“Gimana, Core?” seorang anak lelaki berseragam SMP menyodorkan cermin lusuh. Senyumnya terkembang seolah sudah membuat maha karya yang fenomenal.
Corey melihat sebuah gambar silet yang terlihat hitam dan tajam dari dua cermin. Tato itu berada di pundak kirinya. Sebuah jarum dengan bekas tinta belepotan tergeletak di meja. Bau alkohol dan tinta bercampur di udara.
“Lumayan,” gumam Corey. Suaranya hampir serak. Matanya ga lepas dari silet itu. Seolah tiap goresannya ngingetin kenapa dia masih tetap hidup sampai hari ini. “Thanks, Nas!”
“Keren, kan? Kalau mau tato lagi, tinggal bilang gue aja, Bro!” ucap Naser. Bocah itu tersenyum tengil sekaligus bangga.
Suara bangku jatuh membuat suasana pecah. Corey dan Naser sontak menoleh dan mendapati Helena tengah jongkok membenarkan posisi bangku. Wajahnya kelihatan kikuk, seperti habis mergokin dua buronan polisi yang lagi sembunyi.
“Elu, Hel… Mau ngapain lu?” tanya Naser dengan kening berkerut. Takut diaduin ke guru. Buru-buru dia beresin peralatannya.
Corey buru-buru memakai kembali baju seragamnya dan berharap Helena tidak melihat silet di pundaknya itu.
“HP gue ketinggalan,” ucap Helena kemudian buru-buru merogoh laci mejanya. “Masih ada. Sorry ganggu,” kata Helena lagi pada dua anak lelaki itu. Dia lalu pergi buru-buru tanpa nunda waktu lagi. Seolah takut keseret masalah apapun di ruang kelas itu.
“Kayaknya, Helena liat, deh, Core. Apa harus kita bilangin?” tanya Naser mendengus kasar sambil ngelap sisa tinta di meja.
Corey langsung menggeleng. “Ga usah. Dia anaknya ga cepu,” jawab Corey cepat. Corey ga mau kalau Helena sampai ada masalah sama geng anak bandel. Diam-diam tangan Corey terkepal di bawah meja.
“Tapi kalau kita ketahuan guru–”
“Ga akan. Gue yang jamin. Udah, ga usah ngelibatin orang lain.” Corey menatap tajam sehingga Naser hanya bisa menerima kata-kata Corey.
Dilihatnya jam menunjukkan pukul empat. Harusnya kelas itu sudah kosong sejak dua jam lalu. Sekolah sepi dan Corey meminta kawannya, Naser untuk menggambar tato di pundak diam-diam. Corey menahan perih bekas tusukan ribuan kali jarum yang menembus kulitnya. Tapi rasa itu gak ada apa-apanya dibanding keperihan hidup yang pernah dia rasain.
Beberapa waktu lalu, Corey kehilangan kedua orang tuanya di Everest. Mereka jatuh, membeku dan tubuhnya kini membatu di gunung tertinggi itu. Corey akhirnya sadar mereka gak akan pernah pulang.
Ulang tahun ke empat belasnya datang tanpa janji itu terwujud. Mama dan Papa tidak akan pernah datang. Dalam sepi, pikiran gelap mulai muncul. Jika Mama Papa tidak akan pernah pulang, untuk apalagi dia hidup di sini?
Waktu itu Corey menggenggam silet yang baru saja ia dapatkan dari warung dekat sekolah. Rumahnya yang selalu sepi terasa semakin sepi. Dilihatnya foto Mama dan Papa yang terpajang di meja ruang tengah. Keduanya tersenyum bahagia. Kemudian satu lagi foto mereka bertiga tersenyum beku. Seolah kebahagian mereka akan terhenti di momen itu.
Tapi siapa yang tahu kalau ekspedisi terakhir mereka telah merenggut kebahagian keluarga itu. Corey membaca sekali lagi tulisan jurnal Mamanya sebelum berangkat ke Nepal.
Hidup ini berarti karena ada akhir.
Tapi aku bahagia telah memiliki segalanya.
Suami yang hampir sempurna dan anak yang tampan lagi cerdas.
Pekerjaan yang ditugaskan Tuhan padaku sangat menyenangkan.
Tapi, aku ragu apakah bisa menyelesaikan pekerjaan sebagai ibu rumah tangga. Sebab Corey masih kecil.
Tapi, Rey bilang Corey adalah remaja yang telah kudidik dengan mental baja. Dia akan mampu bertahan menghadapi kerasnya dunia tanpa kami.
Kuharap itu benar. Sebab beberapa tahun belakangan kami sering meninggalkannya.
Kamu harus bisa hidup dengan baik tanpa kami, Ree. Mama yakin kamu bisa.
Iya, kan?
Air mata berjatuhan membasahi jurnal yang Corey pegang. “Aku ga bisa, Ma. Aku masih butuh kalian….”
Corey tidak tahu untuk apalagi dia hidup di dunia. Selama ini dia berusaha keras belajar dengan rajin dan melakukan segala hal dengan baik hanya agar membuat Mama dan Papa tersenyum. Jika senyum itu tidak lagi pernah dia lihat lagi sekeras apapun ia melakukan sesuatu, untuk apa lagi dia hidup?
Corey meletakkan jurnal di depan foto Mama Papa. Dia duduk dengan kaki lurus. Dibukanya perlahan bungkusan silet. Air matanya ia singkirkan sebelum menahan napas melihat silet itu melayang menuju pembuluh aorta di pergelangan tangan.
“Ree…! Ree! Corey! Ree!!!”
Suara itu terdengar akrab. Nadanya sedikit naik dan panjang. Suara yang Corey rindukan setiap pagi datang dan ketika matahari tenggelam.
Tangan Corey berhenti bergerak. Dia mematung sesaat. Dia yakin mendengar suara Mama memanggilnya. Corey melemparkan silet dan segera menghapus air mata dengan ujung kemeja sekolahnya. Dia berlari dan segera membuka pintu depan. Kerinduannya pada Mama telah menggunung. Akhirnya Mama pulang dari Everest. Corey akan segera menghambur memeluk Mama begitu pintu terbuka.
Namun, Corey cuma terdiam. Di teras, berdiri seorang gadis seumurannya. Berambut hitam, dikuncir kuda memakai seragam sekolah yang sama dengannya. Hanya saja terlihat lecek dan kotor. Di tangannya terdapat beberapa luka memar. Gadis itu tersenyum dengan seekor kodok di tangan.
“Nih, Ree… gue berhasil nangkap kodok tadi di sawah,” ucap gadis itu seraya menyerahkan kodok pada tangan Corey yang masih diam saja karena terkejut. ”Lu ga apa-apa?” Gadis itu mengibaskan tangan di depan wajah Corey. “Ree? Woy!!!”
Corey mengerjap. Bayangan Mama tertahan di wajah gadis itu. Kodok terlepas dari genggamannya dan melompat ke halaman yang dipenuhi tanaman hias. “Duh! Sorry, Hel!” suara Corey hampir tidak terdengar. Dia masih tak percaya kalau Helena memanggilnya dengan nada yang selalu Mama pakai untuk memanggilnya.
“Aduh… gimana, sih, lu? Gue udah susah payah nangkepnya malah lu lepas gitu aja!” Gadis itu, Helena, segera mengejar kodok dan berusaha menangkapnya.
“Udah. Biarin aja, Hel. Gak bakal bisa lu tangkap lagi. Udah kabur!” ucap Corey yang cuma bisa melihat Helena beraksi.
“Emang ga bakal bisa ditangkap kalo lu diem aja kayak gitu!” seru Helena sambil terus berlari berusaha menangkap kodoknya lagi.
“Udah biarin! Nanti gue nyari lagi di sawah!” kata Corey berharap Helena segera pergi dari rumahnya. Tapi Helena sepertinya tidak mendengar kata-kata Corey. Cewek itu tetap cuek mengejar kodoknya seolah Corey ga ada.
Sampai suatu waktu kodok melompat ke arah Corey, berhenti dekat kakinya. Helena mengendap-endap sebelum dengan tangkas menyergapnya dengan kedua tangan. “Nih!” Helena kembali menyerahkan kodoknya. “Pegang baik-baik, Ree. Nangkep kodok tuh tugas gue. Tugas lu bawa belalang, kan?”
Corey terperangah, tidak menyangka kalau cewek di depannya itu bakal bisa menangkap kodoknya lagi. Meski sekarang baju Helena jadi semakin dekil tapi sepertinya cewek satu itu ga peduli. Dan yang lebih mengagumkan sedari awal, cewek itu nggak jijik sama kodok. Sama seperti Mama.
“Gue pulang dulu.” Helena yang sudah membelakangi Corey kembali berbalik. “Eh—gue… turut berduka, ya, soal nyokap bokap lu, Ree. Lu jangan lama-lama sedihnya, ya,” ujar Helena sembari menepuk bahu Corey pelan.
Corey hanya diam menatap kepergian Helena tanpa mampu mengucapkan apapun. Sepertinya Mama mengirim teman sekelasnya itu biar dia tidak melakukan hal bodoh.
Dan setelah hari itu, Corey jadi lebih sering memperhatikan Helena. Sesekali sengaja nyamperin cewek itu buat nanya ada PR atau enggak, boleh gabung kelompoknya atau enggak kalau ada tugas atau sekadar nanyain guru A masuk atau tidak hari itu. Sebab hanya Helena yang bisa memanggilnya Ree persis seperti cara Mama memanggilnya. Kemudian Corey mulai melihat Helena sebagai pengganti Mama. Dia akan senang sekali mendengar pujian Helena soal nilai ujiannya yang bagus atau ketika Corey bisa mengerjakan PR dadakan.
“Lu mah emang jago, Ree!”
“Selamat, ya, Ree… lu ranking pertama!”
Cuma kata-kata itu yang Corey butuhkan untuk menjalani hidupnya. Itu cukup. Maka Corey punya ide gila untuk mengabadikan nama Helena di tubuhnya. Tapi pas melihat wajah Naser yang sudah bawa alat tato seadanya, Corey malah malu banget untuk mengatakan ia ingin tato nama Helena di bahu. Jadi, alih-alih nama Helena, Corey minta tato silet. Sebab Helena yang sudah menyelamatkannya dari benda tipis tajam itu.
***
“Kamu masuk Sintas, Core. Tante udah daftarin kamu,” kata seorang wanita cantik yang memiliki mata besar yang indah dan bening. Wanita itu meletakkan satu set seragam SMA di meja belajar Corey.
“Aku gak mau, Tan!” tolak Corey tegas. Setelah setahun dan tidak berani mengungkapkan perasaannya pada Helena, akhirnya dia harus merelakan cewek itu pergi begitu saja. Corey kesal pada dirinya sendiri tetapi tidak mau mengakui. Dia cuma bisa memandang tato silet di bahu kirinya setiap kali berkaca karena lupa menanyakan Helena mau masuk SMA mana.
Menurut tebakan Corey, Helena akan masuk SMAN 9 yang dekat dengan rumahnya. Atau SMAN 1 jika nilainya bagus. Corey ingin masuk SMAN 1 sebab lokasinya berdekatan dengan SMAN 9 yang artinya kesempatan bertemu Helena akan lebih besar.
“Mama Papa kamu sudah bilang ke tante kalau kamu harus masuk Sintas, Core,” bujuk wanita itu. Ia duduk memeluk map plastik bening di ujung tempat tidur Corey.
“Jangan bawa-bawa Mama Papa, Tan. Mereka ga pernah bilang apa-apa soal aku harus sekolah di mana,” kata Corey kekeh dengan pendiriannya. “Lagian nilai aku bagus. Kenapa malah sekolah di sekolah itu?” Corey menunduk di kursi belajarnya, memandang seragam Sintas di meja dengan keengganan.
“Core… Ini memang wasiat Mama sama Papa kamu. Tante ga bohong!” Tante Molly berdiri menghampiri Corey. Map beningnya terjatuh sehingga isinya berceceran di lantai. “Yah… ada aja,” ucap tantenya seraya memunguti kertas yang berceceran.
Corey mendengus tapi membantu tantenya mengumpulkan kertas-kertas di lantai. Ketika itulah ia melihat pas foto seseorang yang sudah tidak asing. Corey membaca identitas yang tertera di kertas. “Ini formulir apa, Tan?” tanya Corey penasaran.
“Ini formulir masuk SMA Sintas. Gak ada yang rusak, kan, ya?” Tante Molly merebut pelan formulir dari tangan Corey dan memastikan memang tidak rusak.
“Tan….” Dada Corey bergemuruh hebat. Senyum tipis menghiasi wajahnya yang sedari tadi bete.
Tante Molly menoleh ke arah Corey yang ternyata sedang memeluk seragam Sintas. “Kenapa, Core?“ Wanita itu melihat wajah Corey yang tiba-tiba saja menjadi cerah dengan heran.
“Aku mau masuk Sintas,” kata Corey mantap.
Tante Molly menyunggingkan senyum dan terlihat lega mendengar perkataan keponakannya. “Beneran?” tanyanya memastikan.
Corey mengangguk dengan yakin. Formulir yang barusan diambil tantenya adalah formulir milik Helena Prameswari. Silet yang ada di bahu kirinya.
***
Tahun ajaran baru sudah dimulai. Jalanan kembali ramai oleh anak sekolah. Naik kendaraan umum, motor atau jalan kaki. Beberapa masih diantar oleh orang tua mereka yang sekalian berangkat kerja.
Corey menaiki bus yang penuh sesak. Jantungnya terus berdebar kencang mengingat ia akan satu sekolah lagi bersama Helena. Bahkan semalam dia tidak bisa tidur nyenyak karenanya. Corey sadar kalau perasaan yang dirasakannya pada cewek itu tidak wajar dan membuatnya hampir gila. Tapi dia tetap memeliharanya.
Mata yang tajam itu menyapu sekeliling begitu sampai di gerbang SMA Sintas. Sekolah itu cukup luas meski tidak bertingkat. Dua orang satpam yang berjaga tersenyum kepada setiap murid yang masuk. Di Sintas para murid tidak diperkenankan membawa kendaraan sampai mereka memiliki SIM. Jadi, beberapa sepeda motor yang terparkir di sana adalah milik para murid kelas XII.
Corey sudah hampir memasuki kelasnya tetapi dia tidak menemukan Helena di manapun. Membuatnya sedikit panik. Dilihatnya jam tangan pintar yang baru dibelikan Omnya sebagai hadiah kelulusan dengan nilai yang amat baik. Sepuluh menit lagi bel masuk berdering. Corey berdiri di koridor dengan mata mengawasi sekeliling. Tapi yang dicarinya tidak kunjung muncul.
Hingga bel benar-benar berbunyi, Helena tidak juga terlihat. Corey mengembuskan napas kecewa. Ia hendak masuk kelas saat seseorang menabrak bahunya. Silet di bahu kiri Corey berdenyut.
“Duh, maaf, ya?!”
Corey mengenali suara itu dengan jelas. Hatinya kembali cerah mengusir kecewa yang tadi sempat hinggap.
“Loh? Lu di sini juga, Ree?” tanya Helena kaget mengetahui orang yang ditabraknya adalah Corey.
Alih-alih menjawab, Corey cuma nyengir tipis padahal jantungnya sudah gak karuan. Dan sebelum Corey sempat mengatakan sesuatu, Helena sudah keburu masuk ke kelas. Corey mengepalkan jari. Dadanya terasa lebih lega meski detak jantungnya belum teratur. Mulai sekarang, Corey bertekad tidak akan melepaskan Helena lagi.
***