Disukai
3
Dilihat
617
PANGAYUH
Drama

Pangayuh, bukan hanya sebuah panggilan baginya. Nama itu melekat sebagai jati diri, menyimpan pengalaman, luka, harapan, dan ingatan yang tidak selalu ingin ia bagikan pada siapa pun.

Setiap kali namanya dipanggil, ia selalu teringat ibunya. Ia tahu ibunya menitipkan sebuah doa di dalam nama itu—tentram, merdeka, bahagia, dan sempurna—doa yang tidak selalu terasa pas dengan hidup yang sedang ia jalani.

Ia jarang menjelaskan arti namanya pada orang lain, meski rasa ingin tahu itu hampir selalu datang. Ia merasa tidak perlu, karena tidak semua doa perlu diterjemahkan.

Ia paham, setiap panggilan atas namanya selalu datang bersama cerita—cerita yang ingin disematkan orang lain padanya.

Orang-orang menganggap hidupnya tidak baik-baik saja. Ia membiarkan anggapan itu tinggal, karena menjelaskannya akan terlalu melelahkan.

Sejak sore, ia duduk di sudut sofa, mendengarkan. Tentang rencana, tentang kelelahan, tentang orang-orang lain yang lebih penting untuk diceritakan. Ia mengangguk di waktu yang tepat, menaruh senyum kecil ketika diperlukan.

Tidak ada yang salah. Tidak ada yang perlu diluruskan. Ia sudah terbiasa menjadi ruang, bukan suara.

Pangayuh baru menyadari betapa sunyinya rumah itu ketika ia berhenti berbicara. Sampai akhirnya ia membuka mulut, suaranya keluar pelan, hampir ragu.

“Aku capek.”

Kalimat itu tidak dimaksudkan sebagai keluhan. Ia tidak meminta solusi, tidak menunggu simpati. Hanya pengakuan singkat, seperti mengetuk pintu yang jarang dibuka.

Orang di hadapannya berhenti sebentar, lalu kembali melanjutkan ceritanya.

Pangayuh mengangguk lagi. Kali ini lebih cepat. Ia membiarkan kalimat itu berlalu, menyesap udara, menata kembali wajahnya. Barangkali ia memang mengatakannya di waktu yang salah. Barangkali lelahnya tidak cukup penting.

Di seberang ruangan, ada seorang perempuan lain. Duduk dengan kaki terlipat, rambutnya disanggul seadanya, wajahnya tampak tenang dengan cara yang membuat Pangayuh ingin memalingkan pandang.

Perempuan itu tidak banyak bicara. Tidak mengeluh. Tidak pula terlihat ingin dimengerti. 

Pangayuh mengenalnya. Tidak dekat. Tidak juga jauh. Mereka sering berada di ruang yang sama, berbagi senyum tipis dan sapaan seperlunya. Namun Pangayuh tahu, ada sesuatu dari perempuan itu yang selalu membuat dadanya mengeras—bukan benci, lebih tepatnya cemburu yang tidak ingin ia akui.

Perempuan itu tampak baik-baik saja.

Ia mendengarkan sambil sesekali tertawa kecil, menimpali seperlunya. Tidak ada nada meminta. Tidak ada wajah lelah yang bocor keluar. Seolah hidupnya berjalan rapi, seimbang, dan tidak terlalu banyak tuntutan emosional.

Pangayuh membenci ketenangan itu.

Ia membenci caranya duduk dengan tenang, caranya diam tanpa terlihat terluka, caranya hadir tanpa harus menjelaskan apa pun. Pangayuh tahu, ketenangan itu mungkin hanya permukaan. Namun tetap saja, ia iri pada kemampuan perempuan itu menyembunyikan segala sesuatu tanpa terlihat patah.

Ia kembali mengangguk ketika seseorang berbicara, tapi pandangannya sesekali jatuh ke arah perempuan itu. Dalam hati, Pangayuh berkata bahwa ia tidak ingin menjadi seperti dia. Ia tidak ingin hidup yang tampak ringan karena menekan terlalu banyak perasaan.

Namun ketika sore mulai turun dan percakapan bergeser pada hal-hal lain, Pangayuh menyadari sesuatu yang tidak ia duga: ada satu keberanian kecil yang diam-diam ia petik dari cara perempuan itu duduk, diam, dan tidak meminta ruang.

Bukan keberanian untuk menjadi kuat. Melainkan keberanian untuk tidak selalu menjelaskan diri sendiri.

Pangayuh tidak menatapnya lagi setelah itu. Tidak ada senyum, tidak ada tanda pengakuan. Sunyi itu kembali tinggal di kepalanya saja.

Ia kembali menjadi ruang. Tapi kali ini, dengan kesadaran baru yang tidak sepenuhnya nyaman.

Seseorang yang di hadapannya masih melanjutkan cerita, Pangayuh tiba-tiba berkala lagi, sedikit lebih tegas.

“Aku cuma ingin didengar.”

Nada suaranya berubah, meski tidak tinggi. Namun perubahan kecil itu cukup untuk menggeser suasana.

“Kamu kenapa sih belakangan ini?” suara itu terdengar tidak menyenangkan. “Sedikit-sedikit capek, sedikit-sedikit butuh ini-itu.”

Pangayuh terdiam. Ia mencoba mengingat berapa lama ia menahan kalimat-kalimat kecil di kepalanya. Berapa banyak malam yang ia lalui tanpa cerita. Berapa sering ia memilih diam agar tidak disebut berlebihan.

Ia menarik napas. 

“Aku tidak minta banyak,” katanya. “Aku cuma—”

“Kamu selalu begitu,” potongnya cepat. “Kalau sudah mulai, susah berhentinya.”

Kata-kata itu jatuh terlalu mudah. Seolah seluruh kesabarannya tidak pernah ada. Seolah yang diingat hanya detik ini—suaranya yang mulai bergetar, wajahnya yang tak lagi rapih.

Pangayuh merasa dadanya mengeras. Ia ingin menjelaskan, tapi tahu penjelasan akan terdengar seperti pembelaan. Dan pembelaannya hanya akan memperpanjang sesuatu yang sejak awal tidak ingin ia perpanjang.

Ia bangkit dari sofa, berdiri tanpa suara.

“Kamu marah?” tanya orang itu, kini nadanya berubah, setengah heran, setengah menuduh.

Pangayuh menggeleng. “Tidak.”

Ia tahu jawaban itu tidak akan dipercaya. Ia juga tahu, sejak saat itu, yang akan diingat bukan berapa lama ia bersabar, melainkan berapa dinginnya ia meninggalkan ruangan.

Di kamar, ia duduk di tepi ranjang, memandangi tangannya sendiri. Tiba-tiba ia teringat ibunya. Tentang doa-doa yang dulu dibisikkan perlahan di ubun-ubunnya.

Pangayuh teringat satu sore, saat ia masih kecil, dan ibunya memanggil namanya dari arah dapur, suaranya lembut, dan hangat, nyaris selalu sama. Pangayuh datang sambil berlari, membawa sebuah cerita, kalau tadi ia terjatuh saat sedang bermain, lanjut memperlihatkan lutut yang lecet dan wajah yang cemberut.

Ibunya mengelus pelan kepala Pangayuh, lalu berkata pelan, "Aku menitipkan doa dalam namamu. Ingat itu."

Waktu itu, Pangayuh tidak paham. Ia hanya tahu, setiap kali namanya dipanggil, ada tangan hangat yang menunggunya, ada ruang untuknya berbagi, ada kehadiran yang tidak menghakimi.

Tentram, yang terasa kekacauan.

Merdeka, yang terasa terkurung.

Bahagia, yang terasa kurang.

Sempurna, yang terasa rusak.

Kata-kata itu terasa indah, tapi malam ini terdengar seperti sesuatu yang terlalu jauh untuk diraih. Pangayuh tidak menangis. Ia hanya merasa lelah, dengan cara yang tidak bisa dijelaskan tanpa kembali disebut berlebihan.

Kini, setelah bertahun-tahun, Pangayuh menyadari betapa jarangnya ia dipanggil dengan cara yang sama. Namanya lebih sering datang bersama tuntutan, pertanyaan, dan penilaian. Ia menarik napas pelan, ada rasa rindu yang menjalar dalam hatinya—bukan pada ibunya, melainkan pada versi dirinya yang dulu, yang percaya bahwa doa selalu punya tempat untuk pulang.

Di dalam dirinya, ia pun teringat perempuan tadi, berdampingan dengan satu pengakuan yang belum siap ia ucapkan pada siapapun: bahwa terkadang, hidup perempuan lain—yang kita cemburui dalam diam—meninggalkan jejak kecil yang ikut kita bawa pulang, tanpa izin.

Di luar kamar, suara televisi kembali menyala.

Pangayuh merebahkan tubuhnya, membiarkan dirinya tenggelam di dalam kasur yang terasa dingin dan luas, dan membiarkan keheningan menjadi satu-satunya hal yang ia izinkan untuk menemaninya.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi