Disukai
0
Dilihat
5
A I U E O
Slice of Life

Menjadi seorang balerina adalah impian Trixie sejak kecil. Menggerakkan tubuh dengan pakaian merah muda yang menawan dan rok yang mengembang, ujung mata yang dihias sayap kupu-kupu, sepatu balet kecil yang lembut dan tali berwarna merah jambu di tangan untuk gerakan memutar seperti flamingo dan bulunya. Semua itu adalah impian Trixie.

Dan ia bersyukur karena impian itu menjadi kenyataan. Kini ia tidak berkhayal dengan pakaian balet kecilnya yang kini sudah sobek. Kini ia menggunakan pakaian balet lengkap dengan semua kebutuhan balerina lainnya. Trixie bahagia dengan pekerjaannya sebagai penari balet profesional.

Namun sayangnya, malam ini ia harus mengeluarkan air mata yang tak pernah ia tunjukkan sebelumnya. Dalam pengumuman acara balet untuk penyambutan delegasi dari Prancis, Trixie dikeluarkan dari daftar penari balet yang akan tampil. Semua itu karena cedera lutut yang ia alami ketika penampilan terakhirnya di lomba yang diadakan di Bucharest. Sialnya bagi Trixie, delegasi itu adalah idolanya. Daphne Thauvin. Penari balet terkenal asal Prancis.

"Kamu bisa hadir sebagai penonton kok, Trix. Kamu tetap bisa lihat Daphne Thauvin," ucap instruktur baletnya suatu hari.

Namun bagi Trixie itu hanya sebuah kebohongan dan ucapan yang ingin menyenangkannya saja.

Keluarnya Trixie dari acara tersebut membuat ia patah hati. Trixie tidak nafsu makan dan mengurung dirinya. Seharusnya ia melakukan penyembuhan namun kesedihan itu membuatnya menjadi murung. Ibunya sudah membujuk Trixie berkali-kali. Namun perempuan itu tahu, bujukan yang ibunya gunakan sudah tak mempan baginya lagi yang bukan anak-anak.

Pagi ini, Trixie pergi untuk berolahraga ringan di taman. Sesekali ia menghirup udara pagi yang segar setelah sekian lama mengurung diri di rumah. Udara pagi juga belum tercemar oleh asap kendaraan sehingga rasa segar yang dihirup tidak sepenuhnya akan membuat sesak nafas.

Saat mulai berlari kecil untuk menguatkan lututnya, Trixie berhenti. Ia mengamati seorang anak kecil yang memegang ukulele di tangan kirinya sedang berhadapan dengan seorang pria besar yang matanya merah. Trixie yang penasaran dengan apa yang terjadi, berlari sedikit mendekat. Ia memperhatikan interaksi anak itu dan pria di hadapannya.

Anak itu rupanya sedang dimarahi. Trixie tak bisa mendengar apa yang diucapkan oleh pria besar itu. Namun terlihat dari matanya bahwa ia marah sekali dengan anak itu.

Tiba-tiba, tangannya mengangkat. Hendak memukul anak itu yang sudah menutup wajahnya ketakutan. Dengan cepat Trixie berlari ke arah anak itu dan menariknya sebelum kena pukul. Pria itu mengerang.

"Heh, mbak! Ngapain narik dia? Sini!" ucap pria itu keras.

Trixie menggeleng cepat. "Enggak. Bapak mau apain dia?" jawab Trixie. Ia mendorong anak itu untuk bersembunyi di belakangnya.

Pria itu menatap Trixie tajam. Setelahnya ia melihat ke anak yang berlindung di belakang Trixie. Tangannya menunjuk ke anak itu. "Sekarang lu bisa bebas karena ada yang nolong, ya. Sekali lagi lu nyuri dari warung gue, habis lu!" ancam pria itu.

Dengan amarah yang masih ada, pria itu pergi meninggalkan Trixie dan anak tadi. Trixie melihat pria itu sampai punggungnya tak terlihat. Setelahnya ia menghela nafas lega lalu mengecek keadaan anak yang ia lindungi tadi. Trixie membawanya ke pinggir jalan untuk bertanya pada anak itu.

"Kamu kenapa sama bapak tadi?" tanya Trixie lembut. Ia mensejajarkan tingginya dengan anak itu.

Anak itu menunjuk ke arah perginya pria tadi. "Aku tadi ambil lontong di warung bapak itu. Aku lapar, kak," jawabnya lirih.

Trixie memiringkan kepalanya. "Kamu lapar? Terus kamu ambil lontong di warung bapaknya? Berarti, kamu mencuri dong?"

Anak itu nampak terkejut. Ia kemudian menundukkan kepalanya. "Aku mau sarapan, kak," jawabnya pelan nyaris tak terdengar.

Trixie tersenyum. Ia mengelus rambut anak itu. "Kita makan, yuk. Aku kebetulan belum sarapan juga. Nanti aku yang bayarin, mau?"

Anak itu yang tadinya menunduk, kini mengangkat kepalanya. Matanya berbinar. "Bener, kak? Aku dibayarin?" tanya anak itu antusias. Trixie mengangguk.

Anak itu bersorak senang. Tiba-tiba ia berteriak memanggil beberapa nama temannya. Dan secara mengejutkan nama-nama yang dipanggil itu muncul dari balik tumpukan ban bekas di tempat rongsok atau dari tempat-tempat lain yang ada di sekitar sana. Jumlahnya kurang lebih ada tujuh anak. Mereka ada yang membawa ukulele dan kantong plastik.

"Aku ajak temen-temen aku boleh kan kak?" tanya anak itu polos.

Trixie tertawa getir. "Hahaha.. boleh. Kita... Makan di tukang kupat tahu aja, ya?"

Trixie, anak tadi dan tujuh temannya pergi bersama ke sebuah lapak tukang kupat tahu di pinggir jalan. Trixie memesankan menu biasa dan es teh hangat untuk minum mereka. Lapak itu mendadak ramai dengan obrolan anak-anak yang banyak dan berisik. Trixie duduk diantara mereka.

"Kalian memang setiap pagi begini?" tanya Trixie ke anak tadi.

Anak itu menggelengkan kepalanya. "Enggak, kak. Biasanya dari kita ada yang sarapan, ada yang enggak. Kadang-kadang pas lagi ngamen kita baru dikasih makanan," jawab anak itu.

Trixie tersenyum tipis. "Nama kamu siapa? Kamu tadi nyebut nama-nama temen kamu aja," Trixie bertanya lagi.

"Aku Haikal, kak," jawab anak bernama Haikal itu. "Kakak gak usah kenalan ke aku, karena aku tau siapa kakak,"lanjutnya.

Trixie tertawa kecil. "Loh? Memangnya kamu tau siapa aku?" tanya Trixie iseng.

"Ya tau, dong. Kakak ini penari balet terkenal yang posternya dipasang di luar studio kan? Aku kalo ngamen lewat sana, kak," jawab Haikal merasa bahwa ia baru saja mengungkapkan sesuatu yang mengejutkan.

"Wahhh... Kamu benar. Tapi, kamu tau gak siapa nama aku?" Trixie kembali bertanya.

Haikal menggaruk alisnya. Ia kemudian tersenyum kikuk lalu menggeleng. Namun setelahnya ia memanggil seorang temannya untuk bertanya siapakah nama kakak yang mengajak mereka makan bersama di tempat kupat tahu pagi ini. Anak itu mengangguk-angguk antusias.

"Ini kak Trixie. Kita kan kalo ngamen suka lewat poster dia," jawab anak itu.

Trixie bertepuk tangan. "Nah, dia tau. Kok kamu gatau sih padahal sering liat poster aku di studio?"

Haikal tertawa kikuk. "Hehe... Itu, kak. Aku... Gak bisa baca," jawabnya sedikit malu-malu.

Trixie mengerutkan keningnya. "Hah? Gabisa baca? Tapi temen kamu, kok tau aku?" tanya Trixie menunjuk teman Haikal yang tadi menjawab.

Teman Haikal itu menggaruk kepalanya. "Hehe... Aku juga tau dari orang-orang yang lewat. Manggilnya Trixie jadi pasti nama kakaknya Trixie. Ternyata tebakan aku bener," jawabnya polos.

Trixie menghela nafasnya. Ia tersenyum menatap anak-anak itu. Sedikit terkejut baginya karena masih ada anak yang belum bisa membaca padahal di usianya dia seharusnya sudah bisa membaca. Dan fakta bahwa setiap pagi mereka mengamen adalah sebuah ironi di kota besar. Trixie melihat sebuah ketimpangan sosial yang nyata.

"Kalian berarti gak sekolah ya?" tanya Trixie pada Haikal.

Haikal mengigit tahunya. Ia menggeleng sambil mengunyah. "Enggak, kak. Kata ibu, buat apa sekolah toh nanti juga kita kerja. Makanya lebih baik cari uang daripada sekolah," jawab Haikal.

Trixie mengigit bibir bawahnya. "Kamu tinggal dimana memang, Kal?" tanyanya.

Haikal menunjuk ke kanannya. "Itu, kak. Aku tinggal di kolong jembatan. Di rumah triplek. Anak-anak ini juga, kok," jawab anak itu.

Setelah selesai makan, anak-anak itu pamit untuk mengamen. Mereka menyalami Trixie satu persatu dan melambaikan tangannya. Ada yang pergi naik angkot, ada yang berjalan menuju pasar, dan ada juga yang berencana untuk mengamen di pinggir jalan serta trotoar. Mereka pergi masing-masing dua orang dengan ukulele dan kantong plastik.

Trixie menghela nafasnya panjang. Ia yang tadi berencana akan berolahraga ringan pagi hari ini membatalkan rencananya. Karena jarak studio latihan balet yang dekat dengan tempat ia berada, Trixie memutuskan untuk berlari pagi ke studio setelah makan. Ia ingin membakar kalori sekaligus bertemu temannya, Eliz.

Begitu sampai di studio, Trixie bergegas ke ruang ganti. Ia yang memang tidak ada latihan tetap diizinkan untuk mengunjungi studio kapanpun. Walaupun ini untuk pertama kalinya setelah keluarnya ia dari daftar penari balet untuk penyambutan delegasi. Dan di ruang ganti itu pula, Eliz baru saja keluar dari ruang pakaian.

Trixie menghampiri Eliz dan mengejutkannya. "Eliz!!"

Eliz terperanjat. Ia berlari kecil ke arah Trixie. "Eh? Trixie? Akhirnya datang juga. Kemana aja kamu ini," jawab Eliz. Ia berdiri lalu memeluk Trixie.

Trixie membalas pelukan singkat Eliz. "Tadi aku habis olahraga. Deket-deket sini, jadi sekalian mampir. Gimana latihannya? Lancar?"

Eliz mengangkat jempolnya. "Mantap. Tinggal rehearsal aja buat hari ini sebelum besok tampil," jawab Eliz.

"Bagus deh kalau aman. Aku duduk disini, ya?" jawab Trixie yang sekalian meminta izin untuk duduk di kursi samping Eliz.

Eliz menawari Trixie bubur sumsum yang masih hangat bekal ibunya. Namun Trixie menolak. Gadis muda itu menopang dagunya di meja rias. Eliz yang menyadari wajah menekuk Trixie, menyenggol pundak sahabatnya itu. Matanya seolah bertanya apa yang sedang terjadi.

"Jadi gini. Aku tadi pas lagi lari ketemu sama anak-anak pengamen. Aku jujur baru tau kalo di sekitar sini banyak anak pengamen yang merhatiin studio juga," ucap Trixie.

"Ya, lalu? Memangnya mereka kenapa, Trix?" balas Eliz.

Trixie mengetuk-ngetuk jarinya di meja. "Yaaa ngerasa kasihan aja. Aku sering di studio tapi gak pernah lihat mereka," jawab Trixie dengan bibir yang mengerucut.

"Ya memang liat mereka juga buat apa, sih? Mereka kan pengamen," jawab Eliz santai.

Trixie menggelengkan kepalanya pelan. "Mereka bukan hanya pengamen aja. Tapi mereka juga gak bisa baca. Aku kasian sama mereka," balas Trixie.

Eliz mengambil botol minumnya. "Memangnya orang tuanya gak menyekolahkan mereka?" tanya Eliz lalu meminum airnya.

"Mereka gak sekolah, Liz. Orang tua mereka bilang katanya, buat apa sekolah kalau ujung-ujungnya mereka tetep jadi pengamen?" jawab Trixie lirih.

Eliz mengusap pundak Trixie. "Kekhawatiran kamu itu memang kerasa, Trix. Memangnya kamu mau apa dengan ironi itu? Negara juga gak pernah serius untuk memelihara anak jalanan kayak apa yang mereka sebutkan di konstitusi," kata Eliz.

Trixie berdiri dari duduknya. Ia menjentikkan jari. "Gimana kalo aku ngajarin mereka baca dan hitung? Jadi seenggaknya mereka bisa baca dan hitung walau mereka gak sekolah!"

Eliz tertawa kecil. "Memangnya semudah itu, Trix? Ngajar anak jalanan gak segampang di film," katanya.

Trixie yang merasa Eliz meremehkannya, merasa bahwa ia sanggup dan mampu mengajari Haikal dan teman-temannya. Keesokan harinya, seorang diri Trixie pergi ke kolong jembatan menuju rumah Haikal sambil membawa beberapa buku di tas selempang merah di pundaknya.

Tak pernah ia bayangkan dan kali pertama ini bagi Trixie untuk mengunjungi kolong jembatan. Selama ini yang ia lihat di televisi kalau kolong jembatan itu kotor. Dan ia pun tak menyangka bahwa kotor yang terlihat dengan mata kepalanya sekarang adalah se kotor ini.

Trixie terus berjalan hingga ia sampai di depan sebuah rumah yang dibangun dengan triplek. Di depan rumah itu ada seorang ibu yang sedang menjemur pakaian. Dengan sopan Trixie menghampiri ibu itu pelan-pelan.

"Permisi, Bu. Haikal nya ada?" tanya Trixie pada ibu itu.

Ibu itu memandangi Trixie dari atas ke bawah. Ia kemudian melengos. "Ngapain nyari anak saya? Maaf, anak saya gak dijual," jawab ibu itu sinis.

Trixie terkejut. Ia melambaikan tangannya. "Eh, bukan. Kok jual anak? Saya kesini cari Haikal bu. Saya mau ngajarin dia baca," balas Trixie.

Ibu itu mengangkat keranjang cuciannya. Ia menatap Trixie heran. "Ngapain ngajarin si Haikal baca? Buat dijual kan? Gak. Anak saya gak akan dijual," jawab ibu itu teguh pada pendiriannya.

"Saya gak mau beli anak ibu. Saya kesini cuma mau ngajarin Haikal baca. Itu aja Bu. Saya gak ada maksud apa-apa lagi selain itu," jawab Trixie berusaha meluruskan.

"Mbak, denger, ya. Haikal itu gak perlu diajarin baca. Pengamen buat apa belajar baca? Orang kerjanya cuma nyanyi sama main gitar doang. Gak ada gunanya baca buat pengamen, mbak," kata ibu Haikal.

Trixie mengikuti ibu itu yang berjalan menuju pintu rumahnya. "Tapi saya murni mau ngajarin Haikal baca Bu. Membaca juga penting buat dia."

Ibu Haikal tertawa. Ia kemudian memanggil tetangganya dan menjelaskan maksud dan tujuan datangnya Trixie kemari. Ibu tetangga itu juga sama. Memperhatikan Trixie dari ujung kepala sampai ujung kaki. Seperti mendikte penampilan Trixie yang sederhana dengan pakaian putihnya dengan tatapan yang aneh.

"Mbaknya memang kerja apa?" tanya ibu tetangga itu.

"Saya? Saya penari balet profesional Bu," jawab Trixie ramah.

Ibu tetangga itu mengerutkan keningnya. "Penari balet? Ngapain penari balet ngajarin baca? Yang seharusnya ngajarin baca itu kan, guru!"

Trixie membuka tasnya. Ia mengeluarkan beberapa buku dari dalam tas selempangnya. "Saya ketemu Haikal kemarin, Bu. Saya ajak dia sarapan. Saya kesini buat ngajarin dia baca. Soalnya dia kenal saya, tapi dia gak bisa baca nama saya di poster," kata Trixie.

Ibu Haikal berdecak. "Mbak, sudah saya bilang kalau belajar baca itu gak berguna buat Haikal. Dia kan cuma pengamen. Apa yang menguntungkan dari membaca? Bisa hitung duit aja udah syukur. Gak perlu baca-baca."

"Bener tuh. Mbak juga di sekolah emang belajar balet? Enggak, kan? Ujung-ujungnya juga mbak jadi penari balet, bukan jadi apa yang diajarin sekolah. Jadi gak usah lah, sekolah itu. Ganggu kerjaan aja," sahut tetangga ibu itu.

Ibu itu kemudian memanggil Haikal. Ketika anak itu muncul dari pintu, ibunya menjelaskan bahwa kedatangan Trixie adalah untuk mengajarinya membaca. Ibu Haikal juga menunjuk ke buku-buku yang dibawa Trixie. Sebuah buku kuning dengan huruf A I U E O di sampulnya.

"Kamu memangnya kenal mbak ini siapa? Katanya kamu sering liat posternya tapi gabisa baca namanya," tanya ibu Haikal pada anaknya.

Trixie menatap Haikal yakin. Namun Haikal menggelengkan kepalanya. "Gak, Bu. Aku gak kenal sama kakak ini," jawabnya lalu berlari masuk ke dalam rumah.

"Tuh, kan, mbak. Anak saya ini gak perlu diajarin baca. Dia ini cuma bisanya hitung uang. Saya juga gak bisa baca tapi saya lancar-lancar aja kok. Bisa ngasih makan Haikal dan tujuh adiknya. Bapaknya juga sama," kata ibu Haikal sambil menunjuk-nunjuk Trixie.

Ibu tetangga yang tadi memandangi Trixie menatap dengan rendah. "Udahlah mbak. Orang kaya itu gak pernah tau penderitaan orang-orang kecil macam kita. Makanya jangan jumawa, mbak. Merasa paling pinter jadi mau ngajarin anak orang."

Trixie memegangi kepalanya. Ia merasa pusing dengan argumen-argumen yang terasa kosong dari kedua ibu ini. Dan Haikal juga yang pura-pura tidak mengenalnya. Ketimpangan sosial yang ia lihat ternyata terjadi secara struktural. Menurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sebuah ketimpangan yang sulit untuk dihentikan jika tidak ada anggota keluarga yang sadar.

Trixie pamit dari rumah Haikal. Ia menaiki mobilnya menuju studio balet. Menonton pertunjukan idolanya, Daphne Thauvin bersama teman-teman baletnya. Namun dalam hati dan pikirannya, Trixie merasa gusar. Jika orang tua saja sudah menyangkal dengan pengalamannya yang kosong, bagaimana kesadaran seorang anak akan mudah dibentuk. Semua itu menggangu pikiran Trixie selama menonton pertunjukan.

Benar kata Eliz. Mengajar anak jalanan tidak semudah itu. Konstitusi tidak serius untuk memelihara anak jalanan. Dan buku A I U E O yang Trixie beli pagi tadi akan berakhir di rak berdebu dalam beberapa jam kedepan.

—TAMAT—

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Rekomendasi