Flash Fiction
Disukai
2
Dilihat
34
Oarfish
Drama

Sampai sekarang aku masih bertanya, apakah patah hati bisa disamakan dengan patah kaki?

Hari itu, ketika melihatnya selesai oleh kekangan penjara bernama cinta, aku tak melihat sedikitpun penyesalan yang berarti. Lagaknya seperti burung lepas dari sangkar. Ringan. Bahkan sedikit sombong.

Namun malam ini, aku menyaksikan pembunuhan yang jauh lebih mengerikan.

Ia dikuliti habis-habisan oleh wanita yang sudah menemukan target barunya, yang dulunya justru menjauhkannya dari marabahaya. Sang Superman dilempari ribuan kryptonite oleh tangan yang sama yang pernah menggenggamnya.

Tak pernah sehari pun aku melihatnya seperti ini. Mati berdiri, di depan kuburannya sendiri. Tubuhnya dimakan belatung dan kelabang, tapi ia bahkan tak bisa meringis. Jiwanya sudah pergi lebih dulu dan kakinya yang patah itu tak ada apa-apanya dibanding hati yang hancur berkeping-keping.

Masih banyak ikan di lautan, kata orang-orang.

Aku diam. Karena mereka tidak pernah kehilangan yang satu itu — yang berenang terlalu dalam untuk dijangkau, terlalu diam untuk dibuktikan keberadaannya. Yang setiap kali muncul ke permukaan, selalu dalam keadaan sekarat.

Para ilmuwan menyebutnya oarfish. Ikan pita. Ikan kiamat. Tidak ada yang tahu seberapa banyak jumlahnya — bukan karena langka, tapi karena habitatnya ada di tempat yang tidak bisa kita capai. Ratusan meter di bawah. Di zona yang bahkan cahaya pun menyerah sebelum sampai.

Menurutnya, wanitanya seperti itu.

Bukan langka. Hanya hidup di kedalaman yang salah. Dan ia akan terus menyelam, terus menghitung napas yang tersisa, seolah kalau ia cukup dalam ia akan menemukannya lagi dalam keadaan utuh.

Tapi setiap oarfish yang pernah ditemukan manusia, selalu sudah mati duluan.

Mungkin memang begitu caranya ia menampakkan diri. Hanya ketika sudah tidak bisa menyakiti lagi.

Sekarang dirinya hanya diam.

Seperti patung di dasar Atlantis, kota yang tenggelam bersama semua orang yang pernah mencintainya. Jauh dari tangan yang mau merawat. Tidak ada yang datang untuk membersihkan lumutnya. Tidak ada yang peduli dengan retakan yang perlahan menjalar di dadanya.

Ia dibangun untuk sesuatu. Ia tahu itu. Tapi tujuan itu pergi bersama orangnya dan kini ia berdiri bukan karena ingin bertahan, melainkan karena tidak tahu caranya roboh dengan bermartabat.

Yang paling menyakitkan bukan keretakan itu sendiri.

Tapi kenyataan bahwa ia tidak ingin ada yang melihatnya dalam keadaan ini — berlumut, retak, dan masih berdiri pura-pura utuh. Seorang penyelam yang kehabisan napas, tapi tidak mau mengakui bahwa ia sudah berhenti mencari.

Dan lautan, seperti biasa, tetap diam.

Tetap luas. Tetap penuh.

Tapi oarfish itu tidak pernah benar-benar langka — ia hanya tidak mau ditemukan. Dan sang penyelam dengan segala luka itu, masih saja percaya bahwa menyelam lebih dalam adalah jawabannya.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)