KANG ABI MENGAIS REJEKI

KANG ABI MENGAIS REJEKI

           Kang Abi tampak sedang membereskan jongko jualan gorengan dan kue-kue jajanan pasar yang akan dia jual sore ini. Rimba anaknya ikut membantu memasang tiang-tiang tenda kecilnya agar pelanggan tidak kepanasan atau kehujanan bila hujan. Maklum bulan puasa saat ini masih musim pancaroba.

           Jam 4 sore semuanya sudah beres dan tertata rapih. Bahkan sudah ada beberapa calon pembeli yang sudah menunggu untuk membeli makanan berbuka puasa nanti.

           Kang Abi menghampiri pelanggannya yang sudah 2 tahun belakangan ini setia membeli di jongkonya.

           “Mau beli apa neng?” Sapa kang Abi sambil tersenyum ramah. Tangan kang Abi sudah memegang bungkus kertas dialas daun pisang.

           “Oh iya pak Abi. Saya perlu bakwan 10, terus abudin 10 dan 2 plastik bubur candil. Jadi berapa pak” Tanya Susi pelanggan setianya.

           “Biasa saja neng Susi. 44 ribu semuanya.” Balas kang Abi sambil mengambil makanan yang diminta Susi dan memasukannya kedalam bungkusan.

“Eh pak Abi. Itu anaknya ya?” Selidik Susi. “Beda ya. Ganteng juga.”

Pak Abi tertawa. “Ya pastilah neng. Dia masih muda dan saya sudah tua.” Kang Abi salah fokus.

Satu persatu pelanggan kang Abi diladeni sampai terlihat makanan untuk buka puasa yang dijualnya semakin menipis.

“Pak Abi?” Suara seorang laki-laki menyapanya. “Masih ingat saya pak?”

Kang Abi menoleh dan menatap laki-laki itu. “Aduh maaf. Saya sudah agak pelupa. Maklum kelas 6 lebih.” Balas kang Abi.

“Saya Kosasih pak. Staf bapak dulu dibagian administrasi.” Jawab laki-laki yang bernama Kosasih itu.

Orang-orang yang mengelilingi jongko kang Abi terkesiap kaget. Mereka mendengar kalau kang Abi dulu punya staf.

“Kenapa pak Abi sekarang malah jualan? Bukannya pas pensiun dari PNS bapak punya perusahaan?” Tanya Kosasih terharu. “Dulu pak Abi jadi salah seorang pejabat cukup penting di instansi pemerintah. Sekarang, bapak hanya jadi seorang penjual makanan dengan jongko sederhana.” Airmata Kosasih terlihat mengambang dimatanya.  

Semua kaget bukan kepalang. Ternyata kang Abi dulunya adalah seorang pejabat disalah satu instansi pemerintah.

“Iya mas. Ibarat dunia yang berputar. Mungkin sekarang dunia saya sedang berputar dan ada dibawah.” Kang Abi tersenyum. Suaranya terdengar getir. “Bukankah ada firman Allah di surat An Nahl yang bunyinya Dan, sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.

           “Mungkin dari arti “apa yang mereka kerjakan” menjadi salah satu penyebab saya seperti ini sekarang. Maksudnya ada hal yang dulu saya kerjakan tidak sesuai syariat agama yang diperintahkan atau yang dilarang agama.” Kata kang Abi yang sudah membungkus pesanan Kosasih bekas stafnya dulu. “Semuanya jadi 50 ribu mas.” Kata kang Abi memberikan bungkusannya.

           Kosasih menerima bungkusannya dan menyodorkan uang 100 ribu rupiah.

           Kang Abi mengambil uang kembaliannya dan menyodorkannya kepada Kosasih.

           “Bapak ambil saja buat buka puasa nanti.” Kata Kosasih.

           “Maaf mas. Saya tidak bisa menerimanya. Rejeki saya dari mas yang 50 ribu itu.” Ujar kang Abi.

           Kosasih baru mengerti maksud arti “apa yang mereka kerjakan” oleh bekas atasannya tadi.

           Kang Abi tersenyum.

4 disukai 2.3K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction