Matahari telah menelan hampir seluruh bayangan. Teriknya membakar ubun-ubun kepala, hingga peluh mengalir di pelipis.
"Sebentar lagi zuhur," batinku.
Aku melangkah menuju langgar (sebutan orang Jawa untuk mushalla) kecil di sudut stasiun kota Jember. Setelah menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim, aku bersandar di tiang langgar sambil menunggu kereta yang baru akan berangkat pukul tiga sore. Entah karena lelah perjalanan atau karena semilir angin yang masuk dari jendela, mataku perlahan terpejam.
Aku melihat wajah itu lagi.
Senyuman yang sama.
Mata yang sama.
Gadis yang beberapa hari terakhir terus mengganggu pikiranku.
"Mas... mas... bangun, Mas."
Suara itu terdengar samar dari kejauhan.
Aku membuka mata perlahan. Sekilas bayangan gadis dalam mimpiku seakan berdiri tepat di hadapanku. Dadaku berdegup lebih cepat dari biasanya.
Deg.
Deg.
Deg.
Aku menatapnya beberapa detik.
"Benarkah ini dia?"
"Kenapa, Mas?" tanya gadis itu sambil melamb...