Disukai
0
Dilihat
137
Nare, Nama Yang Terucap
Drama
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Langit biru cerah tanpa tertutup awan. Angin yang bertiup kencang, membawa rasa dingin yang menusuk kulit. 

Negara ini tidak pernah menyambutnya.

Warna kulitnya berbeda, penampilannya terlihat aneh. Bahkan namanya susah diucapkan.

Nareswari Rahayuningtyas.

Sudah dua tahun ia tinggal di negara indah ini, tapi tak ada seorangpun yang berhasil mengucapkan namanya dengan benar.

Entah apa yang jadi keinginan orang tuanya dulu memberinya nama yang susah untuk diucapkan orang asing. Mungkin mereka berpikir anaknya tidak akan pernah pergi keluar negeri. Mungkin hanya karena ingin kehidupan anaknya akan bahagia dan tidak kekurangan apapun, seperti seorang ratu yang membawa kesejahteraan.

Seperti arti namanya.

Tapi ternyata, disinilah dia. Di negara jauh, dengan bahasa yang asing dan kultur budaya berbeda.

Dan di negara ini, ia tidak menjadi ratu seperti namanya.

Sayang sekali. Dua hal yang bertolak belakang dari pikiran orang tuanya justru menjadi jalan hidupnya.

Eres, begitu biasanya ia dipanggil di kampung, hanya bisa tersenyum kecil saat salah satu pelanggan tempatnya bekerja salah menyebut namanya yang tercetak di name tag-nya.

"Wa... ireum singihada! Neo eoneu nara-eseo wasseo?"

"Indonesia saramieyo," Eres menjawab singkat.

Ia tidak ingin berbasa basi lebih lanjut. Terakhir dia mencoba bercakap ramah, pembeli itu malah mengatainya dengan kata-kata kasar soal namanya yang sulit dibaca sampai membuat pelanggan itu terlihat bodoh, hijabnya yang aneh, sampai kulit sawo matangnya yang kusam.

Pengalaman hari itu membuatnya menjaga jarak dengan pembeli dan berbicara seperlunya, seperti teman-teman pekerja minimarket yang lain.

"Nare-rago bulleodo gwaenchanhayo?"

Eres terkesiap. Tadi ia sedang melamun sembari menatap jalanan kota yang lengang karena hawa dingin musim gugur.

Ia lalu menatap pembeli itu. Seorang pria muda, memakai topi baseball dan jaket varsity. Wajah tampannya tersembunyi di balik kacamata hitam.

"Boleh kupanggil Nare?" ulang pembeli itu saat Eres tidak menjawab pertanyaannya.

"Ah... ya. Boleh," Eres tersenyum formal, menutupi rasa canggung karena sesaat ia terpesona dengan wajah tampan di depannya itu.

"Totalnya tiga pulu dua ribu won. Mau bayar card atau cash?" tanya Eres otomatis, sepeti yang sudah ia pelajari bertahun-tahun.

"Cardeu."

"Ne." Eres mengambil kartu dari tangan pembeli itu, menggesek ke mesin EDC, lalu mengembalikannya.

"Terima kasih," ucapnya lagi sembari membungkukkan sedikit badan.

Ia merasa tugasnya melayani pembeli itu sudah selesai, tapi sepertinya bagi pembeli itu belum. Entah apa ia melakukan kesalahan, atau ada hal lain yang jadi keluhannya, pembeli itu tidak beranjak dari hadapannya. Pria itu malah membuka kacamata hitam dan topi baseballnya.

"Kau tidak kenal aku?" tanya pembeli itu heran.

Eres mengamati wajah itu lekat-lekat. Tapi meskipun ia berusaha menggali ingatannya lebih dalam, ia tidak menemukan di mana dan kapan tepatnya ia pernah bertemu laki-laki itu.

"Tidak. Maaf," ucap Eres menjaga nada suaranya terdengar sopan. 

"Aku sering belanja di sini. Apa kau yakin kau tidak mengingatku?" tanya pria itu kembali memastikan.

Eres menggeleng pelan. 

"Ada banyak pembeli yang datang kemari."

"Hm... sungguh aneh," pria itu menggumam pelan. Ia kemudian mencondongkan sedikit badannya ke arah Eres. 

"Hampir semua orang di negara ini mengenalku. Dan di kota ini..." Tatapannya beralih melihat ke luar. "Aku yakin semua mengenalku. Apa kau benar-benar tidak mengenalku?"

Pemahaman muncul di kepalanya.

Ah, rupanya dia artis.

"Maaf." Eres hanya tersenyum kecil.

Semoga artis itu tidak kecewa karena ia tidak mengenalinya.

***

Tapi tampaknya, kekecewaan artis itu masih berlanjut. Keesokan harinya, pria itu datang lagi ke minimarket tempatnya bekerja. Ia membeli barang-barang random, lalu kembali menanyakan hal yang sama pada Eres.

"Nare-ya. Kau sungguh tidak mengenalku? Kau tidak tahu siapa namaku?"

Eres menghela napas pendek.

"Maaf, Pelanggan. Tapi aku tidak tahu. Aku tidak banyak menonton drama akhir-akhir ini," ucapnya berusaha tetap sopan.

Lalu pria itu pergi dengan wajah kecewa.

Dan keesokan harinya lagi, pria itu kembali ke minimarket, membeli barang random dan menanyakan pertanyaan yang membuat Eres tidak tahan dengannya.

"Aku tidak tahu, Pelanggan. Maaf. Tapi Anda benar-benar menggangguku."

"Apa kau tidak mencari namaku di mesin pencari?" tanya pria itu tidak menghiraukan kekesalan Eres.

"Tidak."

Pria itu mendecak kesal.

"Bagaimana dengan musik? Kau tidak mendengar Kpop?"

"Tidak."

"Film? Kau tidak pernah ke bioskop?"

"Tidak."

"Aigoo... di mana kau tinggal? Di goa?" Pria itu menghembuskan napas kesal melihat dangkalnya pengetahuan Eres soal dunia keartisan.

"Saya tinggal di Seoul, Pelanggan. Jadi, kalau Anda sudah selesai, tolong pergilah. Anda mengganggu kenyamanan saya bekerja."

"Kau mengusirku?" nada suara pria itu meninggi. 

"Tidak. Tapi Anda sudah selesai, dan sebaiknya Anda tidak mengganggu saya dan pelanggan lain," Eres berkata tegas, berharap pria itu segera pergi.

"Baik, kalau begitu," ucap pria itu. Ia lalu mengambil satu kartu nama dari sakunya, dan menuliskan sesuatu di sana.

"Ini namaku." Ia menyerahkan kartu itu pada Eres. "Dan temui aku nanti di tempat yang kutulis."

"Apa ini?" Eres terkejut dengan sikap pria itu. "Apa maksud Anda?"

"Aku mengajakmu berkencan. Datanglah tepat waktu."

Setelah berkata begitu, pria itu pergi begitu saja, meninggalkan Eres yang masih berdiri di tempatnya dengan mulut ternganga. Di tangannya, sebuah kartu nama bergoyang pelan tertiup angin yang berhembus dari pintu kaca yang dibuka.

***

Eres tidak datang, tentu saja. Dia tidak mengenal artis itu. Dan tidak ada kepentingan juga untuknya datang.

Di goshiwon, kamar tempat tinggalnya yang hanya berukuran 2x3 meter, Eres membolak balik kartu nama itu. Di sana tertulis nama 'Kim Junho' dan di bawahnya pekerjaan 'Actor'. 

Merasa asing dengan nama itu, Eres meletakkan begitu saja di meja samping tempat tidur ukuran single-nya dan tidur. Besok pagi dia harus melakukan dua pekerjaan sekaligus. Tidak ada waktu memikirkan hal lain selain mencari uang untuk biaya keluarganya di rumah.

***

Eres menonton acara TV yang disiarkan minimarket tempatnya bekerja. Berita tentang ditemukannya seorang aktor sekaligus penyanyi terkenal dalam keadaan tidak sadarkan diri di apartemen mewahnya.

Ia hanya mendengar berita itu sepintas lalu dan tidak memperhatikan detailnya, hingga sang pembawa acara menyebut satu nama.

Kim Junho.

Eres mendongak dan menatap layar datar itu lekat-lekat. Selama beberapa saat, ia terpaku. Wajahnya menegang, jemarinya gemetar. 

Orang pertama yang memanggil namanya dengan benar. Yang berbicara dengannya seakan telah mengenalnya lama. 

Tanpa sadar, setetes air mata jatuh dari matanya yang memerah, membasahi pipi.

Ia tidak menyesal karena tidak datang memenuhi undangannya. Tapi yang ia sesali adalah, ia tidak mencari tahu namanya dan mengatakan ia mengenalnya, sebelum pria itu memberi Eres kartu nama.

Mungkin dengan begitu, pria itu akan berpikir bahwa semua orang di negara ini mengenalnya.

Mungkin dengan begitu, ia akan berpikir dua kali untuk mengakhiri hidupnya dengan cara seperti itu.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)