Hari-hari berlalu secepat seseorang yang terpeleset di lantai yang masih licin. Waktu adalah lantai yang licin, manusia adalah seseorang yang terpeleset karena saat jalan ia sibuk membaca pesan di ponsel, memerhatikan sekitar, atau bahkan melamun. Ada seseorang yang sibuk bekerja dan baru sadar betapa kesepiannya ia di usia 50 tahun. Masa muda adalah masa yang tidak pernah habis untuk dibahas di mana pun—di dalam film, lagu, novel, komik karena masa itu adalah momen yang paling menarik dalam hidup manusia—walau tidak semua orang menjalani masa mudanya sebagaimana seharusnya. Aku termasuk yang bertanya-tanya tentang definisi masa muda. Batasan apa yang harus kuberikan pada “muda” itu sendiri? Secara umur ataukah secara mental? Bagaimana dengan orang yang sudah lanjut usia tapi merasa ia masih seperti anak umur 17 atau 20 tahun? Ia masih bisa melakukan banyak hal. Dan sebaliknya—bagaimana kalau ada orang yang masih muda secara umur, tapi merasa ia menjadi semakin lambat dan tidak lagi segesit ketika ia masih SD atau SMA dulu? Nenekku pernah menyeletuk, “Saat muda kita menangkap belut yang gesit dan berhasil karena kita lebih gesit daripada belut itu, ketika remaja kita memakannya supaya menjadi gesit sepertinya, ketika tua kita tak memakannya karena takut kolestrol—mungkin itulah yang menjadikan orang tua sepertiku tidak segesit belut-belut itu.”
Aku bergabung bersama beberapa orang yang hendak menyebrang jalan menggunakan zebra cross. Anak-anak sekolahan berseragam almamater sampai olahraga membicarakan banyak hal—orang yang ia sukai, PR yang tak ada habisnya, beberapa guru yang tak pengertian, berbagi merk parfum yang tahan sampai sekian jam kemudian, janji untuk nonton dan makan bersama sepulang sekolah. Di sebelah mereka berjajar orang-orang berusia 40 tahun ke atas yang sibuk menerima telepon dari atasan dan bawahan mereka di kantor, sibuk membaca koran sekilas, menyesap kopi kemasan, menghirup rokok sambil memerhatikan sekitar, bengong memikirkan cicilan. Di barisan belakang terdapat orang-orang berusia 20 tahunan yang juga membicarakan banyak hal. Beberapa mahasiswa membicarakan kebijakan menteri ini dan itu yang dinilai semena-mena, perkara tambang nikel yang buntu, tugas-tugas kampus yang mati satu tumbuh seribu, pacar yang semakin susah dihubungi, rencana liburan akhir pekan berkemah ke puncak, gosip paling panas di kampus antara primadona satu dengan lainnya, kasus selebriti yang membuat mereka cekikikan, sampai skripsi dan dosen pembimbing yang sulit dihubungi. Di antara mereka, aku berusaha mencari jawaban atas pertanyaanku selama ini: apakah ada yang aku lewatkan di masa mudaku? Lampu pejalan kaki berubah hijau—bertepatan dengan lampu untuk para pengendara motor berubah merah. Aku mengeratkan pegangan pada tali tas punggungku dan berjalan di antara kerumunan. Semua orang berjalan dengan cepat dan aku berusaha menyamai ritme mereka karena tak ingin terlambat masuk kantor walaupun aku tahu aku tidak akan terlambat karena aku selalu berangkat satu jam lebih awal supaya aku punya cukup banyak waktu untuk berjalan dari rumahku ke kantor. Menyadari kalau diriku memang jarang olahraga karena tidak menyukainya, sekarang aku merasa beruntung karena mendapatkan kantor yang tidak terlalu jauh dari rumah, setidaknya bisa aku tempuh dengan berjalan kaki selama 45 menit—dan aku menolak pakai motor sebab aku ingin setidaknya melakukan pemanasan kecil-kecilan setiap hari.
Aku menambah ritme langkah kakiku menjadi sedikit lebih cepat. Kulihat beberapa pasang kaki di sisi kanan dan kiri tersalip olehku ketika aku berjalan agak menunduk, walaupun tak lama setelah aku menyalip beberapa dari mereka, ada juga kaki-kaki yang berjalan lebih cepat, bahkan berlari kecil untuk membuatku tertinggal beberapa langkah di belakangnya. Aku takut dipecat. Mengingat mencari pekerjaan di negara ini sama seperti perang panjang yang seolah tak terlihat ujungnya, aku selalu berusaha datang lebih awal sejak hari pertamaku sebagai karyawan baru, dan aku melakukannya terus sampai sekarang dan terhitung sudah dua tahun aku tak pernah terlambat. Teman-teman di kantor pernah memuji kinerjaku. Salah satu dari mereka pernah bilang bahwa aku akan tetap datang lebih awal sekalipun tahu bahwa meetingnya akan terlambat. Dan aku hanya tersenyum sambil diam. Sebab tidak tahu apa yang harus aku katakan. Juga tak ada keharusan untuk mengatakan apapun.
Napasku terengah begitu sampai kantor dan langsung menuju lift untuk sampai ke gedung lantai lima tempat kantorku berada. Berjubel dengan beberapa orang, aku sengaja mengambil posisi paling belakang supaya bisa menyandarkan punggung sebab aku selalu pusing ketika naik lift--mabuk sedikit, tapi kakiku kelewat lelah dan akan gemetar kalau dipaksa naik tangga.
Udara dingin di dalam lift bercampur dengan aroma masakan yang mereka bawa dalam kontak makan. Entah masak sendiri, beli, atau dimasakkan orang tersayang. Aroma masakan itu juga bercampur dengan aroma parfum dan hand body, mulai dari aroma teh, musk, wood, sampai vanila yang menusuk hidung sampai membuat lidahku terasa pahit ketika memutuskan bernapas melalui mulut saking tajamnya parfum seorang perempuan yang berdiri tepat di sampingku. Tak ada obrolan apapun di dalam lift. Satu per satu mereka berhenti di lantai yang dituju, dan dari lantai tempat mereka berhenti dan keluar dari lift, terkadang ada orang yang masuk untuk menuju ke lantai yang lain. Ketika barisan orang di depanku sudah berkurang, aku memutuskan untuk maju dan menekan angka lima pada tombol lift. Begitu keluar, aku langsung disambut lantai yang bersih mengilap dan sudah kering. Dibandingkan aku, masih ada dua cleaning service di kantor kami yang selalu datang lebih awal dan pulang paling akhir.
Begitu sampai di dalam kantor, kulihat ada seorang lelaki yang sedang membaca buku sambil duduk di salah satu sofa membelakangi pintu masuk. Di sebelahnya ada sebuah kardus ukuran sedang, entah apa. Aku berdeham tanpa suara dan berjalan melewatinya, sampai sebuah suara berat menghentikan langkahku. Suara itu berasal dari lelaki di belakangku.
"Shanin?" katanya. Lebih kepada pertanyaan daripada sapaan.
Aku berbalik dan kami berhadapan. Karena ia tinggi jauh melampauiku, kudongakkan kepala sedikit. Dan aku tak bisa menahan bola mataku untuk tak membulat kala ia juga balas menatapku. Bukan karena tatapanku dibalas, tapi karena wajah itu ternyata masih familier di memori otakku bahkan setelah sembilan tahun lebih tak menemukan batang hidungnya di sudut mana pun di kota ini.
"Astaga, Benny, kan?"
Ia mengangguk sambil tersenyum. "Apa kabar, Nin?"
"Baik, kok, baik. Lo sendiri gimana kabarnya?"
"Sama baiknya. Gue ke sini sebenarnya ada urusan sama lo."
"Lho? Urusan apa? Wah, berasa orang penting nih gue. Duduk aja, duduk. Bentar, gue ambilin kopi ya."
Di kantor ini terdapat vending machine yang mengisi minuman kaleng entah yang rasa buah atau kopi. Padahal masih pagi, tapi aku pikir orang seumuranmu memang sudah lumrah mengonsumsi kopi di pagi hari. Ia bahkan jadi minuman pendamping sarapan dalam beberapa kali kesempatan.
Ia duduk kembali di sofa, kali ini sambil memangku kardusnya yang membuatku penasaran. Kuserahkan kopi kalengan itu padanya dan ia bilang terima kasih. Aku mengangguk kecil dan duduk di sebelahnya tepat. Sambil meneguk sedikit isinya, kutanya, "Lo tau dari mana gue kerja di sini?"
"Kebetulan Pak Harun temannya Papa waktu kuliah dulu. Adik tingkat, sih, tepatnya, tapi akrab banget karena lulusnya hampir barengan dan sering ngerjain skripsi bareng. Gue memang ada urusan yang berhubungan sama siaran radio, jadi gue tanya-tanya Pak Harun. Karena gue sepantaran sama lo, gue disuruh datang aja ke kantor langsung buat ketemu sama penyiar namanya Shanin. Pak Harun bilang kalau urusan gue bisa disampaikan ke elo mengingat lo kan seumuran, biar lebih nyaman aja maksudnya. Gue awalnya agak ragu--masa sih Shanin yang dimaksud tuh Shanin temen sekelas gue pas SMA? Perasaan anak itu nggak pernah ikut ekskul broadcasting, gimana ceritanya bisa jadi penyiar radio? Terus ya udah, gue samperin aja, buat mastiin Shanin yang mana yang dimaksud, eh, ternyata elo. Terus, lo kenapa bisa kerja di sini, Nin?"
"Gue kebetulan jurusan Komunikasi, waktu semester lima disuruh magang, kan, satu semester. Terus ya udah, gue iseng apply ke beberapa perusahaan yang kerja sama dengan jurusan gue, yang nerima gue cuma kantor ini aja, jadi, gue jalanin aja daripada nggak dapet nilai, lama-lama... ya... bisa, lah, gue nikmati. Sekarang udah terbiasa." Aku menyesap lagi kopi kalengku yang sudah tak lagi dingin. Kuperhatikan sekeliling sesekali, dan belum ada tanda-tanda karyawan lainnya masuk. "Jadi, gimana, Ben? Ada yang bisa gue bantu?"
“Kakek gue baru aja meninggal. Seminggu yang lalu,” ujar Benny dalam satu tarikan napas. Aku tercekat hingga menahan napas selama sepersekian detik. “Gue paling dekat sama kakek, jadi keluar masuk kamar dia udah biasa. Waktu itu gue lagi iseng aja ke kamar dia, terus nggak sengaja nemuin kotak di bawah kolong tidurnya. Setelah gue buka, isi kotak itu ternyata kumpulan surat yang kakek gue tulis buat seseorang yang dia suka waktu SMA, tapi kakek nggak pernah berani kirimin itu langsung karena orang yang dia taksir tuh cewek yang populer banget di sekolah, banyak yang suka lah sama dia, jadi kakek gue pikir dia bakalan ngungkapin perasaannya nanti aja kalau dia udah sukses dan mapan—sekalian ngelamar. Tapi sayangnya cewek itu pindah kota, kakek gue sama sekali nggak tau alamatnya dimana karena mereka nggak pernah ngobrol sampai akrab, tapi saat itu kakek gue masih optimis—kalau dia punya banyak uang, dia bakalan bisa nyari orang yang dia suka dan ketemu sama dia. Sayangnya kakek gue nggak pernah berhasil dapatin alamat orang yang dia suka—alhasil semua suratnya nggak pernah terkirim. Kakek gue putus asa, dan akhirnya menikah karena dijodohin. Setelah nikah, dia fokus sama keluarganya dan nggak ada yang tau tentang surat-surat itu kecuali gue. Satu hal yang kakek gue tau tentang perempuan itu... dia suka dengerin radio dan perempuan itu memang penyiar radio dulu pas muda. Semua suratnya udah gue baca, dan surat terbaru ditulis setahun sebelum kakek gue meninggal. Isinya bilang: siapa aja yang menemukan surat ini, minta tolong dikirim ke penyiar radio karena siapa tau ada yang mau nyiarin surat-surat ini supaya perempuan yang kakek gue suka bisa dengerin isi suratnya. Nggak usah semuanya gapapa, karena emang terlalu banyak. Ambil beberapa surat yang penting aja.”
"Gitu, ya. Ide lo menarik sih. Belum ada yang bacain surat cinta orang lain lewat radio, tapi nanti gue bicarain dulu sama Pak Harun, ya."
"Sebenarnya gue udah ngobrol sama Pak Harun dan dia setuju. Gue ke sini nemuin lo selain buat mastiin siapa Shanin yang dimaksud Pak Harun, juga mau minta tolong... Bisa nggak kalau lo aja yang bacain surat-suratnya?"
"Kenapa... Gue? Gue masih baru sih, di sini, Ben. Masih ada yang lebih senior daripada gue."
"Gue percaya aja sama lo. Dan karena lo temen gue kali ya? Makanya gue ngerasa aman."
Aku masih diam, menunggu lelaki ini berubah pikiran, tapi ia malah menepuk bahuku sambil bilang, "Udah, gapapa, lo aja."
Aku balas tersenyum kikuk. Ini adalah kepercayaan besar yang Benny berikan padaku. Beberapa tahun yang lalu, aku sudah banyak melewatkan kesempatan-kesempatan yang datang sehingga menyesal di kemudian hari sampai sekarang, dan aku tidak mau mengulangi kesalahan yang sama, maka aku mengangguk menyetujuinya. “Oke. Boleh.”
“Oh, ya, Nin, boleh minta tolong sekali lagi nggak?”
“Selama gue bisa bantu, kenapa nggak? Mau minta tolong apa, Ben?”
“Mau nemenin gue ngelarung abunya kakek nggak?” tanyanya yang kontan saja membuat dahiku mengerut. Baru saja aku hendak bertanya “kenapa”, tapi Benny sepertinya sudah tahu akan itu, jadi ia menjelaskan lebih dulu, “Sebenarnya... ini ide gue sih. Kakek gue kan suka sama perempuan yang dulu jadi penyiar radio, ya, nah, kebetulan lo penyiar radio juga. Kali aja dia bakalan seneng kalau abunya dilarung sama orang yang juga jadi penyiar radio. Gue tau ini nggak masuk akal, tapi hal-hal nggak masuk akal kayak gini bakalan gue lakuin demi kakek gue, Nin.”
Saat itu tanpa pikir panjang aku langsung mengangguk. “Iya, boleh. Gue mau kok. Kapan?”
“Minggu ini. Nanti gue jemput ke rumah lo. Supaya enak ngehubunginnya, boleh minta nomor lo, kan?”
Untuk ketiga kalinya aku mengangguk dan menyebutkan dua belas digit nomor teleponku yang langsung dicatat oleh Benny. Ia menelepon nomor itu sehingga ponselku bergetar panjang. Tanda bahwa nomor barunya sudah aku kantongi. Benny tidak pernah tahu, dan tak perlu tahu juga—bahwa aku sudah memimpikan hari ini cukup lama. Hari dimana aku bisa menghubunginya lagi, atau paling tidak bertemu dengannya lagi.
....
Ini bukan kencan. Justru aku dan Benny hanya akan ke salah satu pantai yang belum terjamah oleh wisatawan mancanegara selain pengunjung lokal karena pantai ini terlalu biasa, sehingga lebih banyak diperuntukkan untuk kepentingan-kepentingan semacam ini—melarungkan abu orang yang sudah meninggal dan menjadi tempat orang-orang melambungkan doa-doa mereka. aku tahu setelah dari pantai kita tak akan kemana-mana. Ia pasti akan mengantarku pulang. Tapi tetap saja—bagaimana pun ini adalah kali pertama aku akan bepergian dengan Benny. Berdua saja. Dan itu sudah cukup untuk membuatku tidak bisa tidur nyenyak semalaman.
Semasa SMA dulu, sekalipun kami sekelas, aku tidak pernah dapat kesempatan itu. Aku selalu melarang teman-teman sekelasku yang tahu tentang perasaanku pada Benny untuk mengatur skenario klie dimana Benny harus mengantarkanku pulang. Aku tidak ingin itu menganggunya, jadi aku memang sudah menetapkan garis batas antara aku dan Benny sejak hari pertama aku memutuskan untuk menyukainya. Garis batasnya kubuat sejelas mungkin. Dan sampai sekarang aku tak pernah melewati garis yang kubuat sendiri.
Aku tak pernah berani mengiriminya pesan basa-basi—sekadar menanyakan lagu kesukaannya, makanan kesukaannya, hobinya, hal-hal yang ia benci, dan obrolan klise untuk mengenal Benny lebih jauh. Semuanya aku tahan karena hal-hal semacam itu ada di luar garis batas yang sudah aku tetapkan. Aku tak pernah dengan sengaja merepotkannya hanya untuk mendapat perhatian Benny, hanya untuk satu motor dengannya, satu meja kantin dengannya, satu meja di perpustakaan dengannya, dan sebagainya. Aku sungguh hanya memerhatikannya dari jauh, bahkan kadang jauh sekali sampai Benny hanyalah serupa titik yang perlahan menjauh dan menghilang dari jarak pandanganku. Semuanya karena aku takut perasaanku yang menggebu-gebu mengganggunya. Sudah bagus ia tidak tahu tentang perasaanku padanya, kalau ia sampai tahu lebih banyak daripada itu, aku mungkin akan menghilang.
Bahkan pagi ini aku bangun beberapa jam sebelum Benny menjemputku jam 9 pagi nanti hanya untuk memilih baju mana yang harus aku kenakan. Dan di pertengahan waktu, aku merasa bersalah karena tidak seharusnya aku merasa senang begini—sampai-sampai bingung ingin penampilanku meninggalkan kesan kepada Benny bahwa aku juga bisa jadi perempuan yang cantik, padahal hari ini tak lebih dari menemani dan mengantarkannya untuk melarung abu mendiang kakeknya. Aku menatap pantulan diriku di cermin meja rias. Tak seharusnya aku begini. Tak seharusnya aku menyedihkan begini. Maka aku membuang napas pelan, berusaha mentralkan debar jantungku yang tak keruan, kemudian memilih pakaian apa saja yang sekiranya nyaman untuk aku kenakan nanti.
Aku sengaja memilih celana jins yang panjangnya hanya sebatas lutut supaya tidak merepotkan ketika terkena air laut yang aku padukan dengan kaos polo warna putih polos. Riasannya tipis dan sekenannya—seperti riasanku ketika ke kantor. Aku hanya mengenakan sandal dan cardigan warna hijau tosca kalau aku kepanasan. Rambut panjangku hanya kuikat ponytail seperti biasa. Sebelum berangkat, aku menyempatkan diri sarapan. Nasi goreng buatan Ibu tidak pernah gagal.
“Mau ke mana kamu Minggu pagi gini udah rapih banget? Mau kencan?”
I wish, Bu, i wish, jawabku dalam hati. “Enggak. Cuma mau pergi sebentar sama temanku.”
“Cewek atau cowok?”
“Cowok.”
“Tumben,” Sahut adik perempuanku yang kini ikut bergabung dengan kami di meja makan. Papaku tidak di rumah karena hari Minggu adalah jadwalnya memancing dengan teman-temannya. “Biasanya yang jemput kamu kan selalu perempuan,” Adik perempuanku melanjutkan.
“Dia perempuan kok, cuma berubah sebentar aja jadi laki-laki,” jawabku asal. Adikku tertawa sementara Ibu menggeleng.
“Tapi kalau di umur segini kamu mau kencan sama cowok ya nggak masalah, Mbak, kan kamu memang udah cukup umur. Memang udah waktunya. Yang penting jangan ke tempat yang aneh-aneh. Apa tuh, istilahnya anak jaman sekarang? Stay... apa sih, Dek?”
“Stay cation.” Adikku menjawab. “Ya elah, Bu, tenang aja. Mbak bukan orang kayak gitu kok. Boro-boro stay cation, mau ngasih coklat valentine buat gebetannya aja nggak berani.”
Aku berhenti mengunyah sejenak, kemudian langsung membulatkan mata dan memukul punggung adikku. “Kamu baca diariku, ya? Iya, kan? Ngaku!”
Hari Valentine untuk anak-anak SMA sepertiku dulu kadang jadi ajang untuk menunjukkan perasaan atau menyatakan perasaan pada orang yang disuka. Itu seperti lagu lama. Trik lama. Tapi selalu diulangi. Dan aku melakukannya juga. Aku sudah membeli cokelat untuk Benny. Tinggal aku berikan saja padanya—saat itu aku bahkan sudah menyusun skenario. Kalau Benny bertanya cokelat itu untuk siapa, maka aku akan menjawab, “:Oh, itu dari temen gue nitip buat lo.” Lalu kalau dia bertanya, “Temen lo yang mana, Nin? Namanya siapa?” Maka aku hanya akan menghindar dengan memberinya jawaban klasik, “Ada deh, temen gue pokoknya. Gue nggak dibolehin ngasih tau lo dianya yang mana.” Dan aku yakin Benny tidak akan sepenasaran itu sampai melakukan segala cara untuk mengetahuinya. Besar kemungkinan ia hanya akan menerima cokelat itu lalu bilang, “Bilangin makasih ya ke temen lo.” Dan selesai. Itu tidak akan jadi masalah, kalau saja aku percaya diri. Tapi saat itu, aku lama mematut diri di depan freezer kulkas, menimbang-nimbang apakah aku harus membawanya atau tidak. Dalam satu tarikan napas, aku memutuskan untuk meninggalkannya di rumah. Cokelat itu tak jadi kuberikan pada Benny, berakhir dengan aku yang memakannya sendiri sepulang sekolah sambil menertawakan diri sendiri ditemani film Crazy Little Thing Called Love sambil berharap aku bisa seberani Nam dalam menunjukkan perasaannya pada Son. Semua penyesalan hari itu aku tuangkan dalam diari.
“Orang dikit doang....”
“Tetep aja itu privasiku!”
Ibu melerai kami dan bertepatan dengan itu suara klakson mobil berhenti di depan rumahku. Aku berlari kecil membukakan pintu gerbang dan di sanalah Benny berdiri sembari tersenyum. Aku menyuruhnya masuk dan ia mengekor di belakang. Aku memperkenalkan Benny secara singkat pada Ibu dan adikku, ia mencium punggung tangan Ibuku dengan ramah, begitu pula menjabat tangan adikku. Ibu menawarinya sarapan bersama, tapi Benny menolak karena ia sudah makan. Maka dengan itulah ia dan Ibu mengobrol di ruang tamu sementara aku menghabiskan sarapanku dengan cukup buru-buru. Setelah mengecek penampilanku sekali lagi di cermin kamar, aku melangkah menuju ruang tamu untuk kemudian pamit kepada Ibu—Benny melakukan hal yang sama.
“Oh, ya, Ben, program buat ngebacain surat-surat kakek udah disetujuin jadwal tayangnya setiap Kamis sore dari jam tiga sampai empat.”
“Gitu ya. Thanks, nanti gue pasang alarm supaya nggak kelupaan.”
Aku tersenyum. Benny kemudian menyalakan radio dan kami diam mendengarkan lagu-lagu yang diputar di sana.
“Enaknya dengerin lagu lewat radio tuh kita nggak bisa skip lagunya, jadi semua lagu harus kita dengerin, dan kadang lagu yang nggak familier di telinga kita tuh malah jadi enak pas nggak sengaja didengerin.” celetuk Benny.
“Gitu ya. Salah satu pendengar radio gue juga bilang hal yang sama. Ternyata walaupun zaman udah modern, masih ada beberapa orang yang suka dengerin radio.”
“Lo bener.”
Aku memandangi guci berisikan abu mendiang kakeknya Benny diletakkan di dashboard mobil dan karena takut guci itu jatuh, aku menawarkan diri untuk memangkunya. Benny memperbolehkan.
“Tumben anak-anak nggak ngadain reuni akbar ya.”
“Pada sibuk, Ben. Yang namanya reuni akbar itu kan ngerencanainnya nggak bisa sebulan dua bulan.”
“Iya, sih, bener. Mau ngumpulin anak sekelas buat reuni aja udah bertahun-tahun nggak pernah kesampaian, apalagi reuni akbar. Tapi kalau ada reuni, lo dateng nggak?”
“Nggak tau, tapi besar kemungkinan gue dateng kalau temen-temen gue juga dateng.”
Kami sama-sama diam setelahnya. Mobil berhenti ketika lampu merah menyala.
“Tau nggak, Nin? Gue pernah mikir kalau kakek gue tuh konyol banget—dia rela nulis surat banyak-banyak buat perempuan yang dia suka, tapi nggak pernah berani buat ngirimin suratnya. Maksud gue—kenapa nulis banyak surat, ya, kalau ujung-ujungnya nggak bakalan dikirim? Gue nggak paham—orang kalau udah jatuh cinta sama seseorang emang kadang bisa ngelakuin hal-hal yang menurut kita nggak masuk akal, tapi buat dia mungkin itu berharga karena cuma itu yang bisa mereka lakuin.”
Mobil Benny kembali melaju setelah lampu berubah hijau. Lagu The Adams berjudul Konservatif kini terputar di radio mobilnya.
“Lo pasti nggak pernah nulis surat cinta ya, Ben?”
“Kok tau? Kelihatan banget, ya?”
“Padahal tulisan tangan lo bagus buat ukuran cowok.”
“Mungkin karena gue nggak lahir di zaman kakek gue dibesarkan kali ya. Sekarang kalau lo pengin ngungkapin sesuatu sama orang yang lo suka, lo tinggal chat dia. Atau kalau mau lebih gentle, lo bisa ajak orang itu ketemuan. Beres. Tapi kalaupun gue lahir di zaman yang sama kayak kakek gue... gue mungkin bakalan nulis surat cinta, tapi nggak sebanyak itu—karena gue bakalan pilih ngungkapin perasaan gue secara langsung.”
“Nah, sayangnya nggak semua orang punya keberanian kayak lo, Ben, sekalipun dia cowok juga,” Aku menanggapi dan Benny mengangguk. “Bahkan ada orang yang... saking sukanya sama orang itu, dia sampai bikin garis batas buat dirinya sendiri—supaya tindakan-tindakannya nggak keluar batas, supaya tindakan-tindakannya nggak mengganggu si orang yang dia suka. Buat orang-orang kayak gitu, kalau orang yang dia suka sampai tau perasaannya, dia bakalan lebih pilih menghilang daripada ngadepin konsekuensinya—ditolak atau diterima.”
“Serius? Kenapa sampai sebegitunya dah?”
Aku menggeleng, “Gue juga nggak bisa jelasin karena nggak tau jawabannya.”
“Lo bisa ngejelasin sebanyak itu berarti lo pernah mengalami ya, Nin?”
“Wah, gue mah udah sarjana kali kalau soal suka sama orang diam-diam dan cuma merhatiin dia dari jauh. Ilmu gue udah nggak diragukan lagi, Ben.”
Benny tertawa mendengarnya. “Tapi kan lo udah gede nih, sekarang, udah lebih tau lah, dibanding belasan tahun lalu. Masa lo tetep malu buat ngungkapin atau minimal nunjukin perasaan lo ke orang yang lo suka? Terus kalau nggak lo tunjukin, gimana orang itu tau?”
“Masalahnya ya itu tadi, Ben, orang kayak gue itu nggak punya keberanian. Kalau aja gue udah punya keberanian sebesar yang lo punya, pasti sekarang...,” Aku melirik sekilas Benny kemudian membuang pandang ke arah jendela sembari membukanya sedikit. “Orang yang gue suka udah tau kalau gue pernah suka sama dia.”
“Gue jadi penasaran mampus sama orangnya, Nin, parah lo. Siapa sih orangnya?”
Aku terkekeh pelan, “Ada deh, kepo lo!”
“Yeee, nggak gitu. Maksudnya kalau gue kenal orangnya yang mana, lo bisa minta bantuan gue buat comblangin lo sama dia. Siapa tau beneran jadi? Now or never, Nin.”
“Nggak usah deh, kayaknya dia udah punya pacar. Gue nggak mau ganggu.”
“Ganggu gimana? Kan, lo cuma ngungkapin perasaan lo. Beres. Masalah selesai dan lo bakalan lega.”
“Oh, ya? Emang ada jaminan setelah itu gue lega dan bukan malah kepikiran karena udah ngelakuin hal yang nggak pernah gue lakuin selama ini?” Aku membuang napas kasar sembari menggeleng dan tersenyum. “Ben, lo tau nggak? Buat sebagian orang kayak gue, ngelakuin sesuatu yang familier itu lebih baik daripada mencoba sesuatu yang baru—yang asing.”
“Jadi, lo lebih suka bermain-main di zona nyaman?”
“Kinda.” Aku memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan itu karena merasa kurang nyaman. “Bangunin gue kalau udah nyampe, ya. Sorry nggak bisa nemenin lo ngobrol karena gue emang suka mabuk nggak jelas gitu kalau di mobil.”
“Nggak bilang dari tadi sih, tau gitu kan gue bisa beliin lo antimo.”
“Nanti gue malah susah dibangunin. Udah, gapapa, gue cuma tidur selama perjalanan aja.”
Benny mengangguk dan membiarkanku tidur selama sisa perjalanan. Yang ini aku tidak berbohong. Aku memang mabuk darat. Mabuk laut juga. Tapi aku optimis di perahu nanti aku tidak akan pusing dan mual sebab hal itu hanya terjadi ketika aku naik kapal feri saja.
....
Aku sedang diajak berjalan-jalan ke sebuah pabrik gula kosong peninggalan Belanda. Di dalam pabriknya ada sebuah makam milik salah satu pegawai yang entah kenapa bisa dimakamkan di dalam sana alih-alih di luar. Pabrik gula itu benar-benar sepi—dan sekarang langit mulai mendung. Siang yang seharusnya terang karena sinar matahari, kini berubah seperti sudah sore hari pukul lima. Aku mengamit salah satu lengan orang yang mendampingiku menjelajah pabrik gula itu, yang aku tidak tahu bagaimana rupanya karena ia pakai kupluk jaket dan sejak tadi sibuk menoleh ke kiri—menghindari tatapanku, tapi ia aktif bertanya pada juru kunci pabrik itu tentang sejarah bangunan tersebut. Tiba-tiba saja, pintu pabrik yang terbuat dari besi berukuran lumayan besar itu tertutup ketika angin kencang bertiup sampai menerbangkan bagian atap kandang ayam salah satu warga yang rumahnya persis di depan pabrik gula kosong ini. Aku yang kaget langsung refleks berlari, tapi aku tidak tahu kalau aku sedang menuju sumur, dan sebelum aku masuk ke lubangnya, seseorang mengguncang bahuku—membuatku seketika membuka mata. Ketika mendapati orang pertama yang aku temukan adalah Benny, entah kenapa aku merasa lega. Halusinasi tadi itu hanyalah mimpi buruk di siang bolong.
“Lo mimpi buruk ya?”
Aku mengangguk. Sekonyong-konyong ia menyodorkan sebotol air mineral padaku dan aku meneguknya dengan ganas. “Lo tidur pules banget, Nin. Emang gitu sih kalau kita tidur abis makan, tidurnya bakalan nyenyak banget.” Aku melirik pangkuanku dan tak menemukan abu mendiang kakek Benny di sana.
“Ben! Gucinya tadi di sini, sekarang kok—“
“Udah gue pindahin ke kursi penumpang.” Aku langsung melirik ke kursi penumpang dan benar saja. Di sana sudah ada sebuah guci putih yang diletakkan di salah satu kursi penumpang dan dipakaikan seatbelt.
“Astaga, Ben, maaf ya! Pasti tadi gucinya hampir jatuh gara-gara gue tidur. Jatuh beneran nggak?”
“Nggak kok, makanya gue pindahin supaya lo juga nyaman. Udah, gapapa. Ayo, turun.”
Aku mengangguk dan segera membuka seatbelt kemudian turun dari mobil sementara Benny membuka kursi penumpang untuk mengeluarkan guci abu kakeknya. Ia berjalan ke salah satu pemilik perahu mesin dan setelah membayar dengan uang pas, Benny memberiku kode untuk mengenakan jaket pelampung sebelum akhirnya kami naik ke atasnya.
“Kira-kira ombaknya besar nggak, Pak? Temen saya agak mabuk soalnya.”
“Kalau buat orang yang nggak biasa, mungkin nanti pusing dan mual sedikit, Mas. Tapi saya sudah sedia kresek kalau-kalau nanti Mbaknya mau muntah.”
Aku meringis malu dan Benny mengangguk kepada si bapak pemilik perahu mesin yang juga akan menjadi pengemudi kami hari ini. Mesin dinyalakan dan perahu yang kami naiki pun lantas membelah lautan. Kata Benny pantai ini memang belum terjamah oleh wisatawan karena pemandangan dan fasilitasnya tidak selengkap—bahkan jauh dari kata mewah dibanding pantai-pantai lainnya di kota ini, sehingga pantai ini dianggap lebih cocok untuk kegiatan spiritual dan melarungkan abu jenazah karena energi baiknya dianggap yang paling besar. Selain kami, ternyata ada orang lain juga yang naik perahu mesin dengan atap yang muat mengangkut 7 sampai 10 orang untuk berlayar sampai ke tengah laut guna melarungkan abu jenazah kerabat mereka. Mereka kompak mengenakan baju putih-putih, lengkap dengan membawa karangan bunga, foto mendiang, dan beberapa bunga tabur.
Aku mulai merasakan pusing dan agak mual, tapi aku tahu kalau aku tidak akan muntah sebab sejauh ini aku memang hanya mual dan pusing saja. Untuk mengalihkan rasa mual dan pusing yang aku rasakan, aku menatap ke sekeliling. Lautan luas terhampar di sekeliling kami seolah hanya kamilah yang berada di tengahnya. Di ujung utara terlihat sebuah pulau yang kata bapak pemilik kapal bermotor ini, memang tidak berpenghuni karena pulaunya tidak terlalu luas sehingga kurang aman kalau dijadikan tempat tinggal. Pohon-pohon mangrove ditanam di sekitar tepian pantai. Angin mengantarkan aroma asin air laut, sementara burung-burung terdengar bernyanyi samar, walaupun yang kami rasakan tetaplah kesunyian.
“Mual sama pusing, Nin?” tanya Benny tiba-tiba ketika ia sudah menaburkan seluruh abu di dalam guci.
“Lumayan, tapi masih aman kok. Gue nggak pernah muntah karena emang nggak bisa aja.”
“Abis ini mau makan dulu nggak?”
“Tapi gue masih kenyang, Ben, baru juga beberapa jam yang lalu sarapan.”
“Kalau gitu kita cari kafe terdekat aja deh, ngopi. Lo bisa ngopi, kan?”
“Emang itu yang lagi gue butuhin sekarang.”
Benny menggeleng sambil terkekeh, “Udah tua lo sama gue, Nin. Buktinya kita nggak bisa hidup tanpa kopi.”
Aku tertawa saja dana kapal bermesin yang membawa kami agak ke tengah laut langsung berbalik membawa kami menuju tepian pantai. Benny membayar dengan uang pas lalu bergegas turun—tak lupa mengulurkan tangannya untuk membantuku. Tak ada pilihan lagi selain menerima tangannya, bersentuhan dengan telapak tangan Benny yang hangat. Aku sangat bersyukur degub jantungku yang tak terkendali ini tidak bisa didengar oleh siapapun. Karena kalau sampai hal itu bisa didengar oleh telinga semua orang, aku pasti tidak pikir dua kali untuk mengubur diriku di antara hamparan pasir pantai ini.
Benny menawariku es kelapa muda, kubilang padanya: tapi katanya kita mau cari kopi? Lalu ia terkekeh sambil bilang: siapa tau lo mau es kelapa dulu sebelum minum kopi. Lalu kujawab: nggak usah deh, Ben, kopi aja. Ia mengangguk dan kami pun berjalan menuju mobil yang terparkir di tempat parkiran berkanopi. Setelah membayar uang parkir dengan uang pas, mobil kami melaju meninggalkan pantai sepi itu.
Benny menyalakan radio dan lagu pertama yang terputar adalah Pelangi di Matamu milik Jamrud. Sekonyong-konyong, aku langsung ingat waktu Benny pernah menyanyikan lagu ini saat ujian seni musik kelas 12 dulu. Karena dia bisa main gitar, maka dia menyanyikan lagu ini sambil memetik gitar. Suara Benny memang tidak sebagus penyanyi papan atas, tapi setidaknya nadanya stabil dan tidak fals. Anak-anak sekelas setuju kalau di antara para cowok yang menyanyikan lagu pilihan masing-masing, Benny layak dapat nilai A.
Aku melirik Benny yang fokus menyetir sambil sesekali bersiul pelan. “Ben, inget nggak? Dulu pas ujian praktek seni musik, lo nyanyiin lagu ini.”
“Emang iya?” Benny menjawab dengan dahi mengernyit, seolah sedang mengingat sesuatu. “Anjay... ingatan lo tajam juga ya.”
Sebenarnya ingatan gue nggak setajam itu, tapi karena ini tentang lo, entah kenapa otak gue masih ingat hal-hal kecil yang lo lakuin waktu SMA dulu.
“Lo dulu nyanyi apa sih, lupa, waktu ujian praktek.” kata Benny.
“Kisah-Kasih di Sekolah.”
“Oh, iya, itu! Cuma lo doang yang nyanyi lagu lama.”
“Gue memang familier aja sama lagu itu. Dari gue TK, emak gue udah memperkenalkan gue sama lagu-lagu tahun 80-an entah dia sendiri yang nyanyiin atau diputerin DVD-nya. Dan kebetulan aja sih, gue merasa mampu nyanyi lagu itu. Pas sama karakter suara gue.”
“Bener sih, suara lo juga bagus waktu nyanyiin itu. Kayak... ini... siapa sih, vokalisnya Vieratale? Widy! Nah, itu! Tapi versi suara yang agak deep.”
“Pujian tuh barusan?”
“Bisa jadi.”
Kami berdua terkekeh bersama. Sisa perjalanan itu banyak dihabiskan dengan mengobrol dan mendengarkan lagu dan kami sampai di rumahku ketika aku terlelap. Benny segera membangunkanku dan kami pun turun bersama. Ada rasa malu karena kata Benny, aku sempat mendengkur saat tidur tadi. Kata Benny sambil tertawa: enak banget kayaknya tidur lo, sampai ngedengkur gitu. Dasar pelor! Nempel dikit molor!
Karena kami sampai rumah dalam keadaan langit mulai gelap dan sudah memasuki jam makan malam, maka kami mengundang Benny untuk bergabung makan malam bersama kami. Ia setuju setelah menelepon Ibunya dan berkata bahwa ia makan malam di rumah temannya.
“Nak Benny ini teman sekelasnya Shanin, kan?” tanya Papa di tengah-tengah acara makan malam kami.
“Iya, Om. Saya sekelas sama Shanin sampai kelas tiga SMA.”
“Tapi kok nggak pernah main ke sini, ya? Atau om aja yang lupa kalau kamu pernah ke sini?”
“Saya pernah ke sini Om, sekali, waktu pertengahan kelas 10. Bikin properti buat sendratari sama anak-anak sekelas.”
“Waktu Papa ada dinas di luar kota kalau nggak salah, makanya nggak sempat ketemu Benny.” sahutku. Sebab aku ingat hari itu adalah pertama kalinya orang yang kusuka main ke rumah, walaupun dalam konteks kerja kelompok bersama teman-teman yang lain, tapi momen yang menyenangkan itu terekam jelas di memori jangka panjangku—dan aku ingat persis bahwa Papa sedang ada dinas di luar kota dan baru pulang ke rumah dua hari kemudian.
“Oh, pantas saja kalau nggak pernah lihat Benny. Terus, setelah itu, Nak Benny nggak pernah ke rumah lagi?”
“Enggak, Om. Setelah itu, kebanyakan kerja kelompok di rumah saya atau anak-anak lainnya yang lebih dekat dengan sekolah.”
“Bener juga. Rumah Shanin agak jauh dari sekolah memang.”
Hening sejenak, sebelum akhirnya Papa kembali membuka suara, tapi langsung membuatku mendongak menatapnya dan Benny bergantian—refleks. “Nak Benny ini sudah punya pacar?”
Benny tidak langsung menjawab. Ia menatap kami bergantian dan ketika gilirannya mata kami bertemu, aku pura-pura mengambil lauk, berusaha menyibukan diri dengan makananku dan tidak menampakkan kepedulian, padahal asal kau tahu, telingaku kupasang baik-baik hanya untuk mendengar jawabannya.
“Belum, Om. Saya belum mikirin soal itu. Sekarang fokus kerja dulu.”
“Yah, zaman memang berbeda. Zaman Om dulu, seumuran kamu dan Shanin ini sudah pada nikah dan punya anak. Tapi nggak apa, toh, menikah zaman sekarang itu nggak segampang zaman dulu. Kita nggak boleh buru-buru, semua memang harus dipikirkan matang-matang. Bukan begitu, Nak Benny?”
“Iya, Om, saya setuju.”
Setelah makan malam, Benny langsung pulang karena takut terlalu malam sampai rumah. Kuantar ia sampai ke gerbang, dan sebelum masuk mobil, ia menoleh ke arahku dan bilang, “Thanks buat hari ini, Nin.”
Aku sempat menahan napas selama sepersekian detik ketika Benny mengatakan itu sambil tersenyum, dan aku hanya mampu mengangguk kikuk di hadapannya, memandang mobilnya yang semakin lama semakin jauh dari pandanganku, sampai akhirnya menghilang.
Di saat yang seperti inilah aku berharap bahwa Benny datang lagi ke rumah dan mengajakku jalan. Walaupun detik itu juga aku tahu kalau ekspektasi itu harus dibuang sejauh mungkin ke laut.
...
Hari ini adalah hari perdana siaran radio dimana aku akan membacakan beberapa surat yang ditulis oleh mendiang kakek Benny yang telah dipilah oleh tim siaran lainnya. Kami bahkan rela pulang agak terlambat untuk bisa menyusun alur cerita menyesuaikan surat-surat yang ditulis oleh beliau, yang artinya, kami memang harus membacanya satu per satu supaya bisa memilah surat-surat yang tepat.
Semalam aku sampai tidak bisa tidur nyenyak karena takut membuat kesalahan saat siaran radio nanti. Selama menjadi penyiar radio, aku bisa menghadapi situasi apapun saat siaran berlangsung, aku sudah cukup terlatoih untuk itu. Tapi hari ini Benny bilang bahwa ia akan mendengarkan siaran radioku—mungkin untuk pertama kalinya, aku yakin. Dulu, ketika aku tidak pernah bertemu Benny lagi dan meyakini bahwa itu disebabkan karena ia pindah kota, aku tidak pernah berpikir bahwa Benny mendengarkan siaran radioku di tempat lain. Sebab aku memang tidak tahu apakah ia mendengarkannya atau tidak. Toh, Benny tak pernah mengirimiku pesan atau mengutarakannya secara langsung kalau ia adalah salah satu pendengar radioku.
Tapi sekarang semenjak aku tahu bahwa Benny akan mendengar suaraku karena aku membacakan surat-surat kakeknya, aku jadi gugup seolah aku akan tampil di depannya, padahal tidak. Kami memang berniat mewawancarai Benny setelah projek ini selesai, bertanya bagaimana ia bisa menemukan surat-surat itu, bagaimana mendiang kakeknya semasa hidup, dan seputar kakeknya, tapi hanya di akhir projek ini saja ia akan muncul di kantorku. Itu pun belum tentu aku yang mewawancarainya.
Aku tahu. Aku tak seharusnya gugup. Toh, ini cuma Benny.
Kalau saja aku tak punya perasaan lebih dari teman, mungkin aku akan menganggap ini mudah.
“Itulah kenapa gue selalu mengungkapkan perasaan gue kalau suka sama orang. Karena kalau gue pendem terus, gue makin capek. Kenapa? Karena gue berharap terus sama orang ini, nebak-nebak terus perasaan orang ini ke gue. Kalau gue ungkapin kan enak, semuanya jadi clear karena gue tau perasaan dia ke gue gimana. Ditolak? Malu dikit mah ada, tapi ya udah, lah, daripada gue nggak bisa lupain dia hanya karena bue nebak-nebak mulu perasaan dia buat gue.” Itu adalah jawaban salah satu teman dekatku di kantor ketika kami sedang antre beli nasi padang untuk makan siang. Omong-omong siaranku tadi berjalan dengan lancar, dan nggak menyangka ada cukup banyak orang di media sosial kami yang meninggalkan komentar baik. Aku bercerita sedikit kepada Nila tentang Benny—bagaimana perasaanku padanya yang masih ada bahkan ketika sudah bertahun-tahun. Tapi aku tidak menyebutkan tentang Benny yang mengirimkan surat-surat kakeknya ke kantor kami.
Aku menceritakan tentang itu pada Nila karena merasa dia adalah orang yang tepat. Bagiku, dia adalah orang yang berani. Waktu itu saat masih baru di kantor ini, ia suka pada salah satu senior, namanya Bang Elvin. Nila pernah bilang padaku kalau waktunya sudah tepat, ia akan mengungkapkan perasaannya pada lelaki itu, yang kupikir hanya gurauan belaka sebab aku pun pernah membual hal yang sama pada teman sebangkuku sewaktu SMA dulu, bahwa saat lulus nanti aku akan mengungkapkan perasaanku pada Benny, tapi sayangnya sampai sekarang, hal itu tidak terjadi karena aku malu dan tidak siap.
Tapi siapa sangka kalau Nila betulan membuktikan ucapannya. Waktu itu ada acara makan-makan di salah satu restoran dekat kantor kami berada dalam rangka ulang tahun kantor. Hampir semuanya diundang datang. Di akhir acara makan malam, dengan berani Nila mengajak Bang Elvin untuk bicara berdua saja di parkiran, menjauh dari orang-orang kantor yang masih belum pulang, termasuk aku. Dua puluh menit kemudian, mereka berdua kembali. Bang Elvin langsung pamit pulang, sementara Nila masih ada di sana, melanjutkan obrolan dengan yang lain seolah tak terjadi apa-apa. Keesokan harinya, ia baru cerita padaku kalau semalam di parkiran, ia mengungkapkan perasaannya pada Bang Elvin.
“Serius? Lo nggak bohong, kan? Kebetulan hari ini April Mop.” kataku waktu itu, sebab kuingat jelas keesokan harinya adalah tanggal 1 April.
“Sama sekali enggak. Gue jujur. Dan Bang Elvin bilang dia nggak bisa nerima perasaan gue karena dia lagi suka sama cewek lain. Terus, ya udah. Gitu aja.”
“Gimana perasaan lo?”
“Lega banget. Karena gue nggak perlu nebak-nebak perasaan Bang Elvin ke gue. Sekarang setelah gue confess ke dia, semuanya jadi clear. Dia nggak suka sama gue, tepatnya, dia suka sama cewek lain, dan itu adalah pendorong paling kuat kenapa gue harus move on.”
Setelah kupikir-pikir lagi sekarang, apa yang dikatakan oleh Nila ada benarnya. Aku juga lelah menebak-nebak dan hanya sembunyi-sembunyi merayakan perasaan sepihakku pada Benny. Aku juga ingin melakukan hal yang sama, tapi bingung harus dari mana.
Sepulang dari kantor, aku baru ingat bahwa aku juga pernah seperti mendiang kakeknya Benny—menulis beberapa surat entah jumlahnya berapa, hanya untuk menggambarkan perasaanku pada Benny yang tidak bisa aku singkat dengan kalimat sederhana “aku suka kamu dari lama” dan mengatakannya terus terang di hadapan lelaki itu. Aku lebih baik menulis seribu surat untuknya daripada berdiri satu menit hanya untuk bilang tentang perasaanku pada Benny.
Tapi, sesuatu yang sudah lama berlalu tanpa kepastian memang melelahkan, dan seperti apa kata Nila, semuanya harus menjadi clear. Suapaya aku bisa melanjutkan hidupku dengan normal dan tanpa bayang-bayang ingin tahu apa yang Benny lakukan dengan sengaja memantau media sosialnya yang tidak memberikan update apapun.
Lalu, kapan?
....
Siaran setiap hari Kamis yang membacakan surat cinta mendiang kakeknya Benny sudah kami jalankan selama hampir empat minggu, dan besok adalah hari terakhirku siaran di segmen itu. Sekarang, aku makin terbiasa lagi dengan siaran radio. Semakin lama semakin terasa biasa saja—seperti siaran sebelum-sebelumnya.
Sampai sekarang aku tidak menyangka bahwa respons yang diberikan oleh orang-orang di media sosial kebanyakan baik. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang ikut menulis surat untuk orang yang mereka suka. Bagi mereka, menulis surat adalah wadah bagi orang-orang yang tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaannya secara langsung. Kini, orang-orang pemalu sepertiku punya kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya dan orang yang kami suka menjadi paham apa yang kami rasakan. Lucunya, ada juga yang sudah jadian karena memberanikan diri menyatakan perasaannya melalui surat, ada yang masih tahap pendekatan, bahkan ada beberapa yang merasa cocok sehingga memutuskan untuk menikah.
Semuanya masih terasa mimpi bagiku, dan bagi Benny juga. Kami beberapa kali saling berbalas pesan, membahas komentar orang-orang di media sosial yang memberikan semacam testimoninya ketika menulis surat cinta untuk pertama kali atau kesekian kalinya dalam hidup, lalu mengirimkannya melalui alamat orang yang dituju. Beberapa kantor pos di beberapa daerah menjadi cukup kaget dengan banyaknya orang yang saling berkirim surat, padahal lebih efisisen menggunakan ponsel masing-masing saja, dan di saat yang bersamaan tidak menyangka bahwa ini akan menjadi tren, dimana toko buku mulai membeli beberapa stok kertas surat dan amplop lucu bagi para penulis surat. Orang-orang mulai menulis dengan tulisan tangan, bukan sekadar mengetiknya di komputer atau laptop.
Anak-anak sekolah bahkan membuat acara khusus di hari kelulusan mereka, yaitu menulis surat bagi siapa saja yang ingin kau kirimi surat. Bagi teman yang membuat mereka terkesan, bagi guru terbaik yang mereka dapatkan, bagi ibu kantin yang mendengarkan curhatan mereka sambil makan mi ayam, bagi kakak kelas, adik kelas, bahkan kepala sekolah. Dan, tentu saja, yang paling banyak adalah surat cinta. Remaja lelaki dan perempuan bercerita di media sosial bagaimana perasaan mereka mendapat dan membaca surat cinta yang tak pernah dibayangkan akan mendarat pada mereka. Mereka bilang, rasanya sangat beda ketika kau hanya membaca pernyataan suka lewat pesan singkat. Karena melalui surat, semua perasaan yang tak bisa diungkapkan di pesan singkat, menjadi terurai di sana, berparagraf-paragraf, berlembar-lembar.
Tidak hanya anak sekolahan dan mahasiswa, tapi juga beberapa orang yang sudah berusia lanjut—yang semasa hidupnya tidak pernah mengungkapkan perasaannya pada orang yang dicintainya, sekalipun orang itu sudah meninggal, tapi mereka tetap mengirim surat atas nama dan menggunakan alamat mendiang. Keluarga yang menerima menjadi terharu dan akhirnya jadi tahu bagaimana kisah cinta kakek dan nenek mereka, atau orang tua mereka sebelum mereka menikah dengan orang lain.
Kukira, tren ini hanyalah sementara. Kupikir ia akan pudar setelah satu atau tiga bulan, tapi aku bangun di suatu pagi dan mendapati bahwa Nila meneleponku di hari Minggu, mengatakan bahwa aku harus segera lihat berita pagi itu. Maka aku bergegas menyalakan TV di ruang tamu, lalu mendapati bahwa banyaknya orang di Indonesia yang menulis surat cinta jadi perhatian media nasional dan internasional. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bahkan menetapkan hari Kamis tanggal 13 Agustus 2016—hari dimana aku melakukan siaran radio membacakan surat cinta mendiang kakeknya Benny—sebagai Hari Menulis Surat Cinta Nasional. Di kalangan Gen Z, mereka menyebut hari itu sebagai Thursday Love Letter—atau menulis surat cinta setiap hari Kamis di tanggal apapun.
Pak Menteri bilang, minat menulis yang meningkat ini dapat menjadi warisan apabila dilestarikan. Dan boleh jadi di masa depan, surat-surat cinta yang telah ditulis oleh hampir semua orang di Indonesia, akan menjadi sejarah perjalanan masing-masing orang dalam percintaan mereka, dan boleh jadi akan menjadi warisan sastra bagi negeri ini sebab gaya tulisan dan latar suasana pada surat-surat cinta yang ditulis oleh orang dari berbagai kalangan usia, adalah bentuk penggambaran sejarah dari sudut lain. Bagaimana orang tahun 1970-an memaknai cinta dan bagaimana anak-anak muda kelahiran 2000-an memaknai hal yang sama, adalah sebentuk perjalanan waktu dalam sejarah hidup masing-masing orang.
Pagi itu kutelepon Benny. Ia sama terkejutnya denganku. Kami segera menjadwalkan wawancara perdana dengan Benny di kantor kami pada hari Kamis—sesuai nama tren ini, dan yang ditunjuk untuk wawancara kali ini adalah Bang Elvin. Ya. Bang Elvin yang itu. Dan aku diminta membuatkan daftar pertanyaan untuk ditanyakan pada Benny dengan alasan bahwa aku temannya dan orang pertama yang Benny temui untuk diminta membacakan surat-surat kakeknya di radio kami, maka Bang Elvin menganggapku cukup tahu tentangnya.
Walaupun itu agak lucu, tapi kalau soal pekerjaan, aku harus profesional.
Memikirkan tentang Thursday Love Letter, aku merasa bahwa ini adalah waktu yang tepat—seolah semesta mendukungku untuk mengungkapkan perasaanku pada Benny dengan mengiriminya surat-surat yang sudah aku tulis sejak SMA. Aku ingin Benny membacanya setelah ia selesai wawancara, supaya itu tidak mengganggunya, jadi hari ini aku fokus dengan pekerjaanku.
Saat Benny sedang melakukan siaran bersama Bang Elvin, ada seseorang yang minta bertemu dengan Benny. Kebetulan saat itu aku sedang ada di lobby depan karena akan ke vending machine untuk beli minuman kaleng yang ada di halaman kantor kami. Aku menghampiri meja resepsionis dan menawarkan diri untuk menyambut perempuan yang kupikirakan usianya tak terlampau jauh denganku.
“Saya Shanin. Salah satu penyiar radio di sini sekaligus temannya Benny. Dengan Mbak siapa ini?”
“Oh, kamu Shanin yang di segment tiap Kamis itu, ya? Yang bacain surat-surat kakeknya Benny?”
“Iya, benar.”
“Saya dengerin kamu terus bareng nenek saya! Ah, ya, nama saya Ella. Saya ke sini mau ketemu sama Bang Benny karena sebenarnya... orang yang disebutkan oleh kakeknya Bang Benny di surat-suratnya... adalah nenek saya. Sekarang dia di rumah sakit. Mungkin... waktunya tidak lama lagi. Itulah kenapa dia ingin ketemu Bang Benny. Katanya, ada sesuatu yang mau dia kasih ke dia.”
Aku kaget mendapati Ella mengatakan hal itu. Tentunya aku senang kalau cinta pertama kakeknya Benny masih hidup dan mendengarkan siaran radioku sampai habis, tapi ini kebetulan yang menurutku seperti keajaiban. Sampai-sampai aku harus mencubit diam-diam lenganku untuk memastikan bahwa ini bukan mimpi.
“B-beneran?”
“Iya, Kak! Oh, kebetulan saya ada video nenek saya.” Ia menyerahkan ponselnya kepadaku dan memutarkan salah satu video seorang nenek yang terbaring di rumah sakit dengan elektrokardiografi berbunyi memantau detak jantungnya di sebelah kasurnya. Ia mengenakan selang oksigen, tapi matanya yang sayu tetap menatap ke arah kamera, berkata bahwa ia ingin bertemu dengan cucu Sumitra Hadi Kusuma, mendiang kakeknya Benny, karena ada sesuatu yang ingin ia berikan selagi ia masih ada waktu.
“Benny masih siaran. Mungkin setengah jam lagi selesai. Apa nggak papa kalau ditunggu selama itu, La?”
“Saya sih nggak papa, Kak, tapi saya juga nggak tau waktu nenek tinggal berapa lama lagi. Tapi semoga aja nenek masih kuat.”
“Aduh, gimana, ya? Atau mau aku sampaikan ke Bang Elvin yang lagi nemenin Benny siaran, supaya siarannya dipercepat atau mungkin dibatalkan di tengah jalan kayaknya nggak papa.”
“Jangan, Kak. Nenek saya pasti lagi dengar siaran radio ini juga. Nggak papa, kita tunggu aja sampai selesai.”
Maka dari itu, aku membelikannya minuman kaleng dan menemaninya sebentar, sebab sesekali aku mengintip di balik ruang siaran untuk melihat apakah Benny sudah selesai atau belum. Setengah jam terasa cukup panjang hari itu, tapi akhirnya Benny selesai siaran dan aku langsung menjelaskan kedatangan Ella dan apa maksud gadis itu ke sini. Ia langsung menghampiri Ella dan mereka berdua bergegas menuju rumah sakit. Aku hampir saja melangkahkan kaki untuk ikut bersama mereka, tapi kemudian aku sadar kalau jam kerjaku belum usai, maka aku hanya menatap mobil Benny keluar dari halaman kantor kami, kemudian berbaur di antara kendaraan lainnya.
....
Tiga hari setelah kedatangan Ella, aku duduk di ruang tamu di Sabtu pagi dengan perasaan bingung—apakah harus bertanya pada Benny tentang pertemuannya dengan nenek Ella atau tidak. Ingin kutanya, tapi itu adalah privasi mereka berdua. Ingin kuabaikan rasa penasaranku, tapi susah menghilangkannya.
Sepulang dari kantor hari itu, aku harusnya mampir ke kantor pos untuk mengirimkan semua suratku pada Benny, tapi urung karena aku merasa bahwa hari itu bukan waktu yang tepat sebab Benny sedang ada urusan lain yang jauh lebih penting daripada surat-suratku. Maka sampai sekarang aku belum berani memikirkannya, dan itu cukup membuatku pusing.
Lamunanku buyar oleh kedatangan sebuah mobil di depan rumah, yang setelah kuamati, bentuknya memang sama seperti mobilnya Benny. Kubuka pintu gerbang dan mendapati Benny mengenakan celana bahan, sandal, dan kemeja putih polos yang digulung sampai sebatas lengan—memperlihatkan jam tangan hitam di pergelangan tangan kirinya.
“Hai.” Benny menyapaku. Ia tersenyum tipis.
“H-hai,” jawabku agak gugup. “Ada apa, Ben? Eh, masuk dulu.”
“Gue nggak lama. Sebenarnya ke sini mau ngajak lo keluar.”
“Ke mana?”
“Neneknya Ella meninggal dan hari ini abunya bakalan dilarung ke laut. Ella bilang gue sama lo boleh datang ke sana. Lo... nggak ada acara, kan, hari ini?”
“Nggak ada. Gue nggak ada acara. Kalau gitu, gue ganti baju dulu. Lo masuk dulu aja, oke?” Ia mengangguk dan mengikutiku dari belakang. Aku mempersilakannya duduk di ruang tamu, bertepatan dengan ibuku yang baru saja keluar dari dapur dan menyapa Benny.
Sepuluh menit kemudian, aku sudah berpakaian serba putih dan menyusul Benny ke ruang tamu. Kami berdua pamit dan saat itu juga kami menuju pantai yang sama tempat dimana abu kakeknya Benny dilarung karena keluarga Ella sudah di sana semua.
“Neneknya Ella meninggal sehari setelah ketemu gue dan ngasih kumpulan surat yang dia tulis buat kakek tapi nggak pernah dikirim karena nggak tahu alamat tempat tinggal kakek yang baru dimana.”
“Sekarang... surat-surat itu ada di rumah lo dong, Ben?”
Benny mengangguk. “Gue nggak berani bukanya.” Ia kemudian menoleh sekilas ke arahku dan berkata, “Mau nggak nemenin gue baca surat-surat itu? Nanti Ella juga ikutan.”
“Boleh.”
Hening di mobil. Aku memberanikan diri melirik Benny sedikit, kemudian bertanya, “Lo baik-baik aja?”
Benny mengangguk. “Udah lebih baik daripada kemarin. Cuma gue masih agak menyayangkan aja sih. Kalau aja mereka berdua hidup di zaman yang lebih modern, ceritanya pasti beda. Mereka pasti nikah. Tapi setelah gue pikir-pikir, apa yang terjadi sama neneknya Ella dan kakek gue memang ironis, cinta mereka nggak bersatu karena banyaknya keterbatasan, tapi memang kehidupan kan kayak gitu, ya, Nin. Mana bisa kita minta kehidupan ini berjalan sesuai sama kemauan kita?”
“Lo bener.”
“Toh, kakek gue juga bahagia waktu menikah dan menghabiskan waktu sampai maut memisahkan sama nenek gue yang bukan neneknya Ella, yang bukan cinta pertama kakek. Begitu juga neneknya Ella—yang juga bahagia sama pernikahannya.” Benny memberi jeda sejenak tepat ketika mobilnya berhenti di lampu merah. “Waktu muda kita berpikir dengan naif kalau nikah sama cinta pertama kita tuh adalah hal yang menyenangkan, atau mungkin itu adalah hal yang bisa diwujudkan. Tapi semakin tua kita semakin tau, kalau ada banyak kemungkinan yang menghalangi apa yang kita inginkan terwujud. Dan ternyata, nggak nikah sama cinta pertama kita tuh nggak papa. Selama lo menikah sama orang yang tepat, pernikahan lo bakalan berkesan.”
Aku hanya mengangguk dan tersenyum pias. Tentu saja Benny bukan lelaki pertama yang aku sukai. Sewaktu SD, sudah ada lelaki lain yang aku sukai untuk pertama kalinya. Begitu pula saat SMP. Selalu ada “yang pertama” dalam hidup seseorang, tapi tidak selalu menjadi “yang terakhir”—dan, itu tidak apa-apa. Benny memang bukan yang pertama, dan menurut perhitunganku, ia boleh jadi tidak akan jadi yang terakhir.
“Lo punya cinta pertama nggak sih, Ben?”
Benny tersenyum sembari menjalankan mobilnya lagi. “Gue nggak tau definisi cinta pertama tuh apa. Orang yang pertama kali lo suka? Atau apa? Bahkan gue udah lupa cewek pertama yang gue taksir. Emang lo masih ingat yang kayak begituan?”
“Masih.”
“Emang otak kita aja sih yang beda,” sahut Benny. “Tapi lo mau tahu berita baiknya nggak?”
“Apa tuh?”
“Ella tuh ternyata suka nulis. Sebelumnya dia udah nerbitin dua novel. Dan cerita kakek gue dan neneknya mau ditulis jadi novel. Katanya, siapa tahu ada penerbit yang tertarik nerbitin naskahnya.”
“Itu ide bagus, tau!”
“Dan Ella ngajakin gue buat gabung projek itu.”
“Ikutan, lah! Lo ikutan, kan?”
Benny mengangguk. “Entar lo beli ya kalau novelnya udah terbit.”
“Pasti, lah! Kalau Ella ngadain acara bedah buku juga gue bakalan dateng. By the way, kapan rencananya mau mulai nulis novelnya?”
“Mungkin besok atau lusa. Kata Ella, dia mau memanfaatkan perasaan dukanya supaya feelnya nyampe ke pembaca. Karena akatanya kalau terlalu lama bakalan hilang feelnya.”
“Targetnya berapa bulan?”
“Mungkin satu tahunan karena kami harus riset dulu kehidupan tahun 70-an tuh gimana.”
Aku mengangguk sebagai jawaban. Kami sampai di salah satu pantai yang memang dikhususkan untuk melarung abu jenazah. Ketika kami turun, di sana keluarga Ella sudah naik kapal dan masih ada di tengah laut—membuat kami yang di daratan hanya melihatnya seperti sebuah titik warna putih.
“Alamat rumah lo masih yang lama kan, Ben?”
“Iya, masih, kenapa?”
“Gapapa.”
Di sampingku, Benny mendengus geli sambil menahan tawa, dan aku hanya tersenyum kikuk.
Ketika kapal yang membawa keluarganya Ella mendarat di tepian pantai, satu per satu mulai turun dan dengan semangat—walaupun mata dan wajahnya sembab, Ella memperkenalkan kami berdua pada keluarganya. Aku dihampiri oleh orang tuanya, mereka bilang terima kasih karena aku sudah menyiarkan surat-surat yang ditulis oleh mendiang kakeknya Benny karena dengan begitu, nenek bisa tahu apa yang ditulis oleh lelaki yang pernah ia cintai saat muda dulu, atau mungkin sampai di detik akhir napasnya. Aku hampir menangis mendengarnya sebab tak pernah terpikirkan bahwa menjadi penyiar radio akan membawa manfaat bagi orang sampai sebegininya, tapi aku bisa menahan air mataku sebaik mungkin, walaupun mataku tetap berkaca-kaca.
“Lo sebenarnya mau nangis, kan?” tanya Benny ketika kami berdua berjalan mengekor di belakang keluarga Ella yang berjalan lebih dulu ke parkiran untuk pulang.
Aku mengangguk saja sebab tak ada guna berbohong. “Gue nggak nyangka kalau gue bisa memberi manfaat ke orang lain. I thought i was a useless person.”
Benny mengernyitkan dahinya kemudian berkata, “Jangan, lah, jangan mikir gitu. Mulai sekarang lo harus mikir sebaliknya. Bukan seberapa banyak yang lo beri ke orang lain, bahkan kalau lo cuma bertahan hidup dari hari ke hari aja, itu udah cukup menyenangkan buat orang-orang di sekitar lo yang sayang sama lo. Kayak gue, contohnya.”
Jantungku seolah jatuh ke perut ketika mendengar kalimat terakhir Benny barusan. Mendadak, selama lima detik setelahnya, aku tanpa sadar menahan napas dan merasa wajahku agak panas. Walaupun aku tahu, yang ia maksud pasti bukan “sayang” sebagai laki-laki kepada perempuan.
“Lo ingat, nggak, waktu gue buat pertama kalinya nangis di depan lo?” Benny tiba-tiba bertanya begitu, membuatku menghentikan langkah dan berpikir. Aku ... bahkan agak lupa. “Kejadiannya sepulang bimbel. Lo tiba-tiba nyamperin gue di belakang tempat les dan ngasih gue sebungkus tisu. Lo bilang ke gue kalau gue mau nangis, nangis aja, nggak usah ditahan. Waktu itu gue beneran bingung, lo tahu darimana kalau dari tadi gue berusaha nahan nangis? Apa muka gue kelihatan banget kalau gue nahan nangis? Tapi saat itu, gue nggak bisa berkata apa-apa lagi dan entah gimana caranya, gue mulai nangis. Hari itu gue sedih banget karena nenek gue meninggal. Gue ... dekat banget sama dia. Dari SD sampai SMP gue tinggal sama nenek-kakek gue, mereka udah kayak orang tua kedua, jadi gue kehilangan banget.”
Dahiku semakin mengerut dalam, dan sepersekian detik kemudian kembali normal saat aku ingat sepenuhnya kejadian itu. Saat itu, secara sengaja aku mengambil les di tempat bimbel yang sama dengan Benny saat kami kelas 12 supaya aku bisa terus bertemu dengannya. Aku sengaja mengatur jadwal les dengan menyamakan jadwalnya, hanya membedakannya di hari Kamis saja, sebab aku tidak mau ada yang curiga kenapa jadwal lesku kebanyakan sama dengannya.
Hari itu, untuk pertama kalinya Benny datang dengan air muka keruh. Di wajahnya nyaris tak ada senyum. Bahkan tatapan matanya kosong—seperti orang yang lebih banyak melamun daripada memerhatikan sekitar. Bahkan saat guru les kami melawak di tengah pembelajaran dan anak-anak tertawa, hanya Benny yang tidak menggerakkan sudut bibirnya sama sekali. Ia hanya sibuk mencoret-coret buku tulisnya. Berulang kali ia membuang napas berat dan menutup mata seolah sedang menahan kantuk. Kadang ia menepuk-nepuk dada dan berdeham—yang entah bagaimana bisa mirip dengan kebiasaanku saat berusaha menahan tangis, jadi, aku asumsikan ada yang ia sembunyikan malam itu. Maka kuhampiri ia setelah jadwal les kami selesai karena takut Benny melakukan hal yang membahayakan diri sendiri. Ternyata ia hanya berdiri di halaman belakang tempat les yang sepi sambil menatap gedung-gedung pencakar langit di depannya dengan mata berkaca-kaca.
Dengan agak takut kusodorkan sebungkus tisu yang sudah kubuka padanya sebab entah kenapa aku yakin bahwa yang ia inginkan saat itu hanyalah menangis. Sebenarnya aku kaget saat Benny untuk pertama kalinya menangis di depanku. Saking kagetnya, tanganku yang dingin seolah membeku saat hendak menepuk-nepuk pundaknya guna memberi rasa tenang, jadi aku hanya diam saja di sana, agak menjauh beberapa langkah supaya ia tak terganggu, dan menunggunya selesai menangis sambil diam-diam menahan diri untuk tidak menangis bersamanya.
“Jadi, lo nggak boleh lagi berpikir kalau lo nggak berguna buat orang lain karena kita nggak bisa menghitung seberapa banyak kita udah berguna buat orang lain dalam sehari, sebulan, atau setahun. Ada banyak hal penting yang bisa dilakuin daripada mikirin itu. Kita tuh kadang jadi berguna tanpa kita sadari. Yang sadar kalau kita berguna malahan orang lain. Toh, selama kita nggak merugikan diri sendiri dan orang lain, kenapa kita harus sekeras itu sama diri sendiri?” kata Benny, yang entah mengapa membuat perutku seolah mengeluarkan kupu-kupu di dalam sana.
...
Akhir-akhir ini aku semakin sibuk oleh tawaran datang ke beberapa podcast setelah siaran radioku tentang tren Thursday Love Letter yang masih berjalan sampai hari ini. Tawaran itulah yang membuatku lupa untuk mengirimkan surat-surat cintaku sendiri kepada Benny yang aku rencanakan akan kukirimkan seminggu setelah kami hadir ke upacara kematian neneknya Ella, tapi sampai tiga bulan kemudian, aku tidak menyentuhnya sama sekali. Aku juga sudah tidak berkirim pesan dengan Benny sebab Benny bilang di pertemuan terakhir kami bahwa ia akan menghubungiku ketika novel yang akan ia kerjakan bersama Ella sudah selesai, maka aku asumsikan sebelum pesan itu datang, Benny sedang dalam mode “tidak boleh diganggu”. Itulah mengapa aku menyibukan diri di balik tumpukan pekerjaan, sampai tidak tahu bahwa tiga bulan telah berlalu dan Benny belum memberiku kabar—yang sebenarnya wajar sebab aku yakin ia dan Ella masih sibuk melakukan riset.
Di waktu senggangku hari ini, aku berencana datang ke kantor pos untuk mengirim kotak berisi kumpulan surat cintaku untuk Benny. Kalau saja aku punya keberanian, mungkin aku sendiri yang akan mengantar ke rumahnya, tapi karena tidak mau pingsan di tengah jalan, jadi kupakai saja jasa kantor pos. Tapi, aku tidak pernah memperhitungkan bahwa petugas kantor pos akan tersenyum dan menembakku dengan pertanyaan yang mungkin saja sudah mereka ajukan ke banyak orang sebelumnya, “Pasti isinya surat-surat cinta, ya, Mbak?”
Mau menampik bagaimana? Toh, aku sendiri yang mendekor kotaknya dengan warna merah marun, lengkap dengan hiasan bunga anggrek putih plastik dan pita warna merah marun yang sebelumnya sudah kusemprot banyak parfum.
“Titipan kakak saya, Mbak.” kataku, masih mencoba mengelak. Petugas yang menerima paketku hanya mengangguk dan tersenyum—seolah ia sudah paham kebiasaan orang-orang yang menampik karena merasa malu kalau orang lain tahu ia menulis surat cinta.
Buru-buru aku keluar dari sana setelah semua urusan selesai. Mataku—entah kenapa—seolah punya radar yang memberitahu otakku bahwa di kafe di seberang kantor pos, ada sosok Benny yang baru saja keluar dari mobil. Aku tersenyum dan hendak melangkah untuk menujunya, tapi terhenti ketika Ella keluar dari bangku penumpang setelah Benny membukakan pintu untuknya. Benny tampak membetulkan letak anak rambut Ella yang sedikit menghalangi matanya, mereka tersenyum—seolah dari jauh pun, orang lain juga tahu kalau tatapan mereka adalah tatapan dua orang yang sedang jatuh hati. Refleks aku menahan napas saat Benny menggandeng tangan gadis itu masuk ke kafe seberang.
....
Kadang aku merasa bodoh. Kenapa pula aku tidak memikirkan kemungkinan yang satu itu—kemungkinan bahwa Ella dan Benny akan saling suka setelah mereka dekat oleh project yang akan mereka kerjakan bersama. Andai saja aku memperkirakan kemungkinan itu, aku tidak akan mengirim surat-suratku pada Benny dan memilih untuk menjadikannya abu saja. Dan sekarang aku merasa malu dan kekanak-kanakan, walaupun aku tahu kau mungkin menyuruhku untuk tidak merasakannya.
Tiga hari yang lalu, aku dikabari oleh salah satu kurir kantor pos bahwa paket yang kukirim ke rumah Benny sudah sampai dan diterima langsung oleh orang yang kutuju. Tepat sasaran. Sungguh cara yang konyol untuk mempermalukan diri sendiri.
Ponselku bergetar panjang dengan nama Benny tertera di sana. Ini dia! Aku berharap ia meneleponku untuk bilang bahwa ia dan Ella akan menikah atau projek mereka sudah selesai atau apalah itu—selama itu tidak membahas surat-surat yang kukirimkan padanya. Di detik-detik terakhir sebelum panggilan itu berakhir, aku mengangkatnya juga.
“Iya, Ben, kenapa?”
Ada hening beberapa detik di seberang sana sebelum akhirnya Benny mengeluarkan suara, “Surat-surat yang lo kirim ke gue ... itu beneran lo yang tulis? Buat gue?”
“Iya. Sorry, kalau mendadak dan bikin lo kaget, mungkin. Gue harap ... surat-surat itu nggak menganggu lo. Tapi kalau lo merasa terganggu, lo bisa bakar aja, gapapa.”
“Nggak, gini—gue sama sekali nggak merasa terganggu sama surat-surat itu, walaupun bener kata lo—agak kaget aja pas bacanya.”
“Oke.”
Kami saling diam dan aku mati-matian mengendalikan suaraku supaya terdengar senormal mungkin—tidak parau—sebab sekarang aku memang ingin menangis, entah kenapa.
“Ada lagi yang mau lo—“
“Thanks.”
Kami bicara di detik yang sama secara bersamaan.
“Lo duluan, Ben.”
“Lo duluan, Nin.”
Lagi, kami mengatakannya secara bersamaan.
“Oke, gue duluan.” kataku memutuskan. “Ada lagi yang mau lo omongin? Karena gue masih banyak kerjaan.”
“Oh, sorry. Gue cuma mau bilang ... makasih. Makasih karena pernah menganggap gue sepenting itu dalam hidup lo dan makasih karena udah suka sama gue, nulis surat buat gue. Gue ... nggak tahu harus ngomong apa. Gue nggak mau terdengar cuek, tapi nggak mau terdengar narsis juga, jadi, ya—gitu, lah, mungkin.”
“Iya. Gapapa, Ben. Gue ngerti kok. Projek lo sama Ella udah sampai mana?”
“Kami masih riset. Nanti pasti gue kabarin kalau udah selesai.”
Aku mengangguk. “Congrats, ya. Dan ... kalau udah nggak ada lagi yang mau diomongin, gue tutup duluan, ya.”
“Oke. Bye.”
“Bye, Ben.”
Farewell, my first.