Aku kembali terbangun dengan sisi ranjang yang kosong dan dingin.
Sudah sebulan yang lalu istriku menolak tidur sekamar. Saat itu, malam hujan deras dan kami bercinta selayaknya suami istri pada umumnya. Siapa tahu ada spermaku yang berhasil menembus sel telurnya untuk kemudian tumbuh menjadi jabang bayi. Tapi malam itu, hanya aku yang menggebu-gebu. Sementara istriku tidak bereaksi sama sekali. Ia terlihat ogah bercinta denganku. Ciuman dan setiap sentuhanku hanya ia respon sekenannya. Ketika aku selesai mencapai puncak kenikmatan, ia langsung bangkit dan mengenakan kembali gaun tidurnya lalu duduk di tepian ranjang.
"Ada apa? Apa hari ini kau ada masalah sampai tidak mau bercinta denganku?" tanyaku.
Biasanya, orang yang selesai bercinta akan merasakan kantuk yang luar biasa dan berakhir dengan tidur bersama--saling berbagi kehangatan. Tapi istriku tidak. Setelah bercinta, akulah yang tidur pertama sementara ia terjaga sampai pagi karena katanya energinya terlalu tinggi sehingga kantuk pun tak sudi mampir.
"Aku tidak pernah merasa mengantuk setelah bercinta," sahutnya sambil mengucir kembali rambutnya yang bergelombang panjang. "aku justru merasakan kelebihan energi yang tidak terhingga. Seolah lemari dan dipan bisa aku angkat sekaligus." Ia lalu berjalan meninggalkanku sendirian dengan jawaban yang belum aku pahami sepenuhnya.
Saat itu, aku pikir ia hanya bicara asal karena terlalu lelah atau sedang ada dalam masalah yang belum ingin ia ceritakan padaku, tapi sejak saat itu, ia tidak pernah meninggalkan ruang kerja di seberang kamar kami kecuali untuk makan dan buang air.
Aku terus mendengar suara keyboard komputer yang terdengar sangat nyaring di rumah kami yang sepi.
Belakangan ia memang sering mengigau ingin jadi penulis. Kupikir itu hanya igauan orang biasa. Atau bunga tidur. Jadi aku abaikan saja.
Tapi sepertinya sejak saat itu, ia benar-benar menulis.
Dan yang lebih parah, ia menghabiskan 24 jam dalam sehari benar-benar untuk menulis, makan, buang air, dan sedikit tidur.
Ia bahkan tidak lagi tidur denganku. Jangankan tidur di sebelahku seperti dulu dan bercinta lagi, ia bahkan tidak pernah menginjakkan kaki ke kamar kami.
Suatu malam aku terbangun karena mendengar suara aneh, namun familiar dari ruang kerja di seberang kamar kami.
Suara keyboard itu tetap terdengar sepanjang malam, tapi malam ini terdengar semakin keras dan cepat--seolah istriku di dalam sana berusaha mengetik banyak kata dalam satu kali ketikan. Jarinya menari-nari seolah ia sudah menghapal di luar kepala huruf-huruf keyboard itu tanpa perlu melihatnya.
Karena suara dari dalam sana terdengar seperti istriku sedang bercinta dengan kertas-kertas atau komputer atau kegiatan menulis itu sendiri, aku memberanikan diri untuk mengintip setelah kubuka sepelan mungkin pintunya--memperlihatkan celah kecil yang tak ia sadari.
Mataku membulat ketika di sekitarnya sudah dipenuhi dengan tumpukan print out kertas berisi kalimat-kalimat yang ia tulis. Mereka semua berceceran di ruangan berukuran 4 x 4 meter itu.
Gaun tidurnya masih ia kenakan. Walaupun kusut dan seperti orang yang kekurangan tidur, entah kenapa kekacauan itu tetap tak melunturkan kecantikannya yang menggairahkan. Kecantikan istriku seolah simbol gairah bagi orang-orang sepertiku untuk bisa melanjutkan hidup.
Mulutnya terbuka kecil, kedua kakinya mengangkang di bawah meja, sementara jari-jarinya terus bergerak liar di atas keyboard sampai aku bisa merasakan getaran kecil di lantai akibat hentakan jari-jarinya di sana.
Desahan itu sesekali terdengar dan aku lebih kaget lagi karena wajahnya kelihatan seperti orang yang menikmati kegiatan bercinta--atau menulisnya--sampai membuatku iri. Bagaimana bisa seseorang yang menulis begitu menikmati kegiatannya sampai tidak menyadari waktu yang berlalu, dan bahkan seolah terlempar ke fantasi dan dunianya sendiri. Apalagi sekarang aku benar-benar melihatnya sendiri ketika kepalanya mendongak dengan mulut terbuka dan desahan panjangnya lolos.
Tubuhnya bergetar di atas kursi. Jari-jarinya juga. Ia berhenti sejenak dari menulis, dan aku menggigil di tempatku berdiri.
Pemandangan wajah istriku yang menampakkan kenikmatan seperti habis bercinta ini tak pernah aku lihat lagi kecuali malam ini.
Karena tidak mau kehilangan momen yang belum tentu aku dapatkan lagi, aku menerjang masuk dan mengunci pintu. Kulucuti semua pakaianku dan mulai menghujaminya dengan ciuman dan sentuhan di setiap inci tubuhnya.
Otakku sudah membentuk ekspektasi bahwa ia akan membalas sentuhanku sama bergairahnya ketika ia menulis, tapi ia bahkan tidak melirikku. Ketika ia melirikku hanya sepersekian detik, yang aku dapatkan hanyalah tatapan mengejek.
Aku seperti bercinta dengan boneka seks yang tidak memberi respon selain tatapan kosong yang dialihkan agar tidak menatapku.
Aku menghentikan kegiatan itu ketika belum mencapai puncaknya karena merasa rendah.
Aku masih mengungkungnya dengan kedua tangan yang tertahan di kedua sisi kursi yang ia duduki. Dari jarak sedekat ini, ia tidak tampak seperti seseorang yang mengenaliku. Ia tetap berkedip, bukan jenis tatapan kosong tanpa gairah hidup, tapi sebaliknya, aku melihat matanya hanya berapi-api ketika melihat layar komputer yang menampakkan tulisan-tulisan yang masih setengah jadi.
"Katakan padaku," kataku sembari memejamkan mata kuat-kuat dan berusaha menahan diri untuk tidak meledakkan emosi di tempat dan waktu yang salah. "apa yang membuatmu... Mengurung diri sebegininya? Apa yang membuatmu tidak pernah meninggalkan ruangan ini kecuali makan dan buang air? Apa kau lupa kalau kita sudah menikah dan aku suamimu?"
"Aku tidak lupa," katanya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, akhirnya ia menatap mataku tepat. "aku hanya ingin jadi penulis."
"Tidakkah seharusnya kau tetap seperti manusia pada umumnya? Tidur denganku, bercinta denganku, makan bersamaku. Tidakkah seharusnya kau begitu? Kau istriku."
"Siapa yang mengharuskan aturan itu? Pendeta? Keyakinanmu? Suara-suara dari langit? Wahyu?"
Aku tidak menjawab. Entah kenapa bibirku seperti dikunci dan semua kata yang aku siapkan mendadak tak bisa aku utarakan.
Sial, kataku dalam hati.
Aku menatapnya sekali lagi. Barangkali ia berubah pikiran dan menjadi normal kembali, tapi ia tetap bergeming.
Maka dengan itu, aku menarik diri dan segera mengenakan kembali pakaianku lalu meninggalkannya kembali tenggelam dalam tumpukan kertas seperti seorang maniak yang terobsesi dengan menulis.
Satu hari ketika aku mencoba masuk lagi ke ruang kerja sialan itu, pintunya dikunci dari dalam. Tak peduli seberapa keras aku menggedor dan ingin menghancurkan pintu itu, istriku tetap bergeming dan hanya membalasnya dengan suara ketikan yang lebih nyaring dan cepat.
Sepanjang malam, yang aku dengarkan hanyalah suara ketikan pada keyboard dan suara mesin pencetak yang tak habis-habisnya mencetak semua tulisannya.
Aku tidak pernah membayangkan bahwa suara ketikan keyboard komputer akan seberisik ini. Suaranya mirip peluru-peluru dari senapan mesin yang membuatku kadang merasa ada di tengah peperangan di negeri yang antah berantah.
Lama-lama aku tidak bisa membedakan apakah rumah dan hidupku yang terlalu sepi atau memang suara ketikan sialan itu yang berisik.
Pada malam-malam tertentu, aku sesekali mendengar suara desahan dari ruang kerja itu. Suara istriku yang mencapai puncak kenikmatan ketika menulis. Betapa konyolnya! Bagaimana ia merasa sangat puas hanya dengan menulis daripada bercinta dengan manusia? Dan bagaimana bisa aku diganti oleh mesin ketik sialan yang tak punya perasaan itu!
Lama-lama aku mempertanyakan siapa yang tidak waras di rumah ini: aku atau perempuan itu.
Sikapnya yang abai dan memberi garis batas yang sangat jelas antara duniaku dan dunianya membuatku sesekali membawa pulang beberapa teman perempuan kantorku atau kantor seberang untuk bercinta dan tidur bersama.
Walaupun durasi setiap perempuan hanyalah satu malam, tapi bercinta dengan mereka selalu memuaskan hatiku, walaupun di tengah-tengah kegiatan itu aku menjadi sangat marah ketika mendengar suara ketika keyboard itu masih saja terdengar lebih nyaring dibanding teriakan orang yang sedang bercinta.
"Kalau kau memang kesal dengan perempuan itu, kau seharusnya menceraikannya sejak lama." kata salah satu perempuan yang aku bawa ke rumah untuk bercinta. Sama seperti perempuan-perempuan sebelumnya, ia juga perempuan yang berbeda dibanding yang kemarin. Aku bahkan tidak mengingat nama mereka. Lama-lama, mereka semua terlihat sama saja. Riasan, bentuk wajah, bentuk tubuh, sentuhan, hingga gaya bercintanya.
"Dan alasan apa yang harus aku lemparkan ke pengadilan agar aku menang?" tanyaku membalas perkataannya. Mataku menatap langit-langit kamar yang pernah sehangat kamar pengantin baru. "aku harus bilang bahwa perempuan itu lebih memilih bercinta sambil menulis dengan kertas-kertas dan mesin ketik sialannya daripada denganku? Aku pasti sudah gila saat itu karena secara langsung menjatuhkan harga diriku sendiri sebagai lelaki."
"Lelaki dan perempuan... Apakah harga diri kita berbeda? Dan yang lebih penting... Apa itu harga diri?"
"Jangan berfilsafat ketika sedang atau sesudah bercinta."
Dan selayaknya naluri binatang, perempuan itu tersenyum dan naik ke atasku. Kami memulainya lagi untuk kedua kali. Dan aku tidak tahu pada wanita ke berapa aku harus berhenti. Sebab bagaimana bisa manusia bosan dengan seks dan bercinta itu sendiri?
....
Kupikir tadinya aku akan segera baik-baik saja.
Tapi lama-lama suara ketikan dari ruangan sialan itu semakin memekakkan telinga hingga aku melapisi seluruh dinding kamar dengan karpet kedap suara. Suaranya memang cukup teredam, tapi pada malam-malam tertentu suaranya bahkan masih bisa menembus kamarku.
Karena kesal, aku bergegas mengambil APAR untuk menghancurkan pintu itu supaya aku bisa masuk dan melapisinya dengan karpet khusus kedap suara. Tapi sebelum aku berhasil menghantamkan benda itu pada pintu kayu, lembar demi lembar kertas mulai keluar dari bagian bawah pintu yang sedikit diberi celah.
Lembar-lembar kertas berisi cerpen, puisi, atau potongan bab dari sebuah naskah novel terus keluar dari sana. Kupikir ia akan berhenti, tapi semakin lama semakin cepat dan dalam hitungan jam, ruang tengah rumahku sudah dipenuhi dengan kertas-kertas yang berceceran.
Perempuan gila itu menulis seperti orang kesetanan.
Kubereskan kertas-kertas sialan yang berserakan dan masih terus keluar dari ruang sialan itu.
Kubakar kertas-kertas itu ke tong sampah besi di depan halaman rumah, tapi api yang besar perlahan padam tanpa mengubah kertas-kertas itu menjadi abu.
Cara lain yang kucoba adalah dengan menenggelamkannya ke dalam air. Kubawakan beberapa ember air dan menuangkannya ke bak besar agar tinta-tintanya hilang dan ia menjadi bubur kertas. Tapi kertas-kertas itu hanya tenggelam sebentar untuk kemudian muncul ke permukaan dalam keadaan yang sama sekali kering.
Masih dengan dada yang menggebu-gebu dan merasa terbakar, aku membawa talenan dan pisau dapur paling tajam--bermaksud memotong-notongnya hingga jadi kecil-kecil dan kucacah sampai jadi serbuk. Tapi yang patah malah pisau dapurku. Dan pisau-pisau lainnya yang aku bawa untuk berusaha memotong kertas-kertas itu.
Aku juga mencoba merobeknya sendiri, tapi telapak tanganku malah berdarah-darah karena tergores kertas-kertasnya.
Aku bahkan berusaha menumbuknya, tapi ia tidak mau hancur. Bahkan berubah bentuk menjadi lecek pun tidak.
Sekarang ruang tengah hingga ruang tamu sudah dipenuhi oleh tumpukan kertas yang menggunung seperti tumpukan sampah di Bantar Gebang.
Aku mundur dua langkah. Mungkin suatu saat ruangan sialan itu meledak, dan rumah ini juga, pikirku.
Kutinggalkan cincin pernikahan kami sembarangan di lantai dan berjalan gontai ke kamar untuk mengemasi barang seadanya. Aku pergi dari rumah itu. Tak terbayangkan olehku bahwa aku terusir oleh tumpukan kertas berisi tulisan-tulisan yang lebih mengerikan dari yang aku bayangkan.
Sebelum aku benar-benar meninggalkannya, selembar kertas meluncur tepat di ujung kakiku.
Kuputuskan untuk membacanya.
Ketika dua orang menikah, apakah keharusan bercinta itu tertulis di atas kertas perjanjian? Jika tidak, apakah itu adalah hal yang harus dilakukan?
Ada orang-orang yang menikah untuk bercinta di atas kertas sebagai bentuk transaksi sosial. Dan ada yang menikah untuk bercinta dengan kertas-kertas.