Disukai
1
Dilihat
53
Porsi yang sudah ditentukan
Slice of Life
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Angin pun berhembus dan menerpa badannya yang tampak lesu dan juga lelah dia hanya tertunduk dengan sesekali memandangi orang-orang yang berlalu lalang dan sesekali menengok begitu ramainya deru kerumunan manusia di alun-alun kota Blitar ini, lalu ia kembali menundukkan kepalanya. Hingga beberapa lama kemudian terkejutlah dia.

Karena dari sepuluh ribu orang yang berlalu lalang, ada seorang pengamen yang memetik gitarnya seraya melantunkan lagu-lagu yang tentu saja asing di kepalaku. Yang dimana lagu yang dilantunkan oleh seorang bapak-bapak itu umurnya jauh lebih tua daripada umurku. Tanpa adanya aba-aba mataku begitu langsung tertuju pada perawakan pengamen misterius ini.

Seorang bapak-bapak berkumis tipis dan bertopi hitam yang dimiringkan ke kanan, dengan sebuah gitar yang dikalungkan di tubuh kurusnya masih melanjutkan petikannya, dalam hatiku berkata:

“Apakah orang asing ini berniat menghiburku atau menggangguku?.”

Akhirnya tidak pikir panjang aku pun langsung mengeluarkan uang terakhirku di kantong saku bajuku, tidak banyak memang, namun pikirku saat itu lebih baik uang ini untuk bapak ini daripada berujung berakhir dengan pembuangan yang sia-sia.

“Ini pak, buat sampean terima ya.” Ucapku sembari memasukkan uang itu ke gelas plastik yang terletak di ujung gitar.

Setelahnya aku kembali ke aktivitasku tanpa aku memperdulikan si pengamen yang aneh itu kepalaku kembali berat oleh beragam masalah yang berbisik di kepala.

“Mas, mas ini kembaliannya.”

Kedua kalinya aku dikejutkan oleh seorang pengamen ini, dan aku pun juga bingung mengapa ia mengembalikan uang yang kuberikan yang padahal itu sangat sedikit jumlahnya hanya lima ribu rupiah itu pun uang sisa. Apa yang perlu dikembalikan.

“Loh pak, tidak apa-apa gak usah dikembalikan ambil aja semua, siapa tahu lebih bermanfaat buat sampean.”

Sekilas setelah aku mengucapkan kata-kata itu, kulihat wajah. Bapak-bapak itu tampak sedikit sumringah dicampur dengan perasaan kebingungan,

“Ah ini mas, ambil saja saya cuma butuh seribu rupiah dan ini sudah cukup bagi saya, saya gak mau serakah.” balasannya dengan dua lembar uang dua ribu ditangannya.

“Sudah pak ini sampean bawa saja uangnya, bapak lebih butuh daripada saya.”

Kumasukkanlah— uang dua ribu itu langsung ke kantongnya, karena sejujurnya aku hanya ingin duniaku hening kembali setelah sepeninggalnya bapak-bapak misterius itu.

“Matur suwun ya, mas jarang ada pemuda baik, kayak mas ini.” Ucapnya lembut

“Nggih pak sama-sama.”

***

Cuaca di alun-alun mendadak mendung waktu itu, entah mengapa apakah mungkin langit juga ikut merasakan deritaku, seluruh keramaian berganti menjadi sunyi sepi karena seluruh manusia tentu saja akan mencari tempat agar hujan tidak membasahi badannya. Berbagai macam kendaraan yang sebelumnya terparkir juga mulai menghilang. Yang tersisa cuma aku dengan bapak-bapak yang baru saja aku kenal ini. Di tengah alun-alun yang besar ini.

Walaupun keadaan yang begitu tampak kurang baik, dengan desir angin yang kian kencang, di suasana yang seperti ini duka di dalam hatiku tetap saja tertahan, sehingga tanpa sadar postur tubuhku semakin membungkuk, sedih yang kurasakan kala itu seperti kalimat yang tidak bisa dituliskan. Dan terkadang aku berfikir

“Andai saja, di kehidupan yang sekali ini. Aku dapat benar-benar beristirahat tanpa perlu memikirkan apapun di kepala, tanpa perlu terikat oleh hidup yang begitu menuntut manusia untuk menjadi sempurna.”

Semuanya berubah menjadi berantakan pada saat rintik hujan— mulai turun sedikit demi sedikit dan membasahi sebagian tubuhku, aku berharap kesedihanku bisa melebur bersama air hujan yang turun ini.

“Mas, mas.. ayo kesana dulu, hujan sebentar lagi turun, sebaiknya kita berteduh terlebih dulu di sana.”

Perabaan dingin dari tangan yang tak ketahui menepuk pundakku, dan suara parau terdengar bersamaan dengan tangan dingin itu bersentuhan dengan pundakku dan memintaku untuk berteduh sebelum hujan tiba.

“Ehh.. iya pak gak apa-apa saya disini aja.” Timpalku menolak.

Ternyata pemilik dari tangan yang dingin dan seseorang yang bersuara parau itu adalah bapak-bapak pengamen tadi yang sebelumnya kukira sudah pergi, ternyata ia masih berada di tempat sekitarku duduk.

“Udah mas, ayo sini kita menepi sejenak.”

“Hati-hati loh mas katanya air hujan gak baik buat tubuh loh mas.” bantah bapak-bapak itu.

Oleh karena langit juga perlahan akan menumpahkan seluruh air matanya ke muka bumi tak ada pilihan lain selain menuruti apa yang diserukan oleh bapak-bapak pengamen ini. Pada akhirnya kita pun sampai di sebuah gazebo atau tempat untuk duduk yang diberikan atap kecil dan hampir serupa rumah joglo rumah adat khas jawa barat. Disitulah tempat semua perjalananku dimulai. Perjalanan yang tak akan pernah usai. Perjalanan yang tak pernah punya konsep maupun tujuan. Tanpa punya satu maksud tertentu yaitu

“Setiap kamu bertemu seseorang di dalam hidupmu, percayalah bahwa ia akan membawa sebuah pelajaran yang tak kamu lupa sepanjang hidupmu.”

***

Sesampainya kita berdua di sebuah gazebo yang ukurannya pun tak lebih besar daripada tenda-tenda penjual makanan yang berjejer di sebelah kiri dan kanan gazebo ini didirikan.

Hawa udara perlahan menunjukkan perubahan ketika aku dan bapak-bapak pengamen mengistirahatkan tubuh bersama. Diriku hanya terdiam beberapa saat, dan bapak-bapak terus saja memainkan gitarnya, tapi sungguh di saat ia memetikkan gitarnya dan timbul-lah, gema nada yang tak asing di kepalaku, dan bersenandung pengamen itu disebelahku dan seakan mengajakku untuk bernyanyi bersama-sama.

Sekali lagi angin berhembus dan seakan memeluk kami berdua yang pada sore itu membutuhkan kehangatan yang sulit di didapatkan kala semesta sedang bersedih seperti hari ini, walau begitu bapak pengamen ini tetap saja setia pada gitarnya dan mulai melantunkan tetembangan yang menurutku bapak ini sedang menghibur semesta yang sedang berduka dan merayu–nya supaya hujan segera mereda.

“Huhu..huhu…huhu.’’

“Sebait nada ku buat nada

Agar semoga engkau bahagia

Ini cerita tentang yang ada

Mungkin kah nanti jadi kan nyata

Rumah dan tawa impian kita

Semoga kelak tak jadi susah

Mudahkan Tuhan jalan ku ini

Ucap bismillah pada yang kuasa

Dan semoga

Kan bahagia

Yang gelisah

Temukan setitik cahaya.”

Angin perlahan membelai bulu kudukku ketika bapak pengamen ini mulai melantunkan lagunya terkejutlah diriku karena lagu ini seakan-akan tahu apa yang sedang kurasakan aku berpikir apakah bapak-bapak pengamen ini cenayang yang bisa menebak duka yang dialami seseorang.

“Dan semoga—kan bahagia, yang gelisah temukan setitik cahaya.” ia terus melanjutkan lantunan—nya

Entah mengapa kepalaku yang semula hanya tertunduk dan menatap ke bawah dan kepala yang dipenuhi kekecewaan yang tidak terkira setelah mendengar beberapa lagu yang dinyanyikan oleh bapak pengamen ini, kepalaku mulai terangkat dan berani menatap ke depan. Dan duka serta kekecewaanku sedikit terobati. Lalu kucoba menikmati lagu yang dibawakan oleh bapak pengamen ini.

“Bapak dan ibu maafkan aku

Belum menjadi apa yang engkau mau

Dan semoga—kan bahagia

Yang gelisah, temukan setitik cahaya.”

Begitulah ia mengakhiri nyanyian—nya dan tanpa sadar aku memandangi bapak pengamen karena aku sungguh kagum selain dari suaranya yang merdu, ia pandai memilih lagu yang sesuai dengan kondisi seseorang di sekitarnya.

Ditengah kekaguman—ku aku dikejutkan lagi dan lagi oleh suara bapak ini yang tiba-tiba memberiku sebuah pertanyaan sontak saja aku gelagapan ketika disuruh menjawabnya.

“Gimana mas, suara saya bagus gak” katanya tersenyum kecil.

“Hehehe, bagus banget pak” balasku kikuk.

“Yaudah baguslah mas kalau gitu, mohon maaf nih mas saya mau tanya boleh apa enggak?” Tanya—nya khawatir.

“Dari sejak di bangku tadi sampai sekarang, kok mas saya lihat murung terus, ada masalah apa to mas. Cerita aja mas ke saya, jangan disimpan sendiri gak baik”

“Sialan” kataku ketika bapak pengamen itu mempertanyakan atas apa alasannya mengapa diriku murung seakan-akan sudah bosan hidup. Awalnya tentu saja aku menolak untuk bercerita apa yang terjadi sebenarnya, tetapi hatiku entah mengapa terasa begitu berat dan tanpa mampu lagi menahan semua rasa yang berada didalam jiwa raga ini. Akhirnya berceritalah aku kepada bapak-bapak pengamen itu.

“Aku hanya kecewa saja sama diriku sendiri dan Tuhan pak”

“Kenapa pada saat aku benar-benar berusaha akan suatu hal”

“Pasti berakhir dengan kegagalan, dan mengapa ada orang-orang yang sebagian besar waktunya dihabiskan dengan berleha-leha justru mendapatkan keberhasilan”

“Apakah tuhan tidak bisa sehari saja untuk bersikap adil pak?”

Berayun-ayunlah dedaunan yang tumbuh subur di depan gazebo seolah terguncang dengan perihal apa yang kuceritakan. Dan bapak-bapak pengamen ini tidak menjawab apapun setelah ku—selesaikan cerita dan pertanyaanku.

Hingga beberapa detik kemudian ia mulai menggerakkan mulutnya seakan mau menyampaikan sesuatu. Dinginnya tangan itu menyentuhku bedanya kini pundakku yang merasakannya…

“Mas, sekarang saya mau tanya ke sampean mas tahu gak?”

“Kalau, Tuhan sebenarnya sudah menentukan masing-masing porsi yang dimiliki seluruh manusia di muka bumi ini”

“Termasuk porsi bagi kekecewaan, keberhasilan dan kegagalan, karena sejatinya tanpa ketiga hal diatas, manusia akan lupa terhadap siapa pemberinya dan selalu menyombongkan diri bahwa ini semua kudapatkan dari diriku sendiri dan bukan dari Tuhan”

“Dan mungkin saja, kali ini adalah waktu mas untuk mendapatkan porsi kekecewaan dan kegagalan, sebelum mendapatkan hak mas untuk dapat porsi mas keberhasilan dari Tuhan mas”

“Dan segalanya telah diatur oleh Tuhan dengan adil, hanya saja terkadang manusia yang penuh keterbatasan ini terus saja menduga-duga hal yang buruk, sehingga menutup mata hatinya”

“Teruslah berjalan mas, teruslah bangkit walaupun kegagalan menerkam—mu tanpa henti karena akan tiba wak

tunya mas menerima porsi keberhasilan yang selama ini mas perjuangkan”

“Jangan takut untuk melangkah mas, karena Tuhan sudah disana, bahkan sebelum mas mulai melangkah.”

TAMAT

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Rekomendasi