Elizabeth Winston membuka matanya perlahan. Bau apek dan lembab langsung memenuhi indra penciumannya.
Matanya berusaha memfokuskan pandangan pada sekelilingnya. Cahaya kekuningan dari bohlam kecil berpendar lemah. Empat dinding kusam mengurungnya, dengan jendela kecil di sudut atas, tertutup balok-balok kayu.
Saat kesadarannya mulai pulih, ia baru menyadari kakinya diikat pada kaki-kaki kursi besi tua yang berkarat. Tangannya juga terikat di belakang sandaran kursi.
Elizabeth mencoba berteriak, tapi suaranya tertahan sumpalan kain yang diikat melingkari mulutnya.
Di mana aku? Apa yang terjadi? Kenapa aku di sini?
Pertanyaan-pertanyaan itu saling bertubrukan di kepalanya, menuntut jawaban. Ia hanya ingat memasuki mobil jemputan saat pulang dari pertemuan penting dengan klien.
Ia yakin sudah masuk ke mobil yang benar—Audi A8L. Tapi ia tidak sempat memperhatikan siapa yang duduk di balik kemudi. Matanya fokus pada tablet yang menampilkan hasil meeting tadi.
Tom... benar, kan? Tidak mungkin orang lain. Tidak bisa...
Pintu di hadapannya terbuka dengan derit yang memekakkan telinga di kesunyian. Seorang pria tinggi masuk. Rambut pirang gelap membingkai garis wajahnya yang tegas.
Elizabeth refleks mencoba mundur, meski ia tak bisa kemana-mana dengan kondisi tangan dan kaki yang terikat.
"Hmph!"
Ia mencoba berteriak sekuat tenaga, meski hanya gumaman yang keluar. Hanya matanya yang bisa menyampaikan kengerian yang ia rasakan.
"Elizabeth Marie Winston." Suara pria itu dalam, tanpa emosi. Tatapannya menyapu wajah Elizabeth sejenak. "Bagus. Kau sudah sadar."
Ketakutan membuatnya menyangkal apa pun yang keluar dari mulut pria itu, bahkan namanya sendiri.
Pria itu mendekat. Elizabeth kembali berusaha memundurkan tubuhnya, meski sia-sia. Ia memberontak dalam ikatannya, mencoba menjauh dari pria itu.
Wajah pria itu semakin mendekat hingga hanya tersisa beberapa inci di hadapannya. Elizabeth tidak mengenalinya, tetapi ada sesuatu dalam sorot matanya yang terasa lembut dan bertolak belakang dengan apa yang sedang ia lakukan.
Pria itu berjongkok di hadapannya.
"Aku tidak bermaksud menyakitimu. Sungguh," ujar pria itu. "Aku hanya ingin kau menandatangani dokumen ini."
Dari balik jaket kulitnya, pria itu mengeluarkan sebuah ipad.
"Batalkan keterlibatan Winston & Co dalam proyek Far Rockaway."
Pria itu mendorong iPad ke hadapannya. Elizabeth menatap layar tersebut beberapa detik.
Matanya melebar. Ia mengenali dokumen itu.
Dokumen pernyataan pengunduran diri Winston & Co dari proses akuisisi dan pengembangan kawasan Far Rockaway.
Darah Elizabeth langsung berdesir panas. Ia kembali menggeleng cepat, kali ini dengan maksud yang jelas.
Tidak.
Ia tidak akan menandatangani dokumen itu.
"Baiklah," ucap pria itu lagi. Ia lalu bangkit berdiri. "Kau akan tinggal di sini sampai kau mau menandatanganinya."
Ia berbalik dan melangkah pergi. Tangannya sudah memegang pegangan pintu saat ia menoleh.
"Besok pagi pukul sembilan adalah tenggat akhirnya."
Pria itu membuka pintu.
"Aku sudah mencari tahu cukup banyak tentang proyek itu."
Tatapannya beralih pada iPad yang masih menyala di atas meja.
"Jika dokumen itu tidak ditandatangani sebelum tenggat berakhir, perusahaanmu akan menghadapi masalah yang jauh lebih besar daripada kehilangan satu proyek."
Ia berhenti sejenak.
"Atau kau bisa menandatanganinya dan pulang malam ini."
Lalu kembali menatap Elizabeth.
"Pilihan ada di tanganmu."
*****
Elizabeth tidak tahu sudah berapa lama ia berada di ruangan pengap itu. Namun ia tahu malam telah tiba. Hening di luar membuat bulu kuduknya meremang. Angin dingin menyusup melalui celah-celah balok kayu yang menutupi jendela.
"Ya Tuhanku," ratapnya dalam diam.
Elizabeth benci gelap. Ia benci sunyi. Kesunyian selalu membuka pintu bagi kenangan-kenangan yang ingin ia lupakan. Itulah sebabnya ia tidak mau pulang ke mansion keluarganya dan memilih apartemen ukuran studio di Midtown.
Pintu kembali terbuka. Pria tinggi itu datang lagi dengan membawa bungkusan kertas dan gelas sekali pakai.
Tanpa sadar Elizabeth mengembuskan napas pendek. Ada sedikit rasa lega saat melihat pria itu kembali.
Setidaknya ia tidak sendirian.
Meski begitu, kewaspadaannya pada pria itu tidak berkurang sedikit pun.
Pria itu membuka sandwich dalam bungkusan kertas yang ia bawa dan menyodorkannya pada Elizabeth.
"Makanlah."
Elizabeth mengernyit. Tatapannya berpindah dari roti itu ke tangannya yang terikat dan mulutnya yang masih tersumpal.
"Benar juga," ucap pria itu. "Aku lupa."
Ia berdiri lalu melepaskan ikatan kain di belakang kepala Elizabeth.
Begitu kain itu terlepas, Elizabeth menarik napas dalam-dalam dan langsung melontarkan pertanyaan yang sejak tadi menyesakkan dadanya.
"Siapa kau?! Kenapa kau menculikku?! Kenapa kau ingin membatalkan proyek itu?!"
Pria itu mundur satu langkah.
"Kau tidak mau makan?" tanyanya ringan.
"Aku tidak butuh makananmu! Aku hanya mau kau melepasku," seru Elizabeth.
Seolah tidak mendengar satu pun kata-katanya, pria itu kembali berjongkok di hadapan Elizabeth, menyodorkan sandwich tepat ke mulutnya.
"Makanlah. Apa yang aku lakukan akan sia-sia jika kau mati."
"Kalau begitu lebih baik aku mati," geram Elizabeth.
Pria itu tidak menanggapi. Sandwich itu tetap berada di depan wajahnya.
Dan saat aroma keju hangat menyeruak, pengkhianatan terbesar justru datang dari perutnya sendiri.
Dengan lahap ia menghabiskan roti itu. Segigit, dua gigit, hingga bungkus kertas di tangan pria itu kosong.
"Minum?"
Elizabeth mengangguk. Dingin dari cola itu membasahi tenggorokannya. Entah kapan terakhir kali ia menikmati roti sandwich dan cola senikmat itu. Mungkin saat ia masih kecil? Atau mungkin saat ia kuliah? Saat tanggung jawab perusahaan belum jatuh ke pundaknya. Saat kedua orang tuanya masih hidup.
"Sekarang jawab pertanyaanku. Siapa kau? Apa urusanmu dengan proyek itu?"
Pria itu berdiri lalu memasukkan kedua tangannya ke saku.
"Anggap saja aku membela orang-orang kecil di sana." Ia mengembuskan napas pendek. "Orang-orang yang kalian usir."
"Aku tidak mengusir mereka," sanggah Elizabeth. "Kami memberikan kompensasi yang cukup."
Pria itu menggeleng.
"Ada beberapa hal yang tidak cukup ditebus dengan kompensasi sebesar apa pun." Pria itu menatap tajam Elizabeth. "Kau tidak akan mengerti."
"Kalau begitu, buat aku mengerti."
Tatapan pria itu bertahan di wajah Elizabeth selama beberapa saat. Ia lalu mengeluarkan ponsel dari sakunya. Ia membuka galeri ponselnya dan memperlihatkan beberapa foto kepada Elizabeth. Foto-foto anak-anak yang berlarian di halaman sebuah bangunan tua. Foto berikutnya memperlihatkan mereka bermain bola di tepi pantai dengan wajah-wajah penuh tawa.
Semuanya foto anak-anak kecil usia sekolah dasar hingga menengah.
"Siapa mereka?" tanya Elizabeth tanpa mengalihkan tatapan dari layar ponsel.
Pria itu menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.
"Anak-anak yatim piatu. Anak-anak jalanan yang terlantar. Anak-anak dengan orang tua yang kecanduan atau di dalam penjara."
Elizabeth menatap pria itu, meneliti wajahnya.
"Lalu apa hubunganmu dengan mereka?"
Pria itu terdiam sesaat, seakan menimbang jawabannya.
"Aku pengelola yayasan."
Elizabeth tidak membalas.
Foto anak-anak itu sesaat membawanya kembali ke masa lalu. Ke mansion mewah yang terasa kosong setelah kematian kedua orang tuanya.
Sendiri.
Tanpa siapa pun yang memeluknya.
Tanpa siapa pun yang menghapus air matanya.
"Mereka bisa direlokasi. Aku akan bangun gedung baru—"
"Tidak bisa."
Jawaban itu keluar begitu cepat hingga Elizabeth terdiam. Pria itu menatap foto anak-anak yang masih terpampang di layar ponselnya.
"Orang-orang seperti kalian selalu berpikir semuanya bisa diganti dengan bangunan yang lebih besar," ia kembali berkata. Suaranya rendah. "Rumah yang lebih bagus. Fasilitas yang lebih lengkap. Uang yang lebih banyak."
Tatapannya kembali terangkat.
"Tapi tidak seorang pun bertanya apa yang sebenarnya ingin mereka pertahankan."
Elizabeth menghela napas panjang. "Karena dunia tidak berjalan dengan perasaan."
"Benarkah?"
"Aku CEO sebuah perusahaan. Ada investor, kontraktor, pemerintah kota, dan ratusan pekerja yang bergantung pada proyek itu."
"Dan ada anak-anak yang bergantung pada tempat itu."
Keheningan jatuh di antara mereka.
Pria itu menyimpan ponselnya.
"Aku tidak peduli pada laporan keuanganmu," nada suaranya tetap tenang. "Aku hanya peduli pada mereka."
"Aku tetap tidak bisa—"
"Kalau begitu, kau akan tinggal lebih lama di ruangan ini," potong pria itu.
Ia bangkit berdiri lalu berjalan menuju pintu. Sesaat sebelum keluar, ia menoleh.
"Mungkin setelah beberapa jam kau akan melihat bahwa tidak semua hal bisa dihitung dengan angka."
Lalu pintu itu tertutup dengan bunyi klik yang keras.
***
Elizabeth tidak tahu kapan keyakinannya mulai retak.
Mungkin saat pria itu menunjukkan foto-foto anak-anak yang tinggal di yayasan tersebut.
Mungkin saat ia menyadari tenggat waktu proyek Far Rockaway semakin dekat sementara dirinya masih terjebak di ruangan ini.
Atau mungkin karena selama dua hari terakhir, pria itu tidak pernah memperlakukannya seperti sandera.
Ia membawakan makanan, menjawab pertanyaannya. Bahkan mendengarkan saat Elizabeth mengeluh tentang dewan direksi dan tekanan yang datang bersama jabatannya sebagai CEO.
Dan perlahan, tanpa ia sadari, sosok pria asing itu berhenti terlihat seperti ancaman.
Ketika stylus akhirnya berada di tangannya, Elizabeth masih tahu bahwa keputusan itu buruk. Ia hanya tidak lagi yakin mana pilihan yang lebih buruk.
Menolak menandatangani dan membiarkan Winston & Co gagal memenuhi tenggat proyek. Atau menandatangani dokumen itu dan mempercayai pria yang duduk di hadapannya.
Pada akhirnya, ia membubuhkan tanda tangannya.
Satu goresan. Lalu satu lagi.
Begitu dokumen itu selesai diproses, pria itu mengembuskan napas pelan, seolah beban besar baru saja terangkat dari pundaknya.
"Terima kasih," ucapnya.
"Aku hampir pasti kehilangan miliaran dolar dan kepercayaan klien," desah Elizabeth berat. "Tapi kuharap itu akan sepadan dengan kebahagiaan mereka."
"Tentu saja," balas pria itu. "Datanglah ke sana. Kau akan lihat sendiri jawabannya."
Pria itu membuka ikatan di kaki Elizabeth.
"Berjalanlah lima puluh meter ke utara. Kau akan melihat mobilmu dan sopir pribadimu, Tom, yang menunggu."
"Sungguh?"
"Ya."
Untuk pertama kalinya sejak ia terbangun di tempat itu, pria itu tersenyum.
Lalu ia mengulurkan tangannya.
"Senang bekerja sama denganmu, Lizzie."
Tubuh Elizabeth menegang.
Sudah bertahun-tahun tidak ada yang memanggilnya seperti itu.
Sejak pemakaman kedua orang tuanya.
Sejak ia menjadi Elizabeth Winston, CEO Winston & Co Realty.
Bukan lagi Lizzie.
Ia meraih uluran tangan itu.
"Aku harap aku juga bisa berkata yang sama—" Kalimat Elizabeth menggantung.
Pria itu tampaknya memahami maksudnya.
"Julian. Namaku."
"Julian."
Elizabeth menggenggam tangan besar dan hangat itu di dalam genggamannya.
*****
Pelipis Elizabeth berkedut.
Selama tiga puluh menit terakhir, ia mendengarkan kemarahan dewan direksi tanpa menyela satu kata pun.
Sekretarisnya berdiri di belakang kursinya dengan ponsel di tangan.
Setelah beberapa saat, wanita itu membungkuk sedikit.
"Miss Winston, ada telepon yang terus masuk dari—"
"Matikan." Suara Elizabeth terdengar datar.
Gumaman kembali terdengar dari sekeliling meja rapat.
"Klien bisa menuntut perusahaan atas pembatalan sepihak ini."
"Kita baru saja kehilangan proyek terbesar tahun ini."
"Investor tidak akan menerima penjelasan seperti ini."
Seseorang berdeham.
"Mungkin sudah saatnya perusahaan ini dipimpin seseorang yang lebih rasional."
Tak tahan lagi, Elizabeth berdiri. Ia menoleh pada sekretarisnya.
"Jadwalkan rapat lanjutan minggu depan."
Lalu ia mengalihkan pandangan ke sekeliling meja.
"Selamat siang, Gentlemen."
Tanpa memberi kesempatan siapa pun untuk menyela, ia melangkah keluar.
Ia menuju halaman depan gedung Winston & Co Realty.
Tom sudah menunggunya di samping mobil. Sejak kejadian itu, Elizabeth selalu meminta Tom membukakan pintu mobil. Cara sederhana untuk memastikan pria di balik kemudi benar-benar sopir pribadinya.
"Kita pulang, Miss Winston?"
Elizabeth terdiam sejenak. Beberapa detik berlalu sebelum ia menjawab.
"Kita ke Far Rockaway."
"Baik."
Perjalanan itu berlangsung cukup lama, memberinya waktu untuk menenangkan kepalanya yang berdenyut. Dan untuk berpegang pada keyakinan bahwa ia telah melakukan hal yang benar.
Julian berjanji ia akan menemukan jawabannya di Far Rockaway.
Elizabeth memilih untuk mempercayai kata-kata itu.
Lagi pula, selama ini ia hanya mengenal wilayah tersebut dari laporan, blueprint, dan gambar-gambar yang ditampilkan di layar monitor.
Dan memang benar kata Julian.
Lingkungan di sana tampak jauh dari kata makmur. Bangunan-bangunan tua berdiri rapat, beberapa terlihat tak terawat, sementara grafiti memenuhi banyak dinding yang mereka lewati.
Elizabeth menemukan bangunan yang selama ini hanya ia lihat melalui foto-foto di ponsel Julian.
Gedung bertingkat dua dengan pagar besi tua itu masih berdiri di tempatnya.
Dadanya mengendur. Setidaknya semua hal yang dikatakan pria itu ternyata benar.
"Berhenti di sini," ujarnya.
Tom menepikan mobil. Elizabeth turun dan menatap bangunan tersebut beberapa saat sebelum melangkah mendekat.
Pagar depannya terbuka. Tidak ada suara anak-anak. Tidak ada tawa atau teriakan yang memenuhi halaman seperti yang ia bayangkan selama perjalanan.
Hanya keheningan.
Semakin dekat, perasaan tidak nyaman mulai merayap di dadanya. Halaman itu kosong. Daun-daun kering berserakan di atas rumput yang tidak terawat, sementara sebagian jendela telah tertutup papan kayu.
Pandangannya jatuh pada sebuah papan pengumuman yang tergantung miring di dekat pintu masuk.
RELOCATION COMPLETED.
Elizabeth membeku.
Jantungnya berdetak lebih keras. Perlahan ia menaiki tangga teras dan mencoba membuka pintu depan.
Terkunci. Tidak ada siapa pun di dalam.
Ia berbalik dan melangkah cepat—setengah berlari—saat melihat seorang pria tua sedang menyapu trotoar di seberang jalan.
"Maaf," panggilnya. "Apa Anda tahu ke mana anak-anak yang tinggal di sini pergi?"
Pria itu mengangguk pelan. "Sudah dipindahkan."
"Kapan?"
"Minggu lalu."
Minggu lalu.
Darah Elizabeth seakan berhenti mengalir.
Minggu lalu adalah saat ia menandatangani dokumen pembatalan itu.
"Siapa yang memindahkan mereka?" tanyanya cepat.
Pria tua itu mengangkat bahu. "Entahlah. Orang-orang dari perusahaan besar."
Perusahaan besar.
Sesuatu terasa salah. Sangat salah.
Dengan tangan yang mulai dingin, Elizabeth kembali ke mobil dan segera menghubungi sekretarisnya.
"Emily."
"Miss Winston?"
"Cari tahu siapa pemilik yayasan di Far Rockaway."
Keheningan singkat terdengar dari ujung sambungan, diikuti suara ketikan keyboard.
Elizabeth menunggu dengan rahang mengatup.
Semakin lama Emily diam, semakin buruk firasat yang tumbuh di dalam dirinya.
"Emily?"
"Miss Winston..."
Nada suara wanita itu berubah hati-hati.
"Yayasan tersebut tidak dikelola organisasi independen."
Jantung Elizabeth mencelos.
"Jelaskan."
Terdengar suara ketikan keyboard dari ujung sambungan.
"Pemilik yayasan tersebut adalah Vanguard Capital Management."
"Vanguard?" ulang Elizabeth. Jantungnya mulai berdegup liar. "Siapa CEO-nya sekarang?"
Tidak. Jangan dia...
"Julian Vanguard."
Suara sekretarisnya masih terdengar dari ujung sambungan.
"Dia baru kembali dari Swiss setahun lalu dan mengambil alih posisi CEO dari pamannya."
Julian Vanguard.
Nama itu menghantam kepalanya lebih keras daripada benturan apa pun.
Selama bertahun-tahun, Vanguard Capital adalah pesaing terbesar Winston & Co. Perusahaan itu berkali-kali kalah dalam perebutan proyek yang jatuh ke tangan keluarganya.
Dan kini, perusahaan yang sama baru saja mengambil alih Far Rockaway.
Elizabeth menutup matanya.
Tiba-tiba semuanya kembali dengan begitu jelas.
Sandwich.
Cola dingin yang ia minum dari gelas sekali pakai.
Foto-foto anak yatim yang ditunjukkan pria itu.
Percakapan panjang di ruangan lembap tersebut.
Dan dirinya sendiri yang cukup bodoh untuk mempercayai setiap kata yang keluar dari mulutnya.
Tangannya gemetar saat membuka surel perusahaan dari ponselnya. Puluhan pesan belum terbaca memenuhi layar.
Salah satunya siaran pers yang baru dirilis tiga puluh menit lalu.
VANGUARD CAPITAL MANAGEMENT RESMI MENGAMBIL ALIH PROYEK FAR ROCKAWAY RESORT
Elizabeth menatap layar itu lama. Sangat lama. Sampai huruf-hurufnya berubah kabur.
Ia kehilangan proyek itu.
Kehilangan kepercayaan dewan direksi.
Kehilangan nama baik perusahaan yang dibangun keluarganya selama puluhan tahun.
Namun semua itu masih belum seberapa.
Karena untuk pertama kalinya sejak kematian kedua orang tuanya, Elizabeth mempercayai seseorang. Dan ternyata kepercayaan itu hanyalah bagian dari rencananya.
Ponsel itu terlepas dari genggamannya.
Di kejauhan, ombak Far Rockaway terus bergulung menuju pantai.
Tempat yang selama ini membuatnya percaya bahwa ia sedang melakukan hal yang benar.
Tempat yang kini mengingatkannya betapa mudahnya ia dibohongi.
Dan saat itu, Elizabeth Winston tidak tahu siapa yang lebih ia benci.
Julian Vanguard.
Atau dirinya sendiri.