Disukai
0
Dilihat
7
Impulsive Holiday Invitation
Komedi
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Dua minggu setelah hubungannya dengan Hero berakhir, Fay datang ke apartemen Nick dengan membawa brosur Hawaii yang terlipat, dua gelas kopi, dan ekspresi yang biasanya muncul beberapa detik sebelum ia mengambil keputusan impulsif.

Malam itu sudah hampir pukul sebelas malam. Nick sedang duduk di lantai ruang tengah, dikelilingi buku, kabel, dan tiga lembar kertas penuh coretan algoritma. Laptopnya memutar simulasi yang sudah gagal sebelas kali. Dari kamar sebelah terdengar teman sekamarnya, Ollie, berbicara melalui telepon, entah dengan siapa, mengenai betapa tidak manusiawinya tugas laboratorium yang harus ia submit pada pukul tujuh pagi besok.

Fay, seperti kebiasaanya, paling anti untuk mengetuk pintu apartemen mereka. Alih-alih, ia membuka pintu menggunakan kunci cadangan, menutupnya dengan pinggul, lalu berjalan melewati ruang tengah seolah apartemen itu juga miliknya.

Nick hanya sempat mendongak sebelum sebuah brosur menghantam dadanya.

Di sampulnya terdapat gambar pantai berpasir putih, laut biru, dan sepasang turis yang tampak terlalu bahagia untuk menjadi manusia sungguhan.

Nick menatap brosur di tangannya, kemudian menatap Fay.

“What is this?”

“Hawaii.”

“I know what Hawaii looks like.”

“Great. That saves us ten minutes.”

Fay meletakkan salah satu gelas kopi di dekat laptop Nick, lalu menjatuhkan diri ke sofa. Rambutnya masih sedikit berantakan karena angin malam. Ia mengenakan sweter Caltech yang terlalu besar dan celana olahraga abu-abu, tetapi anting-anting kecil berbentuk bintang masih menggantung di telinganya, seolah ia sempat berusaha terlihat baik-baik saja sebelum menyerah di tengah jalan.

Nick memperhatikan dua hal sekaligus.

Pertama, Fay membawa kopi dengan pesanan yang tepat: hitam, tanpa gula, satu tambahan espresso.

Kedua, kopinya sendiri belum disentuh.

Selama dua minggu terakhir, Nick mulai mengukur kondisi Fay dari hal-hal kecil semacam itu.

Cara Fay membutuhkan waktu lebih lama untuk membalas lelucon. Cara ia selalu membalikkan ponselnya ketika layar menyala. Cara ia mengatakan sudah baik-baik saja dengan suara yang terlalu cerah. Cara ia menghapus semua foto Hero, lalu mengembalikan dua di antaranya, kemudian menghapusnya lagi keesokan harinya.

Nick melipat brosur tersebut dengan hati-hati.

“Why are you giving me Hawaii?”

“I’m not giving you Hawaii. I’m inviting you there.”

Nick terdiam sebentar, bingung lebih tepatnya.

Fay mencondongkan tubuh, kedua sikunya bertumpu di lutut.

“There’s a flight tomorrow afternoon. Two seats left. We go, we stay for two nights, we come back Sunday, and no one dies.”

“You checked the number of seats?”

“I may have opened the booking page.”

“Fay.”

“I may also have reserved them for twenty-four hours.”

“Fay.”

“I used your middle name for the second ticket because the website demanded it.”

Nick menatapnya tanpa berkedip. “How do you know my middle name?”

Fay mengerutkan dahi. “John, we’ve been friends for three years.”

“Don’t call me John.”

“Then come to Hawaii, Nicholas John.”

Dari kamar sebelah, Ollie berseru menimpali tanpa diminta, “His mother calls him Nicholas John when she’s about to end his life.”

Nick memejamkan mata seketika.

“Thank you, Ollie.”

“You’re welcome, Nicholas John.”

Nick bangkit dari lantai dan memindahkan kopinya menjauh dari laptop. Ia mengenal Fay cukup baik untuk tahu bahwa menolak terlalu cepat hanya akan membuatnya mengubah percakapan menjadi debat formal. Fay dapat memperdebatkan pilihan menu makan siang seperti sedang mempertahankan disertasi.

Ia duduk di ujung sofa, menyisakan jarak aman di antara mereka.

“You have a lab meeting tomorrow.”

“Cancelled.”

“You have the computational physics assignment.”

“Finished.”

“It’s due next Wednesday.”

“I finished it this afternoon.”

Nick menatapnya curiga dengan mata menyipit.

“You completed a six-day assignment in four hours so you could run away to Hawaii?”

“I prefer ‘spontaneously travel.’ It sounds less psychologically concerning.”

“It is psychologically concerning.”

Senyum Fay goyah selama sepersekian detik.

Dan Nick menyadarinya.

Fay segera menyandarkan tubuh dan menyilangkan tangan sambil mendesah pelan.

“You’re overthinking this.”

“And you’re not thinking at all.”

“That’s the point.”

“No, that’s usually the problem.”

Fay meraih bantal sofa dan melemparkannya. Nick menangkapnya sebelum mengenai wajahnya, tetapi benturan ringannya menjatuhkan beberapa kertas ke lantai.

“Come on,” desak Fay. “We’ve been acting like good behaved students since we were freshman year. Classes, labs, problem sets, tutoring, office hours. You schedule your laundry.”

“That’s because clean clothes require planning.”

“You have a spreadsheet.”

“It prevents color contamination.”

“You ranked detergent.”

“Some of them are objectively bad.”

Fay tertawa. Tawanya terdengar singkat, tetapi nyata. Cukup untuk membuat Nick membenci betapa besar kelegaan yang dirasakannya hanya karena ia akhirnya berhasil mendengar suara tawa gadis itu lagi.

Kemudian Fay memandang ke arah jendela.

Lampu dari gedung apartemen di seberang membentuk pantulan pucat pada kaca.

Di bawah sana, Pasadena tetap bergerak seperti biasa. Mobil melintas, seseorang menyeberang sambil membawa kantong belanja, dan suara sirene terdengar samar dari kejauhan. Dunia tidak peduli bahwa dua minggu sebelumnya Fay memergoki Hero bersama perempuan lain di kamar yang selama ini katanya tidak boleh ia datangi karena Hero “membutuhkan ruang”.

Fay menarik lengan sweternya hingga menutupi telapak tangan.

“I just want two days,” katanya lebih pelan. “Two days where I don’t have to walk past places that remind me of him. Two days where people don’t look at me like I’m the girl who got cheated on.”

Nick menatap profil wajahnya. Amarah lama kembali bergerak di dadanya. Amarah yang muncul setiap kali ia teringat Hero, bercampur dengan rasa bersalah karena sebagian kecil dirinya lega bahwa hubungan mereka telah berakhir.

Ia membenci bagian dirinya yang merasa lega. Tapi tentunya sahabatnya satu ini tidak bisa mendengar jerit sorak dalam hati Nick.

“Fay, you’re in denial.”

Fay menoleh cepat. Luar biasa tersinggung.

“I’m not in denial!"

“You found out your boyfriend was cheating on you fourteen days ago.”

“Ex-boyfriend.” sanggah Fay sungguh-sungguh.

“Exactly fourteen days ago.”

“Fourteen and a half.”

Nick mengembuskan napas. “You barely sleep. You haven’t eaten a real dinner in three days, and yesterday you told Mira you were fine while putting orange juice in your cereal.”

“I wanted to try something new.”

“You cried after one bite.”

“Because it was disgusting.”

“Because it was orange juice.”

Fay berdiri. Gerakannya begitu tiba-tiba hingga meja bergeser ketika lututnya mengenainya.

“I am not crazy, Nick.”

“I didn’t say you were.”

“You’re looking at me like I’m about to shave my head or join a cult.”

“I’m looking at you like you’re hurt.”

Kalimat itu membuat ruang tengah apartemen Nick mendadak sunyi.

Fay mengalihkan pandangan. Rahangnya mengeras, tetapi Nick dapat melihat lapisan air tipis mulai berkumpul di matanya.

Ia segera melunakkan suaranya.

“And I understand why. I understand that it still hurts.”

“No, you don’t.”

Nick menunduk sebentar menatap ujung ibu jari kakinya.

Jika Fay tahu betapa tepatnya ia memahami rasa sakit karena mencintai seseorang yang memilih orang lain, mungkin seluruh persahabatan mereka akan runtuh dalam satu malam.

Jadi, seperti biasa, Nick memilih kata-kata yang lebih tidak destruktif.

“Maybe I don’t,” katanya. “But getting on a plane won’t make what he did disappear.”

“I know that.”

“Then why Hawaii?”

Fay berjalan kearah jendela. Ia berdiri di sana cukup lama sebelum menjawab.

“Because I don’t recognize myself right now.”

Nick membeku mendengarnya.

“I spent almost two years arranging my life around someone who couldn’t even be bothered to show up unless he needed something.” Fay mengusap hidungnya dengan ujung lengan sweter. “And the worst part is, I kept defending him. To Sandra. To Mira. To you.”

“You don’t owe me an apology.”

“I’m not apologizing. I’m saying I’m tired.” Ia berbalik. “I don’t want to spend the weekend sitting in my room analyzing every lie he ever told me. I want to get sunburned. I want to drink something embarrassing out of a pineapple. I want to swim somewhere that doesn’t have lane markers.”

Nick nyaris tersenyum.

“And,” lanjut Fay, kini menatapnya dengan tekad yang mulai pulih, “I want us to stop being exemplary students for two days. Just two. We can come back on Sunday and resume being insufferably gifted.”

“I’ve never described myself that way.”

“You don’t have to. Your posture does it for you.”

Nick membuka mulut, lalu menutupnya kembali.

Fay melangkah ke meja, mengambil brosur itu, dan menekannya ke dada Nick.

“Think about it. The reservation expires at ten tomorrow morning.”

“Fay—”

“I’m not asking you to fix me.” Tatapan Fay melunak. “I’m asking my best friend to have fun with me.”

Kata Best Friends eharusnya terasa seperti penghargaan. Malam itu, seperti malam-malam lainnya, kata tersebut justru terasa seperti pintu yang dikunci dengan lembut dari sisi lain.

Fay mengambil kopinya yang masih utuh.

“Good night, Nicholas John.”

“Stop calling me that.”

Senyum simpul muncul di wajah Fay.

“Ten o’clock.”

Fay lalu menutup pintu.

Nick tetap berdiri di tengah ruang tengah sambil memegang brosur Hawaii seolah barang ditangannya adalah bahan peledak.

Selang beberapa detik, pintu kamar Ollie perlahan terbuka.

Ollie keluar dengan kaus bertuliskan I PAUSED MY GAME TO BE HERE, meskipun Nick yakin temannya itu tidak memiliki konsol permainan apa pun dalam kamarnya. Rambut pirangnya berdiri ke segala arah. Ia membawa semangkuk sereal dan ekspresinya kentara terhibur sekali.

“You should go.” ujar Ollie santai.

Nick menaruh brosur di meja. “You were listening.”

“The walls are thin, Nick, and you two have the volume control of divorced theater actors.”

“We’re not divorced.”

“Not with that attitude.”

Nick mulai mengumpulkan kertas yang jatuh berhamburan. “I’m not going.”

Ollie duduk di sofa dan memakan sesendok sereal. “All right.”

Nick berhenti sejenak.

Biasanya, seperti kebiasaan teman sekamarnya yang selalu bikin urat nadi Nick tertarik menahan emosi, Ollie akan berdebat, menentang apapun keputusan Nick yang berkaitan dengan Fay hanya untuk mengganggu Nick.

Fakta bahwa ia langsung setuju justru terasa mencurigakan.

“That’s it?”

“That’s it.”

“You think I shouldn’t go?”

“No, no. I completely support your decision to let a recently heartbroken, emotionally volatile, exceptionally attractive woman go to Hawaii alone.”

Nick meluruskan tubuh. “She’s not emotionally volatile.”

“She proposed interstate air travel at eleven at night.”

“Hawaii isn’t—” Nick menghentikan diri sebelum emosi membuatnya ingin mencekik Ollie. “That’s not the point.”

Ollie mengangkat bahu. “She’ll be fine.”

“She will be fine.”

“Absolutely. She’ll land, check into her hotel, sit quietly by the pool, read an academic journal, and be asleep by nine.”

Nick menatapnya.

Ollie mengunyah serealnya dengan tenang.

“Why did you say it like that?”

“Like what?”

“Like the exact opposite is going to happen.”

“I didn’t.”

“You did.”

Ollie menghela napas dramatik, meletakkan mangkuknya di meja, kemudian berdiri seolah hendak menyampaikan presentasi penting.

“Fine. Alternative scenario. Fay lands in Hawaii alone. She goes to a beach bar because she wants a drink served in fruit. There, she meets a tanned man named Kai.”

“Why is his name Kai?”

“Because this is Hawaii.”

“That feels reductive.”

“I can call him Kevin, but he’ll still have abs.”

Nick menyilangkan tangan.

Ollie melanjutkan, “Kai teaches surfing. He has no student debt because he rejects materialism. He plays the ukulele. Not well, but confidently. He says things like, ‘The ocean knows what you need.’”

“Fay would hate him.”

“Initially.”

“There would be no ‘initially.’”

Ollie menunjuk Nick dengan telunjuknya.

“That’s where you’re wrong. Fay is heartbroken. Heartbroken people make strange decisions. One minute she’s drinking out of a pineapple, the next minute Kai is applying aloe vera to her shoulders.”

Rahang Nick mengeras seketika.

Ollie melihat perubahan di raut wajah Nick dan nyaris mati menahan ledakan tawa. Namun dengan kalem, ia berusaha melanjutkan observasinya dengan wajah serius.

“And because Fay wants to prove she’s over Hero, perhaps she decides to have a meaningless holiday romance. Maybe she kisses Kai.”

Nick meletakkan kertasnya terlalu keras di meja.

“She wouldn’t.”

“Maybe she sleeps with him.”

“No.”

Ollie mengerjapkan mata. “No?”

“She wouldn’t sleep with a stranger.”

“Right. Of course. Because heartbroken people are famous for their rational judgment.”

“She doesn’t even like ukuleles.”

“I don’t think the ukulele will be present during the relevant portion of the evening.”

Nick menatap Ollie tajam.

Ollie mengangkat kedua tangan. “I’m just exploring possibilities.”

“You’re inventing a shirtless man to annoy me.”

“He may own shirts. We haven’t developed him that far.”

“There is no Kai.”

“Not yet.”

Nick berjalan menuju dapur, membuka kulkas, lalu berdiri di depannya tanpa mengambil apa pun. Udara dingin menerpa wajahnya, tetapi tidak membantu menghilangkan gambaran Fay tertawa bersama seorang laki-laki asing di pantai.

Ollie menyandarkan tubuh pada pintu dapur.

“Why don’t you want to go?”

“Because this is impulsive.”

“That’s her stated objective.”

“She’s hurting.”

“Also established.”

“And I don’t want her to do something she regrets.”

“Like Kai?”

Nick membanting pintu kulkas.

“Stop saying his name.”

“So you admit he exists.”

“He does not exist.”

“He exists in your heart.”

“He exists in your underdeveloped frontal lobe.”

Ollie menyeringai lebar. “There he is.”

Nick mengusap wajahnya. “I’m serious. Fay doesn’t need me hovering over her all weekend.”

“No. She needs her best friend.”

“A best friend who happens to be hopelessly in love with her.”

“Which is inconvenient, yes.”

“She’s vulnerable.”

Ollie mengangguk. Untuk pertama kalinya sejak keluar dari kamar, nada bicaranya kehilangan unsur bercanda.

“Then don’t take advantage of that.”

Nick menatapnya tajam. “I would never.”

“I know.”

Jawaban Ollie datang tanpa jeda. Begitu sederhana dan yakin hingga pertahanan Nick sedikit mengendur.

Ollie melanjutkan, “You’re acting like going with her automatically means you’re exploiting her. It doesn’t. You can go to Hawaii, make sure she eats something that isn’t cereal with orange juice, and let her have a good weekend.”

“And if she talks about Hero for the entire trip?”

“Listen.”

“And if she cries?”

“Give her tissues.”

“And if she gets drunk?”

“Take away her phone before she calls him.”

Nick terdiam lagi.

“And if she kisses me?” tanyanya akhirnya.

Ollie menatap Nick selama beberapa detik. Kemudian ia mengambil mangkuk serealnya kembali.

“That question sounded suspiciously rehearsed.”

“It wasn’t.”

“You answered it in your head before asking.”

“I did not.”

“You absolutely did.”

Nick menunjuk kamar Ollie. “Go to bed.”

Ollie berjalan mundur sambil membawa mangkuknya. “If she kisses you while she’s drunk, you stop her. If she kisses you sober, you ask whether she’s sure. If she says Hero’s name, you jump into the ocean and let nature decide.”

“Excellent advice.”

“I contain multitudes.”

Sesampainya di depan kamar, Ollie berhenti.

“For what it’s worth, she didn’t invite Mira. Or Sandra. Or Daniel.”

Nick tidak menjawab.

“She invited you.”

“It doesn’t mean what you think it means.”

“Probably not,” kata Ollie. “But it means she trusts you when she’s at her worst. Don’t punish her for that just because being near her is difficult for you.”

Setelah Ollie menutup pintu, apartemen kembali sunyi.

Nick menatap brosur di meja untuk kesekian kalinya. Dilemanya tidak kunjung berkurang.

Pada foto sampul, laut Hawaii tampak mustahil biru. Di sudut bawah brosur, Fay telah menulis jadwal penerbangan dengan tinta hitam. Di bawahnya terdapat catatan kecil:

Two days. No Hero. No equations. No responsible decisions.

Lalu, dalam tulisan yang lebih kecil:

Moderately responsible decisions permitted if Nick panics.

Nick mendengus pelan.

Ia mengambil ponsel, membuka percakapan dengan Fay, lalu mulai mengetik.

I’ll go.

Ia menatap dua kata itu cukup lama, kemudian menghapusnya.

I’m coming with you because allowing you to travel unsupervised would constitute negligence.

Terlalu panjang. Ia menghapusnya lagi.

What hotel?

Ia belum sempat menekan tombol kirim ketika tiga titik muncul di layar.

Pesan Fay masuk lebih dahulu.

Reservation expires in 10 hours and 43 minutes. Not that I’m counting.

Nick mengetik:

You’re counting.

Balasan Fay datang hampir seketika.

Go to sleep, Valemont.

Nick meletakkan ponselnya tanpa memberikan jawaban. Ia berusaha kembali mengerjakan simulasi, tetapi setelah membaca baris kode yang sama selama dua puluh menit, ia menyerah.

Malam itu, Nick bermimpi tentang seorang instruktur selancar bernama Kai yang mengejarnya di sepanjang pantai sambil memainkan ukulele.

***

Keesokan harinya, Fay tiba di laboratorium lebih pagi dengan mata agak sembab karena kurang tidur.

Ia memberi presentasi singkat tentang model numerik yang sedang dikerjakannya, menjawab dua pertanyaan profesor, lalu menghabiskan empat puluh menit berikutnya berpura-pura membaca data. Setiap beberapa menit, pandangannya meluncur ke jam digital di sudut layar.

09.37.

Ia membuka laman reservasi yang telah disimpannya.

Dua kursi masih tertahan. Waktu tersisa: dua puluh tiga menit.

Fay menutupnya lagi.

Nick belum juga menjawab.

Ia mengatakan pada dirinya sendiri bahwa itu tidak penting. Ia dapat mengajak Sandra, meski Sandra memiliki pemotretan akhir pekan itu. Mira mungkin bersedia pergi jika Fay membayar sebagian tiket. Daniel kemungkinan akan ikut ke mana pun selama ada makanan gratis.

Atau ia bisa berangkat sendiri.

Gagasan itu terasa lebih menakutkan, tetapi Fay menolak mengakuinya.

Pukul 09.51, ia memasukkan detail kartu kredit.

Pukul 09.55, kursor berhenti di atas tombol konfirmasi.

Pukul 09.57, ponselnya bergetar.

Come outside

Fay mengerutkan dahi.

Ia keluar dari laboratorium dan menemukan Nick berdiri di ujung koridor. Ransel hitam tergantung di satu bahunya. Di tangan kirinya terdapat dua gelas kopi, sementara di tangan kanannya ada sebuah buku panduan berjudul Hawaiian Islands for Cautious Travelers.

Fay berhenti beberapa langkah didepan Nick.

Nick mengulurkan salah satu kopi.

“I have conditions.”

Senyum ceria mulai menarik sudut bibir Fay, namun ia berusaha menahannya sekuat tenaga agar tidak kentara.

“Of course you do.”

“No abandoning each other in unfamiliar places.”

“Reasonable.”

“No texting Hero.”

“I deleted his number.”

Nick menyipit, “You memorized it.”

Wajah Fay langsung masam.

“Unfortunately.”

“No life-altering decisions while intoxicated.”

“What qualifies as life-altering?”

“Marriage. Tattoos. Buying property. Joining a cult.”

“What about shaving my head?”

Nick memperhatikan rambut panjan Fay yang menurut Nick kelewat indah.

“We’ll assess that case individually.”

Fay menerima kopinya. “Anything else?”

Nick mengeluarkan selembar kertas yang sudah dilipat dari saku jaket.

Fay merebutnya sebelum ia sempat membuka lipatan tersebut.

“You made an itinerary?”

“It’s a draft.”

“Nick, this is color-coded.”

“It improves readability.”

“You scheduled spontaneous fun.”

“I scheduled space for spontaneous fun.”

Fay tertawa juga. Kali ini tawanya lebih ringan daripada tawanya semalam.

Ia membuka kertas itu dan menemukan dua halaman rencana perjalanan, lengkap dengan durasi perpindahan, nomor telepon hotel, perkiraan biaya, serta tiga pilihan kegiatan yang diberi label berdasarkan tingkat risiko.

Di bagian bawah halaman kedua, ada baris tambahan:

Emergency protocol: If Fay becomes sad, obtain food before discussing feelings.

Fay mengangkat wajah dengan mulut menganga.

Nick tampak tiba-tiba tertarik sekali pada poster keselamatan laboratorium di dinding.

“You wrote an emergency protocol for my feelings?”

“Low blood sugar affects your emotional regulation.”

“That may be the least romantic sentence anyone has ever said.”

Nick menatapnya. “Good. This isn’t romantic.”

Entah mengapa, pernyataan itu meninggalkan sensasi kecil yang aneh di dada Fay. Bukan rasa sakit, bukan pula kekecewaan yang dapat ia jelaskan. Hanya sesuatu yang bergerak cepat dalam hatinya lalu menghilang sebelum sempat ia sadari.

Ia melipat kembali kertas tersebut.

“So you’re coming?”

Nick mengangguk. “I’m coming.”

Fay langsung memeluk Nick dengan erat.

Gerakannya begitu spontan sehingga Nick tidak sempat bersiap. Tubuh Fay menghantam dadanya, kedua lengannya melingkari pinggang Nick, dan aroma sampo yang begitu dikenalnya memenuhi ruang di antara mereka.

Nick membeku selama satu detik.

Lalu ia memeluk Fay kembali, hati-hati, seolah gadis itu adalah sesuatu yang retak dan sangat berharga. Fay menyandarkan pipinya pada dada Nick. Di balik kausnya, detak jantung Nick bergerak lebih cepat daripada seharusnya.

“Thank you,” bisiknya.

Nick menatap kosong ke ujung koridor, dengan tangan masih memeluk tubuh Fay, dan detak jantungnya yang lagi-lagi mulai berulah.

Nick teringat pada peringatan Ollie.

Fay sedang terluka. Fay memercayainya. Ia tidak boleh salah membaca apa pun hanya karena harapannya sendiri sudah terlalu lama kelaparan.

Jadi Nick menepuk punggungnya sekali dan memaksa suaranya tetap ringan.

“You can thank me by not putting juice in cereal ever again.”

Fay melepaskan pelukan dan menatapnya jengkel. “You’re never going to let that go for the rest of our lives, are you?”

“Not unless the medical community discovers a cure.”

Fay membuka laman reservasi di ponselnya. “I’m confirming the tickets.”

Nick mengangguk, lalu melihat detail keberangkatan.

“Wait. Our flight is at four?”

“Yes.”

“Today?”

“I said tomorrow last night. It’s tomorrow now.”

“Fay, I haven’t packed.”

“You made a two-page itinerary but didn’t pack?”

“I hadn’t agreed yet.”

Fay menekan tombol konfirmasi. Ponselnya mengeluarkan bunyi singkat.

“Too late. We’re going to Hawaii.”

Nick menatap layar itu dengan ngeri yang hampir tulus.

“I need sunscreen.”

“They sell sunscreen in Hawaii.”

“At airport prices?”

“Try to be brave.”

Fay berjalan kembali menuju laboratorium sambil membawa kopi dan itinerary buatan Nick. Langkahnya terasa lebih ringan daripada ketika ia datang pagi itu.

Nick berdiri sendirian di koridor selama beberapa saat. Lalu ia mengeluarkan ponsel dan mengirim pesan kepada Ollie.

I’m going.

Balasan Ollie datang tidak sampai sepuluh detik kemudian.

Kai has been defeated.

Nick mengetik:

There was never a Kai.

Ollie membalas dengan foto editan seadanya: wajah Nick ditempelkan pada tubuh seorang peselancar, lengkap dengan ukulele di tangan.

Di bawahnya tertulis:

There is now

Dari pintu laboratorium, Fay menjulurkan kepala.

“Are you coming, or are you reconsidering your entire life?”

Nick memandang Fay dari kejauhan, pada senyum yang akhirnya kembali, pada mata yang masih menyimpan kelelahan, dan pada perempuan yang dicintainya cukup dalam hingga dua hari bersamanya mungkin akan terasa seperti hadiah sekaligus hukuman.

“Both,” jawabnya.

Fay mengangkat alis.

“Good. Do it on the way. We have a flight to catch.”

Nick baru akan memasukkan ponselnya ke dalam saku ketika notifikasi pesan dari Ollie kembali muncul.

Nick, don't forget to pack condoms.

Nick memutuskan untuk memblokir nomor Ollie selama tiga hari kedepan demi keberlangsungan hidupnya di Hawaii nanti.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Komedi
Rekomendasi