Sejak usiaku empat tahun, bapak selalu membawaku ke halaman belakang rumah, ke hadapan pohon ketapang yang saat itu tidak terlalu tinggi. Kami duduk diam di rerumputan atau berdiri, kemudian bapak menyalakan menyan dan menyuruhku berdoa pada penunggu pohon ketapang. Katanya, aku bisa minta apa saja padanya. Bukan pada bapak, tapi pada penunggu pohon itu. Saat kecil, aku tidak pernah duduk atau berdiri dengan patuh selama bapak menunduk sambil mulutnya komat-kamit di hadapan pohon itu. Aku selalu melihat-lihat sekitar, mengejar kupu-kupu atau berusaha menangkap kunang-kunang. Kalau kadang Ibu melihatnya, ia akan lari tergopoh-gopoh untuk menangkapku. Ia akan memangkuku dan ia ikut menunduk komat-kamit di hadapan pohon itu. Untungnya, bapak tak pernah marah karena kelakuanku sebab aku masih kecil dan belum mengerti mengapa kami harus berbicara pada sebuah pohon.
Bapak dengan sabar mulai menjelaskan kepadaku mengapa kita sekeluarga harus meluangkan waktu untuk berdialog dengan pohon itu, sebab nanti yang menunggu pohon itu akan jadi marah lalu membuat keluarga kami ketiban sial alih-alih keberuntungan seperti kejatuhan durian runtuh entah dari mana–walaupun kejatuhan durian utuh juga bisa menyebabkan kematian, agaknya orang-orang tetap senang dengan kiasan itu dan mempertahankannya sebagai simbol keberuntungan.
Suatu hari karena penasaran, aku datang ke halaman belakang, tempat dimana pohon ketapang itu sekarang tumbuh semakin tinggi dan besar. Di ujung dahannya bahkan aku bisa melihat sarang burung. Sambil mengemut permen, aku berkata, “Wahai penunggu pohon ketapang, kata bapak, kamu bisa memberiku apa saja. Kalau begitu, sekarang berikan aku boneka beruang yang banyak. Oh, aku juga mau sepeda. Yang warna merah ya. Aku suka warna merah, sama kayak bapak. Kalau ibu, aku nggak tahu warna kesukaannya apa. Wahai penunggu pohon ketapang, kapan aku bisa dapat boneka beruang dan sepedanya? Besok? Besoknya lagi? Bulan depan? Tahun depan?” Aku mencecarnya. Kalau ketahuan bapak, ia bisa menegurku. Ia akan bilang: kalau berdoa pada penunggu pohon ketapang harus pakai bahasa yang sopan biar doamu jadi kenyataan. “Bahasaku kurang sopan, ya? Kalau gitu, maaf.” Aku diam lagi, menunggu jawaban.
Alih-alih jawaban, yang kudapat malah desiran angin yang mengayunkan daun-daunnya serta suara jangkrik. “Kok kamu nggak jawab sih?” tanyaku mendongak kepada pohon itu. “Memang, sih, kamu nggak punya telinga dan mulut, tapi kata bapak, kamu bisa kabulkan apa saja yang aku minta.” Aku berhenti lagi, memberinya jeda untuk berpikir. Aku menunggunya sampai terkantuk-kantuk dan dikerubungi nyamuk–membuat tangan dan kakiku bentol-bentol. Ibu memanggilku untuk masuk karena harus tidur. Sebelum meninggalkannya, aku bilang lagi pada si pohon ketapang, “Minggu depan udah harus ada, ya, barangnya. Janji, ya.” Aku mengacungkan kelingkingku ke arahnya, kemudian kurasakan tubuhku jadi tinggi. Kutoleh ke belakang dan rupanya Ibu yang menggendongku untuk segera masuk rumah.
Aku menunggu si pohon ketapang memberiku apa yang kuinginkan. Tapi sampai bulan depan, tidak ada satu pun permintaanku yang terwujud. Kuceritakan itu pada bapak, dan dia bilang bahwa aku harus berusaha mendapatkannya. Aku harus jadi juara kelas semester ini dan bapak akan membelikannya untukku. Karena bingung, kutanya pada bapak: kenapa bapak yang membelikannya? Kan, aku minta pada si penunggu pohon ketapang. Bapak dengan sabar menjelaskan: Kata si penunggu pohon ketapang, bapaklah yang jadi jembatan untukmu mendapatkan barang yang kau mau.
“Jadi, siapa yang bohong? Bapak atau pohon ketapang?” tanyaku saat itu. Usiaku masih 10 tahun. Ibu menegurku, mengatakan bahwa tak sepatutnya aku menanyakan pertanyaan macam itu–tidak sopan, katanya. “Tapi, aku cuma bertanya. Aku nggak marah sama jawabannya.” Lanjutku, seolah tidak bisa membaca raut wajah bapak yang berubah keruh dan air muka ibu yang berubah agak khawatir.
Aku memandangi ibu dan bapak bergantian sambil melanjutkan makan malamku, tapi salah satu dari mereka tidak ada yang menjawab pertanyaanku. Yang terjadi malah bapak meninggalkan meja makan menuju teras untuk merokok. Ibu mendengus pelan kemudian memandangku, dan ia pun berbisik, “Jangan pernah bertanya hal seperti itu lagi di depan bapak.”
“Kalau di depan ibu, boleh?” tanyaku. “Habisnya aku penasaran. Siapa yang berbohong, Bu? Bapak atau pohon ketapang? Aku minta sepeda dan boneka beruang ke pohon ketapang karena bapak bilang dia akan mengabulkan apa saja yang aku minta, tapi sekarang bapak bilang aku harus jadi juara kelas dulu baru dia mau membelikan, kenapa nggak pohon ketapang saja yang memberikannya padaku? Kenapa harus melalui bapak? Memangnya pohon ketapang kurang sakti? Atau dia nggak punya uang untuk belikan boneka dan sepeda buatku?”
Ibu mengatupkan bibirnya dan kudengar giginya yang bergemelatuk. Ia melirik teras depan dimana bapak masih merokok, dan sekonyong-konyong ibu mengambil sepucuk sambal dengan tiga jarinya yang langsung dioleskan ke bibirku, membuat bibirku seketika kepanasan dan perih–seperti ada ratusan semut merah yang menggigiti bibirku. Aku menangis dan mohon ampun pada ibu, tapi ibu tidak mau membasuh bibirku yang sengaja diolesinya dengan sambal. Dia malah bilang, “Ini hukuman untukmu karena terlalu banyak bertanya. Banyak bertanya dan berdebat itu bukan kemewahan yang kita miliki. Kita nggak punya kemewahan itu! Ngerti kamu? Sekali lagi kamu bertanya soal sakti atau enggaknya pohon ketapang itu, ibu akan olesi mulutmu pakai sambal yang lebih pedas! Diam! Nggak usah nangis! Kalau kamu nangis, nggak usah makan malam ini!” Setelah mengatakan itu, alih-alih melanjutkan makannya, ibu malah kembali ke kamar dengan pintu yang agak dibanting.
Malam itu, aku makan sendirian sambil menangis. Aku bingung. Sebab para guru di sekolah selalu mengajarkan bahwa kami sebagai anak harus menghormati orang tua karena orang tua sudah melahirkan, membesarkan, dan mendidik kita dengan penuh kasih sayang. Tapi, bahkan ada temanku yang setiap harinya harus bangun jam empat pagi untuk pergi ke pasar sendirian naik sepeda, belanja apa saja yang dicatatkan ibunya lewat selembar kertas, kemudian pulang membantu ibunya memasak, membangunkan ayahnya, dan mengurus dua adiknya yang masih TK, baru terakhir dia mengurus diri sendiri, membuatnya sering terlambat ke sekolah dan sering mengantuk saat pelajaran tiba, membuat orang tuanya sering dipanggil oleh guru-guru kami, tapi dia diberi keringanan.
Kami sebagai anak harus menurut dan menghormati orang tua kami. Itu ajaran para guru di sekolah. Tapi aku pernah beberapa kali melihat temanku dipukuli oleh ayahnya karena dia membuat adiknya menangis, aku juga pernah nonton berita di TV tentang seorang anak lelaki yang dipukuli oleh ayah dan ibunya sampai meninggal. Aku melihat beberapa teman menangis karena ketakutan oleh orang tua mereka. Itu membuatku bingung. Orang tua yang membuat anaknya menangis bahkan luka-luka secara fisik, apakah masih harus kami hormati? Jawabannya pasti ya. Karena kalau tidak berbakti pada mereka, kita bisa dikutuk jadi batu seperti Malin Kundang, atau dikutuk jadi monyet seperti yang sering ibu katakan padaku kalau aku mulai tidak menurut padanya.
….
Aku berhasil mendapat juara kelas di semester ini. Pulang sekolah, bapak dan ibu langsung membawaku untuk beli sepeda warna merah sesuai yang kuinginkan. Sebelum pulang dari toko sepeda, aku bilang pada bapak: jangan lupa ya, Pak, sebentar lagi kita mampir ke toko boneka.
Bapak lalu bilang, “Satu aja hadiahnya. Kamu masih terlalu kecil untuk menerima banyak hadiah.”
“Tapi aku minta dua hadiah ke pohon ketapang. Memangnya dia cuma mengizinkan aku dapat satu hadiah? Kenapa dia nggak menyuruhku untuk memilih?” Ibu langsung mencubit pelan lenganku, dan saat kutoleh ia, matanya melotot dan mulutnya komat-kamit pelan–seolah ingin memberiku kode bahwa jangan terlalu banyak tanya atau mulutku akan diolesi sambal yang lebih pedas daripada waktu itu. Aku langsung mengatupkan bibir dan menutupnya dengan telapak tangan.
“Maaf, Bapak, karena aku udah bikin bapak kesal,” ucapku pelan. “Makasih karena sudah belikan aku sepeda.”
“Jangan bilang makasih ke bapak, bilang makasih ke pohon ketapang begitu kamu sampai rumah nanti.”
“Tap–” Ibu kembali mencubit pelan lenganku, dan aku benar-benar menahan kalimat itu meluncur bebas dari mulutku.
Pulang dari membeli sepeda, aku ke halaman belakang, mendongak menatap pohon ketapang yang semakin lama semakin menjulang tinggi, tapi bapak enggan memotong salah satu dahannya karena menganggapnya tidak bahaya dan takut penunggu pohon ketapang marah kalau dahannya dipotong. Walaupun aku tidak mengerti maksudnya dan ingin sekali bertanya, tapi kuurungkan niatku sebab aku tidak mau mulutku diolesi sambal lagi.
Pohon ketapang masih mengayun-ayunkan daun-daun dan dahannya ketika diterpa angin sore itu. Aku tidak tahu kenapa harus berterima kasih pada pohon ini, mengingat bapaklah yang mengeluarkan uang untuk membelikanku sepeda. Bapaklah yang bekerja keras siang malam supaya ia bisa menabung dan membelikanku hadiah, sementara pohon ketapang ini hanyalah diam. Tidak mengatakan sepatah kata pun. Tidak juga tiba-tiba menjatuhkan uang atau boneka dari rimbun daun-daunnya.
“Kenapa aku harus bilang makasih sama kamu, ya?” Aku bertanya dengan suara yang amat pelan supaya tidak ketahuan bapak atau ibu. “Kalau aku nggak mau bilang makasih sama kamu … apa kamu bakalan kasih aku hukuman?” Ibu memanggilku untuk masuk karena makan malam sudah siap. Aku menatap pohon ketapang sekali lagi, kemudian berjalan meninggalkannya dan menutup pintu dapur, membuatnya tidak terlihat lagi.
Setelah makan, aku mengerjakan PR di kamar sementara bapak dan ibu menonton berita di lantai bawah. Sejak bayi, aku memang dibiasakan tidur sendiri. Kata ibu, supaya aku jadi anak yang pemberani. Awalnya, nenek melarang ibu melakukan itu padaku, tapi untungnya bapak setuju dengan ide ibu, jadi dia bisa mengelabuhi nenek dengan memberi penjelasan yang entah apa itu, sehingga nenek memperbolehkanku tidur sendirian. Dan menurutku, itu terbukti. Aku jadi anak yang tidak mudah takut. Aku pernah ke kamar mandi sekolah sendirian, walaupun teman-temanku bilang kalau kamar mandi itu angker. Aku juga berani jalan sendirian jam 7 malam ketika disuruh ibu beli kecap atau kebutuhan lainnya di warung di ujung blok perumahan kami. Waktu anak-anak berkumpul di kelas untuk menceritakan kisah menyeramkan, hanya aku yang tidak bercerita sebab aku tidak punya pengalaman menyeramkan dengan hantu. Sama sekali.
Malam itu aku tidur sesuai jadwal, yaitu jam 9 malam, setelah semua PR-ku selesai dan kegiatan belajar untuk pelajaran besok sudah kulakukan. Bapak selalu bilang, kalau aku mau tidur, aku harus sebut nama pohon ketapang tiga kali supaya aku tidak mengalami mimpi menyeramkan. Sejak umurku empat tahun, aku sudah melakukannya, dan aku tidak ingat apakah aku cara itu efektif atau tidak. Tapi, memang aku menjadi lebih tenang saat tidur setelah menyebut nama pohon ketapang sebanyak tiga kali. Malam ini, aku memberanikan diri untuk tidak melakukannya. Awalnya agak takut, tapi kuyakinkan diriku lagi bahwa hantu itu tidak ada dan aku akan tidur dengan nyenyak karena aku berani.
Maka malam itu, kuputuskan untuk tidak menyebut nama pohon ketapang sebelum aku tidur. Paginya, aku bangun seperti biasa. Kuingat-ingat lagi tidurku semalam, dan aku tidak mengalami mimpi buruk yang membuatku terbangun tengah malam dan tidak berani tidur setelahnya. Aku melakukannya selama tujuh hari penuh, dan tidak ada sesuatu yang sial menimpaku. Tapi di hari ke delapan, aku malah mimpi pohon ketapang di belakang rumahku punya dua mata dan mulut segitiga yang bisa tertawa lebar dan memperlihatkan giginya yang juga segitiga, tajam-tajam. Dia bahkan punya tangan dari dahan-dahan di kanan dan kirinya. Ia lalu mengejarku sambil tertawa kencang dan menggelegar. Aku berlari dengan perasaan takut, dan baru kali itu aku merasakannya. Karena tidak enak, aku membuka mataku dengan susah payah, dan ketika aku berhasil sadar sepenuhnya, aku tahu itu mimpi sebab aku tidak ada di halaman belakang rumah, tapi di kamarku. Kulihat jam dinding yang menunjukkan pukul setengah dua pagi. Mataku masih berat, tapi napasku terengah seolah baru saja aku ikut maraton.
Saat itu aku mulai berpikir, apakah aku mimpi buruk karena sengaja tidak menyebut nama pohon ketapang sebanyak tiga kali? Tapi kenapa dia baru memberiku buruk sekarang? Padahal aku sudah melakukannya selama tujuh hari dan selama itu pula aku baik-baik saja. Karena masih sangat mengantuk, aku kembali melanjutkan tidur dan terlelap nyenyak setelahnya, seolah aku tidak pernah mengalami mimpi buruk itu.
Sepulang sekolah, aku menceritakan tentang mimpiku pada ibu yang sedang merajut. Aku leluasa bertanya sebab bapak sedang dinas di luar kota dan aku tahu kalau ibu sebenarnya suka kalau aku banyak bertanya, tapi entah kenapa yang kemarin ia malah mengolesi mulutku dengan sambal, padahal biasanya tidak. “Ibu pernah tidak, mimpi buruk hanya karena nggak menyebut nama pohon ketapang tiga kali?”
“Pernah,” katanya. “Tapi ibu juga pernah mimpi buruk bahkan setelah menyebut nama pohon ketapang tiga kali.” Ia melanjutkan dan aku cukup kaget. Aku lupa apa aku pernah mengalaminya atau tidak sebab aku sudah lupa berapa kali aku pernah mimpi buruk setelah mengucapkan nama pohon ketapang. Sayang sekali aku tidak pernah menghitungnya.
“Lalu setelahnya, apa ibu masih menyebut nama pohon ketapang tiga kali?”
“Kalau ingat saja.”
“Kalau sengaja tidak menyebut namanya sebelum tidur, apa dia akan marah betulan?”
“Sekarang kamu pikirkan, bagaimana bisa sebuah pohon yang tidak punya nyawa bisa marah? Apalagi mengejarmu. Punya tangan dan kaki, punya mata dan mulut. Pohon dimana-mana akan tetap sebuah pohon kecuali kamu sendiri yang membentuknya jadi punya tangan, kaki, mata, dan mulut.”
“Jadi, Ibu tidak takut?”
“Ibu cuma takut sama dua hal: jadi miskin, dan jadi bodoh.”
Detik itu juga, entah kenapa aku merasa kalau ibuku lebih keren dibanding bapak.
“Kalau begitu, aku boleh tidak menyebut nama pohon ketapang, kan, sebelum aku tidur? Toh, menyebutnya atau tidak, aku tetap punya kemungkinan mimpi buruk.”
Ibu mengangkat bahu ringan, “Itu terserah kamu, Deli. Ibu nggak pernah ikut campur ranah pribadi kamu.”
Karena masih penasaran, aku melakukan eksperimen kecil-kecilan yang rencananya akan memakan waktu dua bulan. Satu bulan pertama, aku akan eksperimen–berapa kali aku mimpi buruk ketika aku sudah menyebut nama pohon ketapang sebanyak tiga kali. Bulan kedua, aku akan menghitung berapa kali aku mengalami mimpi buruk ketika dengan sengaja tidak menyebutkan namanya sebelum tidur. Tentu saja, hanya aku sendiri yang tahu tentang ini.
Hasilnya, acak sekali. Bulan pertama, selama tiga puluh hari, aku hanya mimpi buruk sebanyak lima kali, dua puluh kali mimpi indah, dan lima kali tidak mimpi apapun. Bulan kedua, aku mimpi buruk sebanyak 10 kali, 17 kali mimpi indah, dan 3 kali tidak mimpi apapun sama sekali. Aku kemudian melakukannya selama enam bulan, dan hasilnya juga semakin acak. Akhirnya, kulakukan eksperimen ini selama setahun, hasilnya juga sama; acak. Kesimpulannya adalah menyebut nama pohon ketapang tiga kali sebelum tidur atau dengan sengaja tidak menyebutkan namanya, aku tetap punya kemungkinan mengalami mimpi buruk. Karena masih penasaran, aku pergi ke perpustakaan daerah menggunakan kartu anggota perpustakaan milik ibu dan membaca banyak buku tentang mimpi, otak manusia, dan biologi makhluk hidup. Ternyata, mimpi adalah bagian dari halusinasi. Sebab saat mimpi, mata kita sedang terpejam dan kita tidak menerima rangsangan cahaya apapun, tapi dalam mata yang terpejam, kita bisa melihat banyak hal, taman yang indah, bencana alam, orang meninggal, sawah yang dipenuhi ular, dan masih banyak keanehan lainnya.
Saat ulang tahunku yang ke-11, aku sudah paham bahwa mimpi indah atau buruk, tidak ada hubungannya dengan penunggu pohon ketapang, sebab semuanya adalah kerja otak yang tidak bisa kita kendalikan dan prediksi. Tapi aku tidak menceritakannya pada siapapun sebab aku yakin tidak ada yang mau mendengar penjelasan dari anak umur 11 tahun. Mereka pasti hanya akan menertawakanku dan bilang bahwa aku ini sok tahu atau terlalu menggurui.
Ketika beranjak SMP, aku semakin sering ke perpustakaan daerah. Aku membaca apa saja yang tersaji di sana. Koran lama, koran yang paling baru, buku-buku usang, buku-buku yang baru, fiksi, non fiksi, dan nyaris setiap pulang sekolah aku selalu ke sana dan pulang membawa buku yang hendak aku baca di rumah. Kadang, aku membawa pulang dua buku, satu untukku dan satunya untuk Ibu. Setelah membaca, kami duduk sambil minum teh dan makan cemilan lalu membicarakan apa saja yang kami dapat dari buku itu. Kadang, kami saling bertukar buku ketika sudah selesai membaca.
Walaupun bapak masih menjadi pagar kami agar tidak lupa untuk berdialog dengan pohon ketapang di belakang rumah, ia tidak melarang kami untuk membaca banyak buku. Selama kami masih mengikutinya untuk memuja pohon ketapang, ia tidak menuntut apa-apa lagi dari kami.
Akhir-akhir ini, bapak lebih sering lembur di kantor dan pergi dinas ke luar kota. Dan karena kinerjanya bagus, ia mendapatkan kenaikan jabatan di kantornya. Tapi suatu hari, bapak tiba-tiba sakit. Badannya panas sekali dan ia lemas.
Dibantu tetangga, kami membawa bapak periksa ke dokter, dan hasilnya menunjukkan bahwa ia kena tipes. Bapak memang mematuhi semua perintah dokter, tapi di satu sisi, ia juga menjadi lebih lama meluangkan waktu untuk berdoa kepada penunggu pohon ketapang. Ia bilang, kita harus minum obat dan berdoa supaya cepat sembuh. Dokter itu hanya bisa meredakan gejala penyakit bapak, yang bisa menyembuhkannya secara total tetap hanyalah pohon ketapang. Kamu tidak boleh lupa itu, Deli. Aku hanya mengangguk tanpa makna, semata-mata supaya bapak tidak menasehatiku panjang lebar tentang keyakinannya pada pohon ketapang.
Suatu ketika, kantor tempat bapak bekerja mengadakan PHK massal. Dan walaupun bapak sudah bekerja di sana selama 15 tahun, itu tidak menjamin posisinya. Ia juga termasuk dalam daftar pegawai senior yang kena PHK. Aku tidak pernah melihat bapak menangis, tapi hari itu untuk pertama kalinya ia menangis di depan kami dan tidak sanggup menjelaskannya. Untunglah ibu menemukan surat PHK di tas bapak, dan malam itu kami semua diam seribu bahasa. Sambil menunggu bapak diterima di pekerjaan yang lain, ibu bekerja di gudang tembakau yang tidak jauh dari rumah. Kami menggunakan tabungan bapak untuk menutup kebutuhan harian–tentu saja harus ekstra berhemat.
Dan karena bapak belum dapat pekerjaan baru, ia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang biasanya dikerjakan aku dan ibu. Hal ini juga membuatnya lebih sering berlama-lama di halaman belakang, duduk bersila sekian jam di bawah naungan pohon ketapang sambil menyalakan kemenyan. Matanya terpejam dan mulutnya komat-kamit. Ia sedang berdialog dengan penunggu pohon ketapang, kemungkinan besar, seperti para pendoa yang lain, bapak sedang curhat tentang situasinya. Aku yakin ia sudah berharap dan yakin bahwa penunggu pohon ketapang akan membantunya mendapatkan jalan keluar.
Semakin lama, durasi bapak berdialog di bawah pohon itu semakin lama. Yang tadinya hanya setengah jam, meningkat menjadi satu jam, lalu satu jam tiga puluh menit, dua jam, tiga jam, empat jam, bahkan bapak pernah tidak makan malam dan hanya duduk di halaman belakang untuk berdialog. Lama-lama, aku turut muak melihatnya. Tapi, tentu saja aku tidak mengatakannya pada bapak karena ia bisa marah besar.
Suatu hari, bapak menegurku saat makan malam. “Biasanya stok kemenyan cepat sekali habis. Tapi akhir-akhir ini stoknya masih banyak. Kamu pasti sudah jarang ke halaman belakang untuk berdialog dengan penunggu pohon ketapang.” kata Bapak sambil menatap tepat ke arahku.
“Itu ranah privasi, Pak. Kenapa aku harus kasih tau bapak kalau aku berdoa di sana atau nggak? Itu namanya pamer dan penunggu pohon ketapang nggak akan suka.” kataku, menjabarkan alibi. “Toh, aku nggak pernah tanya apa bapak sudah berdoa pada penunggu pohon ketapang atau nggak. Bukan karena aku nggak peduli, tapi karena itu ranah privasi bapak yang nggak boleh diganggu siapapun.”
Bapak mengangguk-angguk sambil terkekeh pelan. “Ya, ya. Makin besar dan makin tinggi sekolahmu, makin pintar kamu lawan bapakmu sendiri.”
Aku mengernyitkan dahi. Sekonyong-konyong jawabanku dianggap melawannya, padahal aku mengatakan semua itu dengan sopan. “Aku nggak melawan bapak. Aku cuma menjelaskan. Lagipula, aku sudah sopan. Masih kurang? Kalau udah sopan aja nggak boleh berpendapat, lama-lama aku nggak boleh bicara sepatah kata pun sama bapak.”
Prang!
Bapak membanting piring berisi makanannya yang baru habis setengah. Ia meneguk air banyak-banyak dan ikut membantingnya di lantai, membuat pecahannya berserakan dan kami kehabisan kata-kata. hanya tubuh yang gemetar, lidah kelu, dan jantung yang rasanya mau keluar dari tempatnya.
“Nggak ada gunanya membesarkan anak kalau semakin dia besar, dia semakin kurang ajar sama orang tuanya. Kamu pikir, kamu bisa sampai sekarang itu karena siapa? Karena saya, hei! Bapak kamu! Karena bantuan penunggu pohon ketapang! Karena saya doakan kamu tiap hari di bawah pohon itu! Masih untung kamu nggak dikutuk jadi batu sama penunggu pohon ketapang! Dasar anak kurang ajar!” Ia mengambil gelasku dan menyiramkannya tepat di wajahku. Ia juga membanting gelas itu ke lantai. “Lihat, Sari. Lihat kelakuan kamu yang memanjakan dia. Sekarang dia jadi pendebat handal! Dia nggak penurut lagi! Lihat hasil didikanmu selama saya nggak di rumah! Bangga kamu? Iya? Bangga?!” Giliran bapak meneriaki ibu, tapi ibu sama sekali tidak menangis. Ia hanya diam dan berhenti makan. Bukan juga mendengarkan, dia diam untuk menahan amarahnya.
“Kalau sampai stok kemenyan itu nggak habis juga bulan ini, aku simpulkan kalian nggak berdoa pada penunggu pohon ketapang dan nggak mau mengikuti arahanku sebagai keluarga! Dan kalau sampai itu terbukti benar, siap-siap kalian angkat kaki dari sini. Paham kalian?” Setelah mengatakannya, bapak pergi entah ke mana. Dia baru kembali ke rumah dua hari kemudian dalam keadaan lusuh dan langsung tidur seharian penuh. Keesokan harinya, ia keluar rumah lagi tanpa pamit dan pulang larut malam sekali di saat kami berdua sudah tidur. Ia terus melakukannya selama berminggu-minggu.
Sekarang aku sudah ada di halaman belakang rumah, sedang menatap pohon ketapang yang semakin mengurung halaman rumah kami layaknya kanopi alami. Kuletakkan kemenyan yang sudah dibakar di wadah khusus yang terbuat dari tanah liat kemudian bergumam pendek, “Kalau kau, wahai penunggu pohon ketapang, benar-benar ada, kenapa kamu nggak pernah menampakkan dirimu di hadapan kami? Dan kalau kamu betulan ada, tolong biarkan bapakku mati. Katamu, kamu akan menghukum lelaki yang bertindak kasar pada anak dan istrinya. Sekarang kamu punya contoh nyatanya dan aku menunggu kapan kamu akan membereskan lelaki itu.”
Tiga bulan, enam bulan, delapan bulan, penunggu pohon ketapang tidak kunjung memberiku jawaban. Bapak tetap saja hidup dengan damai. Setelah makan enak dan tidur nyenyak, dia marah-marah lagi kepada kami, melampiaskan kekesalannya yang tak kunjung menemukan pekerjaan. Kusimpulkan sendiri sejak saat itu bahwa penunggu pohon ketapang tidaklah ada. Ia hanya mitos yang diturunkan dari keluarga ke keluarga lainnya, generasi ke generasi. Sebab kalau ada, harusnya dia jadi tameng kami saat bapak marah-marah. Kalau dia betulan ada, harusnya dia langsung memberi bapak jalan keluar atas kesulitannya mencari pekerjaan supaya ibuku bisa istirahat dan aku bisa fokus menyelesaikan sekolahku. Tapi pohon itu hanya diam. Ia hanya semakin besar dan lebat.
Hari-hari selanjutnya, bulan-bulan selanjutnya, aku hanya membakar kemenyan yang diletakkan di wadah khusus yang terbuat dari tanah liat, meletakkannya di dekat altar pemujaan, dan tidak berdialog satu kata pun dengan penunggu pohon itu. Kupikir aku akan dapat kesialan atau hukuman, tapi rupanya hidupku berjalan seperti biasa. Tentu saja aku mengalami kesialan, tapi setidaknya aku tak menyalahkan penunggu pohon ketika aku mendapatkan kesialan. Setidaknya aku tahu bahwa dalam hidup ini, yang bisa diandalkan hanyalah diri sendiri. Jadi, kalau aku gagal, maka itu karena usahaku sendiri yang belum maksimal, bukan karena penunggu pohon marah padaku.
Stok kemenyan jadi cepat habis, dan syukurlah bapak tidak tahu bahwa aku hanya meletakkannya tanpa berdialog di bawah pohon sebab di jam-jam itu, bapak selalu tidak ada di rumah. Suatu hari saat terbangun tengah malam, aku memergoki bapak yang baru saja pulang langsung menuju ke halaman belakang. Ia membakar kemenyan dan hanya meletakkannya saja di bawah pohon. Ia tidak berdialog dengan si penunggu pohon. Ia menoleh ke kanan-kiri, seolah takut ada yang memergokinya, tapi ketika mendapati tak ada satu pun yang melihat aksinya, ia meninggalkan halaman belakang dan tidur dengan nyenyak.
Didorong oleh rasa penasaran, aku sengaja pasang alarm tengah malam ketika bapak baru saja pulang dan diam-diam membuntuti dirinya hanya demi melihat apa yang dilakukannya di halaman belakang dengan pohon ketapang itu. Hari-hari selanjutnya, bulan demi bulan, bapak melakukan persis yang kulakukan: hanya membakar kemenyan dan meletakkannya tanpa berdialog. Tapi aku tidak membicarakannya pada ibu dan bapak. Aku tidak mau bapak merasa malu dan malah marah kepadaku. Tak lama setelah bapak berhenti berdialog dengan pohon ketapang dengan sengaja pulang tengah malam dan hanya meletakkan kemenyan, ia mendapatkan pekerjaan di salah satu perusahaan yang baru buka dan ibu resmi berhenti jadi buruh harian di gudang tembakau. Lalu aku yang akhirnya bisa fokus menyelesaikan pendidikanku sampai ke jenjang perguruan tinggi.