Mata Mitha tidak minus, apalagi buta, jadi dia bisa memastikan bahwa sekian meter di depannya, dalam lalu-lalang ramainya orang di pusat perbelanjaan ini, cowok yang tengah bersama gadis berambut keriting spiral itu adalah Edgar!
Mitha tertegun.
Persendiannya kaku seketika. Rasanya ia tak bisa bergerak. Tegak bagai patung!
Mesra sekali! Tawa itu, tatapan itu, bahkan atmosfer yang mengelilingi mereka mewujudkan untaian yang membuat dadanya perih tiba-tiba….
“Hei!”
Sebuah tepukan mantap mendarat di bahunya. Mengejutkan. Mitha tersentak. Menolehkan kepalanya ke belakang. Memaksakan diri untuk membentuk lengkung ke atas di bibirnya kemudian, ketika mengetahui siapa itu.
“Al!?”
Cowok itu cengengesan. Gayanya begitu santai dengan kedua tangan berada dalam saku celana jeansnya. Tubuh tegapnya kini menjulang di depannya.
“Hello, Mith!” sapanya. “Bagaimana kabarmu?” Diulurkannya tangan dengan sikap serius. “Sendiri?”
Sendirian? Mitha mengalihkan fokus dari wajah di depannya. Sudah tidak ada, batinnya. Bayangan Edgar dan si Keriting Spiral itu sudah lenyap. Ke mana mereka?
“Mith?|”
Eh? Lagi-lagi Mitha tersentak. Buru-buru dia mengangguk.
“Ya. Kamu sendiri?”
Cowok itu menatapnya lama, seperti menyelidik. Membuat Mitha merasa jengah.
“Temani aku minum ice cream, yuk?” ajaknya tiba-tiba, seraya menarik lengan Mitha. Tanpa permisi direnggutnya kantong plastik berlogo salah satu departemen store dari tangan gadis itu.
“Aku yang bawa,” katanya. Dan dengan satu tangannya yang bebas, dia mendorong Mitha ke sebuah cafe.
“Kamu seperti baru melihat hantu, Mith,” ucapnya kemudian, lebih mirip sebuah komentar, saat mereka sudah menghadapi ice cream pilihan masing-masing.
Mitha terdiam. Menunduk memperhatikan Banana Split-nya.
“Mith, ada apa?”
Mitha mengangkat wajahnya. Menggeleng dengan senyum samar yang dipaksakan. Itu pun hanya sekilas.
“Apa aku kayak hantu ya, Mith?” Cowok itu memainkan jari telunjuknya, memutarnya mengelilingi wajahnya sendiri yang dipasang begitu kocak.
Mau tak mau Mitha jadi tertawa kecil. Mana mungkin? Wajah setampan ini??
Cowok di depannya menarik napas lega. Dia mengedipkan mata jenaka.
“Aku senang kamu sudah bisa tertawa,” ujarnya, penuh nada puas.
Kemudian dia nyerocos, menceritakan seribut satu hal pada Mitha. Membiarkan gadis itu jadi pendengar setianya.
Mendadak dia berhenti bicara, seperti tiba-tiba ia teringat akan sesuatu. Ditatapnya Mitha lekat-lekat.
“Oh, ya, Mith, gimana kabar Edgar-mu?”
Mitha tersekat.
“Gimana apanya?” Gadis itu balik bertanya.
“Kalian masih baik-baik aja, kan?”
“Ya, tentu saja!” jawab Mitha mantap. Untuk lebih meyakinkannya, gadis itu sampai merasa perlu menganggukkan kepala kuat-kuat.
Benarkah, Mith? tanya sisi hatinya gundah. Lalu tadi itu apa? Tanpa dapat dicegah, bayangan Edgar dan gadis yang dilihatnya tadi, menari di ruang matanya.
Pasti bukan apa-apa! Mitha menggelengkan kepalanya, mengusir pikiran buruk yang menghinggapi benaknya.
Meski sudah berusaha meyakinkan dirinya sendiri sungguh-sungguh, Mitha masih saja merasa kesulitan untuk menentramkan hatinya.
“Kamu kan tau, aku paling gak suka gosip,” bisik Rika, salah satu teman sekelasnya, seakan takut didengar yang lain. “Tapi ini benar, kemarin aku ngeliat Edgar dengan cewek lain. Sumpah! Mesra banget deh, Mith!”
Seperti itu belum cukup untuk membuatnya resah dan sedih, saat istirahat Sandra menariknya ke bangku taman.
“Awalnya kukira itu kamu dengan model rambut baru. Tapi lalu kuingat, kamu sama sekali gak suka model rambut seperti itu,” tuturnya. Tanpa menyadari kalau wajah Mitha pias sedetik, tapi detik berikutnya Mitha sudah mampu merubah air mukanya hingga terlihat biasa-biasa saja.
“Aku tau,” sahut Mitha sambil tersenyum. Begitu tenang. “Itu sodara sepupunya.”
Sandra ternganga.
“Eh? Sungguh??” tanyanya tak yakin. Mitha mengangguk. Sandra menarik napas lega. “Syukurlah. Aku hampir tak bisa mencegah Alvin untuk gak mendekati mereka. Kamu tau kan gimana Alvin? Bisa-bisa dia meninju Edgar-mu.”
Mitha tercengang. Lalu mencoba tersenyum. Digenggamnya tangan Sandra.
“Terima kasih sudah mikirin aku. Tapi please, gak usah kuatir ya? Bilang Alvin, itu bukan apa-apa.”
Sandra mengangguk. “OK.”
*
Walau meminta orang lain untuk tak cemas, Mitha menyadari sebenarnya dialah yang lebih kuatir daripada siapa pun! Sebab ia tahu, sejak menerima cinta Edgar, tak satu kali pun cowok itu mencoba melirik gadis lain.
Dan baru kali ini, pikir Mitha pedih. Atau memang baru kali inilah aku bisa memergokinya??
Karena terus dihantui keraguan, Mitha tak tahan lagi! Dan hal itulah yang pertama diajukannya ketika mereka bertemu.
“Sungguh, Mith! Dia Cuma teman!”
“Aku kenal semua temanmu, Edgar.”
“Dia teman lamaku. Aku sendiri gak nyangka bisa ketemu dia lagi.” Edgar menatap gadisnya dengan kening berkerut. “Heran, kamu kok sekarang jadi cemburuan banget sih, Mith.”
“Itu karena aku tak mengenalnya. Aku....”
“Aku ngerti. Percayalah, Mith!” Edgar tersenyum menenangkan. “Lain kali aku kenalkan deh!”
Dan sungguh, dia merasa begitu surprise ketika Edgar benar-benar melaksanakan janjinya itu, padahal Mitha sendiri tak menganggap serius dan hampir melupakannya. Membawa seorang gadis jelita ke hadapannya. Si Keriting Spiral!!
“Ini Anna,” katanya memperkenalkan mereka. “Anna, ini gadis yang pernah kuceritakan itu. Mitha.”
“Oh!” Mitha sedikit kaget. “Kuharap yang baik-baik saja yang diceritakan Edgar padamu.” Mitha melirik Edgar yang menyeringai dengan sikap santai menanggapi ucapannya.
Mitha menjabat tangan Anna hangat.
Anna tertawa halus.
“Tenang saja,” sahutnya. “Kalau mendengar ceritanya, siapa pun akan yakin kalo satu-satunya cewek di dunia ini cuma kamu.”
Wajah Mitha langsung memerah.
Bagaimana aku tak semakin mempercayainya? pikirnya. Alangkah manisnya, bersusah payah menghadirkan gadis ini ke depanku demi menepati janji. Betapa aku semakin mencintainya dan tak ingin kehilangannya....
*
Sebuah suitan nakal menyentakkan Mitha. Gadis itu mengangkat kepala, mencari asal suara. Di halaman sebelah, yang dipisahkan oleh tembok yang tak terlalu tinggi, sebuah cengiran lebar menyambutnya.
“Tumben... nganggur nih, Mith?”
Alvin menyeberangi tembok dengan cekatan. Sebentar saja cowok itu sudah berada di halaman rumah Mitha.
Dia menghampiri gadis itu di teras.
“Jangan pura-pura baca,” tegurnya, seraya mengambil majalah dari tangan Mitha. Dia mengacungkan majalah tersebut. “Aku tahu sebenarnya pikiranmu tidak berada di sini, kan?” Dia mengeryit memperhatikan Mitha. “Kok belum dandan?”
“Usil, ah!” Mitha merebut majalah dari tangan cowok itu. “Kamu sendiri ngapain di sini? Biasanya udah ngabur ke rumah Sandra. Sudah sana, siap-siap! Ntar tuh anak ngambek, bisa berabe deh lo!”
Alvin terkekeh. Dijatuhkannya tubuh pada kursi di sebelah Mitha.
“Aku juga lagi nganggur nih, Mith. Sandra ke tempat neneknya,” jelas Alvin. Dia berpaling pada Mitha. “Eh, ngomong-ngomong, Edgar ke mana, sih?”
“Nggak bisa datang. Ada acara dengan keluarganya.”
“Yakin?” ganggu Alvin. “Bukannya jalan sama cewek lain?”
“Alvin!” pelotot Mitha. “Seenaknya!”
Cowok itu meringis. Mengedipkan mata bandel, menggoda Mitha.
“Sungguh lho Mith, siapa tau aja dengan cewek cantik keriting itu,” ledeknya.
Mitha memukulnya dengan majalah, penuh sikap gemas.
“Berhenti gak menggangguku! Awas, nanti kuadukan pada Bibi dan Sandra, baru tau rasa!”
Alvin mengelak pukulan gadis itu sambil tertawa. Mendadak... ia berhenti. Menatap Mitha serius.
“Aku gak percaya itu saudaranya, seperti yang kamu katakan pada Sandra. Iya, kan?”
Mitha menunduk. Mempermainkan jemarinya.
“Mith?”
Mitha mengangkat kepalanya. “Gadis itu teman lamanya,” katanya membuka suara. “Edgar sudah memperkenalkan kami kok.” Mitha tersenyum. “Jadi gak ada alasan untuk mencurigainya, kan?”
*
Memang tak ada alasan untuk mencurigainya. Anna pun tahu hubungan mereka seperti apa. Tapi, yang Mitha tak mengerti, mengapa Edgar kini lebih suka menghabiskan waktunya dengan gadis itu, ketimbang dengannya?
Hingga sering membiarkan Mitha sendirian dalam sepi, membuat Alvin dan Sandra yang merasa kasihan jadi kerap melibatkan gadis itu dalam acara mereka. Meskipun Mitha lebih banyak menolak ajakan itu.
Pada awalnya, Mitha tak ingin berpikir ke arah sana. Dia sangat mempercayai cowok terkasih itu. Tapi... telah begitu sering dan banyak yang melihat mereka, pikir Mitha. Masihkah itu Cuma sekadar berjumpa teman lama? Sampai harus mengabaikan aku??
Meski begitu dia memilih tetap berdiam diri. Pilihan yang membuat Alvin mencak-mencak. Sepupu jauhnya itu ingin ia mengambil sikap. Tapi sikap apa?
Dia tak ingin memicu pertengkaran. Sebab ujung pertengkaran Cuma dua. Dan yang terburuk adalah perpecahan. Dia belum sanggup kehilangan Edgar.
Belum? Mitha tertegun. Buru-buru diralatnya dalam hati. Aku tak kan pernah mau untuk kehilangan dia. Tidak untuk sekarang dan selamanya!
Yang kemudian malah dilakukannya ialah lebih memupuk rasa pengertiannya. Menunggu Edgar menjelaskan sendiri.
“Dia baru putus dengan Sam. Sangat berat baginya menghadapi ini sendirian. Dia membutuhkan dukungan, karena sebenarnya Anna itu sangat rapuh.”
“Haruskah kamu yang melakukan itu semua, Edgar?”
“Selama ini hanya aku dan Sam yang mengerti dan memahaminya. Dan karena Sam sudah gak mungkin lagi, lagipula ini toh disebabkan olehnya. Jadi... yah....” Edgar mengendikkan bahu. Menatap gadisnya serius. “Mitha, kamu mengerti, kan?”
Mitha terdiam.
Edgar menyentuh sekilas pipi gadis itu dengan tangannya.
“Ah, ayolah, jangan memasang tampang seperti itu,” bujuknya.
“Kamu menyukainya kan, Edgar?”
“Mith.” Edgar menggeleng-gelengkan kepalanya. “Yang bener aja....”
“Seriuslah, Edgar?”
Edgar tersenyum. Menjentik hidung gadis itu gemas. “Hanya kamu satu-satunya cewekku,” ungkapnya lembut. Dia mengedipkan mata, menggoda. “Puas, Baby?”
*
Mitha tidak tahu, apakah karena rayuan Edgar yang maut, dia yang terlalu mencintai cowok itu, atau karena dia terlalu bodoh, hingga dia menelan mentah-mentah semua yang dikatakan cowok itu. Termasuk berjuta alasan yang kini sering jadi tameng cowok itu atas ketidakhadiran dan beragam pembatalan janji yang sudah disusun jauh-jauh hari sebelumnya.
Untuk hal ini, Alvin sampai geleng-geleng kepala. Mengherani kesabaran yang dimiliki gadis itu.
Bicara tentang Alvin, cowok satu itu sekarang makin ‘menambah jam terbangnya’ untuk nongkrong di rumah Mitha.
Alasan pertama yang dipakainya adalah main catur dengan ayah Mitha, yang notabene masih terhitung pamannya sendiri. Tapi toh lama-lama, buntut-buntutnya, malah menghabiskan waktu dengan Mitha. Ngajak jalan, belajar dan mengerjakan pe-er bareng atau Cuma ngobrol ngalor-ngidul. Kadang malah mereka suka ribut berdua di depan tv atau ‘membantu’ Mama Mitha menghabiskan isi kulkas dan kue yang baru saja diangkat dari oven.
Untuk semua itu, Mitha bersyukur dan berterima kasih pada makhluk bandel itu. Karena kehadirannya dia jadi tak perlu gigit jari sendirian. Alvin juga yang selama ini jadi tumpahan keluh-kesah gadis itu soal Edgar.
Mengenai Edgar, Mitha menyadari setiap orang memiliki kesabaran yang terbatas. Dan mungkin sekarang dia sudah sampai batas itu. Sebab Mitha sudah tak bisa mentolerir lagi alasan apa pun yang pasti akan disodorkan Edgar atas ketidakhadirannya pada ulang tahun gadis itu.
Atas inisiatif Alvin, mereka tetap melanjutkan kencan ganda yang dibuat untuk merayakan ultah Mitha yang ke-17, walaupun kehilangan satu pesertanya yang tak datang tanpa pemberitahuan satu pun.
Sepanjang waktu, Alvin menghiburnya dengan cerita-cerita konyol yang tak hanya emmbuat Sandra tertawa, tapi juga memaksa Mitha mengesampingkan perasaan kecewanya. Dia ikut terpingkal-pingkal dan mulai menikmati pesta mereka.
Entah dorongan apa yang membuatnya meminta Alvin membelokkan mobil mereka ke pantai, seusai menonton dan makan malam. Dia ingin menyusuri bibir pantai sambil berteriak berusaha mengalahkan debur ombak, seperti dulu selalu dilakukannya bersama Alvin sewaktu kanak-kanak, bila kepepatan membelenggu.
Tapi sekarang dia tahu alasannya. Instingnya sebagai cewek yang menuntunnya ke sana. Sebab di sana, di pantai itu, dia menemukan Edgar tengah memeluk seorang gadis.
Mitha begitu terpukul.
Dengan perasaan remuk, dia langsung berbalik pergi. Membiarkan Sandra kebingungan memanggilnya sekaligus berusaha menahan Alvin untuk tak menghampiri pasangan itu. Dengan susah payah, akhirnya Sandra berhasil juga menyeret Alvin untuk mengejar Mitha.
Sepanjang perjalanan pulang, Mitha membisu. Menangis pun tidak. Bahkan saat sudah tak sendirian di kamarnya, gadis itu tetap tak mengeluarkan air mata setetes pun! Walau hatinya terasa begitu sakit.
*
“Kamu menyukai Anna, kan?”
Esoknya, pada sore hati, Edgar datang menemuinya. Setelah selama di sekolah gadis itu berusaha menghindarinya.
“Mith....”
“Aku pernah memintamu menjawabnya. Katakan sejujurnya, Edgar. Dia lebih dari sekadar teman, kan?”
“Aku juga pernah bilang hanya kamu....”
“Itu bukan jawaban,” potong Mitha. “Seseorang pernah bilang, dia cinta pertamamu saat SMP, tapi Sam yang mendapatkannya lebih dulu. Aku tahu semua orang berhak memiliki masa lalu. Namun sekarang aku sadar, Anna lebih dari sekadar masa lalu buatmu.”
“Mith, please!” pinta Edgar. “Kemarin, aku sudah hampir datang, tapi....”
“Anna menelpon dan memintamu datang menemuinya.” Mitha melanjutkan kalimat Edgar dengan tenang. “Dia punya masalah dan hanya kamu yang mengerti dan memahaminya. Iya, kan?”
Edgar menatapnya serba salah.
“Aku mencintaimu, Mitha.”
“Aku percaya,” angguk Mitha lirih. “Tapi aku yakin bila Anna jauh lebih membuatmu kuatir. Kejadian semalam adalah buktinya. Aku tak akan memintamu, mengakuinya di depanku. Tapi jauh di lubuk hatimu, akuilah itu sebenarnya.”
“Mitha, beri aku kesempatan untuk menjelaskan....”
“Aku sudah memberimu kesempatan berulang kali. Jujurlah pada dirimu sendiri, Edgar.” Mitha berusaha tersenyum. “Terima kasih untuk hari-hari indah yang membuat hidupku semakin berarti.” Mitha menggigit bibirnya. Mencegah air matanya turun dan menata kembali warna suaranya. “Nah, karena tak ada lagi yang bisa kita lakukan, pulanglah, Edgar!” pintanya. “Kamu masih harus bersiap-siap untuk ke rumah Anna, kan?”
Edgar tercekat.
“Mitha....”
“Jika kamu ingin bertanya, apakah kita masih dapat berteman? Maka jawabannya adalah ‘iya’.” Mitha mencoba tertawa. “Tapi untuk itu kamu harus memberiku waktu, ya?”
Ketika bayangan Edgar sudah tak tampak lagi di matanya, Mitha menghembuskan napas lega. Sandiwara telah usai, bisiknya dalam hati. Tubuhnya seperti sudah tak bertenaga lagi. Melorot dan terduduk lemas di ubin. Kekuatan dan ketegaran yang tadi dipentaskannya sudah terbang entah ke mana. Air matanya merembes turun. Mitha menelungkup. Menangis tanpa suara.
Sebuah tangan tiba-tiba menepuk halus bahunya. Dia tersentak dan mendongak. Sepasang mata lembut yang gemerlap memagutnya.
“Kalo kamu mau, kita bisa ke pantai.”
Mitha menggeleng.
“Gak usah,” tolaknya dengan tawa berderai. “Aku belum ingin ‘bersaing’ dengan suara ombak.”
Binar di mata gemerlap itu tampak membias kecewa.
Mitha menekan dadanya yang gemuruh.
“Aku tak mendengar kedatanganmu.”
“Kamu lagi melamun. Aku memperhatikanmu sejak tadi.”
Wajah Mitha langsung memerah. Dia mendelik sewot.
“Kamu pasti mengintipku, ya?” tuduhnya keki. “Kebiasaan buruk!” omelnya. Kemudian, katanya geli bercampur jengkel, “Benar-benar gak bisa diperbaiki lagi!”
Makiannya disambut tawa Alvin.
“Sudah hampir senja,” gumam Mitha. Dia tersengat tiba-tiba. “Wuaaah, kamu kan harus siap-siap ke rumah Sandra! Lupa ya, ini malam Minggu!” ingatnya. “Sana, pulang!” usirnya kejam.
Alvin tergelak. Diacaknya rambut Mitha sepenuh rasa. Mitha terpana. Alvin menggeleng.
“Aku ingin menemani cewekku yang patah hati,” bisiknya lembut di telinga Mitha.
Gadis itu ternganga. Tercenung sesaat. Sebentar kemudian dia menjerit galak.
“Sembarangan!” semprotnya. “Aku gak patah hati dan gak perlu dihibur. Liat aja besok! Aku pasti sudah berloncatan ke sana-sini.”
Alvin tersenyum.
“Jangan pura-pura kuat, Baby!”
Lagi-lagi Alvin menatapnya dengan mata gemerlap. Mitha melengos. Menepis gemetar yang datang menyelusup di hatinya.
“Aku gak bilang aku kuat, Al,” akunya. “Tapi kamu harus janji padaku. Mau?”
Alvin mengangguk.
“Apa pun.”
“Pertahankan apa yang kamu miliki. Jangan biarkan siapa pun mengambilnya atau menghapusnya dari hatimu,” ucap Mitha perlahan. “Hanya itu yang aku mau darimu. Kamu sangat beruntung memiliki Sandra.” Mitha mengangkat kepalanya. Menantang tatapan sepupunya sambil nyengir. “Mengerti, Bad boy?”
Binar yang sempat ditangkap Mitha pada mata Alvin, meredup dan lenyap. Mitha pura-pura tak melihat bias luka di sana.
“Aku beruntung memiliki sepupu sepertimu,” bisiknya. “Aku sayang kamu, Alvin. Selamanya.”
Gadis itu tersenyum memperhatikan punggung Alvin yang menghilang ke rumah sebelah.
Mitha menghela napas.
Inilah perbedaan kita, Anna, batinnya. Mitha menengadah, menatap langit gelap. Aku tak akan pernah mengambil kesempatan yang tercipta karena kelemahanku.
Gadis itu memejamkan matanya sekejab. Mengayun tubuhnya lebih kuat hingga kakinya tak menapak tanah lagi. Dia tersenyum dan mengangguk kuat. Seperti sebuah tekad dalam hati.
Aku yakin aku akan mampu mengatasinya. Ayunan itu terayun semakin tinggi. Dengan kekuatanku sendiri!
*The end*