Aku punya setoples bintang kecil.
Sebenarnya itu hanya kertas origami warna-warni yang aku lipat menjadi bentuk bintang. Ada yang merah muda, biru laut, kuning pucat, hijau mint, bahkan beberapa dibuat dari kertas bekas bungkus hadiah yang sudah kusimpan lama.
Setiap kali aku butuh penyemangat, aku akan menuliskan sesuatu di secarik kertas kecil sebelum melipatnya menjadi bintang lalu menyimpannya ke dalam toples kaca di sudut meja belajar.
Kadang isinya harapan kecil.
Besok semoga tidak dimarahi Bu Rani.
Kadang mimpi sederhana.
Semoga aku punya teman yang benar-benar mau duduk denganku.
Kadang juga doa yang terlalu berat untuk anak seusiaku.
Semoga Ayah pulang ke rumah lagi.
Orang mungkin lebih suka menulis semuanya di buku diary. Tapi aku lebih suka merahasiakannya dalam bintang-bintang kecilku, karena diary bisa dibaca orang, sedangkan bintang terlihat seperti hiasan biasa.Tak ada yang tahu kalau di dalamnya ada rahasia-rahasia yang membuat dadaku sesak hampir setiap malam.
Namaku Kala.
Aku kelas dua SMA, dan aku terbiasa hidup dengan suara-suara keras di rumahku. Suara pertengkaran, piring yang dibanting dan pecahan yang berkeping-keping seperti ketakutanku yang kusimpan dan kubiarkan menyakiti diriku sendiri.
Suara pintu dibanting, tangisan pelan ibu di dapur saat tengah malam, dan suara ayah yang semakin jarang terdengar di rumah.
Orang-orang menyebut keluargaku “broken home.” Aku tidak terlalu suka istilah itu. Kedengarannya seperti rumah kami benar-benar runtuh berkeping-keping. Padahal nyatanya rumah ini masih berdiri, hanya saja orang-orang di dalamnya sudah tidak benar-benar tinggal satu sama lain.
Di sekolah, hidupku juga tidak jauh berbeda.
“Eh, si muka murung datang.”
“Jangan dekat-dekat, nanti ketularan sial.”
“Anak broken home emang aneh.”
Awalnya sakit, lama-lama aku hanya diam. Aku belajar kalau menangis di depan orang hanya membuat mereka merasa menang, jadi aku memilih tersenyum, atau setidaknya berpura-pura baik-baik saja, meskipun itu sebenarnya sangat menyakitkan. Tapi mau bagaimana lagi.
Sepulang sekolah, aku akan duduk di kamar, membuka toples kacaku, lalu membuat satu bintang lagi.
Hari itu aku menulis: Aku capek.
Lalu kulipat perlahan, memasukannya ke dalam toples, dan besoknya aku kembali hidup seperti biasa. Begitu terus, sampai suatu hari aku pingsan saat upacara.
Semua orang panik. Aku hanya ingat suara samar-samar guru memanggil namaku, lalu langit siang terlihat sangat putih, dan aku seperti menghilang.
Di rumah sakit, dokter banyak bicara pada ibu, tentang hasil pemeriksaan penyakitku, dan berbagai kemungkinan pengobatan yang panjang.
Tapi aku tidak terlalu mendengar semuanya, sampai aku lihat ibu keluar dari ruangan sambil menangis, dan ayah juga ada disana. Mereka berdiri di depanku bersama-sama, tapi anehnya, aku tidak merasa bahagia. Aku justru merasa takut.
Penyakit itu seperti tombol pause dalam hidupku, karena semua orang tiba-tiba memperhatikanku. Teman-teman yang dulu mengejek mulai mengirim pesan basa-basi, guru-guru yang selama ini mengacuhkanku mendadak lembut.
Ayah juga jadi sering pulang, Ibu mulai tidur di kamarku, semua terlihat membaik. Tapi aku justru merasa semakin sesak, karena aku tahu sesuatu yang mereka tidak tahu.
Tentang toples itu.
Suatu malam saat aku tertidur karena efek obat, ibu menemukan toples bintang kecilku. Aku tahu karena ketika terbangun, tutupnya sudah terbuka, dan ibu duduk di lantai sambil menangis. Di sampingnya ada bintang-bintang yang sudah dibuka satu per satu.
Aku langsung panik.
“Itu jangan dibaca.”
Suaraku lemah sekali, tapi ibu malah menangis semakin keras, tangannya gemetar memegang salah satu kertas.
Kalau aku sakit, apakah Ayah akan pulang lagi?
Ayah yang berdiri di dekat pintu perlahan menunduk, Ibu membuka bintang lainnya.
Aku iri lihat keluarga orang lain makan malam bersama.
Kalau aku dapat nilai bagus, apakah Ayah dan Ibu akan berhenti bertengkar?
Aku ingin ulang tahunku dirayakan lengkap sekali saja.
Aku takut pulang ke rumah yang dingin.
Lalu bintang terakhir yang warnanya biru pucat, yang paling lama kusimpan. Ibu membacanya dengan suara pecah.
Aku tidak minta hidup sempurna. Aku cuma mau rumahku kembali terasa seperti rumah.
Kamarku mendadak sunyi, tidak ada suara selain tangis ibu, dan Ayah duduk perlahan di lantai, aku melihat laki-laki itu menangis, bukan marah atau membentak, dan juga tidak pergi lagi.
“Ayah minta maaf” suaranya parau.
Aku tidak tahu kenapa dadaku terasa lebih sakit mendengar itu dibanding semua ejekan di sekolah, karena selama ini aku selalu berpikir mereka tidak peduli. Padahal mungkin mereka hanya terlalu sibuk saling melukai sampai lupa ada anak di tengah-tengah perang mereka.
Malam itu ibu memelukku erat, Ayah menggenggam tanganku, dan kami berada dalam satu ruangan tanpa pertengkaran, hanya ada tangisan.
Sejak hari itu, toples bintang kecilku tidak pernah aku isi lagi, karena aku mulai mengatakannya langsung, kalau aku takut, aku bilang takut, kalau aku sedih, aku bilang sedih, dan kalau aku rindu keluarga yang dulu, aku tidak lagi menyembunyikannya di balik origami kecil.
Penyakitku memang belum sembuh sepenuhnya, tapi ada sesuatu dalam rumah kami yang perlahan membaik.
Kadang saat malam, ibu masih membuat teh hangat untuk ayah, atau ayah mulai mengantarku kontrol ke rumah sakit, dan kami makan malam bersama tanpa suara piring dibanting.
Aku masih menyimpan toples itu di meja belajar, tapi sekarang isinya berbeda.
Bintang-bintang baru itu tidak lagi dipenuhi rasa takut. Salah satunya bertuliskan:
Hari ini rumah terasa hangat.