Disukai
10
Dilihat
1,610
Bird (Burung)
Slice of Life

Dua puluh menit lagi jam pelajaran membosankan ini akan berakhir. Kipas di langit kelas berputar seperti orang bengek. Kepalaku berdiri di atas tumpuan tangan kanan. Puisi yang sedang dibawakan Si Primadona kelas seperti lagu pengantar tidur.

Minggu kemarin Bu Alin memberikan tugas membuat puisi bertema 'Impian dan Harapan Hidup'. Sebagai syarat ulangan bahasa Indonesia, kami harus membaca puisi satu persatu ke depan kelas minimal lima bait, maksimal terserah. Sementara primadona di depan kelas itu, Angela, menulis lima belas bait impian hidupnya yang ingin berkelana di bumi sampai bertemu raja Neptunus. Karena aku sudah maju ke depan membawa puisi berisi impianku menjadi sutradara, aku ingin memejamkan mata sebentar.

"Tepuk tangan, untuk teman kita!"

Tepuk tangan satu kelas yang meriah seketika membuatku sadar lagi. Mataku mengerjap dan tanganku ikut meramaikan suasana di tengah teriknya panas matahari siang ini.

"Puisi yang menakjubkan, Angela! Saya kagum dengan makna isi puisimu yang ingin mengelilingi dunia dengan niat mulia dalam penyelamatan bumi ini. Tidak tanggung-tanggung sampai mau pergi ke antartika, sungguh hebat anak Ibu yang satu ini. Silakan kembali ke meja." Seperti biasa, Bu Alin senang dengan anak favoritnya dengan memuji berlebihan.

"Terima kasih, Bu Alin atas pujiannya!" Aku melihat jelas anak itu nyengir karena puisi bagai peta impian menuju Atlantis itu berhasil membuat guru ceriwis itu memujinya. Angela langsung duduk di kursi dua terdepan dari bangkuku di tengah.

Aku merebahkan kepala di meja dan tidak peduli lagi siapa yang maju. Aku mulai mengantuk. Teman satu mejaku, Erik, sudah bolos ke pulau kapuk sepuluh menit yang lalu. Aku mulai memejamkan mataku lagi.

"Baiklah. Sekarang saya panggil selanjutnya, ya. Kenari Lylian, silakan maju ke depan."

Tidak jadi.

Mataku tidak jadi tertutup setelah Bu Alin memanggil nama selanjutnya. Derit kursi seberang meja yang berpindah posisi membuat kepalaku berpangku wajah di lengan dengan sisa tenaga. Anak perempuan berponi panjang samping yang membingkai wajah datarnya itu maju tanpa ragu. Berbeda dari Angela yang sempat malu-malu kelomang, harus di 'hah' teman satu circle-nya baru maju ke depan.

"Oke, Nak. Berapa bait puisi yang kamu buat?" Bu Alin akan bertanya dahulu pada anak-anak yang maju ke depan terkait jumlah bait puisi kami.

"Enam, Bu," jawab Kelly tanpa basa-basi. Aku menduga wanita berkucir kuda itu tidak mau membuang waktunya untuk membuang halaman bukunya untuk memenuhi harapannya piknik di patung Liberty.

Bu Alin mengangguk. Siapapun di kelas ini, termasuk Bu Alin, tidak berekspektasi banyak terhadap Kelly. Selama di kelas Kelly terlihat penyendiri, tidak pandai berkekspresi, dan pendiam. Bagiku sifatnya yang pendiam dan tidak terlalu banyak ekspresi karena alasan tidak mengenakan semenjak awal kelas sepuluh hingga di kelas sebelas sekarang.

"Enam? Impian lu cuman sebatas enam bait?" Angela berceletuk dengan memainkan rambutnya. Anak ini cepat sekali meremehkan rivalnya.

"Lagi irit buku kali. Siapa tau emang lagi gak punya buku tulis lagi." Teman sebangku Angela menanggapi menahan tawa.

"Bukan. Gue yakin karena hutan udah pada gundul buat buku, makanya dia hemat buku tulis buat dijadiin sarangnya!" Anak cowok di bangku mepet tembok pun ikut mengejek. Dia memancing tawa anak-anak yang masih melek mata, kecuali aku dan Erik yang terlelap.

Inilah alasan tidak mengenakkan yang di alami Kelly. Aku merasa candaan mereka tidak pernah masuk selera humorku dan terlalu berlebihan. Dasar para manusia cringe.

"Sudah-sudah! Waktu terus berjalan dan masih ada tiga orang lagi yang belum baca. Setelah ini giliran kamu yang maju, Rio." Bu Alin mengetuk meja beberapa kali agar suasana kembali kondusif. Kelly kuperhatikan tetap diam menatap lantai. Ia pasti sudah muak dengan ejekan receh nan memaksa itu.

"Ya udah, sekarang mulai baca puisimu." Bu Alin akhirnya mempersilakan Kelly yang sudah membuka buku tulisnya.

"Burung. Karya, Kenari Lylian Wiraja."

Sebelum mulai membaca, mata kami sempat beradu pandang sekian detik. Seketika staminaku kembali sepenuhnya. Punggungku seakan tertarik untuk duduk normal lagi.

"Langit biru terlihat hampa

Selembar awan terlihat teduh di mata

Angin membawa kabar dari Utara

Ada Burung Kenari jatuh tak berdaya

Sayap tipis mungilnya terluka

Empat jari kecil itu patah jua

Tergeletak seakan tahu waktunya tiba

Menanti malaikat maut secara sukarela

Perlahan ia menutup mata

Tubuhnya telah mati rasa

Sunyi senyap terhampar cahaya

Hingga sampai menemui ajalnya."

Aku tidak bisa berpaling mendengar untaian bait puisi Kelly. Dia membaca tanpa ekspresi, tapi telingaku menangkap syair berirama sedih.

"Ah … Burung itu mati tanpa masalah apa-apa

Merelakan apa pun yang berlalu begitu saja

Burung itu pasti telah mengelilingi jagat raya 

Bahkan terbang tinggi menuju angkasa 

Sayang itu semua hanya mimpi belaka

Manusia ini sedang berkhayal seadanya

Ingin berlayar di udara mengelilingi buana

Berani membentang sayap menghirup udara

Ingin kesana kemari tak merasakan sengsara

Ingin kesana kemari tak mengucap sampai jumpa

Ingin kesana kemari tak mengalami hati yang lara

Ya begitulah … sebuah impian berwujud fana."

Akhir dari bait puisi yang terlihat mengeluhkan hidup itu serasa mengena di hati. Aku membayangkan puisi Kelly seperti langit mendung di yang siap menghujani rumah kapanpun. Mata kami kembali bertemu. Seakan, jika melihatku lagi artinya selesai. Muka datar itu seakan memberikan sinyal kepadaku bahwa, "Aku sudah selesai mengeluarkan isi hatiku."

Lalu tanganku mulai bertepuk tangan. Di ikuti tepuk tangan lemah lainnya. Lebih datar, seakan tak peduli karena kebosanan.

"Puisi yang bagus dan menakjubkan." Bu Alin ikut bertepuk tangan serta menatap Kelly tanpa berkomentar banyak. "Kelly ingin menjadi pilot?" Bu Alin pasti mau mengonfirmasi rasa herannya.

"Bukan." Kelly membalas guru bahasa Indonesia itu datar.

"Oh atau mungkin, impianmu mau berkeliling dunia dengan bebas seperti Angela?" Bu Alin pasti merasa yakin kalau impian Kelly begitu. Tapi, dari puisi Kelly tadi aku bisa menebak maksudnya.

"Saya mau jadi burung.”

“Pffft!” Angela mulai tertawa. “Pantas judulnya burung. Burung kok mau jadi burung lagi. Jadi manusia lah! Jadi tumbuhan juga oke, biar diceker ayam setiap hari.”

Satu kelas mulai tertawa lagi. Lebih besar hingga temanku yang tertidur mulai terusik. Detik berikutnya aku terpaksa menghentikan tawa mereka dengan menyenggol buku paket kimia hingga semua mata, termasuk Kelly menatapku.

"Kenapa? Buku jatuh doang liat gue kayak gitu." Aku menatap mereka keheranan seakan itu membuatku risih. Lalu aku menatap Angela. Keberadaannya yang superior membuatku pengap seakan penguasa kelas.

Sebisa mungkin aku menatap tajam agar dia tidak bertingkah lagi. Angela terlihat jengkel karena aku berhasil merusak suasana. Dia dan teman sebangkunya langsung memalingkan wajah.

"Cukup anak-anak." Akhirnya Bu Alin kembali bersuara. Bu Alin menarik napas panjang agar ia masih bersabar.

"Joy, segera ambil bukumu."

"Iya, Bu." Aku langsung mengambil buku di lantai. Mencegah bencana di kelas; berhasil.

"Sekarang ceritakan makna dari isi puisi Kelly kepada kami. Kenapa kamu ingin bermimpi menjadi … burung?" Aku tahu Bu Alin skeptis dengan 'impian' Kelly yang terdengar aneh.

Kelly menatap buku tulisnya. Dia terlihat memikirkan kata-kata yang tepat diucapkan menimbang Angela bisa saja mengejeknya lagi.

"Saya mau jadi burung ...." Kata-katanya menggantung. Dia terlihat sedikit cemas karena satu kelas kini menatapnya. "Karena saya ingin terbang bebas." Aku bisa melihat Kelly berusaha memegang bukunya kuat. Tatapan mata Kelly seakan ingin melumat bukunya sendiri.

"Saya ingin menjadi burung karena bisa terbang tinggi mengelilingi bumi dan hinggap di mana saja tanpa perlu memikirkan apa itu perasaan dan makna kehidupan. Saya … bahkan telah berkali-kali bereksperimen bagaimana burung itu terbang dari balkon rumah dan atap sekolah. Saya pikir suatu hari eksperimen saya berhasil untuk meninggalkan sangkar."

Satu kelas hening. Tidak ada yang menanggapi atau bersuara selain kipas kelas. Aku sadar anak-anak tidak bisa berkata apa-apa setelah mengetahui maksud dari puisi itu. Kemudian ia menatapku lagi. Kali ini tatapan kami terkunci.

Kelly kamu pasti bisa!

Aku mengirimkan sinyal semangatku lewat senyuman dan tatapan meyakinkan. Entahlah bagaimana ekspresiku ini dilihat olehnya, aku ingin Kelly berani menyampaikan makna puisinya dengan tuntas. Dia tetap diam seperti mencari sinyal di tempat. Lalu aku melihat tatapan matanya sudah tidak setegang membaca puisi tadi.

"Namun, saya mulai sadar kalau itu hanyalah sebuah harapan kosong. Kenyataan pahit yang harus saya terima adalah terlahir sebagai manusia. Harapan saya menjadi burung sia-sia, tetapi saya memiliki harapan lain datang dari manusia baik yang ingin membantu saya melebarkan sayap dengan percaya diri sebagai 'manusia seutuhnya'."

Bibirku bergerak melengkung menyentuh pipi. Aku senang Kelly berani mengungkap impian dan harapan kebebasannya dengan baik di depan semua orang yang meremehkannya.

"Pesan yang cukup menarik. Kembangkan lagi bakatmu jika ingin menjadi burung sesungguhnya." Bu Alin mengangguk paham saat memberi nilai di lembaran kertas. Meski tidak menanggapi seantusias Angela, aku pikir pujian untuk Kelly lebih tulus.

"Terima kasih. Sekarang kamu boleh duduk." Bu Alin mempersilakan Kelly kembali bangku. "Sekarang, Ario Darmawan, maju ke depan."

“Udah selesai baca puisinya?" Erik masih mengumpulkan nyawa setelah Bu Alin memanggil nama berikutnya. Matanya menyipit melihat cahaya matahari yang semakin tinggi.

“Kelly baru selesai baca puisi. Tinggal tiga orang lagi,” jawabku sambil membersihkan debu di buku.

Kelly sudah kembali duduk di bangku yang berseberangan denganku. Tenang seperti air, tak banyak bicara selain membuang napas lega karena dia berhasil melewati ujian. Aku segera mengambil sticky note dari kotak pensil besarku kemudian menuliskan sesuatu.

[Good Job, Kelly! Sudah kuduga puisimu keren. Pasti auto A!]

Selembar sticky note kuning persegi itu aku ambil dan diselipkan antara dua jari. Tanganku segera turun ke bawah mendekati posisi Kelly. Tak perlu lama menunggu Kelly mengambil sticky noteku tanpa protes dan segera membalasnya. Sampai ke tanganku lagi, ada tulisan Kelly yang terlihat rapi dan feminim.

[Berkat dukunganmu sejak di atap sekolah, aku yakin bisa menjadi burung versi diriku. Terima kasih, Joy.]

Aku kembali menulis sticky note baru kepadanya.

[Mau makan siang bersama di atap sekolah nanti?]

Lalu dia mengembalikan sticky note itu.

[Ayo :)]

Kepalaku berputar ke samping. Perempuan bermuka datar nan pendiam pun menatapku dengan bibir tipisnya yang melengkung samar. Kelly si kenari kecil pendiam itu untuk pertama kalinya memberikan senyuman untukku. Bukan dalam bentuk tulisan, sungguh benar-benar tersenyum.

Ah … aku bisa melihat harapan di matanya. Aku yakin Kelly dapat mewujudkan harapan bernama kebebasan sebagai manusia sejatinya. Bukan hanya sekadar manusia yang ingin menjadi burung yang hinggap di pohon untuk terbang dan siap jatuh begitu saja.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
@riantonapitupulu : Halo kak rianto, terima kasih banyak sudah membaca cerpen saya :D semoga kakak sehat selalu~
Bagus ya saya suka
Rekomendasi dari Slice of Life
Rekomendasi