Seorang pria dengan tinggi nyaris dua meter berdiri menjulang di hadapan Hera. Pria berjubah hitam dengan kedua tangan yang mengeluarkan gemeretuk petir itu menatapnya dengan sorot tajam.
“Sekarang giliranku, Hera!” dia berseru jemawa.
Hera tersenyum tipis, “Sungguh sebuah kehormatan bisa mati di tanganmu, Aresh Ashbourne.”
Aura dingin menguar dari keduanya. Kekuatan petir maha dahsyat melesat seperti peluru, Hera bergeming di tempatnya, berdiri tanpa bergeser sedikit pun meski ledakan beruntun meruntuhkan kastel biru tua miliknya.
“Aku salah meremehkanmu, Hera.” Aresh terkekeh dalam. Kilatan petir masih mengaliri telapak tangannya.
Hera menatapnya dengan sendu, akhirnya dia melangkah maju, tubuh itu masih utuh meski lebih dari sepuluh kali peluru petir menembusnya.
“Aku menguasai segala hal yang ada di bumi. Termasuk udara.” Hera terus melangkah maju.
Di depannya, Aresh terdiam membeku, kilatan petir di tangannya perlahan meredup, kemudian hilang sama sekali. Dia menahan napas, bergumam pelan, “Hera ….”
“Aku menguasai segala hal yang ada di langit, termasuk takdirmu.” Langkah kaki Hera berhenti satu langkah di depannya.
“Apa yang kau lakukan, Hera?!” Aresh berseru.
“Aku memanipulasi ruang di tempatku berdiri. Karena itulah seranganmu tidak berdampak apapun meski aku berdiri di tengah sasaran petirmu.” Hera mengayunkan kakinya selangkah lebih dekat.
Dengan perlahan, dia mengusap lembut tangan Aresh yang hangat, dia menyunggingkan senyum tipis. “Sungguh sebuah kehormatan bisa mati di tanganmu, Aresh Ashbourne.”
Itu kalimat yang sudah dua kali dia katakan dua jam terakhir. Aresh tidak mengerti, dia mendorong tubuh Hera menjauhinya.
“Jangan berlagak seperti kau sangat mencintaiku, Hera. Itu tetap akan membunuhmu.” Aresh mengangkat tangannya lagi, gemeretuk petir kembali terlihat.
Hanya sepersekian detik, kemudian lenyap tak berbekas.
Aresh terkejut, kenapa kekuatannya lenyap?
Hera tersenyum tipis, “Aku menguasai segala hal yang ada di dalam dirimu, Aresh. Termasuk kekuatan petirmu.”
“A-apa maksudmu?” Aresh berseru tak sabaran.
Setelah setengah hari pertarungan sepihak yang tidak menghasilkan akhir apapun, Hera melenyapkan kekuatannya begitu saja? Bagaimana mungkin.
“Aku sudah mencintaimu selama sembilan kehidupan, Aresh Ashbourne. Dan kau sudah mengakhiri hidupku sembilan kali kehidupan.”
“Apa yang kau katakan?” Aresh melangkah maju, mengguncang bahu gadis yang tampak baru berusia dua puluhan itu.
“Kita saling mencintai selama sembilan kehidupan, apakah dari sekian banyak reinkarnasi itu, kita pernah menjalani kehidupan yang begitu normal dan hangat?"
"Kita selalu berdiri di bibir jurang yang berseberangan. Tidak ada jembatan untuk menghampiri satu sama lain selain mempertaruhkan kehidupan. Sembilan kali aku berusaha mendapatkan akhir selain kematian bagiku."
"Ah …, tak pernah ada hal yang benar-benar baik bagi kita." Hera terkekeh pelan. "Tak pernah ada hal yang benar-benar berpihak pada kita. Meski aku seorang Dewi yang hebat dan kau kesatria yang kuat sekali pun."
"Dunia tempat cinta kita berakhir bahagia … tidak akan pernah ada. Sudah sembilan kali aku mencobanya. Aresh Ashbourne. Kastil Biru Tua di belakangku itu sudah kau hancurkan sebanyak sembilan kali. Dia sudah cukup menjadi saksi bagi kebodohan cinta ini."
"Aresh Ashbourne, kisah cinta kita selalu dimulai dengan dingin, berjalan dengan kejam, dan berakhir sangat tragis.” Tubuh Hera tersungkur jatuh.
“Hera!” Aresh menangkapnya dengan pelukan hangat, air mata membasahi pipinya, dia memeluk Hera dengan erat.
“Dengar, Aresh. Walaupun semua ini selalu kejam untuk kita. Rasa cinta ini, adalah hal paling lembut dan paling hangat dari dalam tubuhku yang penuh manipulasi. Aku baru saja memulai kembali semuanya. Jangan gagalkan upayaku untuk mencintaimu kesekian kali. Tak apa meski akhirnya selalu sangat kejam bagiku, aku hanya ingin mencintaimu dengan ketulusanku.” Hera tersenyum, tangan gemetarnya mengusap pelan pipi Aresh.
Aresh tersentak pelan, ia menggenggam erat tangan Hera yang kurus dan lemah. Tubuh itu perlahan menghilang.
Ujung kakinya mulai berubah menjadi butiran-butiran cahaya yang melayang ke atas. Terus menjalar hingga bagian tubuh yang lain. Aresh mulai panik dengan apa yang dilihatnya.
"Hera …?" ia memanggil nama wanita itu dengan suara bergetar.
Senyum tipis tersungging dari bibir Hera. “Aku menguasai segala hal yang ada di dunia. Tapi aku tidak pernah bisa menguasai hatimu.” Hera memejamkan matanya."Waktuku sudah berakhir sejak kau memutuskan melempar serangan-serangan itu padaku, Aresh …."
Kemudian tubuhnya lenyap tak bersisa. Butiran-butiran cahaya itu terus terbang ke langit hingga tak terlihat lagi.
Beginilah mereka memulai kisahnya. Kematian Hera, Aresh yang kehilangannya. Itulah awal dari semuanya. Sangat kejam untuk terulang sebanyak sembilan kali kehidupan. Dan rasa cinta yang dingin penuh candu itu tak pernah padam.