Disukai
1
Dilihat
7
GARIS LAUT LANGIT YANG SAMA
Religi
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Di antara riuh rendah angin Banjarmasin dan sejuknya angin pesisir Manado, ada sebuah frekuensi yang hanya dimengerti oleh Donny Sixx dan Priy Ant. Jarak 1.300 kilometer melintasi Laut Sulawesi dan Laut Kalimantan hanyalah satu soal; perbedaan keyakinan adalah soal lain yang jauh lebih pelik.

Donny Sixx adalah tipikal pemuda Manado yang enerjik. Rambutnya gondrong tanggung, sisa-sisa kejayaan sebagai gitaris band lokal yang kini lebih banyak menghabiskan waktu di studio rekaman kecil miliknya. Pagi harinya selalu dimulai dengan kepulan uap bubur Manado yang pedas-segar dan dentang lonceng gereja yang bergema di kejauhan, memanggil jiwa-jiwa untuk bersyukur. Kalung salib perak di lehernya bukan sekadar aksesori; itu adalah identitas yang mendarah daging, warisan turun-temurun dari keluarga besar yang memandang iman sebagai harga mati.

Di sisi lain, Priy Ant menjalani hidup dengan ritme Banjarmasin yang tenang namun teratur. Ia adalah gadis Banjar dengan tutur kata lembut yang setiap subuhnya terbangun oleh suara muazin dari Masjid Raya Sabilal Muhtadin. Bagi Priy, hidup adalah tentang harmoni dan ketaatan. Namun, ia menyadari bahwa harmoninya dengan Donny memiliki banyak nada sumbang yang dipaksakan. Di kamarnya, tersusun rapi kitab suci dan mukena bordir pemberian ibunya, sebuah kontras tajam dengan kehidupan "rock and roll" yang sering diceritakan Donny melalui layar ponsel.

Hubungan mereka tidak dimulai di dunia nyata, melainkan di sebuah forum musik daring. Donny jatuh hati pada cara Priy mengulas lirik lagu dengan begitu puitis, membedah metafora seolah-olah ia bisa membaca jiwa sang penulis lagu. Sebaliknya, Priy terpesona pada jemari Donny yang mampu membuat gitarnya menangis atau tertawa.

Komunikasi mereka adalah rutinitas "Video Call" sebelum tidur yang menjadi candu. Namun, teknologi tidak bisa menyembunyikan kebenaran selamanya.

"Priy, di sini hujan deras sekali. Di Manado, hujan selalu terasa seperti lagu blues," ujar Donny suatu malam, wajahnya terpantul di layar ponsel yang sedikit retak.

Priy tersenyum, meski matanya tampak lelah. "Di Banjar panas, Don. Aku baru selesai salat Isya. Di sana sudah hampir tengah malam, kan? Jangan terlalu sering begadang, nanti suaramu serak."

Konflik mulai merembes keluar dari layar ponsel ketika realitas menuntut jawaban. Di Manado, Ibu Donny mulai sering bertanya mengapa anaknya tak pernah lagi membawa teman wanita ke rumah saat acara keluarga di gereja.

"Don, kau sudah kepala tiga. Ibu lihat kau selalu sibuk dengan ponselmu. Siapa gadis itu?" tanya Ibunya suatu sore sambil menyajikan klappertaart.

"Dia orang Kalimantan, Bu. Pintar, baik sekali," jawab Donny pendek.

"Orang sana? Agamanya apa?"

Pertanyaan itu seperti hantaman drum yang tak sinkron. Donny terdiam. Ibunya melanjutkan dengan suara yang lebih berat, "Ingat, Don. Kita ini keluarga pelayan jemaat. Jangan buat Tuhan cemburu karena kau salah menaruh hati."

Di Banjarmasin, situasinya lebih mencekam. Abah Priy adalah sosok yang dihormati di kampungnya. Suatu malam, saat mereka duduk di teras menghadap sungai, Abah bicara tanpa menoleh.

"Priy, Abah dengar kau sering bicara dengan pemuda dari seberang. Teman-temanmu bilang dia anak band, kalungnya salib," suara Abah tenang, namun ada otoritas yang tak terbantahkan di sana. "Kita ini orang beriman, Nak. Mencintai itu mudah, tapi menyatukan dua kiblat itu mustahil. Jangan kau buang akhiratmu demi perasaan sesaat."

Priy hanya bisa menunduk, meremas ujung hijabnya. Dadanya sesak. Bagaimana bisa sesuatu yang terasa begitu benar di hatinya dianggap begitu salah oleh dunia di sekitarnya?

Malam itu, saat video call tersambung, suasana terasa berbeda. Tidak ada candaan tentang musik atau cuaca.

"Mama tadi tanya lagi, Don. Sampai kapan kita begini?" suara Priy mengecil, nyaris berbisik. Di belakangnya, kaligrafi di dinding kamarnya seolah menatap Donny dengan tajam.

Donny menghela napas panjang, mengusap wajahnya yang lelah. "Aku juga baru bicara dengan Ibu. Priy, kau tahu aku tidak bisa meninggalkan imanku. Itu adalah nafasku. Tapi aku juga tidak tahu bagaimana caranya meninggalkanmu tanpa merasa separuh jiwaku hilang."

"Aku juga tidak bisa, Don. Aku mencintai Tuhanku, dan aku menghormati Abah. Tapi setiap kali aku mendengar melodi gitarmu, aku merasa Tuhan sedang menunjukkan bahwa keindahan itu universal," balas Priy, air mata mulai menggenang.

Jarak fisik antara Banjarmasin dan Manado terasa kian lebar. Bukan karena harga tiket pesawat yang melonjak, tapi karena arah kiblat dan letak altar yang tidak pernah bisa bertemu di satu garis lurus. Mereka adalah dua garis sejajar yang saling memandang, namun ditakdirkan untuk tidak pernah bersinggungan tanpa menghancurkan struktur yang ada.

Setelah berbulan-bulan didera batin, mereka memutuskan untuk bertemu di tengah: Makassar. Kota ini menjadi titik temu, tempat di mana mereka bisa menjadi "Donny dan Priy" tanpa embel-embel latar belakang keluarga.

Satu minggu di Makassar adalah minggu yang penuh kejujuran yang menyakitkan. Di Pantai Losari, di bawah langit yang memerah, mereka duduk berdampingan namun terasa ada sekat kaca di antara mereka.

Donny membelikan Priy sebuah gelang manik-manik khas Manado yang cantik. "Pakailah, supaya kau ingat bahwa di utara, ada satu orang yang selalu menyebut namamu dalam setiap dentang lonceng."

Priy membalasnya dengan kain Sasirangan motif Gigi Haruan yang dibungkus rapi. "Dan simpanlah ini, agar kau tahu bahwa di selatan, ada satu jiwa yang mendoakanmu di setiap sujudnya."

Konflik memuncak di hari terakhir. Donny menggenggam tangan Priy, "Bagaimana jika kita mencoba? Salah satu dari kita mengalah?"

Priy menggeleng pelan, air matanya jatuh ke atas pasir. "Jika aku mengalah, aku bukan lagi Priy yang kau cintai. Aku akan menjadi orang asing yang penuh penyesalan. Dan jika kau mengalah, aku akan merasa bersalah seumur hidup karena telah menjauhkanmu dari Tuhanmu."

Mereka menyadari pahitnya kenyataan: cinta mereka tidak kurang, namun ruang untuk mereka tumbuh bersama tidak disediakan oleh lingkungan mereka.

Donny Sixx kembali ke Manado dengan bau parfum Priy yang masih menempel di jaket kulitnya. Ia kembali memetik gitar, namun kini melodinya lebih banyak bernuansa minor, penuh kerinduan yang tak tersampaikan.

Priy Ant kembali ke Banjarmasin. Ia tetap menjadi gadis yang lembut, tetap rajin berdoa, namun ada satu doa tambahan yang selalu ia selipkan di akhir: doa untuk kebahagiaan seorang pria di seberang lautan yang mengajarinya bahwa perbedaan bukan untuk disatukan secara paksa, melainkan untuk dimengerti.

Mereka masih berkabar. Masih saling mengucapkan "Selamat beribadah" setiap hari Minggu dan hari Jumat. Mereka tidak memilih untuk putus, namun juga tidak memilih untuk menikah dalam konflik. Mereka memilih untuk berada dalam frekuensi yang sama—sebuah wilayah abu-abu di mana cinta tetap ada tanpa harus melukai keyakinan masing-masing.

Jarak jauh dan beda agama memang sebuah kemustahilan bagi banyak orang, sebuah tembok raksasa yang tak mungkin runtuh. Namun bagi Donny dan Priy, cinta mereka adalah sebuah perjalanan mencari Tuhan dalam diri satu sama lain, menyadari bahwa mungkin saja, mereka adalah dua bait dari satu lagu agung yang sama, hanya saja dinyanyikan dalam bahasa yang berbeda.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Religi
Rekomendasi