Tali(a)

"Hei! Talinya belum ketemu?" tanya Devi sembari mengibaskan tangan ke wajah akibat gerah.

"Be-belum," jawab Talia terbata. Jalannya terseok-seok karena menggendong tas ransel yang berat.

"Ini sudah petang, loh. Masa kau belum menemukan tali satu pun? Matamu dipakai di mana, Talia?" Ria mengomel, lagi. Ini omelan kesekian kali yang Talia dengar hari ini.

"Aku lapar, Ya Tuhan!" keluh Kila, padahal ia sedang mengunyah keripik singkong di tangan. Sepertinya itu bukan porsi makan yang cukup.

Talia juga lapar dan lelah. Bukan hal mudah menggendong tas ransel sebesar ini sejak pagi. Tidak ada satu pun dari teman seregunya yang berniat membantu meringankan beban, malah mereka yang jadi beban. Bahkan mereka menyuruh Talia untuk mencari tali penunjuk jalannya sendiri. Mereka juga mengatakan untuk tidak akan memberi Talia makanan atau minuman bila belum menemukan talinya.

Sama sekali tidak membantu, pikir Talia. Akan lebih baik jika Talia melakukan ini sendirian.

Devi, Ria, dan Kila hanya mengikuti Talia ke mana pun Talia pergi. Sesekali pula menjelek-jelekkan tubuh gadis itu dari belakang. Sementara Talia, ia sibuk mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru hutan. Namun, sejauh mata memandang, hanya pepohonan yang terlihat.

"Itu talinya!" Mendadak Kila berseru riang sambil berlari ke depan, tak lupa menyingkirkan Talia yang menghalangi jalannya.

"Hei! Matamu buta, ya? Talinya di sini, bukan di sana," kata Devi dengan kaki yang melangkah menuju pohon di sebelah kanan.

"Kalian berdua yang buta. Talinya ada di sini, kok." Ria menunjuk pohon sebelah kirinya sembari berjalan ke sana.

Untuk beberapa saat, mereka bertiga berdebat mengenai tali. Mereka kebingungan, pasalnya mereka sama-sama mengatakan telah menemukan tali. Namun, tak satu pun dari mereka dapat melihat tali yang dipegang orang lain.

"Terserah kalian mau pergi ke mana. Aku akan ke arah sini." Ria melangkah menyusuri jalan setapak di sebelah kirinya.

Kila dan Devi melakukan hal yang sama. Mereka berjalan menuju arah yang menurut mereka benar. Di sisi lain, mereka tidak sadar telah meninggalkan Talia yang masih menggendong tas besar di punggung kecilnya.

Beberapa saat setelah kepergian mereka, Talia menghela napas lelah. Dihempaskannya tas itu ke tanah. Ia mengusap peluh. Samar-samar Talia bergumam, "Akhirnya para serangga itu mati."

***

1 disukai 2.8K dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Tidak ada komentar
Saran Flash Fiction