Disukai
0
Dilihat
1,811
Kamu Sudah Dicus
Slice of Life

Dulu, setiap jelang agenda imunisasi di sekolah, Santi selalu bahagia tralala. Semenjak kejadian setahun lalu agenda imunisasi di sekolah tak lagi sama di benaknya. Santi akan belajar jongkok lama di lantai dengan memakai timer di ponselnya, atau menarik-narik kain jarik ibunya yang diikat di tiang-tiang rumah sampai keringatnya mengucur deras dan tangannya tak lagi lelah. Terlalu banyak usaha latihan fisik yang dijalaninya sejak setahun lalu, karena Antok.

Ya, terlalu banyak kisah menyebalkan yang membuat Santi, sebagai bidan terlatih kecamatan terpaksa berlatih fisik dengan tujuan menjaga kewarasannya manakala harus bertugas imunisasi keliling ke sekolah-sekolah dasar yang ada di wilayah tugasnya. Tidak hanya kewarasannya sebagai petugas medis yang harus terjaga, kesabaran, keuletan dan juga keterampilan menghindari serangan amuk anak-anak harus benar-benar ekstra ditingkatkan. Alangkah sakit hatinya Santi jika ulah yang sama diterimanya lagi dan lagi. Bisa rontok kebanggaannya sebagai petugas medis.

Paling penting lagi adalah keterampilan memegang alat suntik harus dilatihnya lagi. Kali ini dia melatih kekuatan dekapannya. Dia meminjam tubuh keponakannya yang gemuk sekali dan memintanya meronta-ronta tanpa henti sembari tangannya memegang jarum. Latihan pertama, Santi gagal. Alat suntik tanpa jarum itu jatuh dari tangannya, dagunya terantuk kepala keponakanannya yang meronta. Latihan kedua dia lupa kalau sedang membawa alat suntik, saat memeluk keponakannya yang meronta-ronta alat suntiknya malah diselipkan di daun telinganya seperti menaruh balpoin. Itu berbahaya. Gagal. Kali ketiga dia berhasil memegangi keponakannya yang meronta lalu tangannya yang memegang alat suntik itu sigap menusukkan ke lengan tetapi Santi tertawa terbahak-bahak, alat suntiknya itu mengenai lengannya sendiri. Hingga akhirnya Santi menyerah, menganggap bahwa kejadian lalu tidak akan terulang. Antok mungkin sudah lulus.

Demi untuk membahagiakan dirinya sendiri Santi sampai rela membisikkan kata-kata bahagia bahwa dia akan berhasil menaklukkan imunisasi kali ini jika jadwalnya tiba. Ya, meskipun itu berarti dia menipu dirinya sendiri tetapi membujuk hati dengan kata-kata positif seringkali manjur menutupi kegundahan dan bisa menambah kepercayaan dirinya lebih besar lagi. Santi berdiri di cermin lalu mengatakan sekali lagi pada dirinya sendiri bahwa ; Dia bisa.

Sekali lagi dia mengatakan kata manis itu dengan lantang. Sinar matanya yang menyala, senyum yang terkembang di wajahnya, juga optimismenya terlihat membara. Namun, dia seketika kembali kuyu, pundaknya lungkrah, matanya menampakkan kesedihan. Dia teringat kejadian demi kejadian yang terulang manakala dia hendak menyuntik Antok sebagai program imunisasi kala itu.

Dia masih ingat. Waktu itu bertugas sebagai asisten Mantri Kepala Puskemas Santi bertugas memegangi anak-anak yang duduk untuk disuntik imunasi. Biasanya anak-anak itu akan meringis dan memegangi bagian alas kursi untuk mengurangi ketegangan. Atau memegang balik lengan Santi yang memegangi pundaknya lalu menutup mata untuk menghalangi pandangannya dari menatap jarum suntik. Mereka mungkin berlari-larian tetapi bisa ditangkap lalu duduk dengan tenang dan merasa baik-baik saja setelahnya.

Namun, hari itu naas baginya. Dia bertemu Antok. Bocah setinggi seratus senti dengan hidung agak pesek dan telinganya memiliki sedikit lekuk hingga mirip telinga kaum Elf di fim Lord of The Ring itu sejak masuk ruang guru untuk disuntik sudah menunjukkan banyak drama. Dua orang guru memegangi tangannya, masing-masing satu dan setengah mengangkatnya ke angkasa, Antok seperti melayang di udara, kakinya menendang-nendang.

"Loh, lihat. Dokternya cantik dan ganteng. Tidak usah takut," ucap gurunya yang memakai baju batik kala itu. Antok berhenti meraung lalu melihat kami berdua.

"Botak gitu kok, ganteng." Antok mengatakan dengan jelas dan fasih membuat Pak Kepala Puskesmas berubah wajahnya. Menahan geram, wajah ramah Pak Mantri tetap ditampakkan, kemudian dipanggillah Antok mendekat.

Merasa Antok sudah tenang, maka pak Guru melepaskan pegangannya. Ternyata berubah menjadi petaka, Antok berlari hendak kabur sambil mengelilingi meja guru. Mau tidak mau kami berdua ikut mengejar bahkan menghadangnya di lain sisi. Antok berhasil ditangkap Pak Guru mendekatkannya lagi kepada kami. Tepat saat jarum suntik hendak ditusukkan ke lengannya, dia meronta, berdiri dengan tiba-tiba lalu menyingkirkan tanganku yang memeganginya. Dia meronta dari tangkapan kami dengan kuat lalu menarik baju seragamku bagian depan. Suara kancing copot dan baju setengah sobek membuat kami semua terdiam di sana. Aku melihat seragam dinasku koyak, sementara Antok kabur. Untunglah aku memakai kaos lagi di balik seragam sehingga tidak terekspos tubuhku tetapi wajahku memerah karena malu luar biasa. Dia selamat dari suntikan dan aku menahan malu serta geram.

Tiga bulan berikutanya Santi kembali ke sana. Sekolah yang sama. Santi lega karena setelah dijelaskan anak-anak yang akan diimunisasi adalah anak kelas satu. Artinya, tidak bakal ada Antok tetapi setelah tiba di sekolah kepala Puskesmas menghubunginya dan meminta semua kelas disuntik tanpa terkecuali. Program kali itu adalah suntik tetanus. Menghindari sejak dini tetanus pada anak. Santi yang sudah duduk tenang berubah kacau di dalam hatinya. Sekolah yang sama, kelas yang akan dimasukinya juga sama juga berarti bakal ada Antok juga. Insiden dulu kala masih terbayang di memorinya. Santi sudah gelisah.

Benar saja. Saat Antok akhirnya dibawa paksa ke dalam kelas dia berpegangan dengan erat di ambang pintu. Karena pintu terbuka dia memegangi daun pintu itu dengan erat. Dua guru yang menariknya tidak sanggup menariknya kembali dan Antok masih tetap berjaya dengan pertahannya. Akhirnya Santi mau tidak mau harus turun tangan, dia dan kawan perawatnya menarik Antok bergantian tetapi saat akhirnya tangan Santi pegal dia hendak melepaskan Antok saja, nyatanya si Antok malah sudah melepaskan tangannya duluan, dia dan bidan Santi terlempar ke arah belakang. Bidan Santi jatuh dengan posisi kejengkang, sedangkan Antok seperti tertelungkup di lantai. Antok tidak merasa kesakitan, dia bangun lalu secepat kilat kabur. Santi yang sebal kembali merasa malu, dia gagal menyuntik anak itu dan sekarang tubuhnya pegal-pegal. Kakinya juga sempat kram, sehari semalam Santu tidak bisa tidur, sumpek hatinya, dia mulai marah : Tunggu saja pembalasan.

Lama akhirnya Santi tidak lagi mendapat giliran mengimunisasi sekolah di mana Antok bersekolah di sana. 

Namun, dia mendengar kisah yang sama dari bidan dan mantri lainnya tentang sosok yang suka meronta, menendang dan memegangi apa saja agar dia selamat dari suntikan. Santi menduga itu Antok, wajahnya sekarang bukan satu-satunya yang menahan malu karena gagal menyuntik anak itu. Hanya saja, karena Antok membuat kapok banyak bidan akhirnya sekolah itu jarang didatangi imunisasi keliling lagi. Keinginan tinggi dari kepala sekolah akhirnya meluluhkan hati kepala puskesmas. Kali itu Santi kembali ditugaskan ke sana. Tak berdaya untuk menolak, akhirnya Santi melaksanakan tugas itu.

Semula semua berlangsung baik-baik dan normal sampai akhirnya Antok datang lagi, tiba gilirannya diimunisasi.

Entah apa doa-doa yang dibacakan para guru, atau mantra apa yang dirapalkan, Antok tampak menurut dan duduk dengan patuh. Ketika Santi memegang tangannya pun dia tetap diam meskipun matanya menyiratkan kekuatiran dan kekalutan, juga ketakutan. Santi berusaha tenang karena dia menampakkan hal yang sama. Begitu Bu Bidan hendak menancapkan jarum itu setelah mengisi dengan obat tetanus, jarum di tangan Santi mendadak terlempar, tendangan kaki Antok yang keras mengenai perutnya, sampai Santi terjatuh dari kursi dan Antok melarikan diri. Santi tidak tahu di mana jarum suntik itu mendarat, wajahnya sudah kesal setengah mati dan kesakitan, dia langsung keluar dari sekolahan lalu melajukan sepedanya dengan kencang sambil berteriak meneriakkan kekesalannya sepanjang jalan, sepanjang sejarah hidupnya itu baru pertama kali.

Sejak saat itu Santi dendam kepadanya. Alih-alih menghindari seperti dulu, sekarang jadwal untuk mengimunisasi sekolahnya sangat dinanti, meskipun dalam hati Santi berharap Antok sudah lulus saja. Rasanya kurang greget kalau Santi memiliki musuh bebuyutan seorang anak-anak, tetapi akan ada kepuasan tersendiri jika bisa menyuntiknya biar dia tahu bahwa tidak sesakit itu. Sampai-sampai ketakutannya membuatnya jadi beringas dan anarkis. Itu saja niat Bidan Santi.

Sebab di atas membuat Santi sabar menunggu giliran kapan jadwal turun imunisasi lapangan di sekolah Antok. Sambil menunggu itulah dia melatih ilmu kanuragannya dalam hal menghindari serangan Antok yang tiba-tiba. Tidak sabar rasa hatinya bisa berjumpa musuh lamanya. 

"Tunggu saja giliranmu, Antok!"

____

Akhirnya hari itu tiba-tiba. Saat laut pasang sore hari sudah banyak berganti menjadi pasang malam hari, saat musim kemarau berubah hujan lagi dan saat musim nikah di mana para pasangan rajin suntik TT dan lainnya sebagai syarat itu kian mengingatkan Bidan Santi kepada Antok. Dan, hari itu benar-benar datang. Kepala puskesmas yang sudah berganti Bu Bidan Aminah itu memanggilnya di ruang kepala. Suaranya yang kalem, khas ibu-ibu penyabar menjelaskan sebuah proposal program dari pusat untuk menjaga mewabahnya flu baru di mana tidak sekedar flu badan juga disertai gejala linu dan kaku. Katanya sih, flu ini dari negeri asing di luar Indonesia sana. Santi mengangguk dan mengambil proposal itu lalu membacanya dan melihat di mana lokasi yang akan didatangi.

"SDN Artomoro, Bu?" tanya Santi.

"Iya. Kamu sudah sering ke sana jadi kupikir kamu saja yang handle." Perintah Bu Aminah adalah titah. Santi mematuhinya sebagai perintah dari atasan yang memang sesuai dengan program kerja yang ada dan sudah sesuai rancangan prokes atau program kesehatan yang sudah dicanangkan oleh Puskesmas.

"Kapan, Bu?" tanya Santi.

"Lusa."

Hati Santi girang bukan kepalang. Bayangan Antok menari-nari di ingatannya.

Hari itu datang. Pagi sebelum Santi berangkat bersama empat bidan dan dua perawat lainnya dia mempraktekkan hasil olah fisiknya yang sebelumnya sudah dilatih sedemikian rupa itu. Dia memegang alat suntik dengan gesit lantas bergerak ala pesilat Cina yang memainkan pedang. Sat set wat wet. Wajah Santi menyeringai menampilkan gigi-giginya yang rapi lalu dia mengerling ke arah kaca. "Gotcha," pekiknya.

Jika melihat wajah sangar Bidan Santi hari itu mestinya Antok akan lari tunggang langgang bukan karena takut jarum suntik melainkan benar-benar takut kepada yang memegangi alat suntik itu. Kasihan Antok. Semoga mereka tidak dipertemukan atau jika memang bertemu semoga bisa akur dan disuntik dengan baik-baik saja.

Setelah tiba di sekolah Antok dan berbasa-basi dengan pihak komite sekolah juga guru-guru di sana, akhirnya proses penyuntikan pun berlangsung. Satu persatu murid dipanggil, dua yang menahan tangisnya selebihnya berteriak atau berpegangan pada pintu lalu digendong masuk dan terpaksa berhasil dengan banyak bantuan yang memegangi anak tadi. Belum lagi yang sudah kabur duluan dijemput orang tua dengan alasan sakit meskipun bisa dihitung dengan jari tetapi itu jumlah yang sangat banyak.

Namun, hingga kelas paling tinggi dipanggil dan bahkan sudah selesai dosis yang disediakan puskesmas wajah dan sosok Antok belum kelihatan. Bidan Santi sudah geram tetapi tetap harus pura-pura cool. Dia tidak bisa kalau menunggu lagi dan lagi sementara nama anak-anak dalam absensi hampir semuanya sudah diabsen olehnya. Hingga dia melihat satu baris nama di atas yang terlewat olehnya. Tiga kalimat panjang yang mewakili nama Antok di sana. 

"Pasti ini dia. Namanya saja misterius. Gilang Handoko Setyo." Santi mengejanya.

"Antok, Handoko, diambil darimana ya?" Dia sibuk sendiri. Lalu dia memanggil satu orang yang selama ini menjaga di sekolah.

Setelah lama bertanya ini dan itu akhirnya Santi tahu kalau dia sudah tidak lagi bersekolah. Antok sudah lama tidak datang ke sekolah, terlebih setelah insiden dengan Santi yang membuatnya merasa menyesal sebagai seorang anak itu semakin banyak orang menganggapnya sebagai anak nakal.

"Semenjak menendang perut bidan dulu, dia sering dimarahi banyak orang. Kawannya juga jadi malas menemaninya, beberapa orang tua sinis kepadanya." Kepala sekolah menerangkan. 

"Kasihan, bocah kelas akhir itu." Sekarang Antok sudah kelas enam, seharusnya dia memanfaatkan waktunya buat belajar, malah jatuh sakit.

"Apakah Bu Santi dendam dan marah padanya?"

Santi menggerakkan tangannya dengan cepat beberapa kali sebagai bagian penjelasan kalau dia tidak marah dan dendam kepada Antok. Meskipun itu berbeda dengan isi hatinya tetapi dia harus mengatakan itu kepada kepala sekolah.

Hati Santi berkecamuk, dia gagal mengalahkan Antok karena anak itu dipastikan sudah di ambang pintu putus sekolah. Ada rasa sedih juga sesal di hatinya, seharusnya niatnya datang bukan karena itu.

Namun, saat Santi dan tim hendak pamit, Bu Kepala sekolah menggamit tangannya sebentar dan membisikkan sesuatu. Mata Santi membelalak karena terkejut. Dia berjanji kepada Kepala Sekolah akan menemaninya ke rumah Antok sore hari nanti setelah tugasnya di puskesmas selesai.

___

Santi menepati janjinya untuk datang ke rumah Antok bersama Kepala Sekolah. Namanya Bu Maimunatun, memiliki empat anak dan tujuh cucu. Ketetapan sebagai pegawai negeri yang hanya ditanggung pendidikan dua anaknya saja tidak menyurutkan niatnya memiliki banyak anak. Sepanjang perjalanan bersama Santi itulah dia menceritakan niatnya itu.

"Toh, anak sudah menyimpan rejekinya masing-masing, Mbak Bidan," ucapnya. Santi mengangguk lalu menyepakati ucapan Bu Maimunatun.

Selain berbicara tentang kehidupan PNS yang sekelumit itu dan dibenarkan oleh Santi secara dia juga sama hanya berbeda dari bidang pekerjaan saja, Bu Maimunatun juga membuka cerita tentang apa yang dibisikkannya di telinga Santi tadi pagi.

"Kasihan Antok, Bu. Kalau Anda melihatnya nanti pasti tidak tega," ucapnya membuka cerita. Santi mendengar dengan seksama sambil mencoba menganalisis apa sakitnya Antok.

"Dua keluarganya mati berdekatan waktunya." Bu Maimunatun menceritakan dengan agak sedikit ngeri.

"Antok juga akhirnya kena penyakit yang sama. Kata tetangga sekitarnya sih, begitu, Bu Santi. Makanya saya mengajak Anda untuk memeriksa."

Santi mengangguk-angguk saja sampai akhirnya mereka sampai ke tempat tujuan. Rumah besar dengan gaya lawas dengan pintu besar menjulang dengan cat putih di sekeliling rumah itu membuat Santi seperti memasuki bangunan museum ala negeri Belanda. Sementara bagian belakangnya kontras dengan bagian depan, dindingnya hanya terbuat dari triplek dan papan kayu yang mulai lapuk sana-sini.

"Dulu, mereka kaya, Bu?" tanya Santi kepada Ibu Maimunah.

"Mbahnya. Tapi kedua orang tua Antok ini enggak, Bu Bidan. Keluarga pra sejahtera."

Santi mengangguk sambil mengetuk pintu besar itu. Dia membayangkan anak setinggi seratus senti dengan daun telinga agak berlekuk mirip kaum elf dalam Lord of The Ring itu membukakan pintu untuk dirinya dan Bu Maimunatun.

Namun, itu tidaklah mungkin. Bu Maimunatun bilang kalau anak itu terbaring sakit. Ketidaksabaran Santi membuat Bu Maimunatun segera menjawab.

"Sabar, Bu Bidan. Dia tinggal dengan tetangga yang sudah sangat tua."

Hati Santi terenyuh dan malu. Dia tidak tahu apa penyebab ketidaksabarannya. Entah karena ingin segera bertemu Antok, atau yang lainnya. Menahan dirinya yang sedang berapi-api itu, Santi langsung mengambil napas dalam. Tiga kali mengambil napas panjang lalu mengembuskannya, akhirnya Santi bisa lebih tenang.

"Maaf, Bu Maimunatun. Saya tidak sabaran." Bu Kepala Sekolah memaklumi.

Tepat saat itulah suara sandal bergesekan dengan lantai terdengar hingga luar, seperti suara orang tua yang lelah berjalan. Lalu, pintu terbuka setelah suara kunci diputar dari dalam.

"Selamat malam, Mbah," sapa Bu Maimunatun. Sosok pria berkaos oblong putih sobek di dekat lehernya itu memandangi kami dari atas sampai bawah.

"Kami gurunya Antok, Mbah. Boleh masuk?" Bu Maimunatun mengatakan kami guru. Sepertinya agar mereka tidak tegang.

"Ya, masuk saja." Bu Maimunatun dan Santi duduk dengan gelisah setelah dipersilahkan masuk dan duduk oleh lelaki tua itu.

"Maaf ada apa?" Belum selesai Santi menyelami rumah dingin tanpa ornamen hangat yang baru dilihatnya itu, lelaki tua tadi mengganggu dengan pertanyaan.

"Mau melihat Nak Antok. Mbah Wo. Kami para gurunya kangen." Bu Maimunatun begitu luwes dan kalem menanyakan apakah niat mereka melihat Antok akan dikabulkan.

"Tambah parah. Boleh liha. Bawa ke rumah sakit. Jangan sampai aku disalahkan."

Secepat kilat Santi langsung masuk ke dalam tanpa permisi. Dia berhenti karena bingung memilih kamar sebelah kiri atau kanannya. Dia menengok ke arah Mbah Wo tadi dan menerima isyarat kalau kamarnya di sebelah kiri. Begitu Santi melihat keadaan Antok di kamar itu, tangisnya pecah. Dia mendekat dan memeriksa nadi Antok yang tertutup matanya itu. Tubuhnya kian kurus, daun telinganya jadi terlihat makin besar dan panjang karena sebab kurus tubuh Antok.

"Ini serius. Harus dibawa ke rumah sakit." Bu Bidan memberi pertimbangan dengan nada paksaan.

"Asal ada yang biayai, Bu. Kami hanya merawat karena kasihan dia sendirian."

Santi mengangguk. Tangannya menyentuh ponsel dan mencari nomor ambulance puskesmas.

___

Santi melihat Antok menggeliat, matanya melek sebentar untuk melihat siapa yang datang. Ingatan atas Santi rupanya masih ada, dia tersenyum sebagai bukti, lalu tangannya lunglai ketika hendak diangkat untuk bersalaman. Santi meraih tangan itu lalu tersenyum. Dia membayangkan anak setinggi seratus senti dengan daun telinga agak berlekuk mirip kaum elf dalam Lord of The Ring itu bakal menendangnya lagi saat akan disuntik tadi pagi tetapi ternyata dia ditimpa nasib yang tidak beruntung.

Antok hendak berkata tapi lemah, Santi kemudian memintanya menyimpan tenaga dengan tidur. Sembari dia menunggu ambulance datang, tidak ingin membuat Antok cemas dan bimbang apalagi sampai ketakutan karena bakal disuntik lagi.

Kali ini keadaannya sangat serius. Jarum harus ditusukkan di lengannya untuk memasukkan cairan infus karena menurutnya sebagai tenaga medis itu adalah pertolongan pertama untuk Antok. Anak itu dalam keadaan lemah, ini kesempatannya disuntik tanpa berubah menjadi beringas. Membayangkan hal itu saja bisa membuat Santi bahagia. Dia mengelus rambut Antok dan menenangkan hati anak kecil yang nelangsa itu.

Melihat kondisi riil Antok, Santi jadi berspekulasi. Kemungkinan Antok takut disuntik adalah karena dia merasa pengobatan terlalu mahal untuk keluarga mereka sehingga takut akan dipungut bayaran. Bisa jadi, memang trauma karena selama ini selalu dipaksa suntik tanpa diedukasi dulu apa gunanya dan bagaimana sebenarnya rasa suntikan itu. Kemungkinan ketiga, memang Antok takut jarum. Fobia yang sesungguhnya dimana hanya sang pemilik ketakutanlah yang bisa membuangnya.

Namun, lebih dari itu semua bukan karena sebab takut kepada Santilah Antok menolak disuntik. Itu cukup membuat Santi lega. Dia juga merelakan dendamnya menguap, anak lelaki yang memiliki daun telinga mirip Elf dalam Lord of The Ring itu tidak layak dibenci lama-lama. Tendangannya, teriakannya serta penolakannya saat hendak disuntik dulu memang menjadi sikap lumrahnya anak-anak seusia mereka yang tantrum karena melihat jarum. Membayangkan kulit ditusuk jarum jelas sakit, hanya mereka yang bisa berpura-pura baik-baik sajalah yang bisa menahannya. Toh, semua akan disuntik pada waktunya.

___

Antok sudah masuk dalam ambulance, tangannya masih belum ditusuk jarum suntik untuk cairan infus. Bersama Bu Maimunatun, Santi duduk di dalam ambulance dan memilih diam sibuk dengan pikirannya sendiri.

Keluarga Antok terkonfirmasi menderita flu sebelum meninggal tetapi belum jelas flu jenis apa yang menyerang mereka. Antok juga terindikasi sama karena itu banyak warga takut mendekati, mereka tidak ingin mengalami nasib sama seperti Antok dan kedua orang tuanya.

Seadanya Antok bertahan, sebisanya dia melawan tetapi akhirnya tetap tumbang.

Di dalam ruang IGD Antok tidak berdaya, jarum sudah mengenai kulitnya, pembuluh darahnya yang pecah setiap kali disuntik membuat petugas medis berkeringat. Sengaja langsung kuarahkan ke rumah sakit besar agar Antok bisa lebih cepat tertangani mengingat perlengkapan di puskesmas belum komplit layaknya rumah sakit besar.

Namun, Antok menyerah hari berikutnya. Dia seperti memberikan pesan kepada Santi kalau dirinya sudah merasakan rasanya disuntik dan itu tidak sakit. Ketakutanlah yang membuat tubuhnya menolak. Pikiran itu menjadi belenggu antara Santi, jarum dan dirinya.

Kini, Antok, anak lelaki dengan daun telinga mirip kaum Elf dalam Lord of The Ring itu sudah pergi. Ketakutannya mungkin sudah pula hilang.

___

Berjalan lemah dari pemakaman jantung Santi berdegup dengan kencang. Pihak puskesmas memintanya memeriksakan kesehatan di rumah sakit yang sudah dirujuk. Hari itu Santi merasakan kulitnya ditusuk jarum setelah sekian lama tidak merasakannya lagi. Entah karena apa dia berteriak dengan nyalang.

“Argh! Sakit.”

Dia merasa sakit karena tidak dipercayai, kalau dia benar-benar baik-baik saja.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Tidak ada komentar
Rekomendasi dari Slice of Life
Rekomendasi