Disukai
1
Dilihat
17
Tiga Masa Adinda - Bagian 1 : Cinta Pertama
Drama
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Suasana sekolah pagi itu lebih ramai dari biasanya.

Di depan papan pengumuman penerimaan siswa baru, sekelompok siswa berdesakan sambil memanggil nama-nama yang mereka kenal. Ada yang bersorak karena adiknya diterima, ada yang tertawa karena sahabatnya akhirnya berhasil masuk sekolah favorit di kota itu.

Adinda hanya melirik sekilas sebelum meneruskan langkah.

Ia menyusuri jalan setapak di samping taman sekolah. Bunga-bunga kertas yang mulai bermekaran bergoyang pelan diterpa angin pagi. Dari kejauhan terdengar suara bel latihan upacara, bercampur tawa siswa yang baru datang.

Tak ada yang menarik perhatiannya.

Ia terus berjalan menuju ruang kelas di ujung deretan bangunan kelas dua.

"Din!"

Baru saja ia melangkahi ambang pintu ruang kelas, Mona sudah menarik pergelangan tangannya hingga nyaris kehilangan keseimbangan.

"Cepat sini."

Adinda mengembuskan napas panjang sambil menurut.

"Ada apa sih? Pagi-pagi udah heboh."

Mona menyeringai lebar. Di kursi depan, Valen dan Nindya ikut menoleh dengan senyum yang entah kenapa membuat Adinda mulai curiga.

"Din," kata Mona pelan, seolah hendak membocorkan rahasia besar. "Tadi lihat pengumuman di depan nggak?"

Adinda menggeleng.

"Enggak. Kenapa?"

Mona nyaris bertepuk tangan.

"Si Theo sekolah di sini!"

Sejenak, waktu seperti berhenti.

Nama itu sederhana. Hanya empat huruf. Namun entah bagaimana, dadanya terasa seperti dipukul pelan dari dalam.

"Theo?" ulangnya, berusaha terdengar biasa saja.

"Iya!"

"Masuk sini?" tanya Adinda lagi.

"Iya! Jadi adik kelas kita."

Valen langsung mengangkat kedua alisnya bergantian.

"Cie...."

Nindya tak mau kalah.

"Ada yang bakal CLBK, nih."

"Apaan sih."

Jawaban Adinda terdengar datar, terlalu datar.

Ia buru-buru membuka tasnya, pura-pura sibuk mencari buku. Padahal isi tasnya masih sama seperti saat berangkat tadi pagi.

Pipinya menghangat.

Syukurlah wajahnya tertutup rambut yang menjuntai ke depan.

Theo.

Nama yang selama setahun terakhir berusaha ia simpan di tempat paling jauh dalam ingatannya.

Semuanya berawal saat SMP.

Hari itu kantin penuh sesak. Aroma gorengan, bakso, dan es sirup bercampur menjadi satu. Adinda baru saja membeli es teh ketika seseorang memanggil namanya.

"Adinda, ya?"

Ia menoleh.

Cowok tinggi berseragam putih biru tua berdiri beberapa langkah darinya.

Theo.

Anak basket yang hampir semua siswi kenal.

Untuk sesaat Adinda malah menoleh ke belakang, memastikan tak ada Adinda lain yang sedang dipanggil.

"Iya?" jawabnya ragu. "Kenapa?"

Cowok itu tersenyum lebar.

"Boleh kenalan? Aku Theo. Kelas 2B."

Tangannya terulur.

Adinda hanya menatap tangan itu.

Lalu wajah Theo.

Lalu kembali ke tangan yang masih menggantung sabar di udara.

Theo terkekeh.

"Salamin kek."

Adinda tersentak.

"Oh... iya. Maaf."

Tangannya buru-buru menyambut uluran itu.

Hangat.

Hanya sesaat sebelum sama-sama melepaskannya.

Sejak hari itu, Theo selalu muncul di waktu-waktu yang seolah sudah diatur.

Di kantin.

Di depan perpustakaan.

Di gerbang sekolah sepulang jam pelajaran.

Ia sering berjalan di samping Adinda sampai tempat angkutan umum, meski arah rumah mereka sebenarnya berbeda.

Obrolan mereka sederhana.

Tentang guru yang galak.

PR Matematika.

Pertandingan basket.

Atau sekadar memperdebatkan rasa es krim yang paling enak.

Seminggu kemudian Theo menyatakan perasaannya.

Adinda mengiyakan dengan wajah merah padam.

Begitulah kisah mereka dimulai.

Mungkin bagi orang dewasa, kisah itu terdengar menggemaskan.

"Cinta monyet."

Kalimat itu sering mereka dengar. Seolah perasaan anak SMP tak cukup penting untuk disebut cinta.

Padahal bagi Adinda, semuanya terasa sungguh-sungguh.

Theo adalah laki-laki pertama yang membuatnya menunggu jam istirahat.

Yang hafal kalau ia lebih suka mi goreng daripada bakso.

Yang bilang ia cantik hanya karena memakai jepit rambut baru yang dibelinya di pasar malam dengan uang saku yang disisihkan beberapa hari.

Hal-hal kecil.

Tapi justru hal-hal kecil itulah yang tinggal paling lama di hati.

Lalu suatu hari Theo berkata ia akan pindah. Ayahnya dipindah tugaskan ke luar kota dan ia tidak akan melanjutkan SMA di kota mereka.

Adinda masih ingat bagaimana ia mengangguk sambil tersenyum saat itu.

Ia tidak ingin Theo melihatnya menangis.

Tangis itu baru pecah setelah sampai rumah.

Dan sejak hari itu, ia belajar bahwa kehilangan bisa datang bahkan sebelum seseorang benar-benar pergi.

"Din!"

Suara Mona mengembalikannya ke ruang kelas.

"Melamun aja."

Adinda tersenyum kecil. "Nggak."

Padahal pikirannya sudah kembali ke masa itu.

Theo telah kembali.

Ke kota ini.

Ke sekolah yang sama dengannya.

Dan entah mengapa, hanya dengan mengetahui ia berada di gedung yang sama, jantung Adinda kembali berdetak seperti gadis SMP yang dulu.

Lucu sekali.

Ia sekarang siswi kelas dua SMA. Sedangkan Theo menjadi adik kelasnya.

Semesta memang suka bercanda.

Namun candaan itu tidak berlangsung lama.

Keesokan siangnya, saat jam istirahat, Adinda melihat Theo di kantin. Jarak mereka tak sampai lima meter.

Theo sedang membawa nampan makan bersama beberapa teman barunya.

Adinda spontan menghentikan langkah. Dadanya dipenuhi rasa gugup yang bahkan lebih besar daripada saat mereka pertama kali berkenalan.

Theo mengangkat kepala. Tatapan mereka sempat bertemu.

Hanya sesaat.

Lalu...

Theo berlalu begitu saja.

Tanpa senyum. Tanpa sedikit pun tanda bahwa mereka pernah saling mengenal.

Adinda tetap berdiri di tempatnya. Tangannya yang semula menggenggam botol minum perlahan mengendur.

Ada sesuatu yang jatuh.

Bukan botol itu. Melainkan harapan yang diam-diam ia simpan sejak kemarin.

Sepulang sekolah, Adinda langsung pulang ke rumah dan menolak ajakan teman-temannya untuk mencoba warung bakso baru di ujung jalan. Di dalam angkutan umum, ia memilih duduk di dekat jendela. Deretan rumah, warung, dan pepohonan berganti satu per satu di luar sana, tetapi tak satu pun benar-benar ia lihat.

Sesampainya di rumah, ia membuka laci meja belajarnya. Di sana masih tersimpan jepit rambut kecil berbentuk kupu-kupu yang dulu dipuji Theo. Warnanya sudah sedikit pudar, kait besinya mulai berkarat.

Adinda mengusapnya pelan dengan ujung ibu jari.

Dulu ia menyimpannya karena merasa benda itu membawa kenangan manis. Kini, untuk pertama kalinya, ia bertanya-tanya apakah kenangan itu hanya hidup di hatinya seorang diri.

Ia menutup kembali laci itu tanpa mengenakan jepit rambut tersebut.

Malamnya, sebelum tidur, ia memandangi langit-langit kamar cukup lama. Ada begitu banyak pertanyaan yang ingin ia ajukan jika suatu hari Theo benar-benar berdiri di hadapannya.

Namun semakin lama dipikirkan, semakin ia sadar bahwa mungkin bukan jawabannya yang ia inginkan.

Ia hanya ingin diyakinkan bahwa semua yang pernah mereka jalani dulu memang sungguh terjadi.

Mungkin Theo tidak melihatku.

Mungkin dia sedang buru-buru.

Mungkin...

Berulang kali ia mencoba mencari alasan.

Namun hari berikutnya sama.

Dan hari setelahnya.

Theo tetap melewatinya tanpa sapaan.

Tanpa tatapan.

Tanpa pengakuan bahwa mereka pernah menjadi bagian penting dalam hidup masing-masing.

Setelah setahun belajar menerima kepergian Theo, kini Adinda harus belajar menerima hal yang lebih menyakitkan.

Dilupakan.

Padahal orang yang bersangkutan masih hidup, masih berada di kota yang sama, bahkan berjalan di lorong sekolah yang sama.

Dua tahun berikutnya berlalu seperti itu.

Adinda hanya menjadi sepasang mata yang diam-diam mencari Theo di antara keramaian.

Sapaan yang selalu kandas sebelum keluar dari bibir.

Dan satu pertanyaan yang tak pernah menemukan keberanian untuk diucapkan.

Kenapa?

(Bersambung ke Bagian II — Pertemuan Kedua)

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi