Dalam kitab Alfawaid Almuhtaraoh Lisulukil Akhiroh Karya Aly Abu Hasan Baharun diceritakan tentang seorang santri pemalas:
- حكاية رحل من (جاوة) إلى رباط (سيون) لطلب العلم لكنه كسلان، وكان أبوه في (جاوة) يشتكي أن يكون ولده عاقا، فأرسل إليه إشارة له على طلب العلم واستعمل ولده لذلك للأكل والشرب، وكان أبوه يظن أن ولده قد قرأ «الحواكب» ثم «قطر الندى» ثم «لامية» ومكث، فلما مضى حسن سنين أو أكثر رحل الولد، وعقد أبوه ضيافة لشيوخه ودعا الناس إليها، فأمروا أن يكلم فلا يقدر، وأعلموا إليه مسألة فلا يدري جوابها، فعرفوا حينئذ أنه جاهل وافتضح أبوه ومرض ومات بسبب ذلك، أو ما هذا معناه.
Suatu ketika, pergilah seorang pemuda dari tanah Jawa. Ia berangkat ke sebuah pesantren besar di Sumun, tempat yang terkenal melahirkan para ulama dan cendekiawan besar. Ayahnya adalah seorang petani sederhana namun berhati mulia, mengantarnya dengan penuh harapan.
“Joko,” kata sang ayah sambil menggenggam bahu anaknya, “di sana kau akan belajar kitab kawakib, qotrun nadaa, alfiah, dan banyak fan ilmu lainnya. Jangan sia-siakan kesempatan ini. Ayah sudah menabung bertahun-tahun demi perjalananmu.”
Joko hanya mengangguk. Senyumnya tipis, matanya berkilat, namun bukan karena semangat, melainkan karena membayangkan kebebasan jauh dari kampung, jauh dari kekangan orang tuan.
Hari-hari pertama di Sumun, ia memang masuk kelas, duduk di antara santri lain, mendengar suara guru yang melantunkan bait-bait Alfiyah Ibnu Malik. Namun hatinya kosong. Ia lebih sibuk menghitung uang kiriman ayahnya setiap bulan. Uang itu ia gunakan untuk makan enak di warung, membeli minuman manis, dan sesekali berfoya bersama teman-temannya.
“Jok, kau sudah belajar kawakib gak, yang buat materi besok?” tanya sahabatnya, Gibran, di suatu malam.
“Ah, nanti aja. Kitab itu tebal bangat. Lagi pula, ayahku selalu kirim uang. Jadi aku tak perlu repot-repot.”
Gibran menghela napas panjang. “Ilmu itu bukan sekadar duduk di kelas. Kau harus meneguknya, mengunyahnya, baru bisa jadi bekal hidup.”
Joko tertawa kecil. “Bekal hidupku ya uang ayahku lah... Kamu lihat aja nanti.”
#
Di sisi lain, ada Wowo, teman pemalas yang suka berfoya-foya. Ia sering mengajak Joko keluar malam, mukbang, atau sekadar duduk di kantin pesantren hingga larut.
“Jok, hidup itu kudu dinikmati. Kitab bisa nanti-nanti. Lihat kan, uangmu cukup untuk traktir kita semua. Joko ini bos sengol dong!” kata Wowo sambil menepuk bahu sahabtnya.
Joko tersenyum bangga, merasa dirinya adalah raja kecil di Sumun.
Waktu terus merangkak. Lima tahun sudah Joko tinggal di Sumun namun adanya kayak tidak ada. Ia memang hadir di pesantren, namun lebih banyak menghabiskan waktu bersama Wowo di kantin, bercengkerama, atau tidur panjang. Kitab-kitab yang seharusnya ia pelajari hanya berdebu di rak buku.
#
Tat kala genap lima tahun, Joko akhirnya boyong. Ayahnya menyambut dengan wajah penuh bangga.
“Anakku sudah jadi alim!” teriak semangat sang ayah kepada tetangganya. “Ia sudah belajar kawakib, qotrun nadaa, alfiah, dan banyak kitab lainnya. Mari kita adakan jamuan besar untuk menyambutnya.”
Orang-orang kampung pun datang. Rumah sederhana itu dipenuhi tamu. Ayam kampung disembelih, nasi tumpeng disajikan, dan suara riang terdengar di setiap sudut.
Ayahnya berdiri dengan penuh kebanggaan. “Joko, anakku, berdirilah di depan. Sampaikan ilmu yang kau bawa dari Sumun.”
Joko maju dengan langkah ragu. Keringat dingin mulai menetes di pelipisnya. Ia menatap wajah-wajah penuh harap: para tetangga, kerabat, sahabat ayahnya.
“Silakan, Nak,” kata seorang ustaz. “Jelaskan kepada kami tentang makna bait Alfiyah ini
واَلأَمْرُ إنْ لَمْ يَكُ لِلنُّونِ مَحَلْ……فِيهِ هُوَ اسْمٌ نَحْوُ صَهْ وَحَيَّهَلْ........”
Joko terdiam. Bibirnya bergetar, namun tak ada kata yang keluar.
“Kalau begitu,” sahut yang lain, “apa hukum orang yang lupa membaca doa basmalah pada fatihah salat?”
Joko menunduk. Hatinya berdegup kencang. Ia tak tahu jawabannya.
Pertanyaan demi pertanyaan datang, namun ia tak mampu menjawab satu pun. Orang-orang mulai berbisik.
“Apakah benar ia belajar di Sumun?”
“Lima tahun di sana, tapi tak bisa menjawab hal sederhana?”
“Jangan-jangan ia hanya berfoya-foya.”
Ayahnya menatap dengan mata berkaca-kaca. Senyum bangga yang tadi merekah kini runtuh.
Jamuan itu berubah menjadi aib. Orang-orang pulang dengan kecewa. Ayahnya duduk di sudut rumah, wajahnya pucat.
“Joko…” suaranya lirih, “apa yang kau lakukan di Sumun selama ini?”
Joko tak mampu menjawab. Ia hanya menunduk, menatap lantai tanah.
“Ayah mengirim uang, berharap kau jadi penerus ilmu. Tapi ternyata kau hanya makan dan minum. Kau menipu ayahmu sendiri.”
Air mata jatuh dari mata sang ayah. Malam itu ia jatuh sakit. Tubuhnya lemah, hatinya hancur.
Hari-hari berikutnya ia hanya berbaring, menolak makan, menolak bicara.
Joko mencoba merawatnya, namun rasa bersalah menjerat.
“Yah, maafkan aku…” bisiknya suatu malam. “Aku salah. Aku bodoh. Aku tak pernah belajar.”
Ayahnya hanya menatapnya kosong, lalu memalingkan wajah.
Tak lama kemudian, sang ayah meninggal. Kampung berduka. Namun di balik duka itu, mak-mak berbisik tentang kebodohan Joko, tentang harapan yang hancur.
#
Joko berdiri di tepi makam ayahnya. Angin sore berhembus, membawa aroma tanah basah yang menusuk kenangan. Di hadapan nisan sederhana itu, ia merasa kecil, rapuh, dan tak berdaya. “Yah…” suaranya pecah, “aku telah mengkhianati harapanmu. Aku pulang bukan sebagai alim, melainkan sebagai pecundang. Kini kau pergi, meninggalkan aku dengan dosa yang tak terhapus.” Kata-kata itu jatuh seperti batu, menghantam dadanya sendiri.
Gibran, sahabatnya dari Sumun, datang menghampiri. Ia menepuk bahu Joko dengan lembut. “Jok, penyesalanmu tak akan menghidupkan ayahmu. Tapi kau masih bisa menebusnya. Belajarlah sungguh-sungguh, meski terlambat. Jangan biarkan kebodohanmu jadi warisan.”
Joko menatapnya dengan mata merah, penuh air yang tertahan. “Apakah masih ada jalan bagiku?” tanyanya lirih.
“Ilmu selalu terbuka bagi siapa saja yang mau meneguknya. Kau harus mulai dari nol, dari huruf alif. Jangan malu. Malulah jika kau mati tanpa pernah belajar,” jawab Gibran tegas.
Hati Joko bergetar. Ia tahu jalan itu panjang, penuh duri, namun ia tak punya pilihan selain menapakinya.
#
Sejak hari itu, Joko kembali ke pesantren dengan wajah baru. Ia duduk di barisan paling depan, seakan ingin menebus semua kursi kosong yang dulu ia sia-siakan. Kitab-kitab yang berdebu kini ia buka satu per satu, menandai setiap halaman dengan tinta dan air mata penyesalan. Malam-malam panjang tak lagi ia habiskan di kantin, melainkan di bawah cahaya lampu minyak, membaca bait demi bait Alfiyah Ibnu Malik, menuliskan catatan, dan mengulanginya hingga lidahnya kering.
Orang-orang kampung masih mengingat aibnya, bisik-bisik tentang jamuan yang berubah jadi malu. Namun perlahan, mereka mulai melihat perubahan. Joko tak lagi berfoya, tak lagi malas. Ia menjadi santri yang tekun, meski selalu dihantui bayangan ayahnya. Setiap kali ia membuka kitab, wajah ayahnya terbayang, seakan menatap dari balik nisan sederhana.
“Yah,” bisiknya dalam doa, “aku belajar bukan untuk kebanggaan, melainkan untuk menebus dosaku padamu Semoga Allah mengampuni aku, dan mengangkat derajatmu di sisi-Nya.”
Hari demi hari, Joko menapaki jalan panjang itu. Ia tahu penyesalan tak bisa menghidupkan ayahnya, tapi ia percaya ilmu bisa menjadi doa yang terus mengalir. Dari seorang pecundang, ia perlahan tumbuh menjadi santri yang benar-benar haus akan ilmu, menjadikan pesantren bukan lagi tempat pelarian, melainkan jalan menuju pengampunan.................................renungkanlah ma`nanya.