Di dalam mobil sedan mewah yang melaju membelah kemacetan, Derwin Wijaya memijat pelipisnya yang berdenyut. Di usianya yang baru menginjak 28 tahun, ia sudah memikul tanggung jawab besar sebagai CEO Wijaya Group, salah satu perusahaan properti terbesar di Indonesia. Hari ini melelahkan, penuh dengan rapat direksi yang menguras energi.
"Pak, sepertinya di depan ada tawuran atau keributan. Jalanan agak tersendat," ucap Pak joko, sopir pribadinya.
Derwin membuka matanya, menatap keluar jendela. Di dekat sebuah halte bus yang agak sepi, ia tidak melihat tawuran massal. Sebaliknya, ia melihat ketimpangan. Tiga orang siswi SMA dengan seragam ketat sedang mengerumuni seorang siswi lain. Mereka tertawa puas sambil mendorong, memaki, dan puncaknya—menyiramkan segelas es kopi cokelat tepat ke atas kepala gadis yang tak berdaya itu.
Gadis yang menjadi korban itu hanya menunduk dalam, memeluk tas ranselnya yang sudah usang. Tubuhnya bergetar hebat, menahan tangis.
Entah dorongan dari mana, dada Derwin bergemuruh melihat ketidakadilan itu. "Pak Joko, berhenti di depan halte," perintahnya tegas.
Tanpa payung, Derwin turun dari mobil. Postur tubuhnya yang tegap, dibalut setelan jas mahal, langsung mengintimidasi keadaan. Langkah kakinya yang tegas membuat ketiga pelaku perundungan itu menoleh.
"Heh, siapa lo? Jangan ikut campur ya!" bentak salah satu siswi yang tampak seperti pemimpin geng.
Derwin tidak meladeni ucapan mereka. Ia hanya menatap mereka dengan tatapan sedingin es yang biasa ia gunakan untuk menjatuhkan lawan bisnisnya. "Pergi sebelum saya panggil polisi dan memastikan beasiswa atau fasilitas sekolah kalian dicabut hari ini juga," ucap Derwin, suaranya berat dan penuh penekanan.
Melihat aura mahal dan berkuasa yang memancar dari Derwin, ditambah ancaman yang tidak main-main, ketiga siswi itu saling berpandangan ketakutan. Tanpa babibu, mereka langsung melesat pergi meninggalkan halte.
Derwin mengalihkan pandangannya pada gadis yang masih bersimpuh di lantai halte. Rambutnya basah kuyup oleh kopi, wajahnya coreng-moreng oleh debu dan air mata, dan kacamatanya yang berbingkai tebal tampak retak.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Derwin, melembutkan suaranya sesopan mungkin.
Gadis itu mendongak perlahan. Sepasang mata yang sembab dan ketakutan menatap Derwin. "T-terima kasih, Om... eh, Kak," bisiknya terbata-bata.
Derwin menghela napas, merasa iba. Ia melepas jas formalnya dan menyampirkannya ke bahu kurus gadis itu. "Ikut saya. Di luar dingin, kamu bisa sakit. Saya antar kamu pulang."
Gadis itu sempat ragu, namun melihat ketulusan di mata Derwin, ia akhirnya mengangguk. Di dalam mobil yang hangat, gadis itu memperkenalkan dirinya. Namanya Riska, seorang siswi kelas dua SMA yang masuk lewat jalur prestasi namun selalu menjadi sasaran bully karena penampilannya yang dianggap kuno, kuper, dan ekonominya yang sederhana.
Malam itu menjadi awal dari pertemuan tak sengaja yang mengubah garis takdir mereka berdua.
******
Sejak kejadian malam itu, Derwin tidak bisa melupakan Riska. Ada sesuatu pada binar mata gadis itu—sebuah ketegaran di balik kerapuhan—yang terus mengusik pikiran sang CEO. Derwin meminta nomor ponsel Riska malam itu dengan alasan "memastikan ia sampai di rumah dengan aman." Namun, chat singkat formal berubah menjadi obrolan rutin setiap malam.
Derwin yang biasanya kaku dan hanya memikirkan grafik saham, kini sering tersenyum sendiri di depan layar ponselnya membaca cerita polos Riska tentang ujian biologinya atau kucing liar yang ia beri makan di jalan. Sebaliknya, bagi Riska, Derwin adalah sosok pelindung, tempatnya mengadu saat dunia terasa terlalu kejam.
Setahun berlalu dengan cepat. Hubungan mereka tumbuh secara organik, melewati batas status sosial dan usia. Derwin selalu ada untuk Riska, membelikannya buku-buku pelajaran, memastikan tidak ada lagi yang berani menyentuhnya di sekolah dengan menempatkan pengawal rahasia, hingga menemani Riska belajar untuk ujian kelulusan.
Tepat di hari kelulusan Riska, Derwin mengajaknya makan malam di sebuah restoran rooftop mewah yang sudah ia sewa seluruhnya. Riska datang dengan dress sederhana, merasa agak minder dengan kemewahan tempat itu.
Setelah makan malam selesai, Derwin menggenggam jemari Riska di atas meja. Di bawah pendar lampu kota Jakarta yang indah, Derwin menatap Riska dalam-dalam.
"Riska, selama satu tahun ini, kamu sudah menjadi bagian terpenting dalam hidupku. Aku tidak peduli apa kata orang tentang perbedaan usia kita atau status kita. Yang aku tahu, aku ingin melindungimu, tidak hanya sebagai orang asing, tapi sebagai pria yang mendampingimu. Will you be my girlfriend?"
Riska terpaku. Jantungnya berdegup kencang. Rasa kagum dan sayang yang selama ini ia pendam ternyata berbalas. Dengan mata berkaca-kaca karena bahagia, Riska mengangguk pelan. "Iya, Kak Derwin. Aku mau."
Malam itu, mereka resmi berpacaran. Sebuah hubungan yang didasari oleh ketulusan, bukan sekadar materi.
*****
Setelah lulus SMA dan resmi menjadi kekasih Derwin, kehidupan Riska berubah. Namun, bukan berarti ia menjadi manja. Derwin ingin Riska berkembang menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri.
"Riska, kamu memiliki otak yang cerdas dan hati yang cantik. Sekarang, mari kita tunjukkan pada dunia seberapa berharganya kamu," ujar Derwin suatu hari, membawa Riska ke sebuah klinik kecantikan dan butik ternama.
Derwin tidak berniat mengubah esensi diri Riska, ia hanya ingin membantu Riska menemukan rasa percaya dirinya yang sempat dihancurkan oleh para perundung. Proses glow-up Riska pun dimulai, tidak hanya dari luar, tetapi juga dari dalam (inner beauty).
Perawatan Diri dan Kesehatan: Riska mulai merawat kulitnya yang dulu kusam karena sering terpapar matahari tanpa perlindungan. Ia belajar tentang skincare, mulai berolahraga ringan untuk memperbaiki postur tubuhnya yang dulu sering membungkuk karena minder, dan beralih menggunakan lensa kontak untuk menggantikan kacamata tebalnya yang retak.
mendaftarkan Riska ke universitas swasta ternama jurusan Bisnis Internasional. Di sana, Riska juga belajar cara berpakaian yang modis namun tetap elegan dan sopan. Ia memotong rambutnya yang dulu rontok dan tak terawat menjadi potongan layer yang membingkai wajah manisnya dengan sempurna.
Kelas Pengembangan Diri: Ini adalah bagian terpenting. Derwin memfasilitasi Riska untuk mengikuti kelas public speaking dan kelas kepribadian. Riska yang dulu bicaranya terbata-bata dan selalu menunduk, kini belajar cara menatap mata lawan bicara, tersenyum dengan anggun, dan mengutarakan pendapatnya dengan cerdas.
Mata kuliah demi mata kuliah dilewati, bulan demi bulan berganti. Perubahan Riska sangat drastis hingga membuat siapa pun yang mengenalnya dulu pasti akan pangling. Kulitnya kini bersih dan bercahaya (glowing), tubuhnya proporsional dan tegap penuh percaya diri, serta cara bicaranya sangat berwibawa namun tetap ramah. Ia telah bertransformasi dari seonggok batu kerikil yang dinilai sebelah mata menjadi berlian yang berkilau indah.
*****
Empat tahun kemudian, Riska lulus dari universitas dengan predikat Magna Cum Laude. Sebagai hadiah kelulusan sekaligus langkah awal kariernya, Derwin menunjuk Riska sebagai manajer magang di salah satu anak perusahaan Wijaya Group yang bergerak di bidang fashion dan kosmetik.
Suatu hari, perusahaan Riska mengadakan kerja sama dengan sebuah agensi pemasaran untuk proyek peluncuran produk baru. Riska, sebagai manajer proyek, duduk di ruang rapat utama memimpin jalannya presentasi.
Pintu ruang rapat terbuka, dan tim dari agensi pemasaran masuk. Riska mengamati wajah-wajah perwakilan agensi tersebut. Jantungnya berdesir sesaat ketika mengenali dua dari tiga wanita yang masuk ke ruangan itu. Mereka adalah Sherly dan Tania—dua dari tiga siswi yang dulu menyiramnya dengan es kopi cokelat di halte bus lima tahun lalu.
Sherly dan Tania tampak gugup menghadapi manajer muda Wijaya Group yang terkenal cerdas dan tegas itu. Mereka tidak mengenali Riska. Bagaimana mungkin mereka mengenali gadis dekil yang dulu mereka injak-injak, kini menjelma menjadi wanita karier super cantik, modis, dengan aura bos yang begitu kuat?
"Selamat siang. Saya Riska Anindya, manajer proyek untuk lini produk baru ini," sapa Riska, suaranya terdengar merdu namun penuh wibawa.
Mendengar nama "Riska", Sherly dan Tania langsung tersentak. Mereka menatap Riska lekat-lekat. Memori masa lalu berputar di otak mereka. Kacamata tebal, baju lusuh... dan struktur wajah di depan mereka ini memiliki kemiripan yang mutlak, hanya saja seribu kali lebih cantik dan berkelas.
Selama rapat berlangsung, Sherly dan Tania terlihat tidak fokus dan gemetar. Presentasi mereka berantakan karena diselimuti rasa takut dan bersalah.
Setelah rapat selesai, Riska meminta semua orang keluar ruangan, kecuali Sherly dan Tania. Suasana ruangan mendadak hening dan mencekam.
"Proyek kalian sebenarnya bagus, tapi presentasi kalian hari ini sangat tidak profesional," ucap Riska santai sambil merapikan dokumennya.
"R-Riska... kamu... Riska yang dulu di SMA?" tanya Sherly dengan suara bergetar, nyaris menangis.
Riska tersenyum tipis, sebuah senyuman elegan yang tidak menunjukkan dendam, melainkan kemenangan mutlak. "Iya, ini aku. Gadis halte bus yang dulu kalian siram air kopi."
Tania langsung menyatukan kedua tangannya. "Riska, kami mohon maaf... Kami benar-benar minta maaf atas kelakuan kami dulu. Tolong jangan batalkan kontrak ini, perusahaan kami sangat butuh proyek ini, dan kami bisa dipecat kalau proyek ini gagal."
Riska menatap mereka dengan tatapan tenang. "Aku tidak akan membatalkan proyek ini secara sepihak hanya karena masa lalu pribadi. Aku bersikap profesional. Perbaiki presentasi kalian, dan kita bekerja sama dengan baik."
Riska bangkit dari kursinya, berjalan menuju pintu. Namun sebelum membuka pintu, ia menoleh. "Oh, satu hal lagi. Terima kasih atas perlakuan kalian dulu. Tanpa rasa sakit yang kalian berikan, aku mungkin tidak akan pernah bertemu dengan seseorang yang menyadarkanku betapa berharganya diriku."
Riska keluar dari ruangan dengan kepala tegak. Ia tidak membalas dengan kekerasan atau kekuasaan untuk menghancurkan hidup mereka. Pembalasan terbaiknya adalah menunjukkan bahwa ia telah hidup jauh lebih sukses, bahagia, dan menjadi versi dirinya yang tidak akan pernah bisa mereka gapai.
*****
Malam harinya, sebuah pesta perayaan kelulusan sekaligus keberhasilan proyek baru Riska digelar di aula hotel milik Wijaya Group. Riska malam itu tampil bak dewi langit. Ia mengenakan gaun malam berwarna biru dongker yang elegan, memperlihatkan pundaknya yang indah, rambutnya disanggul modern dengan menyisakan beberapa helai yang membingkai wajahnya yang berseri.
Semua mata tamu undangan tertuju padanya, mengagumi kecantikan dan kecerdasannya saat ia berbincang dengan para kolega bisnis.
Dari kejauhan, Derwin berdiri dengan segelas minuman di tangannya. Senyum bangga tak lepas dari bibir pria itu. Gadis kecil yang dulu ia selamatkan dari derasnya hujan dan kejamnya dunia, kini telah tumbuh menjadi wanita mandiri yang luar biasa, siap bersanding di sisinya.
Riska melihat Derwin dan segera pamit dari obrolannya untuk menghampiri kekasihnya.
"Hai, Pak CEO," goda Riska dengan senyuman manisnya yang mematikan.
"Hai, Nona Manajer yang hebat. Kamu luar biasa hari ini. Aku mendengar bagaimana kamu menghadapi masa lalumu tadi siang dengan sangat anggun," ucap Derwin, melingkarkan tangannya di pinggang Riska secara protektif.
"Semua ini berkat kamu, Kak. Kamu yang memberikan aku kesempatan, kamu yang percaya padaku saat semua orang membuangku," ujar Riska tulus, menatap mata hitam pekat milik Derwin yang selalu menjadi tempat amannya.
Derwin membawa Riska menuju ke balkon luar yang lebih sepi, menjauh dari hiruk-pikuk suara musik pesta. Angin malam berembus lembut, memainkan helai rambut Riska.
Derwin merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah kotak beludru merah kecil. Saat membukanya, sebuah cincin berlian bersinar indah di bawah cahaya bulan.
Riska menutup mulutnya dengan tangan, matanya mulai berkaca-kaca untuk kesekian kalinya, namun kali ini murni karena letupan kebahagiaan yang membuncah.
"Riska, kita sudah melewati banyak hal. Aku sudah melihatmu di titik terendahmu, dan kini aku melihatmu bersinar di titik tertinggi. Rasa sayangku tidak pernah berubah sejak malam di halte bus itu, justru semakin dalam setiap harinya. Aku tidak ingin lagi menjadi pacarmu, aku ingin menjadi suamimu, pelindungmu seumur hidupku."
Derwin berlutut dengan satu kaki di hadapan Riska. "Will you marry me, my beautiful diamond?"
Air mata bahagia Riska luruh membasahi pipinya yang merona. Ia mengangguk dengan mantap. "Yes! Yes, I will, Kak Derwin!"
Derwin berdiri, menyematkan cincin itu di jari manis Riska, lalu membawa Riska ke dalam pelukan hangatnya. Di sela-sela pelukan yang erat itu, di bawah saksi bisu keindahan langit malam dan gemerlap bintang, Derwin berbisik pelan namun sarat akan ketulusan yang mendalam tepat di telinga Riska.
"I love you, Riska. Dulu, sekarang, dan selamanya."
Riska mempererat pelukannya, memejamkan mata dengan rasa syukur yang luar biasa atas takdir indah yang membawanya pada pria ini. "I love you too, Kak Derwin. Lebih dari apa pun."
Pertemuan tak sengaja di bawah guyuran gerimis itu kini telah bermekaran menjadi sebuah kisah cinta sejati yang abadi. Rasa sakit di masa lalu telah menguap, digantikan oleh masa depan yang cerah dan penuh cinta di pelukan sang CEO yang berhati mulia.
***TAMAT***