•••
Pagi ini, si makhluk jangkung itu terlambat lagi menyapaku. Biasanya ia suka menggaruk kepalaku. Mula-mula tangannya meninggalkan jejak di tubuhku yang halus, lalu naik ke telingaku yang runcing dan setelahnya turun jauh menuju pantatku.
Kali ini ia datang tergesa-gesa dengan bau keringatnya yang beraroma buah yang segar, seperti apel yang baru dipetik. Ia juga tersenyum cerah menyapaku yang sudah duduk di sebuah kolam ikan. Tempat favoritku kalau tidak ada tempat lainnya yang bisa kujadikan sandaran.
Padahal rumah pemilikku besar sekali, luas, bisa membuatku berkeliling dari lantai atas hingga bawah. Tamannya juga sering digunduli, terkadang dipangkas agar tampak terawat. Sayangnya, rumah itu sepi. Terlalu sepi. Bahkan angin pun segan masuk lewat jendela. Mungkin, hanya aku satu-satunya yang hidup di sini selain ikan-ikan yang berenang di bawahku.
Dan pemilikku saat ini sedang pergi jauh. Entah sampai berapa lama. Aku hanya bisa mendengar ocehannya padaku sebelum ia pergi. Kudengar, pemilikku ingin menaiki burung besar di atas langit. Jalan-jalan membawaku.
Ia mengoceh banyak cerita-cerita yang sulit kupahami sampai berjam-jam, memelukku sebagai kucing rumahan satu-satunya yang malas.
Terkadang, ia menyelipkan jarinya di telingaku bermaksud bercanda. Atau kami bermain bulu-bulu yang ia beli sendiri dari luar. Bulu-bulu itu masih tercium bau burung pipit kecil yang menggiurkan.
Pernah sekali kutelan bulat-bulat kalau saja tidak ada benang yang mengikatnya. Mataku juga tak lepas mengikuti ke mana perginya bulu-bulu itu di arahkan pemilikku.
Kali ini, sudah lebih beberapa hari aku ditemani si makhluk jangkung. Ia memberiku makan secara teratur, memberiku susu yang berlimpah dari benda kotak berukuran raksasa.
Rasanya dingin, amis, segar, menyatu ke tenggorokanku. Lidahku menjulur cepat sampai tetesan susu terakhir. Walaupun, aku tau susu dari kotak raksasa itu tidak pernah sama. Tidak ada rasa hangat dari tangan pemilikku di sana.
Si makhluk jangkung itu pun sangat baik padaku. Namun, setiap malam, setelah ia mengisi mangkukku, ia duduk di kursi pemilikku. Ia tidak menyalakan lampu. Ia hanya duduk di sana, di dalam gelap, sambil memegang selembar kertas. Kertas yang sama setiap malam.
Dan kadang-kadang, dari kertas itu, tercium bau yang sama dengan bau pemilikku.
Aku tidak suka bau itu. Bau itu membuat hidungku perih. Menurutku bau itu menjadi tanda bahwa pemilikku mungkin tidak akan pulang ke rumah.
Aku merasa ada kesedihan dalam perasaannya yang hampa. Kupandangi wajah si jangkung. Mataku membola tanpa berusaha untuk mengedip. Ia terus melakukannya sepanjang ia mengenalku.
Oh, saat ini untuk ketiga kalinya ia terlambat menyapaku, memberiku makanan, usapan lembut, main bersamaku. Ia datang dengan kendaraan bulat-bulat yang berputar di tanah. Napasnya memburu, ia juga sedikit berantakan.
Ia menyapaku dengan hangat.
“Otis ... Otisku yang gembul. Odissey di sini. Maaf, tunggu lama, ya?”
Si makhluk jangkung tak mengindahkanku yang masih duduk mengangkang di pinggir kolam, tangannya mengelus pucuk kepalaku dan sedetik kemudian ia menarikku ke dalam pelukan. Ia bersiul-siul gembira sembari membelai bulu di tubuhku.
Jalannya terasa ringan, perasaanku ikut mulai tenang.
Ia meletakanku di tempat biasa, di atas meja, dengan tempat bulu kebanggaanku berwarna abu-abu tua. Khas bauku yang sangat kentara.
Lalu, ia meletakan satu kertas di meja. Aku akhirnya mengendusnya pelan-pelan. Kertas itu tercium bau yang bercampur, salah satunya ada bau air mata kesedihan.
Si jangkung membawakan aku semangkuk makanan. Ia juga menaruh susu segar di sebelahnya. Konsentrasiku buyar seketika, saat wangi pada makanannya membuatku seperti kucing gendut yang amat sangat kelaparan.
“Otis, enak, kan? Makan yang lahap, ya. Habis ini kita pergi jalan-jalan.”
Aku tidak mengerti apa artinya. Aku hanya mengayunkan lidahku terus menerus mengambil makanan di mangkukku. Sesekali aku mengeluarkan suara mirip dengkuran dan aku seolah menjawab ucapannya.
“Meow ... Meow ...”
Odissey melirik, bibirnya melengkung tipis dengan tangannya perlahan menarik kertas yang barusan aku endus. Ia menyelipkannya terburu-buru ke dalam saku.
Warna wajahnya terlihat cerah hari ini. Tapi, aku masih merasa ia habis bersedih. Kosong. Hampa. Apa yang ia sedihkan? Bukankah ia hanya perlu menjagaku? Apa aku sebegitu menyebalkan?
Ah, tunggu.
Aku kucing malas yang tidak banyak bergerak. Pemilikku sebelumnya selalu memberiku makan ikan salmon setiap hari. Jadi, bagaimana bisa aku menyusahkan si jangkung.
Begitu aku selesai melahap banyak makanan yang terisi penuh di mangkuk. Ia menarikku dari tempat ternyaman. Membawaku sambil mengusap bulu-bulu tebalku yang serupa dengan kapas bantal yang sering kumainkan.
Ia membawaku melangkah menuju halaman, melewati kolam ikan, lalu mencapai benda bulat-bulat yang bisa berputar di atas tanah itu. Ternyata bisa aku masuki, ya.
Di dalamnya agak dingin, dan ada bau aneh. Bukan bau buah, bukan bau susu. Apalagi bukan bau daging segar. Baunya menusuk hidungku yang mungil, seperti bau saat dulu cakarku tak sengaja menggores botol kaca milik pemilikku sampai pecah.
Si jangkung duduk di sampingku. Tangannya gemetar saat memegang benda di depannya. Tak berselang dari diamnya aku dan si jangkung di dalam tempat ini, wajahnya mendadak muram dan tak bersahabat. Bunyi berisik pun terdengar samar di luar dari tempat kami duduk.
Setelah tempat ini berjalan menjauhi rumah pemilikku, kami diam lama sekali. Menciptakan hening yang panjang. Si jangkung terus bersedih sambil mengendari benda itu.
Dari pinggir kaca yang tembus pandang, aku bisa melihat benda-benda yang lebih besar dan lebih tinggi dari benda yang kami duduki. Entah, sampai bosan aku bertingkah di dalam sini, terkadang aku duduk di samping si jangkung sambil menjilat-jilat kaki, berpindah ke belakang, lalu kembali duduk di paha si jangkung.
Sampai kedua mataku menatap benda besar berwarna putih gading, dan terlalu terang. Lebih terang dari lampu ruang tamu di rumah. Orang-orang di dalamnya berjalan cepat, tergesa-gesa, wajah mereka tidak ada yang bahagia. Mirip tampang si jangkung tadi sebelum kami pergi keluar dari rumah pemilikku.
Si jangkung tak lantas membawaku ke dalam. Ia menemui seorang pria kurus yang duduk termenung memandangi taman luas di sekitarnya. Aku ingin berlarian. Tapi, perut buncitku seolah malas untukku bawa.
Mataku dimanjakan oleh burung-burung kecil yang menapaki kaki mereka di tanah. Mematuk-matukan paruh mereka seolah mencari makanan.
Aku dengar si jangkung mengobrol dengan si kurus.
“Owen, aku mau ke dalam dulu. Kamu jagain Otis jangan sampai hilang. Nanti Odith marah.”
Pria kurus pun mengangguk-angguk dan mambawaku ke dalam pelukan hangatnya. Bau tubuhnya terasa oleh banyak wangi. Tapi, aku mengenali satu bau yang kurindukan. Bau pemilikku.
Pria kurus itu telah bertemu pemilikku hari ini. Bagaimana kabarnya, ya?
Aku mengendus-endus tubuhnya, mengusel di pinggangnya dan berakhir menggapai-gapai baju yang ia kenakan. Aku sangat merindukan sosok pemilikku.
Si kurus terkekeh pelan oleh tingkah jenakaku, jarinya menyentuh ujung tanganku lalu mengelus bagian yang kusukai. Ia membawaku duduk di sebuah bangku kayu panjang yang menghadap ke benda putih gading itu.
“Tis, Aku tahu kamu rindu Odith. Di tubuhku ada baunya yang tersisa. Mungkin juga bau amis dari darahnya. Jadi, itu mengapa kamu merasa bauku familiar di hidung pesekmu.”
Suara si kurus terdengar mirip habis menangis. Ia bergetar walau terlihat jelas sekali ia tengah menyembunyikan perasaannya.
Aku tidak mengerti apa itu familiar, tapi aku sering mendengar kata 'Odith' dari pemilikku sendiri. Yang juga aku ketahui bau pemilikku di baju si kurus sudah terasa memudar, dingin, tertutupi bau-bau aneh yang sangat keras.
Ah! Sama seperti bau botol yang kupecahkan di rumah pemilikku, dan di dalam benda yang bisa bergerak milik si jangkung.
Bau apa itu?
Aku mengeong protes, mencoba mendesak kepalaku lebih dalam ke lipatan bajunya, mencari sisa-sisa kehangatan dari pemilikku.
Namun, dari tindakanku yang mendesaknya, getar pada benda padat canggih membuat si kurus itu terkesiap. Benda itu menyala. Si kurus langsung menaruh benda itu ke telinga.
“Halo?”
Ada banyak jeda pada suara napasnya. Kudengar desahan panjangnya dan isak yang tiba-tiba lolos dari mulutnya. Air bening pun mengucur deras dari kedua matanya.
“Langsung makamin aja. Gak usah nunggu Papa sama Mama. Kasihan tubuh Odith, udah banyak menderita.”
Si kurus melirikku dengan senyuman dan tangisnya tidak tertahan meski ia ingin sekali menyudahi. Pantulan matanya yang sayu, sembab, basah itu terlihat jelas betapa ia sangat terpukul akan berita yang tengah di dengarnya saat itu juga.
“Aku tunggu di sini aja bareng Otis. Otis sendirian. Kasihan.”
Aku pun mengeong menarik baju si kurus.
“Jangan! Jangan paksa aku untuk lihat Odith. Aku gak bisa, Dis. Jangan bikin aku ngerasa abang yang gak berguna. Aku cuma gak bisa. Tolong jangan paksa aku!”
Tangisnya pecah lagi, perasaannya sangat dalam dan seakan seluruh dunia runtuh pada saat itu juga.
Sejak tadi ia memanggil nama pemilikku. Apa itu artinya? Aku berjalan menaiki pahanya dan mengendus-endus tubuhnya lagi.
“Odissey, kali ini kamu yang iringi Odith untuk terakhir kalinya. Kan kamu abang pertamanya, cukup wakilkan aku yang berengsek ini!”
Si kurus menutup benda itu dengan perasaan jengkel. Wajahnya menengadah ke langit dan suara tangisnya menggelegar di taman yang sepi oleh manusia.
Ia menciptakan rasa yang tak kumengerti, tapi yang pasti aku bisa merasakan betapa besar dan menghancurkan tubuhnya yang terasa dingin, entah sebab ocehan si jangkung di dalam benda kecil itu. Atau, kabar yang asing di telinga runcingku.
Aku tidak melompat turun. Aku juga tidak berlari mencari tempat sembunyi. Aku justru mendekat, mengendus jemarinya. Aku mendengkur pur ..., pur .... Terkadang mengeong singkat, berharap getaran tubuhku bisa menghangatkan si kurus yang tengah berlinang air dari kedua matanya.
Sampai menjelang sore, si kurus membawaku pergi untuk pulang. Menggantikan si jangkung dan pemilikku di rumah yang luas itu untuk bercanda. Walaupun demikian, aku lebih rindu saat bercanda dengan pemilikku yang lama.
••••