Flash Fiction
Disukai
1
Dilihat
11
Dua Senyum
Romantis
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Kami berdiri berhadapan dengan senyum sama lebarnya, meskipun menyimpan arti yang mungkin berbeda. Ramai orang mengelilingi kami. Dengan paras tampan pria di hadapanku ini, semua tatap mata melihatnya sebagai tokoh utama paling bahagia.

Ucapan bahagia terdengar dari berbagai arah membuat priaku ikut tertawa. Entah yang sekadar "Selamat, ya," atau yang disertai doa "Semoga sakinnah, mawaddah, warohmah," hingga yang diselingi candaan "Malem pertama nanti pelan-pelan aja, Bro!" Begitulah semua orang turut menyelamati priaku yang saat ini lagi-lagi melempar senyum ke arahku.

Lagi dan lagi aku mencoba mempertahankan senyum di wajah. Kali ini priaku melambaikan tangan, memintaku menghampirinya untuk melakukan sesi foto bersama. Demi membuat priaku tetap bahagia di hari spesialnya ini, aku—masih dengan senyum di wajah—mengikuti keinginannya.

Lama senyumku bisa bertahan. Hingga aku pamit pulang, baru senyumku pudar. Namun, tidak dengan senyum priaku. Ah, tunggu ... dari tadi aku menyebutnya 'priaku?' Haha. Aku lupa, dia sudah jadi suami orang dan aku belum terbiasa menyebutnya pria wanita lain.

Sesampainya di depan pintu rumah, tangisku pecah.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)