Disukai
0
Dilihat
35
A beautiful girl and the painting of her
Romantis

Plaza San Martín musim gugur ini terasa begitu ramai dari biasanya. Di sore hari yang dingin, orang-orang mengerumuni alunan piano yang mengharmoni di seluruh alun-alun. Sebuah pohon besar di tengah alun-alun memayungi piano dan pemainnya. Kamera ponsel terangkat ke udara untuk merekam dari sisi yang lebih tinggi penampilan piano gratis di pusat kota Córdoba ini. Albian yang baru keluar dari klinik dokter gigi, penasaran. Ia bergabung ke kerumunan itu.

Seorang pemain piano muda berkemeja hijau-hitam menekan tuts piano dengan jarinya yang lentik dan lihai. Ia tersenyum memainkan setiap alunan yang tercipta. Orang-orang menikmati pertunjukan sederhana itu sampai seorang gadis yang duduk di kursi roda menghampiri si pianis. Ia membisikkan sesuatu dan pianis itu mengangguk. Rupanya gadis itu meminta sang pianis untuk memainkan lagu yang ia inginkan.

Pianis itu mengganti lagu yang ia mainkan. Sebelumnya ia memainkan musik klasik Argentina yang berjudul Milonga del ángel, kini berganti menjadi alunan lagu Ave Maria. Orang-orang di alun-alun membulatkan mulutnya ketika mereka mulai mengenali alunan itu. Beberapa orang yang baru datang sibuk membuka kamera ponsel dan merekamnya. Albian berusaha merangsek masuk untuk bisa melihat dari jarak dekat.

Gadis itu bermata hazelnut. Bibirnya dipoles lipstik berwarna merah muda tipis. Kepalanya ditutupi kupluk rajut berwarna merah. Seorang ibu tua tersenyum ketika gadis itu menatapnya. Meyakinkan sang gadis bahwa ia boleh bernyanyi sekarang. Ibu itu memegangi gagang pendorong kursi rodanya. Pianis itu juga ikut meyakinkan dengan tersenyum dan mengangguk.

Gadis bermata hazelnut itu memegangi dadanya, lalu mulai bernyanyi. Semua orang yang tadinya diam menunggu untuk merekam, menutup mulut mereka dengan satu tangan ketika gadis itu mulai menyanyi. Mereka takjub karena suara gadis itu sangat lembut dan halus. Suaranya membuat orang-orang di alun-alun merasa bahwa mereka berada di dalam gereja dan sedang mendengarkan paduan suara gereja sedang bernyanyi.

Albian menatap mata gadis itu. Seperti penonton lainnya, ia juga mengeluarkan ponselnya. Merekam gadis itu bernyanyi. Suara itu bagaikan bisikan dewi Euterpe yang meracuni telinga semua orang di alun-alun sore itu untuk fokus pada gadis tersebut. Semuanya hanyut dalam kehangatan lagu Ave Maria yang menceritakan tentang pujian dan permohonan, perlindungan serta berkat dari Maria.

Semua begitu hanyut dalam lagu doa Katolik itu. Albian juga ikut menikmati. Sampai ke lirik terakhir, semuanya terdiam. Beberapa detik setelahnya mereka bertepuk tangan dan sorak sorai lainnya. Mengapresiasi gadis itu dan mengangkat jempol mereka dengan bangga. Gadis itu tersenyum. Ia menundukkan kepalanya sekilas. Pianis itu menghampirinya lalu memeluknya singkat.

"Apakah kamu seorang penyanyi gereja?" tanya si pianis.

Gadis itu menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku bukan penyanyi gereja," jawabnya lembut. "Aku hanya memiliki hobi menyanyi," lanjutnya.

Gadis itu lalu pergi sambil melambaikan tangannya. Kerumunan itu juga kembali berpencar dan hanya beberapa yang masih menonton pianis itu dengan lagu lainnya yang ia mainkan. Begitupun dengan Albian. Ia meninggalkan alun-alun dengan kresek obat-obatan gigi menuju apartemennya.

Sepanjang perjalanan, Albian terus memikirkan gadis itu. Bola mata hazelnut nya membuat Albian membayangkan dirinya sedang melukis di kanvas. Sebagai seorang pelukis, sebuah objek yang datang itu seperti rahmat untuk kotak idenya di kepala. Membuatnya ingin cepat-cepat duduk di hadapan kanvas dan langsung melukisnya. Namun sayangnya ia tak bisa melakukan itu sekarang.

Albian menyadari bahwa dirinya adalah seorang pelukis yang perlu melihat dan mengamati objeknya. Ia bukanlah pelukis seperti Wassily Kandisky atau Salvador Dalí. Ia hanyalah Albian Ibrahim Wirahadinata. Pemuda asal Bandung yang berkuliah seni di Argentina. Tidak kurang tidak lebih. Albian selayaknya pelukis muda biasa yang masih meraba-raba aliran lukisnya. Ia masih terjebak di dalam kotak aliran lukis yang terkadang ia coba satu-satu.

Sesampainya di apartemen, ia mendapati sahabatnya, Lucas sedang duduk bersila di depan pintu. Albian yang sudah tau kebiasaan aneh sahabatnya itu langsung membuka pintu apartemen sehingga membuat sahabatnya itu terjungkal ke belakang. Lucas memprotes Albian dan menggerutu sambil masuk ke dalam apartemen. Albian membiarkan Lucas sampai pemuda itu berhenti.

"Kenapa lagi gigimu itu?" tanya Lucas. Ia mengambil jus jeruk dari dalam kulkas.

Albian menyimpan obatnya di meja makan lalu duduk. "Gigi berlubang," jawabnya.

Lucas tertawa. Ia menyodorkan segelas jus jeruk untuk Albian. "Tambal gigimu. Lagipula pertama kali ku ajak ke restoran kenapa pesanan makanan mu Alfajores? Sudah tahu itu makanan manis."

"Kamu tidak bilang kalau itu makanan sangat manis. Aku pesan karena harganya murah," balas Albian sambil menopang dagunya.

"Ya sudahlah, lagipula pengobatan gigi mu tidak akan begitu lama. Gigi berlubang itu tinggal menunggu waktu saja untuk ditambal," jawab Lucas. Ia meminum gelas jus jeruk yang tidak diminum Albian.

Melihat apa yang Lucas lakukan, Albian mendelik. "Kamu ini datang ke apartemenku untuk numpang minum? Selanjutnya apa? Numpang makan?" tanya Albian kesal.

Lucas menjentikkan jarinya. "Betul sekali!" jawabnya kegirangan. "Kamu ini kan tinggalnya di apartemen, kalau aku tinggal di rumah. Jadi aku harus cari tempat menyenangkan untuk dikunjungi," lanjutnya.

Albian tak menjawab. Ia menghela nafasnya panjang. Lucas yang melihat itu mendekati Albian dan menyenggol pundaknya. Tahu apa yang ingin Lucas tanyakan, Albian menyodorkan ponselnya. Ia meminta Lucas untuk menonton rekaman yang Albian ambil di alun-alun tadi. Lucas mengangkat sebelah alisnya lalu menonton video itu dengan saksama.

"Aku kenal siapa gadis ini," perkataan itu meluncur dari mulut Lucas ketika ia mulai menonton videonya.

Albian membelalakkan matanya. "Ah, bohong. Masa kamu kenal gadis ini?," jawabnya ragu.

"Tidak percaya ya sudah," jawab Lucas santai.

"Aku ingin melukisnya. Kamu lihat mata hazelnut itu? Aku ingin sekali melukisnya," jawab Albian sambil menunjuk ponselnya.

"Jadi karena ingin melukis bola mata hazelnut kamu jadi begini? Memang, ya, jiwa anak seni nya tidak diragukan lagi," jawab Lucas.

Albian menggelengkan kepalanya. Ia merampas ponselnya dari tangan Lucas lalu melipat tangannya di meja. Pikirannya dipenuhi oleh pesona bola mata gadis itu. Sulit bagi seorang seniman seperti Albian untuk melupakan inpirasinya. Bagi Albian, inspirasi adalah berkah dan rahmat dari Tuhan untuk jiwa seni dalam dirinya yang menggebu-gebu. Mustahil untuk melupakannya dalam sekejap.

"Bagaimana kalau hari minggu besok aku cari dia di gereja? Siapa tahu aku bisa lihat dia dan mengajak dia ke studio?" lanjutnya.

Albian menghela nafasnya malas. "Gereja di Córdoba itu banyak. Mana mungkin kamu bisa bertemu dengannya di satu gereja?" tanya Albian sedikit kesal.

Lucas mencibir. "Koneksiku di gereja itu banyak. Jangan remehkan seorang Lucas Souza Fernandez."

Albian memutar bola matanya malas. Ia kemudian mengusir sahabatnya itu untuk pulang karena ingin beristirahat. Giginya yang terus-terusan berkedut pun membuatnya tidak nyaman. Lucas akhirnya berpamitan lalu menjulurkan lidahnya mengejek sambil memaki Albian dengan bahasa Spanyol ketika Albian melihatnya pergi dari atas balkon apartemen.

Keesokan harinya, Lucas menghampiri Albian yang sedang duduk di bangku taman universitas. Ia datang sambil tersenyum dan membuat Albian yang berhadapan dengan tugas kuliahnya di bangku harus menghentikan aktivitasnya untuk mendengar apa yang akan sahabatnya sampaikan hari ini.

"Aku berhasil tahu siapa gadis itu!" ucap Lucas senang. Ia juga memberikan sebotol minuman isotonik pada Albian.

Lucas memicingkan matanya sambil tersenyum. Ia lalu duduk di samping Albian. "Gadis itu, nama belakangnya Ferreyra. Dia satu gereja denganku," jawabnya.

Albian berdecak lalu mendorong Lucas ke samping. "Di Argentina, di Spanyol, bahkan di Mexico, yang bernama Ferreyra itu banyak! Kamu pikir aku ini petugas sensus? Mengecek satu-satu orang bernama belakang Ferreyra untuk kutemukan?!" balas Albian marah.

"Yang penting aku sudah memberi tahu. Kamu juga tahu kan, gereja mana yang sering ku kunjungi? Pulang ini datanglah kesana. Siapa tahu gadis itu ada di gereja untuk berdoa," jawab Lucas.

Albian membuka botol minuman isotonik yang tadi diberikan Lucas. Ia mengangguk mengiyakan perkataan sahabatnya itu. Lucas yang merasa tugasnya sudah selesai untuk menyampaikan informasi, langsung pamit karena ia harus mendekorasi koridor universitas untuk acara seni tahunan musim gugur. Ia menepuk pundak Albian sebelum pergi.

Seperti apa kata Lucas, sepulang kuliah Albian memutuskan untuk mengunjungi gereja. Sebelumnya ia merasa tidak nyaman karena ia bukanlah seorang katolik. Namun demi gadis itu dan percikan semangat dari Lucas, Albian pun memantapkan dirinya. Setelah turun dari mobil Lucas yang ia pinjam, Albian sampai di Catedral de Córdoba. Sebuah gereja dekat plaza San Martín, tempat dimana Albian pertama kali melihat gadis bermata hazelnut itu.

Saat turun dari mobilnya, Albian melihat gadis itu. Ia baru saja keluar dari gereja dan nampak kesusahan untuk turun dari tangga yang tepat di depan pintu. Pemuda itu lalu berlari dan membantu gadis itu untuk turun dari tangga gereja. Albian mendorong kursi rodanya dengan pelan sementara gadis itu terdiam karena terkejut. Setelah sampai di ujung tangga, keduanya saling berhadapan.

"Muchas Gracias," ucap gadis itu dalam bahasa spanyol yang artinya adalah terima kasih.

Albian tersenyum. Ia menatap bola mata gadis itu. Bola mata hazelnut. Matanya terpaku pada pemandangan yang membuatnya terpikirkan sejak kemarin. Kini ia dapat menatap pemandangan itu dalam jarak yang dekat. Gadis itu pun demikian. Ia juga menatap Albian dengan intens. Selama dua menit saling bertatapan, seorang pengunjung gereja menyenggol tangan Albian hingga membuat pemuda itu melepas pandangannya.

"Ah, maaf. Bola matamu itu... bagus sekali," ucap Albian jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia dalam bahasa spanyol.

Gadis itu tersenyum kecil. "Terima kasih. Apakah itu sebuah pujian?" tanya gadis itu.

Albian sedikit terkejut. Ia terbatuk kecil. "Ekhem.. bisa ku bilang, iya? Matamu seperti hazelnut. Dan melihat dari jarak sedekat ini, sangat.... waw. Sulit dijelaskan Dengan kata-kata," balas Albian.

"Benarkah itu? Atau karena ada sesuatu di pikiranmu tentang bola mata ini?" tanya gadis itu memastikan.

Albian menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak, tidak. Tidak ada yang seperti itu. Aku benar-benar memuji bola mata itu. Sungguh," jawabnya.

Gadis itu tertawa kecil. Ia mengangguk mengerti. Albian mendorong kursi roda si gadis lalu duduk di pembatas tembok gereja sementara gadis itu menghadapnya. Albian mengulurkan tangannya. Ia mengajak gadis itu berkenalan.

"Albian Wirahadinata," ucapnya memperkenalkan diri.

Gadis itu membalas uluran tangan Albian. " Giselle Ferreyra," jawab gadis itu.

Dalam pikirannya, Albian memikirkan Lucas yang menyebut nama Ferreyra. Ternyata sahabatnya itu benar. Gadis bermata hazelnut itu mempunyai nama belakang Ferreyra. Ia tersenyum getir sambil memikirkan sahabatnya yang tadi ia marahi karena kesal.

Giselle tersenyum. Ia mendorong kursi rodanya ke belakang. "Baiklah Albian. Aku pulang dulu, ya. Senang berkenalan denganmu," jawab Giselle.

Gadis itu mendorong kursi roda dengan tangannya di roda kursi. Albian yang tidak ingin mengakhiri pembicaraan nya dengan gadis itu, langsung berlari menahan Giselle. Ia membuat Giselle terkejut sampai roda kursi rodanya melindas kaki Albian dan kepala Giselle menabrak perut pemuda itu. Albian buru-buru mendorong Giselle mundur sedikit.

"Maaf, tapi ku pikir ada yang harus ku lakukan bersamamu selain berkenalan saja," ucap Albian.

Giselle mengelus dahinya. "Dengan menghentikan ku di tengah jalan seperti tadi?" tanyanya sedikit kesal.

Albian menggaruk alisnya. "Ya, aku tahu itu tadi salah. Aku tak seharusnya begitu. Itu salah."

"Hmm.. jadi apa yang kamu ingin aku lakukan selain berkenalan? Mengajakku ke toko kursi roda?" tanya Giselle.

"Eh? Bukan. Aku mau mengajakmu berjalan-jalan. Aku juga mau mengajakmu ke studio lukis milikku," jawab Albian sedikit terkejut.

Giselle terkekeh kecil. "Tapi kamu ini terlalu orang asing bagiku. Aku khawatir kalau studio lukis mu itu tempat untuk membunuh seseorang."

"Kenapa kamu bisa berpikir demikian? Apakah diajak mengobrol oleh orang asing termasuk dalam kenangan buruk bagimu?" tanya Albian membalas ucapan Giselle.

"Yaaa... Tidak begitu, sih. Tapi kamu ini muncul terlalu tiba-tiba. Apa kamu ingin menjadi Jesse Wallace di film before sunrise?" balas Giselle.

Albian berjongkok setinggi Giselle yang duduk di kursi roda. "Jika aku terlihat seperti Jesse Wallace bagimu, katakan saja iya. Lagipula siapa yang tidak terpana dengan bola mata hazelnut dan suara bak dewi Euterpe yang kamu miliki itu?"

Giselle tersenyum. Pipinya merona merah muda mendengar pujian Albian. Ia akhirnya setuju untuk berjalan-jalan mengelilingi Córdoba sebelum mengunjungi studio lukis yang Albian maksud. Albian dengan semangat membawa Giselle berkeliling sambil mendorong kursi rodanya. Setelah berkeliling plaza San Martín, mereka sampai di studio lukis Albian. Sebuah studio kecil merangkap toko kaset di samping apartemen Albian.

"Kamu bilang kamu dari Indonesia, ya? Kamu dari kota mana?" tanya Giselle sambil mengigit Empanada yang ia beli di pinggir jalan.

"Kalau ku jawab pun aku yakin kamu tidak akan tahu itu dinama," jawab Albian yang sedang menyiapkan alat lukisnya.

Giselle mencibir. "Apakah kamu meremehkan ku? Walaupun lahir, besar dan tinggal di Argentina, tapi aku tahu kota-kota di Indonesia," jawab Giselle.

"Bagaimana kamu bisa mengetahuinya? Dari mata pelajaran geografi?" balas Albian.

Albian mulai melukis wajah Giselle. Selama perjalanan mereka yang lumayan singkat di plaza San Martín, Albian menyatakan keinginannya untuk melukis Giselle. Awalnya gadis itu tidak percaya namun ketika penjual Empanada bilang bahwa Albian adalah seorang seniman muda berbakat, Giselle mulai percaya. Ia meminta Albian untuk melukisnya dengan Empanada sayur yang ia makan sebagai syarat untuk melukis wajahnya. Albian menyanggupi itu asal bola mata hazelnut itu bisa ia lukis.

"Kakekku eksil politik Indonesia. Dia dari Medan. Jadi aku cukup tahu kota-kota di Indonesia karena kakekku dulu berpindah-pindah kota," jawab Giselle.

"Aku dari Bandung. Cukup jauh dari Medan. Tapi, orang-orang menyebut Bandung itu sebagai kota romantis," balas Albian.

Giselle tertawa kecil. "Jadi karena Bandung lah kamu bisa bertindak seperti ini?" tanya Giselle.

Albian menatap Giselle lalu tersenyum. "Memang, sih, ada lukisan. Tapi bukan yang seperti ini," jawab Albian sambil tertawa kecil.

Giselle mengigit Empanada baru yang diambil dari keranjang. "Kenapa bola mata hazelnut menjadi sesuatu yang kamu inginkan bahkan yang kamu pikirkan juga? Bukankah banyak mata orang yang bisa kamu lukis?"

Albian menyapu kanvasnya dengan lembut. Tangannya lihai bergerak kesana kemari menutupi warna putih kanvas. Ia sudah selesai melukis tangan yang memegang Empanada. Setiap goresan cat minyaknya terasa realistis. Ditambah lagi sebuah musik tahun 50an Argentina dari kaset yang diputar memberikan suasana yang tenang dan nyaman di studio lukis ini.

"Memang, memang banyak mata. Tapi apakah kamu tahu? Mata itu adalah indra penglihatan yang mendeteksi cahaya dan juga bagaimana seseorang mulai bergerak memperhatikan sekitar. Mata adalah jendela seseorang untuk menelisik dan menelusuri sesuatu."

Giselle tersenyum mendengar penjelasan Albian. Dapat gadis itu akui bahwa lukisan-lukisan yang terpampang di studio itu sangatlah bagus. Bahkan ada sebuah lukisan buatan Albian yang mereplikasi lukisan La Meniñas karya Diego Felazquez.

Setelah beberapa jam dilukis, akhirnya lukisan itu selesai dengan sempurna. Seorang gadis yang sedang duduk, menggunakan anting mutiara hitam, memegang sebuah Empanada dengan bola mata hazelnut nya yang terang. Albian menunjukkan lukisan itu pada Giselle. Ia menamai lukisan itu, "A beautiful girl and the painting of her."

—END—

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Rekomendasi