Ia berdiri di tengah ruangan, menatap tajam dari balik bola mata cokelat gelap. Di depannya, ibunya menggandeng lembut tangan seorang gadis kecil. Tinggi anak itu tak lebih tinggi dari perutnya.
"Rayyan, mulai hari ini Amara akan jadi bagian keluarga kita. Dia adikmu."
Suara ibunya lembut. Senyum merekah di wajahnya yang diliputi kebahagiaan. Namun tatapan tajam Rayyan tak berubah. Kerutan di keningnya semakin dalam.
Meski usianya baru sebelas tahun, tapi raut kedewasaan telah tergurat di wajahnya. Hidup tanpa sosok ayah sejak usianya masih sangat belia membuatnya tumbuh menjadi anak laki-laki yang kuat dan mandiri.
Tanpa membalas ucapan ibunya, Rayyan berbalik dan menaiki tangga ke lantai atas.
"Rayyan!"
Panggilan keras ibunya tak dipedulikan. Ia sudah mengatakan tidak, tapi ibunya berkeras mengadopsi anak perempuan itu dan membawanya ke rumah. Seolah keberadaannya saja belum cukup mengusir rasa kesepian ibunya.
Tangannya terkepal, bibirnya mengatup rapat menahan keinginan untuk meneriakkan protes keras pada wanita yang telah melahirkannya itu.
Ia mengingat wajah bahagia ibunya. Wajah yang jarang sekali ia tunjukkan padanya, bahkan saat ia meraih tingkat satu provinsi.
***
Waktu membuat mereka tumbuh dewasa, tapi tidak dengan sikap Rayyan. Sikap dingin dan berjarak itu masih ia pertahankan hingga usianya menginjak kepala tiga.
"Kak, nanti berangkat kerja bareng ya. Motorku masih di bengkel."
Suara Amara terdengar ragu dan takut. Tapi Rayyan tak menggubrisnya. Ia tetap menggigit dan mengunyah roti isi seolah tak mendengar.
"Ray… Amara minta bareng, tuh. Jawab iya dong." Ibunya mendecak kesal. Gelas susu di tangannya terhenti di udara, lalu ia turunkan perlahan kembali ke atas meja makan.
"Ojol banyak. Kalo mau nyaman, taxol juga ada," balas Rayyan ketus.
"Rayyan… tega banget sama adik sendiri!" suara ibunya mulai meninggi. "Sampai kapan kamu bersikap kayak gini? Kalian udah dewasa. Stop acting like a child, Ray."
"Mama… nggak apa-apa. Mara naik ojek aja." Amara terlihat menenangkan ibunya. Gadis itu menyentuh lembut tangan ibunya yang menggenggam erat gelas susu.
"See… dia aja nggak keberatan kok naik ojol." Rayyan menghentikan sarapannya dan beranjak dari duduknya. "Aku ada jadwal operasi, harus datang lebih pagi," ucapnya lalu melangkah keluar.
Sepuluh menit berselang, mobilnya sudah menembus jalanan ibukota yang ramai meski hari masih sangat pagi.
Ia menghidupkan pemutar musik di dashboard, mencoba mengalihkan rasa tak nyaman setelah pertengkaran kecil tadi. Meskipun perdebatan seperti itu sering terjadi selama dua puluh tahun hidupnya, ia tetap tidak terbiasa.
Bertahun-tahun, ia telah melihat Amara tumbuh. Dari seorang anak kecil berusia lima tahun yang pemalu dan pendiam, menjadi gadis remaja yang ceria. Dan sekarang, sebagai wanita mandiri yang berdedikasi pada pekerjaannya sebagai ilustrator di agensi besar.
Rayyan melihat perubahan itu seperti kepompong yang menjelma menjadi kupu-kupu cantik.
Namun kekaguman itu berakhir setiap kali ibunya menyebut gadis itu dengan kata "adikmu".
"Sial… kenapa lo harus jadi adik gue sih," ia memaki sendiri. Tangannya menggenggam erat kemudi.
"Kalo lo gak jadi adik gue, udah gua nikahin dari dulu."
***
Malam itu Rayyan pulang sangat larut. Rumahnya gelap dan sepi. Ia langsung menuju kamarnya, mandi cepat dan merebahkan diri di kasur.
Tubuhnya lelah setelah seharian memimpin operasi panjang. Tapi meski begitu, matanya tak bisa terpejam.
Rayyan bangkit dari kasur dan menuju meja kerja. Ia mengambil sebuah buku berjudul Sabiston & Spencer’s Surgery of the Chest dari laci meja. Di dalam lipatan buku itu ia mengambil sebuah catatan kecil tulisan tangannya. Ia membaca catatan kecil itu.
Andai dia bukan adikku, aku akan jadi pria paling bahagia di dunia.
Rayyan memandangi lama tulisan itu dengan tatapan kosong. Setiap tarikan napasnya terasa berat dan sesak. Bertahun-tahun ia memendamnya sendiri dalam kesunyian.
Suara notifikasi ponsel menyadarkannya. Ia melihat ke layar dan membaca pesan singkat itu.
Amara: Kak, kalo belum makan, aku panasin semur daging ya? Atau mau aku bikinin sesuatu?
Rayyan hanya menatap ponselnya tanpa mengetik balasan.
Amara selalu begitu. Gadis itu selalu menunggunya pulang kerja, meski sosoknya tak terlihat.
Rayyan mengunci ponselnya dan menaruh di nakas. Dia tak pernah membalas atau mengiyakan tawaran Amara. Jarak itu tetap ia jaga, agar ia selalu ingat batasan dirinya.
***
Ia meninggalkan ibunya yang masih menangis tersedu di luar kamar pasien. Ibunya pasti sangat terpukul dan sedih. Tapi Rayyan… dia seperti akan mati.
Ia masuk ke kamar pasien, menatap tubuh lemas yang terbaring. Detak jantungnya berkejaran dengan suara mesin monitor di samping sebentuk wajah pucat. Wajah yang balik menatapnya dengan senyum, seolah semua ini bukan masalah besar.
Melihat senyum itu, Rayyan mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.
Amara tidak pernah selemah ini. Bahkan dulu, saat gadis itu terjatuh karena ia tidak sabaran mengajarinya naik motor, Amara tidak menangis atau mengeluh.
"Kenapa gak bilang kalo sakit? Aku dokter. Kalo dari awal aku tahu, mungkin masih bisa…"
Amara menggeleng pelan. Senyumnya masih menetap di bibirnya.
"Ayah kandungku juga meninggal karena kanker ini, kak."
"Stop manggil aku kakak. Aku bukan kakakmu," Rayyan berkata tajam, meski begitu tatapan matanya lembut memandang Amara.
"Aku tahu. Dan aku juga tahu kamu marah dengan kenyataan itu."
Rayyan terkesiap. Wajahnya menegang.
"Amara…"
Perlahan, ia melangkah mendekat ke ranjang dan berdiri tepat di dekat tangan Amara yang terkulai lemas di atas seprai putih.
Dengan sisa kekuatannya, Amara mengangkat tangannya dan menggenggam tangan Rayyan. "Aku pernah gak sengaja baca catatan kecil yang terjatuh dari buku kuliahmu dulu," ucap Amara.
Tubuh Rayyan membeku. Napasnya tertahan. Tanpa sadar, tangannya yang berada dalam genggaman Amara gemetar.
"Aku ingat isi catatan itu," suara Amara terdengar lirih, namun diucapkan dengan cukup jelas. Ia menahan senyum kecil di bibirnya, seperti mengingat satu kenangan paling manis dalam hidupnya.
"Kenapa kamu gak pernah bilang?"
Rayyan terdiam sesaat.
"Karena status kita."
Itu adalah jawaban dari pertanyaannya sendiri. Dan jawaban itu memukul dadanya telak.
Tetapi Amara kembali menggeleng pelan. Genggaman Amara di jemarinya semakin erat.
"Aku diam, bukan karena status kita. Tapi karena aku tahu aku gak akan bisa nemenin kamu lama. Aku gak mau kamu hidup dalam kesedihan seperti ibu kandungku."
"Shit, Amara. Itu sama aja. Kamu pikir sekarang aku gak akan sedih…"
"Tapi setidaknya, aku gak akan ninggalin kenangan bahagia untukmu."
"Itu hukuman terburuk yang bisa kamu berikan buatku, Mara," balas Rayyan lirih, tertahan.
Untuk pertama kalinya, ia berbicara dengan cara seperti itu pada Amara. Selama ini Rayyan pikir dirinya pria kuat. Nyatanya, ia hanya pengecut yang bersembunyi di balik kata penolakan.
Rayyan kembali menatap mata itu. Mata yang mulai kehilangan cahayanya.
Ia menggenggam erat tangan Amara, menyesali segala hal yang belum pernah ia lakukan untuk menunjukkan betapa ia mencintai gadis itu sejak dulu.
Dan kini ia harus melepasnya pergi, tanpa pernah mengatakan kepada dunia...
"Dia kekasihku."