluncur pergi, meninggalkan keheningan yang lebih berat dari sebelumnya.
Yamaguchi menghela napas. Udara dingin menghantam tenggorokannya, menyisakan rasa pahit.
Karibia pasti sangat hangat, pikirnya. Di sana tak ada es yang membekukan kenangan.
Apakah Ayah lupa bagaimana rasanya menggigil? Apakah Ayah lupa jalan pulang ke Shibuya?
Lampu-lampu neon stasiun berkedip muram, memantulkan bayangan samar Yamaguchi di lantai marmar yang licin oleh lelehan salju.
Ia sendirian. Dunia di luar sana sibuk berpesta menyambut pergantian musim, sementara di dalam dadanya, sebuah ruangan kosong bertambah dingin setiap detiknya.
Derap langkah sepatu lars berat terdengar memecah kesunyian.
Suaranya konstan, tegas, namun terkesan menyeret beban yang amat sangat.
Yamaguchi menoleh.
Dari balik remang-remang kabut es di ujung peron, muncul seorang pria berbadan tegap.
Ia mengenakan mantel dinas militer berwarna hijau zaitun pekat. Namun, itu bukan ayahnya.
Pria itu memiliki garis rahang yang keras dengan parut tipis di pelipisnya, dan matanya menyimpan jenis kelelahan yang tidak bisa disembuhkan oleh tidur nyenyak bertahun-tahun.
Pria itu berhenti beberapa langkah di hadapan Yamaguchi.
Salju yang menempel di pundaknya tidak dilelehkan oleh kehangatan tubuhnya; pria itu seolah membawa musim dinginnya sendiri.
"Yamaguchi?" suara pria itu serak, seperti gesekan dua batu kali di dasar sungai yang kering.
Yamaguchi tidak menjawab. Tenggorokannya tercekat. Ia mengenalkan seragam itu.
Ia mengenakan emblem bertuliskan satuan yang sama dengan yang tertera pada surat-surat lama ayahnya.
"Aku Kapten Takahashi," lanjut pria itu, pelan. Ia melepas topi militernya, membiarkan rambut berubannya diterpa angin malam. "Sahabat ayahmu. Dari Karibia."
Keheningan yang mengikuti ucapan itu lebih pekat daripada badai di luar stasiun.
Suara pengumuman jadwal kereta terdistorsi di telinga Yamaguchi, berubah menjadi dengungan lebah yang jauh.
"Di mana Ayah?" tanya Yamaguchi. Suaranya begitu halus, hampir tersapu oleh angin yang melintasi celah dinding peron.
Takahashi menunduk. Ia tidak menjawab dengan kata-kata.
Dari balik lipatan mantel tebalnya, ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat tua yang ujung-ujungnya telah melengkung dan mengeras karena kelembapan laut dan suhu es.
Di atas amplop itu, tertera tulisan tangan yang sangat dihafal Yamaguchi—guratan tinta hitam yang tegas namun selalu melengkung lembut di akhir hurufnya.
Untuk Putriku, Yamaguchi.
"Ayahmu... tidak pernah mengabaikan janjinya untuk pulang," ujar Takahashi dengan nada bariton yang bergetar rapuh.
"Tiga minggu lalu, badai kategori lima menghantam kamp penampungan di pesisir Haiti. Ayahmu menahan tiang penyangga fasilitas medis agar anak-anak lokal bisa dievakuasi. Struktur betonnya runtuh."
Takahashi melangkah maju satu tapak, mengulurkan amplop itu. Tangannya yang kasar bertato bekas luka bakar tampak gemetar.
"Dia bertahan cukup lama untuk menulis ini. Dia memintaku membawanya langsung kepadamu. Di peron ini. Pada hari pertama badai salju Shibuya."
Yamaguchi menerima amplop tersebut. Jarinya bersentuhan dengan kertas lunak itu.
Ada bau asing yang tercium: bau garam laut Karibia, bau antiseptik rumah sakit lapangan, dan aroma tembakau murahan yang sangat familiar. Bau Ayah.
Air mata yang ditahannya selama dua belas tahun tidak meluncur sebagai tangisan histeris.
Air mata itu menetes perlahan, tunggal dan bening, membeku seketika di atas permukaan surat sebelum sempat meresap ke dalam serat kertas.
Ia tidak membuka surat itu sekarang. Ia tahu apa yang tertulis di dalamnya: permintaan maaf yang tak terkira, kasih sayang yang melompati samudera, dan perpisahan yang tak sempat diucapkan secara langsung.
"Terima kasih... telah menyampaikannya," bisik Yamaguchi.
Kapten Takahashi memberi hormat militer secara kaku, sebuah penghormatan tidak hanya kepada rekan prajuritnya yang telah gugur, tetapi juga kepada ketabahan seorang anak yang telah menunggu di ujung dunia.
Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, sang kapten berbalik dan berjalan perlahan menghilang ditelan kabut malam dan deru salju yang kian mengganas.
Yamaguchi berdiri sendirian di tengah peron yang kini benar-benar hampa.
Lampu penunjuk waktu menunjukkan pukul sembilan lewat empat puluh lima menit. Kereta terakhir telah berlalu.
Ia merengkuh surat wasiat itu ke dadanya, meresapi sisa-sisa kehangatan terakhir yang menembus kain syal peninggalan ibunya.
Di luar, badai salju masih meraung, menutupi kota Shibuya dalam lapisan putih yang abadi.
Namun di dalam diri Yamaguchi, waktu yang membeku selama dua belas tahun akhirnya mulai mencair—menjadi aliran sungai duka yang tenang,
membawa pulang bayangan ayahnya, bukan ke stasiun ini, melainkan ke dalam keheningan jiwanya sendiri.
"Aku sayang Ayah."***