Mungkin begini rasanya saat logika dipaksa menyerah pada kuasa cinta pada pandangan pertama.
Lidah mendadak saja bisa jadi kelu, seolah seluruh kosakata yang pernah dipelajari Jake Hayes di sekolah elitnya menguap begitu saja ke udara Manchester yang lembap.
Bibirnya terasa seperti terekat rapat.
Napasnya tercekat di pangkal tenggorokan, sementara jantungnya mulai menabuh ritme kacau yang membuat dadanya terasa sesak.
Semua itu terjadi dalam satu jentikan takdir. Saat Jake menarik pintu kayu mahoni rumahnya, ia tidak mendapati tukang pos yang membawa surat tagihan atau para tetangga cerewet yang biasanya menyuarakan keluhan akibat deru mesin mobil Jake yang sering ia modifikasi dengan suara aneh-aneh.
Alih-alih, seorang gadis tengah berdiri di depan ambang pintu rumah Jake Hayes. Luar biasa cantik dengan aura memancar yang belum pernah Jake temui di sepanjang sudut kota ini.
Gadis itu tengah memegang sebuah piring porselen dengan aroma rempah yang hangat dan asing.
"Namaku Millian Aruna Ashford. Panggil saja aku Millie," suaranya mengalun, lembut namun memiliki ritme yang sangat berbeda dengan aksen lokal British,"Rumahku hanya terpaut tiga pintu dari sini. Kami baru saja pindah dari Indonesia. Maaf ya, mengganggu waktu sore begini. Ini, ibuku baru saja memanggang kue kacang jahe khas Indonesia. Kami harap kamu dan keluargamu akan menyukainya. Oh iya, kalau boleh tahu, nama kamu siapa?"
Kekesalan Jake karena sesi istirahatnya terinterupsi langsung sirna.
Senyum Millie adalah jenis kurva mematikan yang sanggup membuat siapa pun akan langsung kehilangan kendali diri, seperti Jake Hayes saat ini.
Mata Jake turun ke kulit Millie. Gadis itu memiliki kulit yang tampak begitu sehat, memancarkan rona hangat yang jauh dari kesan pucat tipikal warga Inggris.
Di bawah sisa-sisa sinar matahari yang mengintip dari balik awan kelabu, kulit Millie seolah berpijar dengan intensitas eksotis yang membuat Jake makin sulit meraup oksigen.
Jake mengerjapkan mata, berusaha keras mengumpulkan kembali kewarasannya di hadapan kesempurnaan sosok di depannya.
"Jake. Jake Hayes," jawabnya, mencoba tetap terdengar tenang meski suaranya sedikit parau.
Millie kembali mengulas senyum.
Sebuah "kutukan" manis yang Jake berani sumpah belum pernah ia temukan pada satu pun dari sekian banyak gadis yang pernah ia kencani di seluruh Manchester.
"Baiklah kalau begitu, Jake. Enjoy the treat. Hope to see you around."
Millie berputar, melangkah meninggalkan serambi.
Jake terkesiap, jemarinya nyaris terangkat untuk menahan gadis itu agar tidak hilang dari pandangannya
Namun entah kenapa lidahnya kembali mengunci. Yang tersisa hanyalah jejak aroma wewangian segar dari tubuh Millie yang begitu memabukkan, tertinggal di fasad rumahnya yang dingin.
Mata Jake terus mengawal langkah Millie hingga siluet gadis itu menghilang di balik pilar batu teras rumah gadis itu.
Lalu pandangan Jake turun menatap piring berisi kue pemberian Millie di tangannya. Ia mencoba kembali me-reka ulang kejadian beberapa menit yang lalu, memastikan bahwa yang dilihat Jake tadi bukanlah seorang malaikat yang Tuhan turunkan di siang bolong tepat di depan pintu rumah Jake.
Jake Hayes, adalah sang pemangsa Manchester yang belum pernah gagal untuk urusan mendekati seorang gadis. Untuk itu, pikirannya yang terus melayang ke sosok Millie membuatnya langsung bertekad untuk mendekati gadis itu. Bagaimanapun caranya.
Jika ia sanggup menaklukkan setiap hati gadis di Manchester hanya dengan satu tatapan mata biru keabu-abuan nya yang menggoda, maka menjinakkan hati seorang Millian Aruna Ashford seharusnya bukanlah tugas yang berat.
Bagi Jake, pesonanya merupakan senjata utama yang tidak pernah membuatnya gagal dalam urusan wanita.
Dan waktunya pun tiba.
Jake melangkah masuk ke gerbang sekolah dengan kepala tegak, hanya untuk mendapati kejutan yang lebih menyenangkan.
Millie ternyata masuk disekolah yang sama dengan Jake.
Jake berjalan menyusuri koridor dengan kepercayaan diri melambung tinggi. Ia mengerahkan seluruh auranya, pesona yang dikenal dingin namun memabukkan bagi siapa pun yang berpapasan dengan seorang Jake Hayes.
Ia sudah mempersiapkan mentalnya dengan matang, mentalitas khas lelaki paling disegani di seluruh sekolah berkat popularitas Jake yang mentereng sebagai pembalap F1 di usia yang masih sangat muda.
Di lintasan balap, Jake adalah raja. Dan di koridor sekolahnya, ia adalah penguasa absolut tak tertandingi.
Namun, seluruh skenario yang sudah ia susun rapi di kepala Jake sejak kemarin hancur seketika saat ia tiba di ujung koridor.
Jake berdiri mematung. Amarah dan emosi yang selama beberapa hari ini ia kubur rapat-rapat mendadak kembali menggulung, merangkak naik hingga ke ubun-ubun.
Kali ini, bukan lagi tentang dendam masa lalu Jake terhadap orang di ujung matanya, yang kehadirannya selalu berhasil membuat darah Jake mendidih.
Melainkan karena musuh utama dalam hidupnya itu—sosok yang dikenal seluruh sekolah sebagai pribadi yang bertolak belakang dengan semua hal yang melekat pada diri Jake—tengah berdiri dalam jarak sangat intim dengan gadis pertama yang berhasil membuat Jake jatuh hati.
Millian Aruna Ashford, atau Millie, tersenyum dengan satu-satunya cara yang mampu membuat seluruh rotasi hidup Jake berhenti berputar.
Namun brengseknya, senyum itu bukan untuk Jake Hayes.
Bukan untuk sang pembalap yang kini menatap lekat kedua orang di ujung koridor sana dengan kilatan tajam menyala di kedua mata abu-abunya.
Senyum itu untuk Miles Archer.
Musuh bebuyutannya.
Sekaligus saudara tiri Jake Hayes.