Hujan akhirnya berhenti menjelang subuh—langit semalam runtuh oleh derasnya air yang kini perlahan damai, memamerkan semburat jingga, merah muda, dan sedikit ungu di cakrawala yang basah. Keindahan itu seolah siap menyambut matahari terbit.
Sementara bau lumpur masih menempel kuat di udara ketika Amaya menemukan sebuah foto—basah, dan terkoyak—mengapung di antara puing-puing rumahnya. Di foto itu, seorang pria tersenyum ke arahnya, seolah semuanya baik-baik saja. Padahal semalaman, desa mereka berjuang melawan banjir yang menggulung apapun yang dilewatinya, tanpa memilih.
Getir merayap di dada Amaya. Ia ingin menyerah. Tapi tatapan pria itu, seakan berbisik lirih dari balik kertas yang hampir hancur: jangan dulu menyerah begitu saja.
Ingatan itu datang tanpa permisi. Amaya melihat dirinya di tengah lapangan, pada hari hujan pertama turun. Wajahnya menengadah ke langit, kedua lengannya terbuka lebar, seolah siap memeluk setiap tetes yang jatuh ke kulitnya.
“Tuhan, turunkanlah hujan yang bermanfaat.” Doanya lirih, sambil tertawa kecil menikmati tubuhnya yang basah.
Ia tidak tahu saat itu—hujan yang ia sambut dengan doa akan datang kembali sebagai peringatan.
Sebelum semuanya berubah.
***
“Selama kita menjaga alam, alam juga menjaga kita,” kata Bapak suatu sore, sambil memupuk sebuah pohon kecil di belakang rumah.
“Seperti arti dalam sebuah nama,” katanya lagi. “Bapak menamaimu Amaya yang artinya hujan—supaya kamu bisa hidup berdampingan dengan alam, dan dijaga olehnya.”
Mungkin itu sebabnya, setiap kali hujan turun, aku selalu merasa damai. Tapi belakangan, ada yang berubah. Meski hujan hanya rintik-rintik, air sungai di belakang rumah cepat sekali menjadi keruh pekat—lebih cepat dari biasanya.
“Tanahnya nggak kuat lagi menahan air,” gumam Bapak, matanya mengikuti potongan batang pohon yang hanyut lewat aliran sungai.
Dongeng sebelum tidur pun tak lagi sekedar cerita. Hutan di atas bukit—penjaga terakhi desa kami—selalu hadir dalam kisah-kisahnya. Aku hanya mengangguk, menarik selimut, tak memahami kecemasan yang terselip di tiap katanya.
Aku tidak tahu saat itu, bahwa percakapan-percakapan sederhana itu akan menjadi tanda terakhir, sebelum segala yang kami miliki hanyut dalam satu malam.
Dan hari-hari sebelum musibah itu datang, aku masih ingat bagaimana Bapak sering berdiri di teras sambil menatap bukit yang menghitam di kejauhan.
***
Ingatan itu memudar perlahan, seperti bayangan yang tersapu air. Amaya membuka mata, dan dunia yang ia lihat bukan lagi teras rumahnya, melainkan hamparan puing lembab yang berbau lumpur dan besi basah.
Foto ayahnya masih berada di tangannya—basah, terkoyak, dan rapuh—persis seperti kenyataan yang kini harus ia hadapi. Dengan napas yang memburu, Amaya menepuk-nepuk foto itu, menghapus lumpur yang menempel, seolah bisa menyelamatkan sesuatu dengan gerakan sekecil itu.
Rasa perih tiba-tiba menggenang di dadanya, foto itu gemetar di tangannya.
“Bapak…” panggilnya lirih, ketakutan. Dan panggilan itu jatuh tanpa jawaban.
Langit memang mulai terang. Tapi dingin masih menempel di kulit Amaya. Bukit penjaga—yang selalu diceritakan ayahnya—kini gugur dalam perang yang tidak pernah ia pahami sepenuhnya.
Sejauh mata memandang, sosok yang ia cari tidak ada. Amaya berjalan tertatih di antara puing-puing—tanpa tujuan, tanpa arah, tanpa ayahnya.
“Tolong…” teriaknya. Ia tidak tahu apakah itu teriakan atau doa.
Teriakan Amaya memudar, digantikan suara parau yang bahkan tidak lagi sanggup menyebut satu nama pun, karena sekencang apapun tidak bisa menjelmakan sosok yang ia cari. Ketika suaranya habis, lututnya pun ikut menyerah. Ia terduduk di tanah becek, dinginnya merambat dari kulit ke tulang, dari tulang ke hati.
Tanpa sadar, langkah kecilnya itu membawanya ke tengah lapangan yang basah. Di sekelilingnya, banyak orang terlihat sibuk, ada juga orang yang tengah menangis tersedu-sedu.
Amaya menunduk, membiarkan kepalanya terjatuh ke dadanya. Untuk sesaat, ia hanya bertahan pada suara napasnya sendiri yang tersengal, mencoba menenangkan badai yang berputar di dalam dirinya.
Seseorang kini berdiri di depannya. Seorang perempuan dengan rompi relawan, wajahnya kusut, tapi tatapannya lembut.
“Dik… sini. Ayo berdiri dulu,” ucapnya pelan, mengulurkan tangan.
Amaya menatap uluran itu lama. Seolah dunia memberinya dua pilihan: tetap duduk di tanah kehilangan, atau bangkit, meskipun tubuhnya masih digoyang ketakutan. Dengan sisa kekuatan yang entah datang dari mana, Amaya meraih tangan perempuan itu dan berdiri. Foto ayahnya ia peluk di dada, menempelkannya seperti sesuatu yang harus ia selamatkan meski dunia tak lagi utuh.
Perempuan itu menuntunnya ke sebuah tempat yang dibangun seadanya, tapi menjadi sebuah tempat yang nyaman di tengah kekacauan yang ada. Memberikan pakaian kering dan sedikit makanan untuknya.
Di tenda pengungsian, tubuh Amaya akhirnya terlelap. Tapi tidurnya bukan istirahat—melainkan pengulangan. Dalam tidurnya, ia merasa sedang tidur di kamarnya, dinyanyikan suara hujan, dalam buaian selimut yang hangat—belum lama terlelap, mimpi indah itu berubah menjadi mimpi buruk.
Nyanyian hujan tidak lagi harmonis—semula turun seperti bisikan perlahan berubah menjadi amukan tanpa jeda. Langit seakan lupa caranya berhenti menangis. Air jatuh berlapis-lapis, memukul atap, jalanan, dan dedaunan dengan suara yang makin lama makin berat.
Sungai yang biasanya tenang mulai meluap, menelan tanah, dan semua yang ada di hadapannya. Jalanan menghilang sedikit demi sedikit, berubah menjadi aliran cokelat keruh yang bergerak tanpa arah. Air merayap masuk ke pekarangan, memeluk kaki kursi, menaiki teras, lalu menyusup ke dalam rumah tanpa permisi.
Amaya terbangun sudah dipenuhi bau lumpur dan besi basah memenuhi udara, rasa panik mulai memenuhi rongga dadanya. Ia berlindung pada lemari kayu jati yang kokoh, banjir telah datang, bukan sebagai kejutan, melainkan sebagai akibat—pelan, pasti, dan tak terelakan. Ia pun akhirnya menyerah, tenggelam di bawah air yang terus naik, sementara hujan tetap jatuh dengan dingin dan tanpa belas kasihan.
Ia terbangun dengan napas tercekik, sadar bahwa mimpi itu bukan mimpi. Itu ingatan yang menolak pergi.
Di tengah kekacauan itu, orang-orang baik itu sibuk menolong sesama. Tapi—perlahan—suara lain menembus kabut pikirannya, bukan teriakan, bukan isak tangis, tapi suara balok kayu yang jatuh—suara yang sama seperti saat bukit runtuh.
Tak jauh dari tempat Amaya tengah termenung, dua orang relawan melewatinya sambil mengangkat balok kayu sambil bergumam.
“Ini semua gara-gara penebangan itu,” gumam seorang relawan.
“Bukitnya udah nggak kuat lagi nahan air.”
Kata-kata itu menghantam lebih keras dari lumpur.
Ia memejamkan mata, merasakan dunia yang dulu ia kenal berubah menjadi kokoh sekaligus rapuh dalam sekejap. Harmoni kehidupan antara manusia dan alam hanya menjadi kenangan, kini hancur dalam semalam akibat keserakahan segelintir orang. Dan di antara hembusan angin yang masih basah, Amaya merasakan sesuatu yang tak bisa ia namai—bukan harapan, bukan pula keputusasaan.
“Aku harus cari Bapak,” bukan teriak, bukan menangis, tapi keputusasaan.
Relawan mencoba menahan, karena sungai belum stabil, tanah masih labil. Perempuan relawan itu menatapnya—ada keraguan sekaligus pengertian dalam sorot matanya. “Dik, kondisi masih bahaya. Sungainya belum stabil. Arah alirannya masih berubah-ubah.”
Namun Amaya sudah memalingkan wajahnya, memandang ke arah reruntuhan rumah-rumah yang kini hanya tinggal kerangka kayu. Diam bukan lagi pilihan.
“Aku cuma mau lihat. Tolong. Aku nggak bisa diam.” Katanya memelas.
Beberapa relawan akhirnya mengikuti, memutuskan mendampingi gadis itu sebelum ia nekat pergi sendiri. Mereka berjalan menyusuri puing-puing yang masih basah; udara dipenuhi bau lumpur, besi basah, dan kayu basah. Suara potongan logam yang digeser, suara seruan samar, dan gemuruh sungai yang kini haus dan tak terkendali.
Setiap langkah seolah menambah beban di dada Amaya. Ketika mereka mendekati bekas rumahnya, lutut Amaya hampir goyah. Rumah itu tidak lagi rumah—hanya bidang tanah berwarna gelap dengan pecahan genteng yang berserakan seperti sisik ikan mati.
“Dik, jangan dekat-dekat dulu,” ujar seorang relawan laki-laki sambil mengangkat papan besar yang tertancap miring. “Ini masih labil.”
Amaya mengangguk, tapi hatinya meronta. Ia menatap puing itu lama. Mencoba meraba dengan mata, bagian mana yang dulu dapur, mana teras tempat ayahnya sering berdiri menatap ke arah bukit, dan mana kamar yang dulu jadi tempat ia mendengar dongeng tentang bukit penjaga.
Tiba-tiba salah satu relawan berteriak.
“Di sini. Ada sesuatu—cepat!”
Amaya terlonjak. Suaranya pecah sebelum sempat ia tahan.
“Bapak?!”
Para relawan bergerak cepat, menggeser balok demi balok, mengerahkan tenaga dalam diam yang tegang. Setiap serpihan yang mereka angkat membuat dunia Amaya berputar lebih kencang. Ia menahan napas, jemarinya saling menggenggam, hingga memutih.
Seseorang akhirnya menunduk, memegang bahu Amaya pelan, seolah ingin membantunya sebelum kenyataan menghantamnya. Tapi Amaya tetap melangkah. Ia melihat seutas kain batik yang sangat ia kenal. Kain itu tersangkut di antara pecahan kayu, terendam sebagian lumpur.
“Bapak…” kata itu keluar dari bibirnya seperti harap yang pilu.
Relawan mengangkat papan terakhir. Dan di sana, berbaring tak bergerak, tertutup lumpur kecoklatan, wajahnya teduh seperti sedang tidur, adalah lelaki yang selalu memanggilnya, “Hujanku.”
Dunia Amaya runtuh tanpa suara. Ia terjatuh berlutut, seluruh tubuhnya gemetar tanpa kendali. Foto ayah yang ia genggam jatuh ke lumpur, tapi ia tak lagi memperdulikannya—kedua tangannya meraih apapun yang tersisa dari sosok itu.
“Bapak… bangun…” suara itu pecah tak berujung.
Orang-orang disekitarnya mundur satu per satu, seperti menyisakan panggung duka untuk mereka berdua.
“Bapak… aku di sini… jangan tinggalin Amaya…”
Tidak ada jawaban. Hanya desau angin pagi yang lembut, terlalu lembut untuk tragedi sebesar ini.
Salah satu relawan menunduk, mencoba mendekat, tapi Amaya mengangkat tangan—melarang siapapun yang mencoba memisahkan ia dari ayahnya.
“Sepertinya dia belum sempat menyelamatkan diri, Dik. Arus datang terlalu cepat.” Kata relawan lainnya.
Amaya tidak mendengar penjelasan itu sepenuhnya, yang ia rasakan hanyalah kehampaan yang menelan dirinya bulat-bulat, lebih dalam dan lebih gelap daripada lumpur yang memenuhi desa mereka.
Ia memeluk tubuh ayahnya, menggigil. Untuk pertama kalinya, hujan—yang dulu membuatnya damai—kini hanya menyisakan dingin yang mengiris.
***
Di pagi hari, November 2025, Indonesia bagian barat.
Aku kehilangan segalanya. Satu-satunya tumpuan hidupku.
Dan semuanya, terjadi dalam semalam.