Aku memang jelek. Aku tak tahu mengapa Tuhan menciptakanku dengan rupa sejelek ini. Rasanya, becermin pun aku takut. Kadang, aku ingin seperti teman-temanku yang betah berlama-lama di depan cermin. Namun, aku? Bercermin seperti harus menghadapi musuh, dan aku tak bernyali.
Kulihat wajah teman-temanku yang tampak cantik dengan riasan mereka. Namun, bagaimana denganku? Mengapa wajahku justru terlihat seperti badut setiap kali mencoba memakai makeup? Aku memang jelek. Riasan apa pun rasanya tak ada yang cocok untukku. Aku menyesal, tetapi tak tahu apa yang harus kusesalkan.
Mata, hidung, mulut, bentuk wajah, hingga tubuhku, entah mengapa terasa tak pas. Semuanya tampak aneh di mataku sendiri. Memang, tak ada yang pernah mengomentari penampilanku, tetapi tetap saja rasanya aku ingin bersembunyi. Aku selalu merasa kecil di antara orang-orang di sekitarku.
Perasaan itu semakin menjadi ketika suatu hari Sisil mengejekku karena belum juga mendapatkan pacar. Padahal aku baru beberapa bulan bekerja di sana.
"Dulu, waiter sebelum kamu, badannya kecil juga kayak kamu. Banyak yang naksir sama dia, tapi dia cantik," katanya.
Rasanya, kalimat itu seperti pisau yang menghunjam jantungku. Aku hanya terdiam, seolah-olah keyakinan yang selama ini tertanam di kepalaku akhirnya mendapatkan pembenaran. Aku memang terlalu jelek. Pantas saja tak ada yang menyukaiku. Bahkan sejak sekolah pun, aku tak pernah memiliki yang namanya pacar.
Hari ini, aku mencoba memakai riasan seperti teman-temanku. Maskara, eyeliner, eyeshadow, dan blush on. Aku memandangi wajahku di cermin. Mataku terlihat lebih besar. Aneh, mengapa rasanya seperti mata monster di wajahku yang kecil ini? Pipiku merona. Namun, mengapa rasanya seperti habis ditampar orang?
Aku melirik jam di ponsel. Waktu masuk kerja semakin dekat. Segera kubereskan semua peralatan rias itu, memasukkannya ke dalam tas, lalu bergegas pergi.
Aku cukup berjalan kaki karena kosanku tidak jauh dari restoran tempatku bekerja. Sepanjang perjalanan, aku mencoba meyakinkan diri agar percaya diri, meski hati dan pikiranku terus berperang. Biasanya, aku hanya memakai bedak, pensil alis, dan lipstik. Ada perasaan malu yang diam-diam mengusik hatiku.
Sepanjang jalan, beberapa orang melirik ke arahku. Aku ingin menghilang saja. Jangan-jangan penampilanku memang seburuk itu.
"Nggak! Aku harus menghapus riasan ini nanti," gumamku dalam hati.
Pikiranku bahkan sudah lebih dulu melayang ke wastafel tempat kerja, membayangkan diriku berdiri di sana untuk membersihkan wajah.
Aku teringat kembali ucapan ibu ketika dulu aku mencoba memakai eyeliner dan menunjukkannya kepadanya.
"Jelek! Kayak hantu, mata besar begitu. Nggak sesuai dengan wajahmu."
Aku semakin mempercepat langkah. Rasanya, tempat kerjaku masih sangat jauh. Aku tak sabar ingin menghapus riasan ini. Jangan-jangan, orang-orang yang berpapasan denganku tadi sedang membicarakanku setelah aku lewat.
"Eh, Arum. Kamu cantik banget hari ini," kata Faris, teman sesama waiter, ketika aku sampai di tempat kerja.
Ia menatapku lalu tersenyum. Namun, aku merasa pujiannya hanyalah hinaan yang disampaikan dengan cara lebih halus. Aku semakin tidak percaya diri. Aku yakin, dalam hatinya, dia sedang mengataiku.
Kata ibu, lelaki akan mengatakan seorang perempuan cantik meskipun rupanya seperti monyet. Sebab, mereka hanya modus dan punya maksud tertentu.
Aku tidak menjawab apa-apa, hanya tersenyum kecut. Perasaanku kacau. Aku mempercepat langkah menuju wastafel. Urusan pekerjaan nanti saja. Yang penting, riasan ini harus kuhapus dari wajahku.
"Arum, kamu cantik banget hari ini," kata Sisil yang sedang mengelap meja ketika aku melewatinya.
Lagi-lagi, aku tidak menjawab. Aku hanya tersenyum canggung. Bagiku, semua orang seolah-olah sedang mengejekku dengan cara terselubung.
Setibanya di wastafel, aku mengambil tisu dan hendak mengusapkannya ke wajah. Tiba-tiba, tanganku ditahan oleh Kania, teman yang bertugas di kasir. Sepertinya, dia baru saja keluar dari kamar mandi.
"Jangan dihapus. Bagus, kok," katanya.
Namun, hatiku berkata bahwa dia berbohong. Aku menatap pantulan wajahku di cermin. Entah riasan ini benar-benar bagus atau tidak, aku sendiri tidak tahu.
"Aku nggak pede," jawabku.
"Bagusan kayak gini. Jangan dihapus, pede aja," katanya, lalu melangkah keluar.
Aku cukup lama memandangi bayanganku sendiri sambil menimbang-nimbang. Haruskah aku mempertahankan riasan ini atau menghapusnya saja?
Setelah berpikir cukup lama, akhirnya aku menghapus riasan itu dan kembali memakai riasan seperti biasanya. Terserah apa kata orang, yang penting aku lega.
Aku kembali memandangi wajahku yang sudah dirias seperti hari-hari biasanya. Aku memiringkan kepala ke kanan dan ke kiri, mencari sudut yang cocok, seperti kata orang-orang. Namun, aku tak kunjung menemukannya. Aku mengembuskan napas berat.
"Kenapa nggak ada sisi cantik dari diriku?"
Aku juga memperhatikan baju kerja yang kukenakan. Ukurannya sedikit kebesaran di tubuhku yang kurus. Aku teringat kejadian kemarin malam, ketika Faris mengatakan, "Kayak tangan belalang, Rum. Gemukin dikit pasti bagus."
Aku terdiam. Jantungku berdegup kencang. Teman-temanku yang lain tertawa pelan menanggapi candaan itu.
Aku benci diriku sendiri. Mengapa aku harus hidup dalam raga ini, raga yang tak memiliki sisi bagus sedikit pun? Kenapa, Tuhan?
"Arum, lama banget, sih. Meja dekat kaca bagian kamu!" Suara Sisil mengejutkanku. Aku menoleh.
"Iya, ini aku sudah," jawabku.
"Loh, kenapa dihapus? Cantik, tahu," katanya sambil menatapku heran.
"Nggak pede," sahutku.
Sisil menghela napas, seolah kecewa. "Terserah kamulah," katanya, lalu berlalu meninggalkanku.
Akhirnya, semua pekerjaan selesai. Restoran pun tiba waktunya untuk buka. Jam makan siang tiba, para pengunjung mulai berdatangan, dan aku bersama teman-temanku mulai sibuk melayani mereka.
“Kamu kalau pakai baju kayak gitu pasti bagus,” bisik Sisil padaku sambil melirik seorang perempuan yang lewat bersama pasangannya.
Mataku mengikuti, mereka sedang mencari meja. Perempuan itu memakai pakaian putih simpel dan terlihat pas di tubuhnya yang kecil.
Aku tersenyum tipis, apakah penampilanku selama ini aneh? Namun, kuperhatikan wajah perempuan itu cantik, terlihat proporsional setiap fitur wajahnya. Tubuhnya juga terlihat pas, tidak terlalu gemuk atau kurus. Wajah dan tubuhnya seakan saling menunjang.
Aku menghela napas. “Itu karena wajahnya cantik, jadi wajar saja kalau apa yang dipakainya bagus,” kataku dalam hati.
Namun, diam-diam dalam hati ada harapan aku akan terlihat secantik pengunjung perempuan tersebut kalau aku mengenakan pakaian seperti itu juga. Aku tersenyum, membayangkan diriku dalam balutan pakaian itu.
“Rum!” Sisil menyenggol lenganku, aku terkejut. “Yeee, malah ngelamun. Mikirin apa, sih?” katanya.
“Kalian, kasih buku menu pengunjung yang baru datang,” tegur Faris.
“Iya, Kak,” sahutku dan Sisil bersamaan.
“Eh, kenapa makeupnya dihapus?” kata Faris, menoleh sambil berjalan menuju meja di mana buku menu dan nomor meja berada.
“Arum nggak pede, Kak,” sahut Sisil. Ia berjalan di belakang Faris.
“Pede ajalah kayak yang lain,” katanya. “Kayak Sisil sama Kania.”
“Tau tuh, Arum. Bagus-bagus malah dihapus,” sahut Sisil lagi. Aku hanya terdiam dan tersenyum canggung. Ada perasaan menyesal, tetapi di sisi lain aku lega.
Jam istirahat tiba. Aku mendapat giliran istirahat gelombang pertama bersama waiter lainnya, sedangkan Faris dan Sisil mendapat giliran gelombang kedua.
Kebetulan, aku beristirahat bersamaan dengan Kania, anak kasir yang juga mendapat giliran pertama.
“Rum, temenin aku, yuk,” ajaknya.
“Ke mana?” tanyaku sambil berdiri di depan loker. Aku bersiap pulang ke kos untuk beristirahat di sana.
“Ke toko kosmetik. Lipstik sama bedak padatku habis,” katanya. “Sekalian kalau kamu mau belanja juga. Di sana lebih murah dibandingkan minimarket,” tambahnya.
Aku akhirnya setuju. Dalam hati, aku berpikir, haruskah aku membeli produk yang sama dengan Kania? Padahal, masih aku punya beberapa produk makeup. Hanya saja, aku tak tahu apakah warna produk yang kupunya sudah cocok atau belum.
Lebih dari satu jam kami menghabiskan waktu di toko kosmetik. Setelah mendapatkan barang-barang yang diinginkan, Kania juga menambahkan beberapa produk lain ke keranjangnya.
Sementara itu, aku pulang dengan tangan kosong. Sejak tadi, aku hanya melihat-lihat.
Belum lagi, ekspresi wajah para pelayan di toko kosmetik tadi terlihat kurang ramah. Aku jadi sungkan untuk bertanya, takut mereka akan menatap dengan sinis atau tak dihiraukan jika aku tidak tahu apa-apa tentang produk yang dijual di sana.
Kania memilih menghabiskan sisa waktu istirahatnya di kosku. Kami berdandan sebelum jam istirahat benar-benar habis.
Aku memperhatikan Kania yang dengan lihai memoles wajahnya. Kania tidak membutuhkan waktu terlalu lama untuk menyelesaikan riasannya. Sederhana, tidak berlebihan, tetapi terlihat cantik.
Sementara itu, aku bahkan belum selesai membentuk alis. Sejak tadi, bentuk alis kiri dan kananku tak kunjung sama. Aku menghapus lagi, lalu mencoba membentuknya kembali. Begitu terus hingga memakan waktu yang cukup lama berlalu.
“Kamu belum selesai juga, Rum?” tanya Kania sambil memasukkan peralatannya ke dalam tas.
“Belum,” sahutku singkat sambil masih berjuang menggambar alis.
“Sini, aku coba dandanin kamu,” tawar Kania.
Aku meletakkan pensil alis. Mataku berbinar, penuh harap. “Boleh,” kataku malu-malu.
Kania memperhatikan wajahku, lalu membuka tasnya dan mengambil sebuah pisau cukur kecil.
“Untuk apa?” tanyaku bingung.
“Kita cukur dulu alis kamu biar rapi dan gampang dibentuk,” jawabnya.
Aku mengerti, lalu menurut saja. Aku memejamkan mata selama Kania merapikan alisku. Setelah selesai, Kania mulai menggambar alis. Kali ini, ia tidak membutuhkan waktu lama karena garis alisnya sudah terbentuk.
“Oh, jadi kunci alis rapi itu dicukur dulu untuk membentuk pola,” batinku, seperti mendapat satu pelajaran baru.
Akhirnya, riasanku selesai juga. “Nah, cantik!” kata Kania. Ia memandangi hasil kreasinya di wajahku dengan bangga.
Aku kemudian memandangi bayanganku di cermin. Senyum mengembang di bibirku saat melihat wajahku dengan riasan sederhana itu. Ada perasaan senang yang sulit dijelaskan. Setelah itu, kami berangkat kerja karena waktu istirahat tinggal beberapa menit lagi.
Aku turun dari motor Kania, lalu berjalan masuk ke restoran. Pipiku terasa panas. Aku takut orang-orang akan mengomentari penampilanku. Namun, aku mencoba meyakinkan diri bahwa riasan ini tidak aneh. Lagi pula, kali ini Kania yang merias wajahku bukan tanganku sendiri.
“Eh, Arum! Cantiknya!” seru Faris ketika kami berpapasan. Lelaki itu hendak berjalan ke luar.
Perasaanku campur aduk. Malu, senang, sekaligus gugup. Namun, benarkah pujian Faris tulus?
“Nah, begini lebih segar,” timpal Sisil setelahnya. Aku hanya tersenyum canggung.
Aku mulai menjalankan tugas sebagai waiter seperti biasa. Beberapa meja terisi pelanggan. Aku berdiri di dekat dinding bersama rekan-rekan menggantikan mereka yang istirahat. menunggu jika ada pelanggan yang membutuhkan bantuan.
Untuk pertama kalinya, aku merasa percaya diri mengenakan riasan wajah. Aku membayangkan wajahku sendiri yang terlihat cantik di cermin tadi. Andai saja Kania mau mendandaniku setiap hari!
Aku yakin riasan buatan Kania pasti akan selalu terlihat bagus. Namun, kalau aku sendiri yang melakukannya, hasilnya justru tampak aneh di mataku.
Aku menghela napas berat. Mengapa tanganku begitu bodoh dalam urusan berdandan?
Namun, yang jelas, saat ini aku merasa puas dan senang dengan penampilanku. Rasanya sayang sekali jika nanti malam riasan ini harus kuhapus.
“Aku mau foto banyak-banyak nanti,” gumamku dalam hati. Bibirku tersenyum membayangkan hal itu.
Tak lama kemudian, pelanggan kembali berdatangan. Kali ini, serombongan lelaki muda berjumlah delapan orang. Mereka memilih duduk di sebuah meja panjang sambil bercanda dan tertawa.
Aku membawakan buku menu, lalu bersiap mencatat pesanan mereka. Aku berdiri di ujung meja, menunggu para pelanggan memilih menu dengan sabar.
Beberapa orang sibuk membaca menu, sementara yang lain berbisik-bisik dan sesekali tertawa kecil. Entah apa yang mereka bicarakan. Sesekali, beberapa di antara mereka melirikku. Aku tidak begitu peduli dan tak berpikir aneh-aneh.
Setelah mencatat semua pesanan, aku hendak beranjak pergi. Namun, salah seorang lelaki itu tiba-tiba melontarkan pertanyaan.
“Kak, kok bisa sekurus ini?” tanyanya sambil memandangku dari atas hingga bawah. Kemudian ia tertawa sambil melempar pandangan pada temannya.
Beberapa temannya ikut melirik. Ada pula yang menegurnya, tetapi mereka semua tetap tertawa.
Aku terdiam. Hatiku terasa seperti ditikam belati. Mataku memanas. Tanpa menjawab apa-apa, aku berlalu dengan perasaan hancur.
Tanganku bergetar ketika menginput pesanan pelanggan ke komputer. Rasanya aku ingin menangis. Aku tak tahan lagi, tetapi aku berusaha agar air mata itu tak tumpah. Pertanyaan itu terasa seperti penghinaan terbesar yang pernah kuterima.
Setelah selesai, Aku berpamitan kepada rekan-rekanku untuk pergi ke toilet dengan alasan ingin buang air kecil.
Di dalam kamar mandi, aku memandangi bayangan diri di cermin. Aku tetap tidak cantik. Riasan yang tadi sempat membuatku bahagia kini terasa tidak cocok dengan wajahku, seolah tidak seimbang dengan tubuhnya yang kurus, seperti tulang berjalan.
Aku memegangi dadaku yang masih terasa perih. Rasanya, aku tak ingin lagi muncul di hadapan para pelanggan lelaki itu. Dalam hati aku bertanya, mengapa Tuhan menciptakanku dengan begitu banyak kekurangan?
Aku sengaja berlama-lama di toilet. Aku tak ingin muncul dan kembali terlihat oleh para pelanggan lelaki tadi. Aku merasa sangat kecil.
Sore berlalu. Langit mulai gelap dan para pelanggan pun berganti. Faris dan Sisil telah kembali sejak satu jam yang lalu.
Malam itu, pengunjung restoran sangat ramai. Semua pegawai sibuk melayani pelanggan, begitu pula aku. Aku bahkan tak lagi memikirkan penampilannku. Ejekan pelanggan lelaki sore tadi terlupakan begitu saja. Kini, aku hanya fokus pada pekerjaan agar tidak salah mengantarkan pesanan ke meja pelanggan.
Tak terasa, jam sudah menunjukkan waktu yang mendekati jam pulang. Pengunjung restoran pun mulai sepi. Satu per satu meninggalkan tempat itu.
Aku mendapat uang tip dari seorang ibu yang merasa puas dengan pelayananku. Aku sangat senang.
Semua pelanggan sudah pulang dan restoran dinyatakan tutup. Aku bersama rekan-rekanku membersihkan meja terakhir di bawah televisi. Sebuah buku tergeletak di atas meja itu.
“Nah, buku kakak yang tadi ketinggalan,” kata Sisil.
Aku membaca sekilas judul buku tersebut. Diriku yang Kubenci. Keningku berkerut. Entah mengapa, judul itu terasa seperti menyentil sesuatu dalam diriku.
Faris meraih buku itu, lalu membawanya ke depan. Katanya biar taruh di kasir, kalau-kalau pemilik buku itu kembali.
Aku jadi penasaran. Buku itu sebenarnya bercerita tentang apa? Aku ingin sekali membacanya. Entah mengapa aku semakin penasaran, seperti ada sesuatu yang memanggilku, padahal aku buka orang yang suka membaca.
Aku memandangi diriku di cermin kamar kos. Wajahku sudah kubersihkan dari sisa-sisa riasan. Di bawah cahaya lampu kamar, aku terdiam cukup lama, menatap pantulan wajah yang terlihat begitu aneh sekaligus akrab.
Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirku. Tak ada pujian, tak pula cacian seperti biasanya. Aku hanya menatap, membiarkan waktu berlalu tanpa tahu apa yang sedang kupikirkan. Rasanya hampa. Seolah-olah aku sudah terlalu lelah untuk menyesali diriku sendiri, tetapi belum tahu bagaimana caranya berhenti.
Pikiranku melayang ke masa kecil. Perkataan ibu kembali terngiang di telinga, masih begitu segar meski telah bertahun-tahun berlalu. Ibu selalu bilang aku jelek. Kalimat itu sudah begitu akrab di telinga.
Ibu juga pernah bilang aku lahir di bulan PKI. Katanya, aku jahat seperti PKI. Padahal, saat itu aku bahkan tidak tahu apa itu PKI. Aku hanya diam, menahan sedih sambil terus mengunyah jagung rebus. Aku mendengar ucapan itu berulang kali. Terkadang, aku tak tahu apa salahku, tetapi tiba-tiba saja ibu mengatakan hal-hal seperti itu.
Ketika ibu melihat tahi lalat di telapak tangan kiriku, ia bilang itu pertanda orang serakah. Saat melihat tahi lalat di tengkukku, ia bilang aku akan memikul beban berat. Begitu pula tahi lalat di leherku. Katanya, aku akan mati diterkam buaya. Sementara itu, urat melintang di mata kakiku dianggap sebagai pertanda bahwa aku akan mati saat melahirkan.
Entah mengapa, semua yang melekat pada tubuhku terasa buruk. Seolah-olah tak ada satu pun bagian diriku yang membawa pertanda baik. Aku pernah bertanya-tanya, apakah sebenarnya aku memang pembawa sial?
Setelah bersekolah, barulah aku mengetahui apa yang dimaksud dengan PKI. Pengetahuan itu justru membuatku semakin sedih setiap kali mengingat perkataan ibu.
Aku juga pernah berharap terjatuh hingga kulit telapak tanganku yang bertahi lalat terkelupas. Namun, harapan itu tak pernah menjadi kenyataan. Berkali-kali aku jatuh dari sepeda, tetapi yang terluka hanya kaki, lutut, siku, atau bagian tubuh lainnya. Tahi lalat itu tetap ada. Aku menyesal mengapa harus lahir pada bulan September.
Saat memasuki SMA, perlahan-lahan aku mulai memahami bahwa ibu terlalu mempercayai mitos-mitos itu dan tanpa sadar telah membuatku membenci diriku sendiri. Bahkan sesuatu yang sejak awal tak pernah bisa kupilih.
Ibu tak pernah sekalipun mengatakan aku cantik. Sebaliknya, ia selalu menyebutku jelek, kusam, kecil, dan pendek. Beliau juga bilang hidungku seperti hidung kucing. Aku selalu tak menyukai hidungku. Kata-kata itu terus melekat dalam ingatanku, tumbuh bersama usiaku, hingga aku sering merasa tak layak untuk disukai siapa pun.
Bahkan, ketika di sekolah ada teman lelaki yang mencoba mendekatiku, aku justru merasa malu. Aku tak pernah benar-benar percaya bahwa seseorang bisa menyukaiku.
Dulu, aku juga kerap bermimpi ditinggalkan ibu di sebuah kebun jagung. Ibu berpura-pura hendak mengambil pisau untuk memetik jagung, lalu menyuruhku menunggu. Namun, dari kejauhan, aku justru melihatnya menyeberangi sungai dan meninggalkanku sendirian di atas bukit. Aku terus menunggu hingga langit berubah gelap, tetapi ibu tak kunjung kembali.
Aku tak tahu apa arti mimpi itu. Yang jelas, setiap kali terbangun, aku merasa ketakutan. Mimpi itu terus datang berulang kali, dengan kejadian yang sama persis. Bahkan setelah membuka mata dan menyadari bahwa aku hanya bermimpi, rasa takut itu tak serta-merta menghilang.
Tanpa kusadari, air mata perlahan mengalir dari sudut mataku. Perasaanku semakin berat, seolah-olah tak ada tempat bagiku di dunia ini. Kenangan masa kecil yang kembali muncul membuat dadaku sesak. Lalu, ingatanku beralih pada ejekan pelanggan lelaki tadi. Tangisku semakin deras.
Di kamar kos yang sepi, aku menangis sendirian, sementara malam semakin larut. Tak ada seorang pun yang tahu betapa sesaknya perasaanku malam itu. Aku hanya bisa membiarkan air mata jatuh, meluapkan kesedihan yang selama ini tak pernah benar-benar kupahami.
Aku terbangun ketika suara azan subuh berkumandang. Kukerjapkan mata beberapa kali karena rasanya aneh. Rupanya, aku sampai tertidur semalaman tanpa sadar.
Aku bangkit dari tempat tidur dengan tubuh pegal-pegal, lalu berjalan ke depan cermin. Mataku bengkak. Bahkan, lipatan kelopak mataku sampai menghilang, membuat mataku terlihat lebih kecil dari biasanya.
"Kayak alien gini," gumamku sambil menatap pantulan wajah sendiri.
Aku mulai membayangkan reaksi teman-temanku nanti. Rasanya malu sekali harus masuk kerja dengan mata seperti ini. Bisa-bisa mereka bertanya macam-macam. Aku menghela napas, lalu kembali memperhatikan mataku di cermin. Bagaimana caranya mengempiskan bengkak ini dalam waktu singkat?
"Kamu kenapa, Arum?" tanya Kania.
"Nggak apa-apa," sahutku, lalu berlalu cepat dari hadapannya.
"Kamu nangis semalam? Kenapa?" tanya Sisil pula.
"Nggak apa-apa, kok, Sil."
Aku merasa tidak nyaman dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Aku hanya ingin diam dan tenang tanpa harus menjelaskan apa pun kepada siapa pun.
"Diputusin pacarnya, ya?" celetuk Faris yang baru saja turun dari tangga.
Pacar apa? Siapa yang mau jadi pacar orang jelek sepertiku? gumamku dalam hati. Entah mengapa, perkataannya terasa seperti sindiran, meskipun aku tahu belum tentu itu maksudnya.
"Ceritain saja sama kita. Mana tahu kita bisa bantu," ujar Sisil.
"Jangan dipendam sendiri, nanti bisa gila kamu," timpal Faris.
"Nggak, kok," jawabku singkat.
Aku segera berlalu dari hadapan mereka dan mengambil peralatan untuk membersihkan meja. Setidaknya, dengan menyibukkan diri, aku tidak perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka lagi.
Hari demi hari berlalu, seminggu, sebulan, hingga beberapa bulan. Pemilik buku itu tak pernah kembali. Gadis muda yang diduga meninggalkannya pun tak pernah terlihat lagi. Akhirnya, buku itu hanya menganggur di dalam laci meja Kania.
Katanya, kalau sedang tak ada pelanggan, ia suka membaca buku itu. Isinya cukup menarik dan terkadang membuatnya memikirkan sesuatu setelah selesai membaca. Aku mendengar ceritanya ketika sedang ke kasir untuk meminta bill yang diminta pelanggan.
Sambil tangannya bergerak memegang mouse, Kania bercerita tentang buku itu. Aku semakin tertarik dan mencoba meminjamnya.
Kania menyerahkan kertas bill, lalu menatapku sejenak. "Kamu juga mau baca?" Aku mengangguk yakin.
“Bawalah,” katanya sambil menggeser buku itu ke arahku. “Sudah tiga bulan nggak ada juga yang mencari buku ini.”
Mataku berbinar seolah baru saja mendapatkan harta karun. Aku segera mengambilnya.
“Nanti kalau sudah selesai, aku balikin,” kataku. Kania mengangguk. Aku pun berlalu ke dalam.
Di kos, aku membuka buku itu dan mulai membacanya. Kalimat demi kalimat kubaca hingga tanpa sadar aku tenggelam dalam kata-katanya. Setiap tulisan seolah mewakili perasaanku selama ini, seakan-akan penulisnya memahami apa yang selama ini kurasakan.
Aku terdiam sejenak. Bagaimana bisa seseorang menuliskan perasaan yang selama ini tidak kumengerti, seolah-olah ia mengetahui isi kepalaku?
Aku kembali membaca. Buku itu seolah bicara padaku, memelukku, dan membelai hatiku dengan lembut. Aku meletakkan buku itu, lalu telentang menatap langit-langit kamar. Ingatanku kembali menampilkan bayangan masa lalu.
Setelah selesai meresapi perasaanku, aku bangkit dan kembali membaca. Tanpa sadar, aku sudah sampai di halaman terakhir. Aku menghela napas lega. Entah mengapa, aku ikut merasa lega saat membaca akhir kisah itu, ketika tokohnya berhasil berdamai dengan dirinya sendiri.
Buku yang tidak terlalu tebal itu berhasil kuselesaikan hanya dalam beberapa jam saja. Aku masih tak habis pikir. Aku yang selama ini tak suka membaca ternyata bisa menyelesaikan sebuah buku hanya dalam beberapa jam. Aku jatuh cinta pada isinya yang terasa seperti merangkulku, membuatku merasa dimengerti.
Aku mulai berpikir ingin membaca buku lain yang serupa. Aku sangat ingin membaca dan rasa penasaranku terhadap buku-buku lainnya. Namun, di mana aku bisa mendapatkannya? Haruskah aku meminta Kania atau yang lain untuk menemaniku? Ah, aku tak mau merepotkan mereka. Rasanya tak enak hati jika harus terus meminta bantuan.
Keesokan harinya, aku mengembalikan buku itu kepada Kania. Ia menatapku dengan kening berkerut.
“Sudah?”
“Iya,” jawabku.
“Wah, hebat banget kamu. Bacanya cuma semalam,” kata Kania. “Padahal isinya cukup berat,” tambahnya.
Aku tersenyum canggung. Perasaanku campur aduk. Aku tidak suka mendengar perkataannya. Entah mengapa, rasanya seolah-olah ia sedang menyindirku, seakan aku sok rajin membaca.
Hari ini jadwalku libur. Tak banyak yang bisa kulakukan selain tiduran di kos. Jadwal libur Kania dan Sisil tidak bertepatan denganku minggu ini. Akhirnya, aku hanya menghabiskan waktu di kos, paling-paling keluar sebentar untuk membeli makanan di gang depan.
Aku kembali teringat buku yang kubaca semalam. Isi dan jalan ceritanya terus terbayang di benakku. Ada keinginan kuat untuk mencari buku lain yang serupa, tetapi aku bingung harus mencari ke mana. Akhirnya, aku berselancar di media sosial, melihat-lihat hingga sebuah iklan perpustakaan digital muncul di layar ponselku.
Spontan, hatiku berkata, “Nah, ini dia!” Mataku berbinar. Rasa penasaranku semakin besar. Apakah ada perpustakaan digital lainnya? Aku pun mengetikkan kata kunci di mesin pencarian dan menemukan beberapa rekomendasi. Tanpa pikir panjang, aku mengunduh beberapa aplikasi.
Rasanya aku seperti orang kelaparan yang baru saja menemukan makanan. Aku tak sabar ingin mencicipi semua bacaan yang tersedia di sana.
Aku membuka salah satu aplikasi yang kuunduh tadi, lalu mulai mencari bacaan. Bak gayung bersambut, buku-buku serupa bermunculan sebagai rekomendasi. Bibirku mengembang membentuk senyum. Tanpa pikir panjang, aku mengeklik salah satunya dan mulai membaca.
Tak terasa, kebiasaan itu sudah berlangsung selama enam bulan. Bukan hanya buku-buku serupa yang kubaca, tetapi juga buku-buku lain, termasuk nonfiksi yang menurutku menarik. Tentu saja, aku hanya membaca buku yang mampu menarik perhatianku.
Semakin lama, rasanya aku jadi lebih mudah berpikir. Entah kenapa, belakangan ini otakku sering mengajakku mencari makna dari setiap hal yang kualami, bahkan dari sekadar perkataan orang lain.
“Orang aneh!" maki Sisil setelah kembali mengantarkan menu ke meja pelanggan. Ia meletakkan nampan, tetapi wajahnya sama sekali tidak terlihat kesal. Sebaliknya, senyum lebar mengembang di bibirnya.
"Kenapa emangnya?" sahut Faris sambil menata menu di atas nampan.
"Kakak-kakak di meja nomor tiga belas bilang aku kurus tinggi kayak jelangkung. Aku jawab aja, iya, Kak. Tinggal cari tumbalnya. Kakak mau jadi tumbalnya?" ceritanya. "Langsung diam dia," tambahnya, lalu tertawa kecil.
Faris ikut tertawa, begitu pula aku. Sisil begitu berani menjawab pelanggan itu. Bahkan, sekarang ia bisa tertawa seolah-olah kejadian tadi hanyalah sebuah candaan. Aku tidak mengerti mengapa Sisil bisa begitu santai menanggapinya.
Apakah karena ia tidak menganggap ucapan itu sebagai sesuatu yang perlu dipikirkan? Atau karena ia memang tidak peduli dengan penilaian orang lain?
Bagaimana bisa hati dan perasaan begitu kebal dengan ejekan itu. Aku jadi teringat pelanggan lelaki yang mengataiku beberapa bulan yang lalu. Sakitnya masih terasa, kalimatnya menempel erat di kepalaku.
Atau ... orang lain melihatku sebagaimana aku melihat diriku sendiri? Memperlakukanku sebagaimana aku memperlakukan diriku sendiri?
Kalimat dari sebuah buku yang pernah kubaca itu tiba-tiba muncul dalam pikiranku, seolah sedang mengingatkanku akan sesuatu. Aku terdiam. Benarkah begitu?
Selama ini, aku selalu menganggap diriku buruk. Aku merasa tidak menarik, tidak pantas dipuji, bahkan sering menganggap orang lain sedang mengejekku ketika mereka mengatakan sesuatu yang sebenarnya belum tentu bermaksud buruk.
Jangan-jangan, selama ini aku terlalu sibuk menghakimi diriku sendiri hingga setiap perkataan orang lain selalu kutafsirkan sebagai hinaan untukku.
Aku tidak tahu apakah kalimat dalam buku itu sepenuhnya benar. Namun, untuk pertama kalinya, aku mencoba mempertanyakan sesuatu yang selama ini kuterima begitu saja. Apakah orang lain benar-benar melihatku seburuk yang kubayangkan?
Hari-hari berlalu dengan rutinitas yang sama dan perasaanku yang gonjang-ganjing. Kadang tersinggung, kadang berpikir, kadang entahlah.
Aku mencoba untuk tidak selalu berprasangka buruk terhadap setiap pujian yang ditujukan kepadaku, meski terkadang aku tetap rapuh dan kembali tersinggung. Entahlah, rasanya sangat sulit menyembuhkan perasaanku yang begitu rentan ini.
Aku mengantarkan menu ke meja pelanggan yang terdiri dari sebuah keluarga besar yang tampak hangat, mulai dari orang tua hingga anak-anak kecil yang sesekali tertawa di sela obrolan.
Di tengah obrolan mereka, seorang anak perempuan berusia sekitar tujuh tahun merengek ingin buang air kecil. Orang-orang dewasa di meja itu sedang sibuk mengurus anak-anak yang lebih kecil. Anak itu akhirnya meminta izin untuk pergi sendiri, tetapi ibunya tampak ragu. Ia lalu memintaku menemani putrinya ke toilet.
“Kak, tolong, ya,” pinta ibunya.
“Iya, Bu.” Aku mengangguk, kemudian mengajaknya pergi. Sepanjang jalan, anak itu bercerita dengan ramah tentang sekolah, les, dan banyak hal lainnya. Aku hanya menanggapi dengan gumaman, “Iya,” atau “Oh,” karena tak tahu harus berkata apa lagi.
Setelah selesai, aku mengantarnya kembali ke meja keluarganya. “Makasih, Kakak cantik,” ucapnya sambil tersenyum sebelum kembali duduk bersama keluarganya.
Aku tersenyum malu mendengar ucapannya. Ada perasaan aneh yang menggelitik dadaku, membuatku sedikit salah tingkah. Aku tak tahu harus membalas apa, jadi hanya kubalas dengan senyuman sebelum kembali bekerja.
Orang bilang, anak kecil itu jujur. Apakah benar aku cantik? Bibirku bergerak menahan senyum. Entahlah, tak ada salahnya aku percaya kali ini.
Seminggu telah berlalu, tetapi ucapan anak kecil itu masih segar di kepalaku. Perlahan, kata-katanya mulai menggeser ingatan tentang ejekan pelanggan lelaki berbulan-bulan lalu.
Tak terasa, sudah dua tahun aku bekerja di restoran ini. Banyak drama, perasaan, dan gejolak yang kulewati selama itu. Ingatan tentang pelanggan lelaki itu pun tak kunjung hilang.
Hanya saja, setiap kali mengingat kejadian itu, rasa sakit yang biasanya muncul tak lagi sekuat dulu. Sesekali, aku bahkan berpikir, seandainya waktu itu aku bisa menjawab perkataannya dengan santai seperti Sisil, mungkin aku tak perlu membawa-bawa ucapannya sampai berbulan-bulan.
Aku tersenyum tipis. Ah, sudahlah. Kejadiannya sudah berlalu. Lagi pula, untuk apa terus menyiksa diri dengan perkataan seseorang yang bahkan mungkin sudah melupakanku?
Sore itu, aku mencoba berdandan seperti Kania. Aku tak tahu bagaimana penampilanku di mata orang lain, tetapi aku berusaha percaya diri, seperti kata Faris dan Sisil. Aku mencoba menyingkirkan pikiran-pikiran negatif tentang pandangan orang lain dan melangkah tanpa terus mengkhawatirkan penampilanku.
Saat melewati area kasir, aku berpapasan dengan rombongan pelanggan yang sedang menyelesaikan pembayaran. Seorang ibu yang berdiri di dekat kasir memperhatikanku, lalu tersenyum.
“Wah … segar banget, Kak,” komentarnya. Aku membalas senyumnya, sedikit salah tingkah.
“Cantik, lho, kamu,” lanjutnya ramah.
Pipiku terasa hangat. Aku sempat ragu, tetapi kali ini kucoba menepis pikiran buruk yang biasanya muncul.
“Terima kasih, Bu,” jawabku lalu tersenyum.
Setelah itu, aku melanjutkan langkah ke dalam. Entah mengapa, hatiku terasa lebih ringan. Senyum kecil masih tersungging di bibirku. Kali ini, aku mencoba untuk tidak meragukan pujian itu. Aku membiarkan diriku menikmati perasaan menyenangkan tersebut tanpa sibuk mencari-cari alasan untuk menyangkalnya.
SELESAI