Aku tidak tahu apa itu eksistensi. Tapi yang pasti, aku tidak memilikinya. Hal semengagumkan itu hanya dimiliki oleh mereka yang keberadaannya diakui oleh lingkungan.
Eksistensi yang kubahas adalah ketika seseorang berjalan di antara kerumunan manusia dan kerumunan itu menyadari keberadaannya, tersenyum, menatap, menyapa, melambaikan tangan, tertawa, bahkan meski tidak mengenalnya sama sekali.
Aku tidak memiliki itu. Tidak pernah sekalipun ada situasi di mana aku memiliki eksistensi di mata kerumunan itu. Aku mungkin serupa dengan udara di mata mereka, tak terlihat. Atau seperti seonggok benda mati, tak penting.
Suatu hari di sekolah, aku duduk di sudut kelas dengan buku cerita tebal yang kugenggam erat. Belum kuhabiskan, tapi aku selalu membacanya kapan pun aku berada di antara kerumunan yang tidak melihat keberadaanku.
Obrolan-obrolan ringan mereka terdengar oleh telingaku, pembicaraan tentang salon mana yang terkenal yang dibicarakan oleh gadis-gadis pemegang tahta kecantikan di kelas.
Atau sekelompok siswi nakal yang bicara tentang teman sekelompoknya yang ternyata mereka benci diam-diam.
Atau pembicaraan sekelompok siswa pemberontak yang diam-diam merokok di tangga darurat karena tidak mau ketahuan guru. Bahkan pembicaraan murid paling pintar yang sedang mengajari temannya.
Aku mendengar semua hal baik dan buruk tentang mereka dan mereka seolah tidak masalah meski yang kudengar adalah rahasia besar sekali pun. Toh, yang aku pahami hanyalah barisan kata di dalam buku yang kubaca ini. Dan telingaku mungkin dianggap tidak ada oleh mereka.
Aku yakin buku ini menyadari eksistensiku. Aku ada untuk membacanya. Tapi sial sekali menjadi buku ini. Karena bersamaku, orang jadi tidak tahu kalau dia ada.
Dia ikut menghilang dari pandangan orang lain karena berada di genggamanku.
Seberisik apa pun lingkungan di sekitarku, rasanya selalu sunyi. Bukan berarti aku kesepian karena tidak ada yang mengetahui keberadaanku.
Ah, mereka bukan tidak tahu. Hanya aku sendiri yang selalu menjaga jarak tanpa alasan.
Suatu hari di halte, aku menunggu bus bersama empat orang lainnya dan dua di antaranya adalah laki-laki.
"Hei, cantik. Mau ke mana?"
Satu sapaan 'ramah' itu saja membuatku bergidik ngeri dan gemetar ketakutan. Kugenggam buku itu dengan kuat dan menggeser posisi dudukku menjauh dari mereka tanpa mengatakan apa pun.
"Cih, gak asik."
Pada akhirnya dia mengabaikanku dan bersungut-sungut tentang tidak menyenangkannya aku.
Bus itu datang tak lama kemudian, aku berjalan dengan kepala tertunduk dan masuk ke dalamnya. Tak perlu menoleh ke belakang untuk tau bahwa mereka masih membicarakanku setelahnya. Aku sudah terbiasa, tak ada yang perlu ditakutkan selama mereka kembali tidak memperhatikanku.
Biasanya, aku cukup menikmati perjalanan di dalam bus saat tidak ada penumpang lain di sampingku. Aku cukup memasang earphone, dan menatap keluar sambil meresapi nada yang masuk ke telinga.
Tapi seseorang yang satu sekolah denganku tiba-tiba mengganggu ketenangan itu. "Tasnya dipegangin aja dong, mau duduk, nih."
Aku refleks mematung dengan jantung berdegup kencang. Lidahku kelu setiap mau menjawab pertanyaan singkat seseorang, yang bisa kulakukan hanya menggeser tas punggungku dari kursi yang kosong itu, membiarkannya duduk tanpa mengatakan apa pun.
Beruntung, dia turun dari bus lebih awal dariku, aku kembali bernapas lega. Sepanjang dia duduk di sana, dia sibuk mengobrol dengan seseorang di depannya dan tertawa keras, sama sekali tidak peduli bahwa ada orang lain yang duduk di dekatnya dan mendengar suara kerasnya.
Ternyata, orang bisa tidak peduli sama sekali terhadap orang lain yang mungkin terganggu karenanya.
Aku sempat menutup mata untuk mengabaikan sekitar selama sisa perjalananku. Dan ketika tiba di halte yang kutuju, aku turun dengan kepala tertunduk seperti biasa.
Sekarang, di hadapanku ada sebuah bangunan tiga lantai yang besar. Dengan tulisan di atas pintu masuknya yang juga besar, Perpustakaan Negeri.
Tempat ini adalah salah satu sahabatku setelah buku dan waktu luang.
Kakiku selalu melangkah lebih ringan dari biasanya saat tujuanku adalah tempat ini. Kepalaku tidak lebih tertunduk dari biasanya saat di hadapanku adalah tempat ini. Senyumku yang selalu bersembunyi bahkan dengan senang hati menunjukkan manisnya.
Aku disambut oleh seorang pustakawan yang sudah kukenal selama enam tahun terakhir—sejak pertama kali aku menemukan perpustakaan ini.
"Selamat sore, Mirai, baru pulang sekolah, ya?"
"Kak Sei, selamat sore." Aku mendekat ke meja administrasi sambil mengeluarkan kartu pelajarku.
"Hahaha, buat kamu, mah, nggak udah pakai kartu lagi, aku udah tahu."
Aku hanya terkekeh pelan sambil kembali memasukkan kartu pelajarku dan mengeluarkan dua buku yang kupinjam seminggu lalu.
"Selesai cepet, ya?" Kak Sei memeriksa isinya, mengeluarkan kartu daftar pinjamku dan mengembalikan bukunya padaku. "Bisa kamu balikin ke tempatnya sekarang, kartumu aku tandatangani dulu, ya."
"Makasih, Kak Sei."
"Oh iya, buku itu tadinya ada yang mau minjem lagi, kemarin."
Aku yang hendak berbalik, sempat menghentikan langkahku dan kembali mendengarkan Kak Sei. "Siapa?"
"Nggak kenal, anak baru kayaknya, tapi dia satu sekolah sama kamu kalo lihat dari seragamnya, sih."
Aku terdiam sejenak. Buku yang kupinjam itu kebetulan hanya ada satu di perpustakaan ini, karena peminat genrenya memang tidak banyak.
"Jadi, gimana, Kak Sei?" tanyaku.
"Ya aku bilang aja bukunya baru ada minggu depan. Jadi kamu buruan balikin ke tempatnya biar kalau dia datang lagi dia bisa pinjam." Kak Sei nyengir lebar.
Aku tertawa kecil. "Oke …."
Aku tidak tahu siapa yang Kak Sei maksud. Dan sebenarnya cukup tertarik untuk mengetahuinya mengingat tidak banyak orang yang mengenal penulisnya.
Buku ini ditulis oleh penulis dengan nama pena Selena Mauri, dia dikenal sebagai seorang avoidant yang sering mengangkat tema self-healing, mental health, dan semacamnya. Letaknya ada di rak belakang paling ujung di barisan teratas.
Saat aku menemukan buku ini, ia berdebu seolah tak pernah disentuh oleh kutu buku mana pun. Saat aku membukanya, bukunya masih baru tapi sudah mengeluarkan aroma buku yang tersimpan lama.
Siapa orang yang satu sekolah denganku itu? Mendengar dia mencari buku ini, artinya dia memiliki selera membaca yang mirip denganku. Yang tertarik pada tema psikologi yang rumit dan membosankan bagi kebanyakan orang.
Aku terhenti di lorong terakhir, tiga meter sebelum rak yang kutuju. Seseorang yang sangat kukenal berdiri tepat di tempat buku ini seharusnya dikembalikan.
Jantungku tiba-tiba saja berdegup sangat kencang, lenganku yang memeluk buku milik Selena Mauri ini memeluk dengan lebih erat lagi.
Pria tinggi yang memasukkan kedua tangan ke saku celana itu sebelumnya mendongak, menatap baris sempit yang kosong di rak paling atas. Tempat buku ini.
Lalu tak lama kemudian, ia menoleh ke arahku.
Ave.
Apakah murid laki-laki tampan di kelasku yang bergabung dengan klub sastra itu yang mencari buku ini?
Aku terkejut. Tapi seharusnya ini tidak mengejutkan. Dia begitu suka membaca dan orang-orang yang mengaguminya menjadi suka membaca karenanya juga.
Aku mendekat dengan kepala tertunduk. Langkahku yang sebelumnya ringan mendadak kembali terasa berat, senyumku redup tertutup rasa ketidakpercayaanku terhadap diri sendiri.
Aku menjinjitkan kaki dan meletakkan buku itu di rak paling atas dengan tangan gemetar.
Lalu aku pelan-pelan menjauhinya tanpa perlu menunggu. Dia terlalu bersinar untuk aku yang dipenuhi aura kusam.
"Tunggu dulu, Mirai."
Langkahku terhenti seketika.
"…."
Dia memanggilku.
Memanggil namaku.
Kukira tidak ada siapa pun yang mengenalku di kelas itu. Aku bahkan tidak pernah mendengar namaku dipanggil oleh seseorang di sana selain saat guru mengabsen siswa kelas.
Tak pernah terbayangkan sedetik pun olehku bahwa orang pertama yang memanggilku adalah Ave. Dan di tempat yang tidak disangka-sangka juga.
Aku menoleh dengan panik. Dia terlihat memasang senyum gugup yang sebelumnya tak pernah kulihat.
Ave sangat terkenal karena memiliki banyak bakat di bidang kesenian. Orang-orang menyapanya saat dia lewat, dan dia tersenyum dengan percaya diri pada siapa pun yang menyapanya.
Dia adalah orang yang dengan ringan melambaikan tangan, merangkul bahu, melakukan tos dengan siapa pun yang bahkan tidak dia kenal.
Saat bersamaku, senyum itu terlihat seperti senyum malu-malu yang gugup.
Aku tidak tahu harus bereaksi bagaimana terhadap raut wajahnya yang tak biasa itu.
"Aku udah baca volume satunya yang kamu pinjam minggu kemarin. Hehe." Dia nyengir lebar sambil menunjukkan volume pertama buku Selena Mauri yang kubaca minggu lalu. "Baru aku baca habis. Ini mau dikembalikan. Seru, ya, bukunya."
Raut wajahku yang cemas perlahan menguap digantikan rasa penasaran yang samar.
"Beneran seru banget. Aku jadi tahu banyak sisi dari manusia yang punya karakteristik pendiam." Ave meletakkan buku itu dan mengambil volume dua yang baru saja kukembalikan tadi. "Karena kamu udah selesai baca yang ini, giliran aku yang pinjam, ya?"
Aku mengedipkan mataku. "Ka-kamu tertarik sama bukunya?" aku memberanikan diri bertanya.
Oh …, tidak. Dia diam saja. Aku salah bicara? Apakah pertanyaanku itu memiliki arti lain di telinganya?
Aku tertunduk malu, ingin sekali aku menarik kembali pertanyaan itu dan membuatnya seolah tidak mendengar kalimat apa pun keluar dari mulutku.
"Huh? Apa tadi? Maaf, aku lagi fokus baca deskripsinya." Ave menggaruk tengkuknya sambil terkekeh canggung.
Aku mengangkat kepalaku lagi. "I-itu …, kamu tertarik sama bukunya?"
"Tertarik, dong. Kalau nggak, nggak mungkin aku rela nunggu kamu seminggu di sini. Hahaha!"
Aku menutup mulut saking terkejutnya. "Maaf!" Aku refleks segera membungkukkan tubuh.
"Eh? Kenapa? Nggak usah minta maaf begitu. Aku malah nggak nyangka kamu bakal selesai secepet ini, loh …. Aku sendiri butuh waktu lebih lama."
"T-tapi kamu nunggu di sini seminggu …."
"Hahaha, nggak gitu, Mirai, aku cuma bercanda aja. Nggak bener-bener di sini seminggu, kok. Aku cuma datang ke sini setiap hari buat nunggu kamu, tapi ternyata nggak datang-datang juga, hehe. Nggak nyangka juga bisa ketemu di sini hari ini, hehe."
Aku terdiam. Kutatap matanya yang memperlihatkan binar bahagia yang tak pernah kulihat di mata orang yang sedang berbicara denganku.
Dia terlihat antusias. Dan semangatnya itu bukan kebohongan. Aku benar-benar melihat rasa senangnya saat berbicara denganku.
Dia membuatku percaya diri dengan suaranya yang hangat dan caranya berbicara.
"Duduk dulu, yuk." Ave menarik kursi yang ada di dekatnya, aku menyusul duduk di seberangnya.
Sepanjang lorong belakang ini, aku menyadari bahwa hanya ada kami berdua. Tapi aku sama sekali tidak merasa takut untuk berinteraksi dengannya.
Mengingat dia ternyata memiliki selera membaca yang serupa denganku.
"Kamu tahu, nggak? Di volume satu itu, aku suka banget sama perkembangan karakter Lian. Ternyata kepribadian seseorang bisa berubah drastis tergantung lingkungannya, ya. Aku seneng banget baca endingnya. Lian jadi punya keberanian untuk mengutarakan pendapat dari dalam hatinya karena dia punya teman-teman sebaik Ana dan Dezwita."
Ave bercerita tentang buku yang dia baca itu. Aku tersenyum antusias. Ternyata dia benar-benar membacanya sampai selesai.
"Sebenarnya Dezwita sama Ana juga sama-sama orang yang punya trauma berat di masa lalunya. Nggak kelihatan karena mereka lebih pintar menyembunyikan perasaan mereka daripada Lian." Aku menyahuti penjelasannya dan mulai bercerita.
"Memang, sih, di volume satu belum ada satu pun petunjuk mengenai trauma mereka. Tapi dilihat dari percakapan kecil mereka bertiga, atau dari gimana cara Ana menghibur Lian waktu Lian nangis karena masalah keluarga, lingkungan rumah, penolakan sosial, kelihatan banget kalau Ana pernah menghadapi masalah serupa."
"Dezwita juga begitu. Tadinya aku mengira dia itu korban bullying, tapi setelah baca volume dua tadi, aku tahu kalau masa lalu dia lebih berat dari itu. Aku sampai lupa waktu bacanya karena bener-bener seolah aku yang ada di sana."
"Coba kamu baca sendiri aja volume duanya kalau—" perkataanku terhenti saat akhirnya mataku tanpa sengaja saling bertubrukan dengan tatapannya.
Jantungku berdesir. Tanpa kusadari, aku banyak bicara tanpa malu. Aku tertunduk dan menurunkan tanganku yang sejak tadi bergerak-gerak antusias.
Aku melupakan kemungkinan bahwa mungkin saja dia merasa tidak nyaman dengan apa yang kulakukan.
"Aku jadi nggak sabar buat baca. Kayaknya habis dalam beberapa hari, nih. Volume tiganya aku beli aja, deh."
"Kira-kira toko buku mana yang jual, ya? Apa aku cari di toko online aja? Habisnya buku-buku punya penulis ini bisa dibilang langka banget, sih. Iya, kan?"
"…."
Ave justru memberikan tanggapan yang berbeda dengan yang kupikirkan. Aku menatapnya tidak percaya. Tanpa kusadari dia sedang bertanya padaku.
Ave tersenyum lebar. "Makasih, ya, Mirai. Karena kamu, aku jadi tahu kalau ada buku sebagus ini."
Aku menaikkan kedua alisku sambil menunjuk diriku sendiri dengan ragu. "A-aku?"
Ave mengangguk semangat. "Sebenernya, aku udah merhatiin kamu dari awal kita jadi teman sekelas."
Dan, perkataan itu sukses membuatku terdiam seribu bahasa. Sangat sulit dipercaya bahwa orang yang memiliki banyak teman sepertinya malah memperhatikanku yang suram ini.
Tidak.
Sangat sulit dipercaya bahwa ia mampu menyadari keberadaanku yang tidak memiliki eksistensi ini.
"Waktu itu, aku ingat kamu lagi baca bukunya Dostoevsky. Aku juga pernah baca buku itu, tapi nggak selesai karena terlalu berat buat otak aku, hehe."
"Tapi, aku lihat kamu selalu bawa buku itu ke kelas selama sebulan lebih sebelum akhirnya kamu ganti buku-buku Dostoevsky yang lain. Jadi aku pikir kamu hebat banget baca itu sampai selesai." Ave tersenyum ke arahku.
"Aku pengen banget nanya kamu soal buku itu. Tapi aku belum pernah lihat kamu ngobrol sama siapa pun. Aku khawatir kalau aku datang justru bikin kamu ngerasa terganggu. Kamu bacanya fokus banget sampai keluar aura 'nggak boleh ganggu aku' gitu." Dia tertawa setelah meniru suara imut yang mirip kucing. Mungkin mencoba meniru suara perempuan.
Aku terkekeh pelan. "Bukunya …, emang aku baca sampai selesai, kok."
Ave membulatkan mata. "Serius? Astaga, berapa bulan aku nahan rasa penasaran ini, harusnya aku tanya langsung aja, ya …."
Aku benar-benar tertawa lebar sekarang. "Kamu mau pinjam?"
"Kamu punya?"
"Punya, banyak. Semua buku Dostoevsky aku punya."
Ave mengangguk antusias. "Mau milih sendiri. Main ke rumah kamu, boleh?"
"…."
***
Ah, aku tidak tahu yang kudengar saat itu benar atau tidak. Tapi aku sudah menganggukkan kepalaku tanpa ragu. Dan Ave berada di rumahku sekarang.
Ibu pulang bekerja lebih cepat—sialnya. Dan dia terlihat antusias menyambut orang yang dia sebut teman pertamaku—aku tidak tahu kami berteman atau tidak.
Semenjak itu, Ave sering kali menungguku di depan gerbang saat pulang sekolah, dan kami berjalan pulang bersama setiap beberapa hari sekali sambil membahas buku yang baru saja dia baca.
Dia mulai banyak membaca buku-buku Dostoevsky milikku. Bahkan menamatkan beberapa dalam waktu kurang dari satu bulan. Dan semakin hari semakin antusias membahasnya.
Kami menjadi lebih dekat di hari-hari berikutnya. Saat hari libur, dia mengajakku pergi ke toko buku bersama, mengikuti pre-order buku baru, menghadiri acara bedah buku yang pertama kali kudatangi, atau hanya sekadar pergi ke supermarket bersama sepulang sekolah.
Saat berangkat sekolah, dia menungguku di halte bus untuk berangkat bersama. Sesekali dia datang ke rumahku tanpa diminta. Dan dia terbiasa berinteraksi dengan ibuku secara alami, bukan lagi sebagai tamu yang harus membuat batasan.
Beberapa minggu lagi berlalu, dia mulai menjadi lebih berani terhadapku dan terang-terangan menunjukkan kedekatannya denganku.
Dia menyapaku di pagi hari, dia mengajakku makan bersama saat istirahat, terkadang menghampiri mejaku dengan alasan meminjam alat tulis atau buku catatan.
Sehingga banyak orang mulai melihat keberadaanku sebagai bagian kecil dari seorang Ave. Rasanya kurang nyaman karena aku jadi diperhatikan karena dekat dengan seorang bintang kelas.
Tapi Ave selalu punya cara untuk membuatku tetap nyaman saat sedang bersamanya.
Tiga bulan lebih berlalu, dia mulai mengajakku bergabung ke kelompok belajarnya, dan kami menjadi lebih banyak berinteraksi dengannya dan orang-orang mulai mengetahui kedekatan kami.
Dia juga mengenalkanku pada teman-temannya, aku mendapat sambutan cukup baik. Tak ku sangka, berinteraksi dengan orang lain bisa jadi begitu menyenangkan berkat Ave.
Dalam enam bulan, bukan hanya Ave yang menyapaku setiap pagi. Teman-teman sekelasku mulai lebih sering melakukannya, teman-teman klub Ave bahkan sesekali sengaja datang untuk berkonsultasi tentang buku klasik yang mereka baca.
Tanpa kusadari, aku tidak keberatan dan merasa senang dengan keseharianku setelah mengenal Ave.
Masa sekolahku jadi begitu menyenangkan setelah pertemuan kami di perpustakaan hari itu.
Aku tersenyum menatapnya yang sedang menikmati matahari terbenam sambil memeluk buku Selena Mauri volume empat yang baru saja dia beli kemarin.
"Ave."
"Hm?"
"Kenapa kamu mau temanan sama aku?"
"Karena kamu emang seharusnya temanan sama aku?"
"Huh?" Aku menatap matanya sambil memiringkan kepala.
"Aku suka sama kamu, Mirai. Aku ingin dekat sama perempuan yang aku suka. Jadi teman dia, jadi lawan bicara dia, jadi tempat curhat dia. Aku suka jadi teman kamu."
Aku terdiam. "Ave? Kalau kita lebih dari ini nanti …."
"Hei? Aku nggak pernah bilang ke kamu bahwa kita harus lebih dari ini, kan? Aku ingin menjalani hubungan senyaman mungkin sama kamu. Aku mau jadi apa aja selama kamu nyaman sama aku. Begitu aja, ya, Mirai? Aku sedikit bangga karena aku sekarang jadi sosok yang kamu andalkan." Ave menatapku sambil tersenyum lebar hingga matanya menyipit.
Aku mengangguk dengan senyum tipis. "Makasih. Perkembangan lainnya, aku bisa coba perhatiin mulai sekarang."
"Tapi, jangan sering-sering main sama teman cowok dari klub aku, ya? Kadang aku cemburu walaupun diam-diam."
Aku tertawa segar. "Mereka, kan, cuma nanya satu-dua hal aja."
"Hehe, iya, sih."
Mau bagaimana pun, tetap kamu teman pertamaku, Ave.
Aku juga menyukai Ave. Tapi hubungan spesial tidak selalu bertahan lebih lama daripada pertemanan, kan?
Bagiku, justru pertemanan seperti inilah yang spesial.
Aku tidak ingin kehilangan satu-satunya orang yang telah mengubah kepribadianku sejauh ini. Seperti Lian yang tidak akan pernah meninggalkan Ana dan Dezwita.
ig. @neilouvar_11