Darul ihsan, Sebuah pesantren tua yang terletak di lembah sunyi, diapit hutan yang tak tumbuh ke atas tapi menggali akar ke arah neraka. Pesantren ini bukan sekadar tempat mengaji, tapi juga tempat di mana waktu lupa cara bergerak, dan malam... lupa caranya berakhir.
Para santri datang silih berganti, membawa doa-doa yang tak semua di ijabah tuhannya, Dan di tengah-tengah keramaian lantunan al quran, kajian teks klasik dan suara syahdu para santri yang sedang mengadu kepada ya wadudu, berdirilah satu bangunan kecil di barat pesantren, yang mungkin mataharipun enggan menyentuhnya: langgar tua. Ia diam terbengkalai, tak bercahaya, tak bernyawa... tapi seperti menyimpan napas yang ditahan terlalu lama.
Terdapat seorang pemuda yang tertidur dengan kitab bidayatul hidayah di wajahnya, alwi al maliki pemuda asal Sumbawa yang baru saja menyesap pahit manisnya menjadi santri, pemuda dengan tekat besar, semangat yang melekat di dada dan penasaran yang mengakar di mata. alwi taksendirian, disampingnya terlihat seorang pria asal bandawasa juga tertidur beralaskan sajadah, Bakir fauzi pria sederhana yang menemani alwi kemanasaja, humoris juga penyayang namun seakan ada sebuah rahasia dibalik canda tawanya. Mereka adalah sahabat karib yang mungkin seiya, sekata dan seirama. Menjalani hari dengan diskusi bersama, makan bersama dan hampir semuanya bersama.
Malam itu, malam jumat pertama mereka di pesantren, usai mengikuti seluruh kegiatan yang mapu membuat kedua kaki mereka mati rasa, alwi mengajak bakir untuk sekedar menyeruput secangkir kopi di pendopo depan asrama sembari menceritakan manis pahit yang mereka rasakan dalam minngu ini, menceritakan hal-hal konyol hinnga ustad kiler yang seakan selalu memandang sinis pada mereka. Namun suasana seketika berubah mencekam, disaat lonceng tengah malam mulai berdetang berulang-ulang menjelma menjadi bayang yang menyebar membelah malam. Bakir melirik jam digital di tangannya 00:00 ......
Suara itu datang.
Azan. Lembut. Tapi serak. Seperti dibisikkan dari mulut yang dipenuhi tanah. Bukan dari masjid utama, tapi dari arah yang selama ini tak boleh di tatap: langgar tua.
Alwi berdiri. Bakir menggenggam tangannya.
"Jangan jawab." kata bakir dengan tangan gemetar
"Kenapa?" bisik Alwi.
"Karena itu bukan azan dari langit. Itu suara dari yang tertinggal."
Tapi manusia selalu punya rasa ingin tahu yang tak tahu tempat. Mereka berdiri di sisi pendopo, sedikit berjinjit mengintip arah barat, mengintip sebuah tempat yang seharusnya tak boleh dilihat , mereka melihat langgar tua itu terbuka. Padahal selama ini... terkunci, digembok, ditinggal dan diabaikan. Lampunya menyala. Pintu menganga seperti mulut yang kelaparan. Bayangan bergerak di dalamnya, tak memiliki tubuh, hanya gerak yang tak punya asal. Dan suara azan berulang... dengan jeda... seolah menyebut nama yang tak selesai dilafalkan.
Keesokannya saat kegelapan mulai menghilang terkikis sinar yang kian lama kian smenerang. alwi memutuskan untu mencari kisah dibalik bangunan tua itu, ia bertanya kpd kakak-kakak tingkatnya namun tak ada satupun yang mengetahui kisah bangunan tua itu hingga akhirnya ia bertemu dengan wiro, seorang santri paling tua dan senior dipesantren itu, ia juga seorang abdi dalem kiayi yang hampir selalu mendampingi dan membantu kiyai, baik dalam urusan dunia nyata bahkan dunia tak kasat mata.
"deyyeh lek, engkok lah dupolo taon ning dinnak, keng tak bengal entar dessak, ngabes beih marengis !, been tak usa alapola entar dessak!!!"(gini dek, sudah dua puluh tahun saya disini, namun saya takberani pergi kesana, melihat saja ngeri, dan kamu gak usah coba-coba pergi kesana ya). Dengan suara tegas abdi dalem itu berkata.
"kenapa kak?" dengan antusias alwi bertanya
Wiro hanya mengabaikan alwi, membakar tembakau yang sendari tadi ia linting lalu pergi begitu saja tampa sepatah kata pun.
Perkataan wiro membuat rasa penasaran alwi semakin menjadi-jadi, hingga akhirnya ia mengajak bakir untuk menemui kiyai ihsan di hari itu juga, kyai sepuh dengan sejuta kesaktian. Alwi menjelaskan kepada kyai tentang kejadian semalam dan suara-suara aneh yang menyerupai azan itu, kyai ihsan hanya menatap teduh waja alwi dan bakir, seakan menerawang batin mereka.
"engak cong, tak kabhi olokan nyuro deteng, torkadheng ngajhek syirik ben monafeq"(ingat ya nak, tak semua panggilan itu perintah datang, terkadang itu hanya mengajak kepada kesyirikan dan kemunafikan) dengan suara berat kyai ihsan berkata sambari memengag pundak mereka.
di malam-malam berikutnya... suara itu semakin keras.
Dan perlahan, nama Alwi mulai terdengar disebut dalam azan itu.............bersambungDarul ihsan, Sebuah pesantren tua yang terletak di lembah sunyi, diapit hutan yang tak tumbuh ke atas tapi menggali akar ke arah neraka. Pesantren ini bukan sekadar tempat mengaji, tapi juga tempat di mana waktu lupa cara bergerak, dan malam... lupa caranya berakhir.
Para santri datang silih berganti, membawa doa-doa yang tak semua di ijabah tuhannya, Dan di tengah-tengah keramaian lantunan al quran, kajian teks klasik dan suara syahdu para santri yang sedang mengadu kepada ya wadudu, berdirilah satu bangunan kecil di barat pesantren, yang mungkin mataharipun enggan menyentuhnya: langgar tua. Ia diam terbengkalai, tak bercahaya, tak bernyawa... tapi seperti menyimpan napas yang ditahan terlalu lama.
Terdapat seorang pemuda yang tertidur dengan kitab bidayatul hidayah di wajahnya, alwi al maliki pemuda asal Sumbawa yang baru saja menyesap pahit manisnya menjadi santri, pemuda dengan tekat besar, semangat yang melekat di dada dan penasaran yang mengakar di mata. alwi taksendirian, disampingnya terlihat seorang pria asal bandawasa juga tertidur beralaskan sajadah, Bakir fauzi pria sederhana yang menemani alwi kemanasaja, humoris juga penyayang namun seakan ada sebuah rahasia dibalik canda tawanya. Mereka adalah sahabat karib yang mungkin seiya, sekata dan seirama. Menjalani hari dengan diskusi bersama, makan bersama dan hampir semuanya bersama.
Malam itu, malam jumat pertama mereka di pesantren, usai mengikuti seluruh kegiatan yang mapu membuat kedua kaki mereka mati rasa, alwi mengajak bakir untuk sekedar menyeruput secangkir kopi di pendopo depan asrama sembari menceritakan manis pahit yang mereka rasakan dalam minngu ini, menceritakan hal-hal konyol hinnga ustad kiler yang seakan selalu memandang sinis pada mereka. Namun suasana seketika berubah mencekam, disaat lonceng tengah malam mulai berdetang berulang-ulang menjelma menjadi bayang yang menyebar membelah malam. Bakir melirik jam digital di tangannya 00:00 ......
Suara itu datang.
Azan. Lembut. Tapi serak. Seperti dibisikkan dari mulut yang dipenuhi tanah. Bukan dari masjid utama, tapi dari arah yang selama ini tak boleh di tatap: langgar tua.
Alwi berdiri. Bakir menggenggam tangannya.
"Jangan jawab." kata bakir dengan tangan gemetar
"Kenapa?" bisik Alwi.
"Karena itu bukan azan dari langit. Itu suara dari yang tertinggal."
Tapi manusia selalu punya rasa ingin tahu yang tak tahu tempat. Mereka berdiri di sisi pendopo, sedikit berjinjit mengintip arah barat, mengintip sebuah tempat yang seharusnya tak boleh dilihat , mereka melihat langgar tua itu terbuka. Padahal selama ini... terkunci, digembok, ditinggal dan diabaikan. Lampunya menyala. Pintu menganga seperti mulut yang kelaparan. Bayangan bergerak di dalamnya, tak memiliki tubuh, hanya gerak yang tak punya asal. Dan suara azan berulang... dengan jeda... seolah menyebut nama yang tak selesai dilafalkan.
Keesokannya saat kegelapan mulai menghilang terkikis sinar yang kian lama kian smenerang. alwi memutuskan untu mencari kisah dibalik bangunan tua itu, ia bertanya kpd kakak-kakak tingkatnya namun tak ada satupun yang mengetahui kisah bangunan tua itu hingga akhirnya ia bertemu dengan wiro, seorang santri paling tua dan senior dipesantren itu, ia juga seorang abdi dalem kiayi yang hampir selalu mendampingi dan membantu kiyai, baik dalam urusan dunia nyata bahkan dunia tak kasat mata.
"deyyeh lek, engkok lah dupolo taon ning dinnak, keng tak bengal entar dessak, ngabes beih marengis !, been tak usa alapola entar dessak!!!"(gini dek, sudah dua puluh tahun saya disini, namun saya takberani pergi kesana, melihat saja ngeri, dan kamu gak usah coba-coba pergi kesana ya). Dengan suara tegas abdi dalem itu berkata.
"kenapa kak?" dengan antusias alwi bertanya
Wiro hanya mengabaikan alwi, membakar tembakau yang sendari tadi ia linting lalu pergi begitu saja tampa sepatah kata pun.
Perkataan wiro membuat rasa penasaran alwi semakin menjadi-jadi, hingga akhirnya ia mengajak bakir untuk menemui kiyai ihsan di hari itu juga, kyai sepuh dengan sejuta kesaktian. Alwi menjelaskan kepada kyai tentang kejadian semalam dan suara-suara aneh yang menyerupai azan itu, kyai ihsan hanya menatap teduh waja alwi dan bakir, seakan menerawang batin mereka.
"engak cong, tak kabhi olokan nyuro deteng, torkadheng ngajhek syirik ben monafeq"(ingat ya nak, tak semua panggilan itu perintah datang, terkadang itu hanya mengajak kepada kesyirikan dan kemunafikan) dengan suara berat kyai ihsan berkata sambari memengag pundak mereka.
di malam-malam berikutnya... suara itu semakin keras.
Dan perlahan, nama Alwi mulai terdengar disebut dalam azan itu.............bersambung