Disukai
1
Dilihat
2,274
Ibu dan Segala Kompleksitasnya
Slice of Life

Seperti hidup yang sediakala, induk yang tidak bisa dipisahkan pada anak-anaknya, yang terus meringkik pada rembulan sekalipun kabut-kabut harapan tak sejalan dengan inang, terus tetap mencoba hingga sorai. Kehidupan tentang pilihan yang disertai hak, terbungkus rapih oleh darah yang mengalir seakan semua ialah untuk bakti. Ini adalah gambaran rumah dengan keluarga sederhana, namun sangat kompleksitas aturan dan keinginan aneh yang diciptakan Ibu. Aku anak kedua dari pasangan Kasih dan Widodo. Aku rasa, menjadi Ibu sangat kompleksitas hingga apa yang belum dicapai harus dicapaikan melalui anak-anaknya. Aku tidak begitu paham bagaimana seorang Ibu diluaran sana saat menjadi polisi bagi keluarganya. Bagaimana bentuk aturan yang berlaku, hingga sanksi yang diberikan jika tidak mematuhinya.

Aku mengahrgai semuanya. Semua yang sangat kompleksitas di dalam rumah. Memakai pakaian, memilih warna, hingga menu makanan yang disajikan setiap hari. Jika dipikirkan, itu hal yang sepele. Tepat sekali, sepela yang sangat komleksitas. Hal itu terkadang membuatku tercengang dan memilih pasrah.

“Mau makan apa besok? Besok Ibu masak apa?

“Yang sederhana saja, Bu. Jangan susah-susah. Selepas subuh aku tidak membantu Ibu di dapur. Jadi masak yang gampang saja.

“Iya, gampang seperti apa? Bantu Ibu mikir!”

“Oseng tahu tempe pakai cabe ijo?”

“Hanya itu?”

“Mungkin”, sahutku sambil memandang Ibu.

Tidak berhenti. Ibu bertanya pada bapak saat sedang mengasihi makan Burung-burungnya.

           “Besok ikan oseng tahu tempe cabe ijo”

           “OK. MASUK. Jangan lupa goreng ikan asin”

           “SIP”, sahut ibu sambil mengacungkan jempol.

Sekalipun sangat sederhana dan simpel, hal itu membuat kepuasan Ibu berlangsung. Yang menjadi tercengangnya adalah saat menu yang sudah ditawarkan tidak sesuai dengan yang dibuat.

Pagi itu, seperti biasa pukul 6 Bapak yang selalu memberikan makanan pada burung-burung sangkarnya padahal Bapak sendiri belum memberikan makan untuk dirinya. Ibu yang selalu bangun sebelum subuh dan memulai masaknya setelah sholat subuh dan sebelum pukul 6 hidangan sudah siap.

           Berdering ponselku

           “Halo mbak, iya kenapa?

           “Ibu masak apa?

           “Oseng tahu tempe cabe ijo dan ikan Asin”

           “SIPP, MANTAB.”

Seperti biasa, Ibu muda satu anak itu memang sudah menikah dan berbeda rumah, masih tetap saja menghamba makanan ke Ibu. Dia adalah kakak perempuanku satu-satunya yang setiap bertemu tidak pernah untuk akur. Sampai Ibu dan Bapak bosan. Seperti biasa pula, setelah ibu menyelesaikan di dapur bergantilah Aku yang membersihkan sudut-sudut rumah. Menyapu rumah, menyapu halaman, mencuci piring, mungkin cukup.

           “Sudah dibungkusin belom?”

           “Haaa? Apanya?” dengan tercengang wajahku sambil menyapu

           “Dasar..........”

“Ihhhh gajelas. Baru ketemu udah marah gajelas. Emang kenak baby blues mungkin dia” sahutku dengan nada rendah.

“Kenapa?, bungkus sendiri kan bisa?”

Tercengang wajahku, Kakak yang menunjukkan bungkusan makanannya.

           “Haaa? Kok berubah jadi Balian.........”

“Pasti ga bantu Ibu masak ya kau? Anak prawan, subuh jangan bangkong lagi. Katanya Oseng tahu tempe”

“Tanya Bapak, Ibu kemarin menawarkan dan sudah sepakat untuk memasak oseng tahu tempe cabai ijo. Kalo brubah ya tanya Juragannya”.

Tanpa basa-basi, ibu satu anak itu langsung mengegas sepeda motornya dan kembali pulang. Cukup kasihan sebenarnya. Setiap pulang kerja, khususnya shift malam Ibu satu anak itu tidak sempat memasak, jadi yang diandalkan hanya masakan Ibu. Apapun itu, sekalipun tawaran dan hasilnya berbeda.

           “Apa tidak bisa akur? Dari kamar mandi terdengar. Oh yaAllah”

           “Apa ibu tidak tidur saat memasak?”

           “Kenapa? Apa terlalu asin? Atau justru hambar?”

           “Ibu kemarin sore menawarkan menu padaku dan Bapak apa?”

           “Masalah menu? Jangan cerewet, makan saja apa yang sudah disajikan”

Aku hanya tercengang dan langsung bergegas menuju dapur, lalu mencuci piring dengan bergumam kesal.

“Siapa yang cerewet? Siapa yang menawarkan menu makanan? Oh astaga, apa aku masih bisa waras bersama orang-orang rumah ini? Ini memang sepele dan sederhana, tapi benar-benar kompleksitas hingga debat dan membuat mood pagiku berantakan”.

“Jangan lupa jemur pakaian di belakang rumah. Kemaren Bapak cuci baju, ambilin semua di atas ya, sekiranya jika tidak mau setrika, lipat-lipat saja”, pesan Ibu padaku saat hendak berangkat bekerja.

Aku hanya mengganggukkan kepala dan tidak lupa untuk bersalim. Melihat Ibu yang berangkat bekerja diusia 49 tahunnya dengan penuh semangat dan dibawah tekanan orang-orang cina, dibandingkan Aku yang apa-apa sambat. Cukup memalukan bukan, yang jaman sekarang dikatan “pemuda jompo”. Ada banyak hal yang masih belum Aku pahami mengenai Ibuku, sekalipun sudah dua puluh dua tahun aku dibesarkan, Aku masih saja tetap marah ketika apa-apa yang tak sejalan dengannya.

****

           Hal-hal sederhana yang dilakukan ibu yang berujung kompleksitas tidak sebatas pada pemilihan menu makanan, melainkan menentukan warna juga terlibat. Sore itu, Aku hendak menghadiri acara pernikaha salah satu temanku. Seperti biasa, perempuan yang bolak-bolak mmenjajahkan pakaian mana yang serasi dan tepat sehingga tampil cantik dengan percaya diri. Tepat Aku memutuskan untuk memakai dress berwarna hitam, celana kulot hitam, dan kerudung hitam. Entah bagaimana aku jatuh cinta dengan pekatnya hitam, bagiku saat warna hitam menyatu dengan tubuhku, serasa seperti lilin satu yang menyala di taman kota. Namun, itu semua berbanding dengan Ibuku.

“Ke Kondangan serba hitam. Pilih warna itu yang cerah, cantik. Pakai saja Tunik warna pink itu, yang pernah ibu jahitkan ke teman Ibu. Itu jauh lebih anggun”.

“Sudah menempel di tubuh Ibu. Masak haru menggantungkan lagi di lemari”, sahutku dengan wajah cemberut.

“Kalo begitu, jangan gunakan hitam semua. Coba gantilah dengan rok batik yang pernah Ibu permakkan di teman Ibu waktu itu. Biar warnanya serasi dan tidak monoton”.

“Mau jadi gadis solo?”, sahutku dengan tertawa

“Jangan terlalu menor, yang soft saja. Kalo bisa tidak usah pake make-up

Dan lebih parahnya diriku, pada akhirnya memutuskan ke pesta malam itu dengan mengenakan dress hitam, kerudung hitam, tas hitam, high heels hitam, dan rok span batik sesuai dengan saran Ibu. Namun, untuk polesan di wajah tidak sedikitpun aku rubah. Aku merasa ini sudah pas dan cocok. Setelah siap semua dan beridri di depan cermin, saran Ibu tidak terlalu buruk. Aku merasa cukup anggun selayaknya gadis solo, meskipun sedikit tertawa. Dan Ibu merasa menang bahwa berhasil mempengaruhiku.

           Cukup larut Aku sampai di rumah. Ibu dan Bapak sudah paham, tidak mungkin selepas dari Kondangan langsung anaknya bergegas pulang. Setidaknya make up malam itu tidak mubadzir.

           “Sudah tidur rupanya”, sambil menatap Ibu yang tidur di kamar ke dua, Dengan nikmat dan pules.

“Terima kasih Ibu, sejauh ini belum ku temukan Surga sepertimu. Dengan segala kesederhanaan yang tidak biasa saja jika dirasakan, hingga memuat kompleksitas”. Ahhh, astaga. Aku tidak tahan jika mengatakan ini semua. Aku tidak mengupas bawang merah, tapi tetap saja jika merenungkan Ibu serasa mataku terus perih dan berair”, gumamku sambil menatap Ibu.

Aku menyudahi dan segera merapalkan doa-doa agar tidurku tenang tanpa overthingking yang melanda.

“Memang tidak mudah menjadi anak bungsu, yang segalanya harus dipikir matang-matang, dituntut menjadi serba bisa, dan benar-benar rumah orang tua terakhir. Tidak kalah juga dengan anak sulung, yang lebih parah dipaksa sendiri dan harus selalu kuat. Sudah. Jika terus bergumam seperti ini kapan tubuh dan otakku istirahat”.

Malam itu benar-benar genting. Tidak tahu overthingking bagian mana lagi yang tersedia. Yang jelas, salah satunya yang membuatku seperti itu adalah segala kompleskitas dari Ibu. Aku tidak menyalahkannya. Aku tahu, setiap Ibu ingin anaknya sebaik-baiknya daari nasibnya bahkan impian yang belum diwujudkan. Dan, Aku menikmatinya meskipun sedikit sakit. Sesakit-sakitnya tidak akan pernah sesakit Ibu yang membesarkan putri malas ini dengan kisah kasihnya. Rembulan tetap bertahan, dengan dercak-dercak awan hitam yang berkabut disekelilingnya, masih terang dan tetap kuat memancarkan apa yang menjadi hak dan tugasnya.

           Tidak semua hal harus dipaksakan, semestinya tahu porsi dan porosnya berada dan beredar dimana. Ibu, pagi itu cukup membuatku syok yang mendebatkan perkara yang diluar lingkarannya bersama Ibu muda satu anak itu. Sangat bising, namun aku tetap menyimak meski berada di ranjang dengan mata masih setengah sadar.

“Salahmu sendiri, kenapa tidak berkonsultasi dengan Ibu. Apa-apa itu ngomong ke Ibu. Coba tengok, desain almari adikmu rapih dan mantab bukan?, Itu Ibu yang mendesain, di tangan orang yang tepat”.

“Sudah terjadi, bagaimana lagi. Lagipula tukangnya akan datang nanti siang untuk membenahi pintu almarinya”.

“Benahin pintunya, susah untuk dibuka. Seret. Runyam. Kamarmu sudah ruwet, ditambah lemarimu yang tidak jelas. Siapa yang desain? Suamimu? Tetap saja tidak berubah”.

“Loh kan mas hanya yang desain, masalah hasil kurang memuaskan salahkan tukangnya”.

“Makanya, kalo apa-apa bilang, jangan digubris sendiri. Terlalu gegabah menjadi merana”, sahut Ibu sambil tertawa sinis.

Coba pikirkan saja, jika Aku yang memikirkan semua obrolan Ibu dan Kakak cukup pusing untuk menganalisisnya, mana yang tepat dan seharusnya. Tapi, jika secara sehat itu bukanlah wilayah Ibu. Disisi lain, Ibu muda satu anak itu kurang tepat, sebab meminta saran pada Ibu yang sudah sangat jelas memiliki berbagai kunci yang dirasa membuat keinginannya berhasil.

“Disetiap rumah memiliki aturan masing-masing. Memiliki target yang akan ditempuh dengan cara yang berbeda. Ibu, orang yang memiliki segala kunci untuk menuntaskan egonya. Namun, secara tidak sadar itu mengikat dan melukai yang dipeluknya. Oborlan tadi bukanlah wilayah Ibu. Sebab Kakak sudah memiliki rumah rumah sendiri dan yang menjadi kepala serta lehernya hanya Kakak dan suaminya. Tidak seharusnya ibu berkata seperti tadi. Aku yakin, hati yang paling dalam Kakak cukup jengkel. Namun, tidak sepenuhnya hanya Ibu yang kurang tepat. Terkadang Kakak melupakan tugasnya. Ditambah terkadang sarapan untuk suaminya saja masih meminta Ibu. Itu bukan salah, namun dirasa kurang baik saja jika terus menerus meminta Ibu. Dan tidak salah juga jika Ibu terus mengikuti urusan apa-apa tentang rumah Kakak, sebab Ibu masih merasa anak-anaknya masih dipeluknya dan genggamnya”, gumamku sambil menatap atap kamar yang penuh dengan sawang.

“Tok-tok.......ayo bangun, cucian di atas masih belum dijemur”, sahut Ibu di depan kamarku.

***

           Selain mengawali bangun tidur dengan nguping tanpa sengaja, Aku diperintahkan polisi rumah untuk menjemur pakaian di loteng. Mungkin kebanyakan anak-anak seusiaku enggan untuk melakukannya atau bisa juga menyukainya. Bagiku, jika urusan apapun yang berbau loteng rumah aku tidak enggan untuk melakukannya. Sebab, Aku bisa puas untuk berimajinasi dengan liar, dengan menatap bola-bola awan yang sangat manis, rasanya benar-benar bebas. Dan mulai itu, dengan tiba-tiba aku mencoba mencari jabawan.

           Perihal Ibu dengan segala kompleksitasnya, membuat orang sekitar kebingungang hingga terus mengira-ngira. Saat ibu menawari sebuah menu makanan dan apa yang dimasak berbeda dari apa yang ditawarkan, adalah sebuah kerinduan yang tanpa permisi datang kepada Ibu. Menu Balian adalah menu favorit Ibu, dengan itu Ibu bisa menebus rindunya kepada simbok. Itu terlihat tidak masuk akal, tapi itu memang pada nyatanya. Menu Balian seadanya pada waktu itu; tempe, tahu, dan telur.

           Perihal Ibu dengan segala kompleksitasnya, memeluk hingga mengikat yang tanpa sadar perlahan membuat sesak. Saat ibu menyuruhku mengenakan rok span batik seperti putri solo, pada sebenarnya adalah itu rok milik Ibu yang sudah tidak cukup jika Ibu yang mengenakan. Ibu yang semakin bertamah usia semakin bertambah berat badannya. Dengan aku mengenakan rok span batik itu, Ibu dapat melihat kembali saat Ibu masih gadis sediakala dahulu. Yang masih ramping dan muat memakai pakaian apapun. Ditambah, Ibu paling menyukai warna pink. Dan sangat kurang suka pada warna hitam, sebab mengira bahwa hitam adalah lambang kegelapan.

           Perihal Ibu dengan segala kompleksitasnya, mengunci ruang tanpa permisi pada tuan rumahnya. Saat ibu menasihati Kakak perihal almari dengan desain yang kurang memuaskan, sebenarnya adalah bahwa Ibu tahu Kakak dan suaminya tidak akan pernah bisa menghasilakn sesuatu dengan baik, selalu ada kecacatan yang melandanya. Ibu hanya menunjukkan rasa perdulinya melalui sindiran agar sedikit-sedikit apa yang akan Kakak lakukan untuk menanyakan kembali kepada Ibu, apakah sudah tepat dan baik.

           Itu saja jawabannya. Yang baru Aku pahami.

 

 

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Tidak ada komentar