Disukai
0
Dilihat
2
Nasi Goreng Tanpa Cabai
Slice of Life
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

NASI GORENG BAWANG TANPA CABAI

Apakah berharap agar Ayah cepat kembali pada Allah adalah dosa?

Belakangan, diam-diam di dalam hatinya Ara selalu berdoa seperti itu. Berharap agar ayahnya terbebas dari rasa sakit. Entah sembuh atau sebaliknya. 

Suasana di rumah sakit begitu hening. Hanya ada suara pendingin ruangan dan napas berat dari lelaki berusia enam puluhan di sisi kanan Ara. Di belakang, Ibunya sudah terlelap, meringkuk di atas playmat, menutupi hampir seluruh tubuhnya dengan selimut.

“Nggak ngantuk, Yah? Kok belum merem-merem dari tadi?” tanya Ara. Ia membenahi posisi duduknya, menyandarkan tubuhnya di samping tempat tidur. Punggungnya pegal setelah berdiam diri selama lebih dari empat jam di kursi jaga.

“Nggak ngantuk,” jawab Heri, Ayah Ara dengan gelengan pelan. 

“Mau dikupasin buah nggak? Tadi baru makan sedikit loh. Biar tambah cepet sembuhnya.” Rasanya Ara seperti membohongi diri setiap kali ia menyebut kesembuhan. Karena baru beberapa menit lalu benaknya diam-diam berkata, semoga Allah mengampuni dosa-dosa ayah dan menerima taubatnya. Semoga Ayah dipanggil tanpa rasa sakit.

Gelengan kecil kembali menjawab Ara. Sudah sebulan belakangan Ayahnya hanya makan secuil pir atau sesuap bubur. Bagus kalau tidak dimuntahkan. Selain itu, sariawan parah di lidah Heri membuat lelaki itu tidak banyak bicara.

“Ayah nitip Adek ya. Dijagain, dibimbing,” ujar Heri setengah berbisik. Ia meraih jemari Ara lalu menggenggamnya dengan kedua tangan di atas dadanya. 

Ada yang meremas jantung Ara tiap ia mendengar Ayahnya menitipkan pesan yang sama, pada dirinya, Ibu, Om dan, tante. Ara balas menggenggam tangan Heri, kehangatannya masih sama seperti dengan tangan besar yang menggandeng dirinya waktu kecil. 

Ara ingat, tangan yang sekarang kurus dan tampak ringkih, dulunya pernah menyulap kayu jati menjadi ukiran yang rumit dan indah. 

“Arju aman kok, Yah,” bisik Ara. Ia melanjutkan, “Dia lagi seneng dapet kerja. Ketemu teman-teman baru. Baik-baik pula. Tempat kerjanya juga bagus, ada Mas Husna dan Maul juga di sana.” Itu adalah jawaban yang sama.

Heri manggut-manggut, gurat kelegaan menghiasi wajahnya. Jemarinya berusaha menggapai Ara. Melihat itu, Ara mendekat. Ia merebahkan kepalanya ke pundak Heri dan merasakan jemari kurus lelaki itu mengusap lembut rambutnya. 

Entah bagaimana, Ara mendongak.

Tatapannya bertemu dengan mata Heri. Mendadak Ara menjadi gadis kecil lagi. Ia bukan perempuan tiga puluh tahun yang sedang menambal luka-lukanya. Ia hanya gadis kecil yang tengah duduk mengayun-ayunkan kakinya sembari melihat sang Ayah memahat kayu. Mendengarkan ketukan tatah dan palu yang mengikis permukaan kayu. 

Ada kerinduan dan rasa bangga di dalam tatapan Heri. Seolah ia melewatkan terlalu banyak dan tahu-tahu sadar, begitu ia pergi, ia tidak akan bisa lagi melihat gadis kecilnya. 

Hati Ara robek. Bibirnya gemetar, ia ingin mengucapkan sesuatu tapi takut yang keluar justru air mata atau isak tangis. Hal terbaik yang bisa ia lakukan hanya tersenyum.

Jemari Heri gantian memijat tangan Ara. Tatapannya beralih ke cincin emas yang melingkari jari manis tangan kanan Ara. Kali ini, ekspresi Heri berubah lega. 

Menyadari itu, sekali lagi Ara berusaha menelan rasa kelu di ujung tenggorokannya. 

“Ara sudah nikah, Yah. Alhamdulillah, Mas Rayan baik sama aku. Suka dibelikan jajan enak. Mengayomi dan sabar kalau aku lagi galak.” Setetes air mata lolos dari pelupuk mata Ara. 

Heri mengangguk pelan. “Titip pesan untuk Rayan. Kalau tugas jagain kamu, Ayah serahkan ke Rayan.”

Ara mengangguk pelan. Isak Ara pecah detik itu. Masih berusaha menelan isaknya, Ara menenggelamkan wajahnya ke lengan ayahnya. 

Heri menarik Ara ke dalam pelukannya. Mengecup pucuk gadis kecilnya sebanyak yang ia bisa. Dulu ia rela melepaskan apa pun, asalkan bisa bersama gadis kecilnya. Tapi kali ini, ia tidak lagi memiliki apa pun untuk ditawarkan pada Tuhan.

Entah sejak kapan, ada jarak bernama disilusi. Ada banyak penyesalan yang tidak bisa keduanya ucapkan, tapi pada satu titik, keduanya sama-sama mengerti, apa pun yang terjadi setelah ini harus dihadapi. 

“Maaf, Yah, Ara banyak salah. Keras kepala.”

“Nggak apa-apa, kamu melakukan itu untuk keluarga.”

Semua ini terasa asing, membingungkan sekaligus melegakan. Untuk pertama kali setelah sekian lama, tidak ada kabut menutupi emosi yang begitu nyata dan murni.

Keesokan harinya kondisi Heri memburuk. 

Meski hatinya mencelos, Ara sudah bertekad untuk menelan apa pun dan melakukan yang terbaik. Ia mencari puluhan kantong darah untuk Heri, tidur di sudut bawah tangga samping ICU ketika Heri ada di dalam, melobi dokter dan perawat untuk rujukan langsung, terjaga hampir dua puluh empat jam untuk memastikan infus dan kondisi Heri masih dalam pantauannya.

Sampai akhirnya doa Ara dijawab seminggu kemudian. 

Heri, ayahnya, berpulang. 

***

Ara tidak pernah menyangka, ia akan merasa lega setelah ayahnya tiada.

“Yang tabah nduk, ya.”

“Bapak sudah nggak sakit lagi, Ra.”

“Yang kuat Ara.”

Entah sudah berapa kali Ara mendengar ucapan belasungkawa dari para pelayat lalu membalasnya dengan ucapan ‘terima kasih’. Tidak terhitung juga Ara bertanya pada dirinya sendiri, kenapa aku baik-baik saja? Kenapa aku tidak hancur seperti yang seharusnya terjadi?

Ara melirik ke arah jenazah ayahnya yang tertutup kain kafan dan jarik. Memastikan untuk yang kesekian kalinya. Tidak ada rasa gundah. Ia merasa lega. Justru ia berusaha tidak terlalu menunjukkan perasaan leganya itu dengan tidak banyak bicara dan menerima simpati dari kerabat dan tetangga. Menjaga agar kesedihan yang ia perlihatkan, tidak sampai membuat orang-orang terlalu iba. 

Bahkan kerabat menangis lebih sedih daripada ia dan Ibunya. 

Sedangkan Ara lebih merasa hancur saat ia harus menelepon adiknya malam itu. Tahu bahwa adiknya tidak akan bisa pulang untuk sekadar saling menguatkan dan berbagi duka.

Kenapa? Ara masih bertanya-tanya. Beberapa tahun lalu, ia begitu takut memikirkan akan seperti apa kalau orang tuanya tiada. Anehnya, saat itu hatinya remuk sampai ia menangis sesenggukan. 

Ara bertanya pada Ibunya—Hesty— apakah ia berdosa kalau berdoa agar Ayahnya terbebas dari rasa sakit. Entah sembuh atau sebaliknya.

‘Semua adalah titipan Allah. Dan semua akan kembali pada Allah.’ Itu adalah jawaban yang Ibunya berikan. 

Kedua mata Ibunya menghitam karena lelah. Ia dan Ara bergantian menjaga Heri di rumah sakit selama tiga minggu penuh tanpa ada yang menggantikan. Meski begitu, gurat ketabahan tidak menghilang dari wajahnya. 

Jujur, Ara menggunakan itu sebagai salah satu patokan. Selama Ibunya baik-baik saja, maka ia juga akan baik-baik saja.  

Ara melihat keranda Ayahnya masuk ke dalam mobil jenazah. Orang-orang berkerumun di sepanjang halaman sampai jalanan. Sementara ia, Ibu dan kerabatnya berdiri di atas undakan teras. 

“Ayah orang baik ya, nduk. Banyak yang melayat, penuh halaman dan dalam rumahmu. Penuh juga shaf shalatnya tadi,” ujar Tante Ani.

Ara mengangguk. “Iya, Tante.”

Benar, ada banyak hal baik yang terjadi dan tak ada yang perlu ditangisi. Kami sudah mempersiapkan kemungkinan buruk sejak awal. Allah masih memberi kami kesempatan untuk saling mengucap perpisahan dan permintaan maaf. 

Ara juga ingat wajah tersenyum ayahnya ketika kedua mata lelaki itu terpejam dan tidak akan membuka kembali. Senyum itu ikut kaku bersama tubuhnya. Waktu ayahnya sudah terhenti.

Ya, tidak perlu merasa sedih. 

***

Yang pertama kali Ara lihat adalah langit-langit yang terasa asing. Semua tampak membingungkan. Napas dan detak jantungnya memburu. Pandangannya berpindah dari satu sudut ke sudut lain dari ruangan itu. 

Di mana ini? Bagaimana aku bisa ada di sini? Apa yang terjadi? 

Itu adalah pertanyaan yang muncul di dalam kepalanya. Rasa takut dan cemas menyergap Ara. Ia tahu ada yang salah.

Oh! Rumah sakit. Ayah. Bagaimana dengan Ayah? Kondisi Ayah—

Ayah sudah nggak ada.

Lalu semua kembali sunyi. Ayah sudah nggak ada. Sekali lagi Ara mengulang kalimat itu. Kebingungan yang tadi terasa sesak mulai pudar. Deru napas dan irama jantungnya mereda. Semua kembali familiar.

“Nggak apa-apa, Dek?” tanya seorang lelaki. 

Ara mengambil napas dalam-dalam lalu menjawab, “Nggak apa-apa, Mas. Maaf ngagetin kamu pas tidur.”

“Nggak apa-apa. Aku malah kepikiran sama kamu. Kaget tiap bangun tidur. Masih kepikiran Ayah?” tanya Rayan. Ia mengelus punggung Ara lembut, berharap bisa menenangkan istrinya.

“Aku sudah biasa saja kok, Mas.” Ara tidak mengelak. Ia tahu betul, hati dan pikirannya sinkron untuk menerima fakta kalau ayahnya sudah tiada.

***

“Ini nasi goreng yang pengen kamu coba, Mas?” 

Rayan meletakkan dua bungkus nasi goreng di atas meja makan. “Iya, penasaran. Tiap lewat baunya harum banget. Lumayan juga tadi antreannya.”

Ara membuka bungkus nasi itu. Perpaduan aroma smoky dan bumbu aromatik menyeruak, membuat perutnya berbunyi.

“Kayaknya enak, deh! Warnanya saya cakep, nggak pucat.”  

“Ya, kan. Apa kubilang.” Ada nada bangga di dalam suara Rayan. Ia memberikan sendok pada Ara. “Yuk cepetan dimakan, mumpung masih anget,” lanjutnya.

Keduanya menyendok nasi itu bersamaan. Begitu mengecap rasa yang sama, keduanya saling bertatapan dan mengangguk. Oke, ini enak banget. Itulah yang kira-kira mata mereka katakan. 

“Nggak usah jauh-jauh lagi kalau mau nasi goreng enak,” ujar Ara.

Rayan mengangguk setuju. Ini adalah nasi goreng terenak yang pernah mereka makan. Padahal tidak besar, hanya kedai kecil di halaman rumah. 

“Ini porsi jumbo juga, nggak pelit topping.” puji Rayan.

“Tau nggak, Mas. Nasi goreng pertama yang aku makan itu buatan Ayah.”

“Oh iya? Kamu masih ingat?” tanya Rayan penasaran.

Ara mengangguk. Seulas senyum muncul di wajahnya. Sejak Ayahnya tiada, Ara sering kali menyisipkan Ayahnya di obrolan kecil mereka. 

Misal, Ara pernah mengadu karena diganggu oleh teman sekelasnya saat ia  masih SD. Ayahnya bilang, ‘kalau berani lawan balik!’ Itulah yang Ara lakukan. Meski awalnya takut, ia mengepalkan tinju dan menghantam wajah si pengganggu. Detik berikutnya anak itu menangis tersedu-sedu. 

“Dulu kan aku nggak suka pedes. Anti cabe banget pokoknya.” Ara menyendok lagi nasi goreng ke mulutnya. Tatapannya menerawang jauh. 

“Waktu itu aku lihat Ibu makan nasi goreng, kepingin tapi nggak kuat pedes. Akhirnya ayah … bikin nasi goreng spesial buat aku. Nasi goreng bawang tanpa cabai. Ayah tuh—” Tenggorokan Ara tersumbat. 

“Dek, kamu—“

“Pedes ini nasi gorengnya, Mas. Sampe hidungku mampet. He he,” tukas Ara. Aneh, tidak hanya hidungnya yang tersumbat, matanya juga berair. Seberapa pedas nasi goreng ini?

Rayan menghela napas panjang. Ia menggeser kursinya mendekat ke arah Ara lalu mengambil sendok dari tangan istrinya. Kedua tangannya menangkup wajah Ara.

“Nasi goreng buatan Bapak enak?” tanya Rayan.

Ara mengangguk lemah. “Enak banget. Aku…masih ingat rasa nasi gorengnya sampai sekarang.”

Tapi tidak hanya itu yang Ara ingat. Ada jam dinding yang khusus dibuat untuk dirinya, diukir dari jati oleh tangan ayahnya. Ada juga meja dan lemari belajar yang dibuat khusus untuknya. Semua benda itu hanya ada satu di dunia.

Setiap ingatan yang menyeruak membuat napas Ara tersendat. Wajah Rayan berubah buram. Detik berikutnya tangis Ara pecah. Tidak ada yang perlu ditangisi. Ia sudah menerima kepergian Ayahnya, tapi entah kenapa air mata Ara tidak bisa berhenti. 

‘Benar Yah, ada nasi goreng yang nggak pedas? Bumbunya apa saja? Masa nggak pakai cabai?’ tanya Ara saat itu.

‘Ada dong. Spesial buat Ara yang belum bisa berteman dengan cabai,’ canda Heri.

‘Cabai kan pedas. Bikin sakit ih.’ bantah Ara.

‘Ya, karena Ara masih kecil saja. Nanti kalau sudah besar juga suka cabai.’

‘Ayah gitu juga?’

‘Iya. Kalau porsi cabainya pas, masakan jadi enak lho. Seperti hidup juga seperti itu.’

‘Kok bisa? Hidupnya pedas gitu?’

Gelak tawa Heri menggema. ‘Begini, Ara. Ibaratkan cabai itu sesuatu yang menyebalkan seperti teman Ara yang jahat itu. Tapi setelah masalahnya lewat, Ara jadi lebih kuat.’

“Oooo.” Mulut Ara membentuk O. Tapi dari raut wajahnya jelas sekali ia tidak mengerti apa yang Heri ucapkan. 

Kini Ara paham.

“Aku sudah berteman dengan cabai.” kata Ara di sela isak tangisnya. Ada senyum terkembang di wajahnya. 

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)