"Aku ingin menambang atensi!", suami Maya sedikit berteriak.
"Tiba-tiba banget, gak ada hujan gak ada petir. Kesambet apa Beb?" Tanya Maya sambil menggoreng telur mata sapi kesukaannya.
"Masak kamu gak paham? Sekarang itu, semua profesi harus jadi tiktokers, youtubers! Soalnya di era ini, atensi adalah mata uang yang paling berharga." Jawab Suami Maya.
Sambil diamatinya video-video serta sosok di dalamnya, suami Maya memang akhir-akhir ini tak bisa lepas dari gawainya. Ia juga selalu mengecek kolom komentar konten influencer. Ia membayangkan, menjadi seseorang yang juga punya banyak follower militan.
Sekarang Maya sudah di depan meja, ditaruh piringnya, dan sambil duduk ia mengatakan, "Influencer maksudmu? Mereka itu juga pintar-pintar kali, mereka juga peduli loh. Banyak yang bikin buku juga."
Suami maya sekarang duduk di hadapan maya. Ia mencoba menyusun argumen, lalu berkata, "Menulis? Bisa pakai ghostwriter kali."
Maya melongo sambil berusaha mengunyah makanan di mulutnya. Sementara Suaminya melanjutkan,
"Peduli? Itu justru kuncinya! Polanya sama kok, kita harus menampilkan kepedulian. Peduli sama masalahmu, peduli sama kesehatan mental mu, peduli sama masa depan negaramu, dan peduli-peduli yang lain!"
Maya akhirnya berhasil menelan telurnya. "Jadi, intinya kita harus peduli, tapi... peduli yang disiarkan? Bukan peduli yang diam-diam?"
"Bukan begitu, Beb! Ini namanya amplifikasi kebaikan!" sahut suaminya, semangat. Tangannya meraih ponsel.
"Lihat, kita bisa mulai dari hal kecil. Misalnya... kamu masak telur mata sapi buat aku." Dia mulai merekam piring Maya. "Judulnya: 'Sarapan sederhana penuh cinta dari istri tercinta. Bersyukur untuk hal-hal kecil'. Nah!"
Maya mengerutkan kening. "Tapi kamu sering komplain kuningnya terlalu matang."
"Sembunyikan itu dong! Yang penting pesannya," kata suami Maya sambil sibuk mencari referensi konten.
"Nanti kita bisa lanjut series. 'Suami membantu istri cuci piring', 'Suami ingat anniversary meski cuma kasih bunga seadanya'." Lanjut suami Maya meyakinkan.
Maya: "Kita belum anniversary."
Suami Maya: "Asal kita bisa meyakinkan, orang gak akan menaruh curiga kapan kita anniversary kan?”
Maya: “Kalau ketahuan?”
“Ya tinggal mengaku kelupaan dan ada situasi yang membuat kita majukan anniversary nya. Ini peran kosmetik yang bisa jadi dramatis!” Sambil cengengesan suami Maya menjawab.
Atau kita buat konten debat sehat. Kamu jadi yang pro, aku yang kontra. Topiknya... eh, gimana kalau 'Bijak bermedia sosial pada anak'?" Suami Maya Mencoba mengalihkan topik.
"Kita punya anak kucing aja belum," sindir Maya sekenanya. Mereka memang belum punya anak.
"Bisa adopsi! Itu lebih bagus lagi. Kita bisa dokumentasikan proses adopsinya. 'Peduli terhadap hewan terlantar'. Itu lagi tren!" Matanya berbinar. "Atau... kita buat konten tebak-tebakan. Aku tanya: 'Apa bedanya influencer dan pemadam kebakaran?'"
Maya menghela napas, penasaran. "Apa bedanya?"
"Pemadam kebakaran peduli karena memang itu tugasnya. Influencer... peduli karena itu tugasnya juga, tapi kalau gak direkam, rasanya kayak tugas yang belum selesai! Ingat, atensi=cuan!" Suaminya tertawa terkekeh, sangat bangga dengan analoginya sendiri.
Maya hanya geleng-geleng. "Jadi, kita harus hidup untuk ditonton, gitu?"
"Bukan ditonton, Beb. Diinspirasi! Kita jadi sumber kebaikan yang menyebar! Lihat nanti, dari konten kita, orang-orang jadi ikut peduli pada pasangannya, pada kucingnya, pada telur mata sapinya!"
"Kalau gak ada yang like?"
"Perbanyak konten yang fenomenal dong! Cari musuh kalau perlu! Orang suka keributan! Ini strategi! Dan yang paling jitu, ini organik!"
Maya berdiri, mengambil piring kotor. "Aku sih cuma pinginnya peduli beneran ke suamiku yang lagi kena demam 'influencer' ini. Hidup damai tanpa gedubrak gedubruk seperti suamiku yang selalu ada aja gebrakannya."
Setelah sampa wastafel, Maya melanjutkan,
Mau aku bikinin obat, atau aku cuci otakmu biar kamu bisa paham.... daripada jadi influencer, mending jadi suami yang normal-normal aja."
"Ini penunjang apapun beb!" Sekali lagi, suami Maya menekankan pendapatnya.
"Aku akan terlihat jadi suami yang baik, pintar, dan penuh kepedulian. Sedangkan kamu akan jadi istri idaman. Kita bagaikan dua pasangan yang sempurna!" Lanjut suaminya.
Maya bergeming, berlama-lama mencuci piringnya.
"Kemana-mana orang akan menghargai! Usaha apapun akan mudah, lancar, dan yang paling penting kita bisa berdampak. Gak cuma ke berbakti ke keluarga tapi berguna untuk masyarakat, bangsa, dan negara mewujudkan doa ibu bapakku seperti yang tertulis di selebaran waktu syukuran kelahiranku." Suami Maya masih nyerocos bicara.
"Cukup suamiku saja yang memujaku, dan tak perlu terkenal untuk jadi orang baik dan bermanfaat. Lagian, apa masih perlu follower militan kalau ada aku?" Maya bicara sambil menutup keran. Lalu…
Maya mendekat ke suaminya, kini mukanya sudah tepat di samping wajah suaminya, lalu ia berbisik, "Dan tak perlu jadi influenser, untuk jadi pasangan sempurna."
Diciumlah pipi suaminya, dan Maya berlalu menuju ruang laundry.
Tamat.