IDENTITAS

“Bu, kalau aku besar nanti jadi seperti ibu atau ayah?” 

“Kamu akan jadi seperti yang kamu inginkan.” 

Pernyataan itu selalu menjadi kunci segala tindakan yang kupilih. Ibu memberi kebebasan untuk mewujudkan keinginanku. Menukang atau menenun, ibu selalu mendukung. Rambut sepantat atau plontos mengkilat, ibu hanya tersenyum.

Rupanya kebebasan tak pernah benar-benar ada. Di angka tujuh belas, aku harus memilih demi selembar kartu identitas yang konon bisa mempermudah kehidupan.

“Nak, ibu sebenarnya tak mau memaksamu, tapi kamu harus memilih satu identitas. Pria atau wanita. Blangko kartu ini tak punya pilihan pria dan wanita. Masalahnya, kamu harus punya kartu ini agar diakui.” 

“Kenapa orang sepertiku tak digolongkan jenis lain? Kenapa harus memilih satu? Kenapa harus mengorbankan salah satu?” 

“Karena di luar sana keistimewaanmu dianggap ketidakwajaran.” 

“Tuhan bukan laki-laki, bukan perempuan. Apa aku tak bisa dianggap seperti itu?”

“Kamu bukan Tuhan. Kamu cuma rakyat yang hidupnya tergantung dari selembar kartu.”

14 disukai 6 komentar 6.2K dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
@laylla2 : Makasih Kak 😁😁
@rainzanov : Maunya sih gak milih tapi apa daya keadaan harus buat satu keputusan 😁😁😁
So deep
@buayadayat harusnya memang dikasih kolom khusus. Kolom agama aja ditambahin kok.
Wah, sebenarnya kamu perempuan atau laki-laki? 🥺
Mengingatkan pada kisah Aprilia Manganang.. (terbayang kalau kisah ini ditarik ke kolom agama)
Saran Flash Fiction