Disukai
0
Dilihat
22
culture shock
Religi
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Matahari telah menelan hampir seluruh bayangan. Teriknya membakar ubun-ubun kepala, hingga peluh mengalir di pelipis.

"Sebentar lagi zuhur," batinku.

Aku melangkah menuju langgar (sebutan orang Jawa untuk mushalla) kecil di sudut stasiun kota Jember. Setelah menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim, aku bersandar di tiang langgar sambil menunggu kereta yang baru akan berangkat pukul tiga sore. Entah karena lelah perjalanan atau karena semilir angin yang masuk dari jendela, mataku perlahan terpejam.

Aku melihat wajah itu lagi.

Senyuman yang sama.

Mata yang sama.

Gadis yang beberapa hari terakhir terus mengganggu pikiranku.

"Mas... mas... bangun, Mas."

Suara itu terdengar samar dari kejauhan.

Aku membuka mata perlahan. Sekilas bayangan gadis dalam mimpiku seakan berdiri tepat di hadapanku. Dadaku berdegup lebih cepat dari biasanya.

Deg.

Deg.

Deg.

Aku menatapnya beberapa detik.

"Benarkah ini dia?"

"Kenapa, Mas?" tanya gadis itu sambil melambaikan tangan di depan wajahku.

Barulah aku tersadar.

Bukan.

Ia bukan gadis yang selama ini memenuhi ruang pikiranku.

"Itu keretanya, Mas. Lima menit lagi berangkat."

Aku menoleh ke arah peron dan langsung berdiri.

"Astaghfirullah..."

Dengan tergesa-gesa aku mengangkat tas ke pundak lalu berlari menuju gerbong.

"Makasih, Kak!" teriakku tanpa sempat menoleh.

Aku duduk di kursi kereta sambil mengatur napas.

Aneh.

Mengapa gadis itu terus muncul dalam benakku?

Padahal aku belum benar-benar mengenalnya. Hanya beberapa percakapan singkat. Sedikit diskusi. Sedikit tatapan mata. Tidak lebih dari itu.

Namun entah mengapa, bayangannya selalu berhasil menemukan jalan menuju pikiranku.

 ............................................

"Ting tong..."

"Pemberhentian selanjutnya, Stasiun Surabaya Gubeng”

Aku segera meraih ponsel.

"Pen, ajak Aril jemput aku. Aku sudah sampai."

Tidak ada jawaban.

Telepon langsung terputus.

Aku tersenyum kecil.

Mungkin mereka langsung berangkat begitu mendengar aku datang.

Di luar stasiun, aku sempat berbincang dengan seorang pedagang Madura. Basa-basi sederhana yang selalu diajarkan kakakku setiap kali merantau.

Katanya, tak ada yang lebih cepat mencairkan suasana selain bahasa kampung halaman.

Dan benar saja.

Tak sampai lima menit, kami sudah bercanda seperti keluarga lama. Bahkan kopi yangku beli, ia gratiskan.

 

"WOOOOOOIIIII!"

Teriakan itu menggema dari kejauhan.

Aku menoleh.

Seorang lelaki berlari sambil melambai-lambaikan tangan.

Fendi.

Sahabat terbaikku.

Tak banyak yang berubah darinya. Hanya wajahnya yang terlihat lebih dewasa dan sedikit lebih keren. Maklum, sudah beberapa tahun hidup di kota. Ia sekarang melanjutkan kuliah di sini, agak sedikit tertinggal dariku karena ia masih menyelesaikan program tahfiznya di pesantrennya dulu. Dan sekarang ia sudah semester lima di universitas ternama Surabaya.

Di sampingnya berdiri Aril.

Masih dengan wajah datar dan sikap tenangnya yang khas. Hanya mengangkat tagannya.

Aku tertawa kecil.

Sebagian orang berubah karena usia.

Sebagian lagi berubah karena lingkungan.

Tapi Aril seolah menolak keduanya.

Ia pernah satu SMA denganku di pesantren, tapi sayang ia harus berhenti di tengah jalan lantaran terkena penyakit yang cukup serius. Dan sekarang alhamdulillah dia sembuh total dan bekerja di sebuah pabrik besar, dikit lagi jadi manajer. Semoga lekas diangkat jadi CEO.

Aku memeluk mereka erat.

Sudah terlalu lama kami tak berkumpul seperti ini.

"Selamat datang di Surabaya, Kyai," ejek Fendi.

"Masih hafal Alfiahnya atau sudah lupa?"aril sambil menepuk pundakku.

"Kalau kau masih hafal jalan pulang dari kosan cewek, aku juga masih hafal kitab."

Mereka tertawa.

Dan tanpa kusadari, tawa itulah yang menjadi awal dari perjalanan yang akan mengubah hidupku.

#

Hari-hari pertama di kota membuatku terkejut.

Lampu yang tak pernah benar-benar padam.

Gedung-gedung tinggi.

Kafe yang selalu ramai hingga tengah malam.

Lelaki dan perempuan yang begitu bebas bergaul.

Semua terasa asing bagiku.

Aku berasal dari pesantren salaf.

Lingkungan yang mengajarkan kesederhanaan.

Tempat di mana menjaga pandangan dianggap kemuliaan.

Tempat di mana hubungan laki-laki dan perempuan memiliki batas yang jelas.

Sedangkan kota ini...

Seolah memiliki aturan yang berbeda.

Awalnya aku hanya menjadi pengamat.

Duduk diam.

Memperhatikan.

Mencoba memahami.

Namun Fendi dan Aril punya rencana lain.

"Farhan, hidup jangan diisi kitab terus."

"Sesekali lihat dunia luar."

"Kenalan dong, sama cewek."

Aku hanya tertawa.

Dan akhirnya mereka berkali-kali mengenalkanku kepada berbagai wanita.

Mahasiswi.

Pegawai kantor.

Pemilik usaha.

Bahkan seorang selebgram lokal yang cukup terkenal.

Aku tetap datang setiap kali diajak.

Bukan karena tertarik.

Tetapi karena menghargai persahabatan kami.

Aku berbincang.

Bercanda seperlunya.

Lalu pulang.

Begitu terus berulang.

Berkali-kali.

Hingga suatu hari...

Aku bertemu dengannya.

Nadira.

Tidak secantik perempuan-perempuan yang pernah dikenalkan kepadaku sebelumnya.

Namun ada sesuatu yang berbeda.

Cara bicaranya tenang.

Tatapannya teduh.

Dan yang paling berbahaya...

Ia mampu membuatku merasa nyaman.

Sangat nyaman.

Untuk pertama kalinya benteng yang selama ini kujaga mulai retak.

Aku mulai menunggu pesannya.

Mulai memikirkan kabarnya.

Mulai mencari alasan untuk bertemu dengannya.

Hari demi hari.

Minggu demi minggu.

Dan tanpa kusadari, aku mulai berjalan terlalu jauh.

Jauh lebih jauh dari yang pernah kubayangkan.

 

Dan malam itu menjadi puncaknya.

Aku dan Nadira berada dalam situasi yang seharusnya tak pernah terjadi. Situasi yang, andai waktu bisa diputar kembali, mungkin akan kuhindari sejak awal.

Sepulang dari bioskop setelah menonton film Titanic, aku mengendarai motor sementara Nadira duduk di belakang. Awalnya langit hanya dipenuhi awan gelap yang menggantung rendah. Namun beberapa kilometer kemudian, hujan turun tanpa peringatan.

 

Aku memperlambat laju motor. Pandangan mulai kabur oleh air yang menempel di visor helm. Jaket yang kupakai tak lagi mampu menahan dingin. Dari kaca spion, kulihat Nadira memeluk tasnya erat-erat, berusaha melindungi diri dari guyuran hujan.

"Kita menepi dulu," kataku setengah berteriak melawan suara hujan.

Nadira mengangguk.

Aku membelokkan motor ke sebuah gubuk kecil di pinggir jalan yang biasa digunakan petani untuk beristirahat. Kami berhenti di sana, memarkir motor di bawah atap seadanya.

 

Suasana sunyi, seakan semesta telah merencanakan semuanya.

"kamu kedinginan..?" tanyaku lembut

Nadira takmenjawab. Ia hanya memeluk tubuhnya sendiri.

Aku membuka jaketku, yang padahal tak pernah kupinjamkan pada siapapun, karna itu jaket ayah waktu kuliah. Memakaikannya padanya.

Jantungku makin tak karuan. Godaan semakin kuat, merayap seperti api kecil yang siap melahap hutan kering.

"makasih" katanya setengah berbisik.

Lalu ia menyandarkan kepalanya kepundakku.

Deg

Deg

Deng

Deg

Jaraknya terlalu dekat, membuat detak jantungku berdetak berkalilipat dari biasanya. Efeknya 1000 kali lebih kuat dari secangkir kopi.

"makasih ya sudah selalu ada" ia mengalungkan tanganya pada lenganku.

Deg

Deg

Deg

Untuk sesaat, akal sehatku seakan menghilang.

Aku bukan lagi santri yang dulu.

Aku bukan lagi anak yang selalu menundukkan pandangan.

Aku hanyalah seorang lelaki yang sedang kalah melawan dirinya sendiri.

Tatapan Nadira menusuk, matanya bagai cermin yang memantulkan segala kelemahanku.

Tangannya bergetar, namun tetap berada di dekatku, seakan menantang batas yang sedang rapuh.

Dan sebelum aku sempat berpikir, bibir kami bertemu. sebuah ciuman singkat, namun cukup untuk mengguncang seluruh benteng yang selama ini kujaga.

Namun ciuman itu tidak berhenti di sana. Seakan ada arus yang menyeret kami lebih dalam, bibir Nadira kembali mendekat, kali ini lebih lama, lebih memburu, seperti ombak yang tak henti menghantam karang.

Detik-detik itu terasa panjang, setiap tarikan napas menjadi berat, setiap sentuhan menjadi api yang menjalar ke seluruh tubuhku. Aku merasakan diriku semakin hanyut, semakin kehilangan kendali, seolah dunia di sekeliling lenyap dan hanya ada kami berdua dalam pusaran yang tak bisa dihentikan.

Ciuman itu menjadi-jadi, bukan lagi sekadar sentuhan, melainkan badai yang menelan akal sehatku. Aku tahu, setiap detik yang berlalu adalah langkah menuju jurang yang dalam. Namun aku tetap terperangkap, tak mampu melepaskan diri dari gelombang rasa yang semakin menggila.

. Dalam derasnya arus itu, aku berpindah, mendekat ke leher Nadira. Aroma tubuhnya menyeruak, membuatku semakin goyah. Aku mengendus perlahan, lalu mencium, seakan mencari pelarian dari segala logika yang runtuh.

Aku merasakan diriku hanyut, semakin jauh dari pantai kesadaran. Tanganku bergetar, bergerak tanpa arah, seolah mencari pegangan di tengah badai. Namun setiap gerakan justru semakin mendekatkan aku pada batas yang seharusnya tidak pernah kulewati.

Nadira pun terdiam, matanya terpejam, seakan menyerahkan diri pada arus yang tak terbendung. Keheningan kamar itu berubah menjadi ruang penuh desakan, penuh bisikan yang tak terdengar namun terasa.

Jari-jariku menyentuh Nadira dengan ragu, seolah meraba sesuatu yang selama ini hanya hidup dalam angan. Sentuhan itu justru membuat pertahananku semakin rapuh. Setiap helai kain yang kurasakan terasa seperti batas terakhir yang memisahkan kami dari sebuah jurang yang tak pernah kubayangkan akan kudekati.

Napas Nadira kian memburu. Dengan gerakan perlahan, ia meraih kancing-kancing bajuku dan membukanya satu per satu. Jemarinya menyentuh dadaku, lalu ia mengecupnya singkat, namun cukup untuk membuat seluruh tubuhku bergetar.

Pada detik itu, akal sehatku seakan tercerabut dari tempatnya. Aku mengangkat tubuh Nadira dan membawanya ke pangkuanku. Semua yang selama ini kutahan, yang selama ini kukurung rapat dalam benteng keyakinan dan kendali diri, perlahan runtuh tanpa suara.

Gubuk itu tetap sunyi, namun keheningan yang tadinya menenangkan kini berubah menjadi sesuatu yang menyesakkan. Udara terasa semakin sempit. Tak ada kata-kata yang terucap, tetapi ada begitu banyak dorongan yang saling berbicara dalam diam.

Jantungku berdetak semakin keras, seakan hendak memecahkan tulang rusukku sendiri. Aku tak lagi mampu membedakan mana keinginan, mana kesadaran. Yang tersisa hanyalah arus deras yang menyeretku semakin jauh.

Dan tepat ketika tanganku bergerak hendak membuka kancing pertama pada bajunya—

Sebuah suara tiba-tiba muncul dalam benakku.

Bukan suara yang keras. Bukan pula teriakan yang memaksa. Namun justru karena kelembutannya, suara itu terasa jauh lebih menghantam.

Suara yang selama ini kukenal.

Suara yang pernah kudengar dari mimbar pesantren, dari nasihat para guru, dan dari doa-doa panjang yang pernah kupanjatkan di sepertiga malam.

 

Suara sang kiai itu bukan sekadar membisik, melainkan dentuman yang mengguncang:

"Ingat siapa dirimu. Ingat untuk apa kau hidup. Jangan biarkan satu malam menghapus seluruh jalan panjang yang telah kau tempuh."

 

Suara ayah.

"Nak, jangan pernah menjual akhiratmu demi kenikmatan yang hanya sementara."

Lalu suara ibu.

"Ibu tidak bisa selalu menjagamu. Tapi Allah selalu melihatmu."

Dadaku mendadak sesak.

Tanganku gemetar.

Seakan seluruh masa kecilku diputar kembali di hadapanku.

Wajah ayah yang bekerja tanpa lelah.

Air mata ibu saat melepas keberangkatanku ke pesantren.

Doa-doa mereka.

Harapan-harapan mereka.

Dan aku...

Hampir menghancurkan semuanya dalam satu malam.

Air mataku jatuh.

Untuk pertama kalinya setelahsekian lama.

Aku mundur.

Menjauh.

Mengucapkan istighfar berulang kali.

Tanganku terhenti.

Seolah ada kekuatan yang menarikku kembali dari tepi jurang yang selama ini tak kusadari telah kudekati. Dadaku terasa sesak. Jantungku masih berdegup kencang, tetapi kini bukan karena gejolak yang sama. Ada rasa takut yang perlahan merayap. Takut kepada diriku sendiri. Takut kepada Tuhan yang selama ini telah memberiku begitu banyak nikmat, namun hampir kulupakan hanya karena satu malam yang dipenuhi kelemahan.

Aku menundukkan kepala.

"Nadira..." suaraku bergetar.

Ia menatapku dengan bingung.

"Aku tidak bisa."

Beberapa detik berlalu dalam diam. Aku bangkit dari tempat dudukku dan menjauh beberapa langkah. Kedua tanganku meremas rambutku sendiri. Air mata yang selama ini kutahan akhirnya jatuh tanpa izin.

"Aku minta maaf."

Malam itu berakhir tanpa kemarahan. Tanpa pertengkaran. Hanya dua manusia yang sama-sama sadar bahwa tidak semua keinginan harus dituruti.

 

Hari-hari setelahnya menjadi hari-hari yang berat.

Aku kembali membuka kitab-kitab yang lama tersimpan di rak. Kembali menghadiri majelis ilmu yang dulu mulai kutinggalkan. Kembali membiasakan diri bangun sebelum fajar, meski sering kali kantuk dan kemalasan lebih kuat daripada tekadku.

Tobat ternyata bukan sebuah pintu yang sekali dibuka lalu semua selesai.

Ia adalah perjalanan panjang.

Ada hari ketika aku merasa kuat.

Ada hari ketika aku jatuh.

Namun setiap kali terjatuh, aku berusaha bangkit lagi.

Aku mulai belajar menerima bahwa masa lalu tidak bisa dihapus, tetapi masih bisa diperbaiki dengan langkah-langkah yang baru.

Tahun demi tahun berlalu.

Dan perlahan, nama yang dulu sering menghantui pikiranku kembali muncul.

Seorang gadis yang pernah kutemui bertahun-tahun lalu.

Gadis yang senyumnya pernah singgah dalam ingatanku lebih lama daripada yang ingin kuakui.

Aku tak pernah benar-benar melupakannya.

Meski waktu terus berjalan, entah mengapa wajahnya masih tersimpan rapi di sudut hati yang paling sunyi.

 

Suatu sore yang gerimis.

Aku duduk sendirian di sebuah kafe kecil di sudut kota. Secangkir kopi hangat mengepulkan aroma yang menenangkan. Di luar jendela, orang-orang berlalu-lalang sambil membawa payung.

Aku sedang membaca sebuah buku ketika seseorang berhenti di samping mejaku.

"Maaf... ini Farhan, ya?"

Aku mengangkat kepala.

Dan dunia seakan berhenti bergerak.

Gadis itu berdiri di hadapanku.

Wajahnya memang telah berubah menjadi lebih dewasa. Namun mata itu... senyum itu... tetap sama seperti yang selama ini tersimpan dalam ingatanku.

Beberapa detik aku hanya terdiam.

Ia tersenyum kecil.

"Kamu masih suka bengong ternyata."

Aku tertawa pelan karena gugup.

"Dan kamu masih suka muncul tiba-tiba."

Senyumnya semakin lebar.

"Jadi benar kamu masih ingat aku?"

"Kalau ada orang yang bertahun-tahun mengganggu isi kepala seseorang, rasanya sulit untuk dilupakan."

Pipi gadis itu sedikit memerah.

"Aku tidak menyangka akan bertemu kamu di sini."

"Aku juga."

Hujan di luar semakin deras.

Namun untuk pertama kalinya setelah sekian lama, hatiku justru terasa tenang.

Tidak ada lagi gejolak yang membutakan.

Tidak ada lagi keinginan yang menyeretku tanpa arah.

Hanya ada rasa syukur yang sulit dijelaskan.

Karena terkadang, setelah seseorang belajar melepaskan apa yang tidak semestinya ia genggam, Tuhan justru mempertemukannya dengan sesuatu yang memang telah dipersiapkan untuknya sejak awal.

Dan sore itu, di antara aroma kopi dan suara hujan yang mengetuk kaca, kisah yang selama ini hanya hidup dalam bayanganku perlahan mulai menemukan kenyataannya.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Religi
Rekomendasi