Malam itu rembulan menggantung seperti lentera yang digantungkan Tuhan di langit Jember. Cahaya putihnya menetes perlahan ke alun-alun, menyapu wajah para santri yang berkerumun mengikuti musabaqah qira'atil kutub. Angin malam berhembus lembut, membawa aroma tanah basah dan suara pepohonan yang seakan ikut bertasbih, memohonkan keberkahan bagi para pencari ilmu.
Di tengah riuh itu, seorang santri memilih menjauh. Falih Yahya Al-Khawarizmi, pemuda alim yang namanya sering disebut dalam daftar juara, duduk bersandar pada batang pohon pohon tua. Di tangannya terbuka kitab I'anatut Thalibin, namun matanya tak benar-benar membaca. Huruf-huruf itu menari tanpa makna, seperti enggan disentuh oleh pikiran yang sedang ka...