Disukai
1
Dilihat
1,424
Kutitipkan Cahaya di Bola Matamu
Romantis

"Bagaimana kamu bisa tahu pemeran di film itu tampan atau cantik? Kamu kan, maaf ... buta!" ujarku sambil mencomot kacang kulit di depannya.

"Imajinasi! Aku menontonnya setiap sore, dan membayangkan pemerannya dari suara dan gaya bicaranya," jawabnya seraya menepis tanganku. "Kacangnya sisa lima biji, tadi sudah kumakan dua puluh biji. Kalau kamu mau, ambil kemasan baru di tasku."

Aku tercengang. Dengan repleks aku menghitung sisa kacang itu. Bagaimana ia tahu jumlah kacang yang sedang dimakannya sambil nonton televisi?

"Kamu pasti kaget, kan? Aku hampir setiap hari makan dua bungkus kacang. Jadi tahu persis jumlah isinya." Sambil tertawa ia menunjuk tas cangklong di sampingnya.

Ketakjubanku bertambah. Entah apa lagi yang akan diperlihatkan perempuan buta namun cantik itu.

"Kamu suruh aku mengambil bungkusan kacang itu sendiri? Memangnya kamu percaya aku nggak akan mengambil barangmu yang lain?" pancingku. Ia menggeleng seraya tersenyum simpul.

"Aku percaya kamu orang baik."

"Yakin?" 

Ia mengangguk lagi. "Sudah beberapa hari ini kamu temani aku di sini. Tapi kamu sopan, nggak pernah bersikap kurang ajar."

"Pernahkah ada yang kurang ajar sama kamu?"

"Banyak. Mereka rata-rata tergoda kecantikanku, lalu berniat nggak baik. Untung ada ini!" Ia meraih lalu mengacungkan tongkat berujung runcing yang membantunya saat berjalan.

"Gimana kalau suatu hari aku berniat jahat padamu?"

"Orang berniat jahat nggak akan bilang-bilang dulu!"

Aku tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala karena kagum. 

*

Sudah seminggu aku bekerja di perusahaan periklanan ini. Setiap pagi saat masuk kerja, atau sore saatnya pulang, aku melewati lobi kantor dan meja resepsionis. Di hari pertama, kebetulan sore itu hujan turun dengan deras. Karena berkendaraan roda dua, terpaksa kutunda dulu niat untuk segera pulang. Sambil menunggu hujan reda, aku menunggu bersama gadis cantik yang kutahu seorang operator telepon, ditemani seorang sekuriti. Gadis itu asyik menoton drama seri televisi di depannya. Namun mulutnya tak berhenti mengomentari setiap adegan sambil mengunyah kacang kulit di mejanya. Yang membuatku merasa heran ketika diperhatikan, ternyata matanya tidak tertuju pada layar kaca itu. Setelah tahu dari penjelasan Pak Karman, sekuriti kantor, ternyata perempuan berambut ikal sebahu itu tunanetra. Lumayan kaget ketika aku mendengarnya. Sayangnya Pak Karman tak sempat menjelaskan seluruhnya karena hujan telah usai, dan aku harus segera pulang. Seandainya saja tak ditelepon Ibu untuk menjemput adikku yang masih di kampus, mungkin akan terjawab keingintahuanku tentang gadis berlesung pipit bernama Naura. Akan tetapi kalau aku menolak kehendak Ibu, tak tega rasanya harus membuat ibu bertambah sedih. Berdosa sekali jika membiarkan orang yang kucintai sepanjang hidup itu akan kecewa. Ia baru saja kehilangan orang kedua yang kucintai di dunia ini setelah Ibu. Ya, dia Ayahku! Ayah baru dua bulan meninggalkan kami karena serangan jantung. Rasa duka yang mendalam masih menyelimuti keluargaku. Ibu dan adikku belum bisa menerima kenyataan. Mereka masih sulit menjalani hari-hari tanpa sosok yang kami kagumi. Sementara aku anak lelakinya, harus menggantikan Ayah sebagai kepala keluarga. Meski kami mendapat uang pensiunan dari kantor Ayah, namun aku harus berusaha mandiri dan bekerja keras. Aku malu bila tak berhasil menjadi seperti yang diinginkan Ayah.

Sepanjang jalan pikiranku hanya tertuju pada Naura. Entah mengapa aku semakin penasaran dan ingin mengenalnya. Siapa sangka gadis secantik dirinya, melewati kehidupannya dalam gelap. 

Esoknya, seperti sore kemarin, Naura tampak asyik menonton televisi. Mungkin lebih tepatnya mendengarkan kalau menurutku. Di mejanya, dua bungkus kecil kacang beserta kantung plastik tempat membuang kulitnya sudah tersedia sehingga tidak berserakan. 

Aku kembali dibuatnya kaget ketika ia mengetahui kehadiranku, padahal aku mendekatinya secara diam-diam. Entah itu karena pendengarannya yang peka atau penciumannya yang tajam, aku tak paham.

"Duduk di sini, Mas! Mas pegawai baru, ya?" Aku mengangguk. Ah, konyol! Mana bisa ia melihat anggukanku?

"Iya, Mbak! Aku baru dua hari kerja. Emh ... kenalkan, namaku Revan," jawabku sambil memperkenalkan diri. Aneh kan, bahkan ia tahu aku karyawan baru di perusahaan itu. Bertambahnya rasa penasaran, aku memberanikan diri bertanya, "kok Mbak Naura tahu aku pegawai baru?"

"Hanya sebelas orang yang lewat sini kalau pulang. Yang lain lewat pintu samping karena mesin absensinya ada di sana. Sudah dua hari ini, kuhitung suara di mesin absensi bertambah satu, juga suara jejak sepatu yang asing. Kupikir itu bukan Pak Karman karena suara langkahnya sudah kukenal baik."

Dengan ternganga, aku mengalihkan tatapanku ke arah Pak Karman yang menahan tawa. Pak tua itu seolah tahu apa yang ada dipikiranku. Ia juga sepertinya sudah mengenal dan merasa tak aneh lagi dengan Naura. Pak Karman mengangkat bahunya ketika menangkap isyarat dari tatapanku.

"Aku harus segera pulang karena harus menjemput adik di kampusnya." Tak ada lagi alasan yang pantas kuberikan selain berpamitan, untuk menutupi kegugupanku.

Hari ketiga, sengaja kuperlambat langkahku menuju pintu utama. Niatku mengisi daftar absensi terakhir di saat ruangan resepsionis sudah berubah sepi. Tentunya hanya ada dua orang yang berada di sana. Siapa lagi kalau bukan si cantik tunanetra dan Pak Kumis penjaga kantor.

"Kukira Mas Revan lembur," ujarnya ketika aku baru sampai ke ruang lobi.

Hmm, ia tahu jika aku tak pulang bersamaan dengan pegawai lain.

"Ada pekerjaan yang harus kubereskan dulu, Mbak!"

Kemudian Naura menggeser kursinya memberi isyarat padaku untuk duduk di kursi sampingnya.

"Nggak jemput adikmu?"

"Dia pulang siang. Jadi aku bebas mau pulang kapan saja.”

"Nggak ada yang menunggumu di rumah? Maksudku ... Mas sudah punya istri?"

"Yang menungguku hanya ibu dan adikku," jawabku. "Kamu sendiri? Kenapa nggak langsung pulang? Atau barangkali tunggu yang menjemput?"

Ia menggeleng, lalu berkata, "di tempat kos nggak ada teman. Aku lebih suka menunggu di sini sampai jam tujuh malam sambil nonton televisi. Setelah jam tujuh, aku dijemput oleh sopir rumah pijat di dekat sini. Aku kerja di sana juga."

Dengan tercengang aku menatapnya. Tak sampai berapa lama, ia melanjutkan ucapannya.

"Aku memijat semalam hanya satu orang, itu pun kalau sudah dipesan sebelumnya. Aku tak kuat jika harus memijat lebih dari seorang. Tenagaku nggak cukup!"

Tak lama kemudian, hanya berselang beberapa menit usai tayangan drama televisi, ia bangkit meraih tongkatnya, lalu beranjak menuju pintu utama. Aku pun mengikutinya untuk pulang. Di luar sudah menunggu mobil bertuliskan nama sebuah rumah pijat.

Sebegitu kerasnya kah ia hidup sehingga harus banting tulang bekerja siang dan malam? Padahal ia hidup dalam keterbatasan fisik. Kurasa gaji yang ia dapatkan di perusahaan tempat kami bekerja, seharusnya cukup untuk menghidupi dirinya sendiri. 

***

Setelah memesan sehari sebelumnya, akhirnya aku mendapat nomor antrean kamar untuk dipijat. Sebetulnya tak ada masalah dengan tubuhku. Namun rasa penasaran membawaku ke tempat yang belum pernah kukujungi ini. Kurebahkan tubuh di tempat tidur setelah berganti pakaian dengan kimono batik yang telah disediakan.

Seorang gadis berseragam batik memasuki ruangan, lalu memasang sarung karet di tangannya. Kemudian ia mengambil semangkuk krim sambil bertanya.

"Apanya yang sakit?"

Aku gelagapan untuk mencari jawaban, sehingga mengatakan apa yang terlintas di otakku. "Punggungku."

Naura tampak tertegun. Sejenak ia terdiam sambil memejamkan matanya.

"Mas Revan ...?"

Sial! Ia menebak dengan benar.

"Kok tahu ini aku?"

"Meski baru beberapa hari kita kenal, aku sudah hafal suara dan baunya. Wangi rambut Mas Revan itu, lho!"

Jemarinya mulai bergerak di kaki dan punggungku. Aku mulai melancarkan modus untuk mengorek kisah hidupnya. Ia pun mulai bercerita tentang masa lalunya hingga seperti sekarang ini. 

"Sejak kecelakaan maut itu terjadi, aku bukan hanya kehilangan penglihatan. Tetapi kedua orang tua yang kucintai. Peristiwa tragis itu telah merenggut semua kebahagiaanku "

Dua tahun yang lalu, ia beserta kedua orangtuanya mengalami kecelakaan lalu lintas, sepulang dari luar kota. Cuaca yang buruk juga jalanan berkelok membuat ayahnya yang saat itu mengemudi, menjadi kesulitan mengendalikan mobilnya. Saat itu hujan deras disertai badai, sementara ayahnya sudah kelelahan. Ketika melewati tikungan tajam, sebuah truk yang berlari kencang muncul dari arah berlawanan. Ayahnya tak sempat menghindar. Tabrakan pun terjadi dan langsung menewaskan kedua orang tercintanya. Sedangkan ia mengalami cedera patah tulang serta pendarahan di belakang lensa matanya hingga mengganggu penglihatan. Sebenarnya ia tak harus mengalami kebutaan seandainya langsung melakukan operasi saat itu juga. Penglihatannya yang semula hanya kabur, lama kelamaan meremang, lalu gelap. Namun tindakan itu tak bisa langsung dilakukan karena terkendala biaya yang tak sedikit. Di samping itu ia masih bergelut dengan duka yang mendalam setelah kehilangan ayah-ibunya. Naura masih harus melewati masa-masa tersulit dalam hidupnya.

Aku tergetar mendengar tutur kisahnya. Kemudian aku bangun dan duduk untuk menghentikan pijatannya.

"Belum selesai!"

"Nggak usah diselesaikan. Aku mau mendengarkan ceritamu saja."

Setelah kubujuk, Naura melanjutkan kisahnya.

"Dulu aku bekerja di departemen yang sama denganmu. Namun kejadian itu membuatku tak bisa bekerja lagi. Untungnya, Pak Ben bos kita, berbaik hati tak sampai mengeluarkan aku. Malah ia menempatkanku sebagai operator telepon. Sejak itu aku sebatang kara. Rumah orang tuaku sudah dijual untuk biaya operasi kedua mataku, namun masih belum cukup. Karena aku harus melakukan pengobatan serta terapi patah tulang di rusuk dan lenganku. Makanya aku harus kerja keras mengumpulkan uang untuk biaya operasi mata. Kata dokter penglihatanku masih bisa diselamatkan. Aku tak punya siapa-siapa lagi. Tapi aku yakin bahwa aku bisa."

“Lalu, kenapa bisa berada di rumah pijat ini?”

“Instruktur terapiku kebetulan bekerja di sini juga. Ia menyarankan aku untuk belajar tehnik memijat darinya, hingga diterima bekerja di tempat ini.” 

Tak sadar, jemariku bergerak menyentuh jemarinya yang masih bersarung karet. Lalu sentuhanku semakin mengerat berubah menjadi genggaman. Naura segera menepis tanganku sambil berucap, "Mas nggak usah kasihani aku! Aku sudah terbiasa. Selama dua tahun aku hidup mengandalkan pikiran, pendengaran dan penciuman. Juga rasa!"

"Aku nggak mengasihani kamu, aku hanya kagum," bantahku setengah berbisik.

"Bolehkah aku memegang wajahmu, Mas? Biar aku bisa membayangkan rupamu."

Kutarik kedua telapak tangannya yang sudah tak terbungkus, lalu kubiarkan ia menyentuh mukaku. Jemarinya bergerak perlahan meraba-raba setiap lekuk di wajahku, seakan tak ingin ada yang tertinggal walaupun hanya satu senti.

"Mas Revan ganteng!" ujarnya sambil tersipu. "Tetapi ada bekas luka di pipi sebelah kanan. Seperti bekas cacar air atau jerawat. Betulkah dugaanku?" 

Pipinya tampak memerah ketika mengucapkannya. Ah, cantik sekali kamu, Ra!

"Kamu harus membuktikan dugaanmu suatu hari nanti!"

"Maksud Mas Revan?"

Aku tak menjawabnya lagi. Namun jemarinya kembali kugenggam erat untuk meyakinkan dirinya.

Sejak itu, setiap sore aku rajin menemani Naura sampai datang jemputannya. Tak kuhiraukan Pak Karman yang selalu menggoda, juga sindiran rekan-rekan kerjak. Hatiku pun tergerak untuk membantunya mengumpulkan uang. Sebagian gaji kutabung terpisah dengan tabungan pribadi. Kalau sampai saatnya tiba, aku akan berikan untuk mata Naura. Aku ingin menjadi setitik cahaya dalam gelapnya. Meski hanya setitik. Karena titik itu akan menyebarkan sinar yang mampu menerangi hati orang-orang di sekitarnya melalui binar matanya.

***

Di ruang rumah sakit serba putih, tampak terbaring seorang gadis yang matanya terbalut perban. Ia berusaha bangkit ketika mendengar pintu terbuka. Aku, ibu dan adikku, serta dokter mata yang membedah kedua bola matanya mendekati tempat ia terduduk. Dokter itu memberitahukan bahwa perbannya hari ini sudah boleh dibuka. Bibir gadis itu bergerak membentuk senyuman namun kemudian mengerut serta bergetar seakan menahan tangisan. Ia pasti terharu bercampur bahagia menantikan detik-detik yang akan mengubah dunianya kembali.

Perlahan dokter itu membuka perban dari kedua kelopak matanya. Sejenak, Naura hanya bergeming, kemudian mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya. Ia bilang bahwa ia belum bisa melihat dengan jelas, karena silau membuat matanya kesakitan, seperti tertusuk-tusuk. Namun tak lama kemudian, ia tampak berusaha menatap orang-orang di sekelilingnya dengan dahi berkerut.

"Maaf, kalian siapa? Kenapa nggak ada yang kukenal?" ujarnya sambil menatap kami dengan aneh.

Tanpa sepatah kata pun terucap, aku mencoba mendekatinya. Di luar dugaan, ia tersenyum menatapku, lama dan dalam.

"Mas Revan? Kamu pasti Mas Revan!" serunya.

Seketika aku ingin mengiakan, namun tiba-tiba muncul niat isengku untuk menggodanya. 

"Bukan! Aku Pak Karman!" candaku mempermainkan tebakan gadis itu.

"Nggak! Aku yakin ini Mas Revan. Bekas luka di pipi kanan itu yang kukenali."

Ambyar! Aku tak bisa berkutik lagi.

Kemudian ia menatap ibuku yang saat itu datang bersamaku juga adik. Mereka sengaja ingin datang menjenguk setelah kuceritakan semuanya. Ditatap seperti itu, Ibu mendekat dan berucap.

"Aku ibunya Revan. Setiap pulang kerja, Revan selalu bercerita tentangmu, Nak!"

Ibu memeluk Naura dengan haru, disambut Naura dengan senyuman bahagia.

"Ibu salut dan kagum padamu. Perjuangan hidupmu sudah membuat kami membuka mata. Selama ini kami hanya bisa meratapi nasib karena merasa sudah menjadi orang yang paling menderita setelah kepergian ayahnya Revan, sehingga tak mau menerima takdir-Nya. Kami tak pandai bersyukur bahwa Tuhan masih memberi kehidupan yang layak. Untunglah Revan bisa mengenalmu. Meskipun dalam kegelapan kamu bisa melihat dunia dengan terang. Sementara kami yang membuka mata, tak bisa melihat apa pun. Spiritmu yang memberi kekuatan kepada kami."

"Ibu ... bolehkah aku memanggilmu Ibu?" pinta Naura terbata-bata. Ibu mengangguk lalu kembali memeluknya.

"Mas Revan ... Makasih banyak sudah membantuku!" Matanya yang berkaca-kaca menatapku penuh arti.

"Kami yang seharusnya berterima kasih padamu. Kamu telah memberi arti hidup bagiku, juga orang-orang di sekelilingmu." Aku meraih tangannya untuk digenggam.

“Mas, bolehkah aku memohon satu permintaan?” pintanya tiba-tiba dengan muka memelas. Aku tak tega membiarkannya seperti itu.

“Apa permintaanmu, Ra? Semoga saja aku sanggup mengabulkannya.”

Naura sejenak membisu namun akhirnya menjawab pertanyaanku dengan tersipu-sipu. “Aku mau kamu bawakan dua bungkus kacang kulit.”

“Ya Tuhan! Kukira apa, Ra! Saat ini aku nggak bisa bawakan kamu kacang, karena nggak terpikir sedikit pun olehku. Tapi aku sudah bawakan buket bunga cantik untukmu.” Aku mendekati nakas, meraih buket bunga warna-warni yang terangkai indah, seperti bunga-bunga yang bermekaran di hatiku.

Naura menerima bunga itu dengan mata berbinar. Ia meletakkannya di dada lalu menciumnya.

“Aku bersyukur bahwa yang pertama kali kulihat di saat istimewa dan terpenting dalam hidupku ini, adalah hal terindah yang ada di depan mataku. Kalian dan bunga ini.”

Senyum di bibirnya kian merekah indah seperti kelopak mawar di pelukannya.

*****

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Tidak ada komentar
Rekomendasi dari Romantis
Rekomendasi